Menurut Price Waterhouse Cooper, pada tahun 2020, 50% tenaga kerja global terdiri dari para millenial. Aspirasi karir mereka, sikap mereka terhadap kerja, dan pengetahuan yang dimiliki oleh para millenials ini akan membentuk masa depan bisnis Anda. Millenials penting karena mereka akan memaksimalkan skill mereka yang baik dalam pengetahuan teknologi terkini, untuk memudahkan komunikasi dan pelaksanaan pekerjaan.
Brack & Kelly (2012) menganggap millennial sebagai generasi
kolaborator, sementara generasi sebelum mereka disebut sebagai generasi
cowboys. Generasi pendahulu ini menggunakan pecut untuk membuat bawahan mereka
bekerja. Hal ini tidak dapat dilakukan pada generasi millennial yang sangat
peka dan sensitif serta menguasai teknologi. Karena itu, mungkin sekali
ditemukan di berbagai perusahaan, adanya ketidaksingkronan antara para
millennial dengan generasi sebelumnya, karena faktor ini.
Wilyerd (2015) dalam Harvard Business Review menyampaikan bahwa millenials ingin menerima coaching di tempat kerja. Tim Gallwey (dalam Wilyerd, 2015), menyampaikan bahwa “Coaching membuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerja mereka sendiri. Ini membantu mereka belajar, daripada mengajar mereka. ”Atau sebagaimana diterapkan pada dunia bisnis, Coaching bukan tentang memberi tahu orang apa yang harus dilakukan, tetapi membantu mereka mencapai semua yang mampu mereka lakukan dan menjadi”.
Untuk itu ACT Consulting mengundang Anda dalam acara:
“Unlocking The Power of Millenials”
Rabu, 27 Maret 2019
Pukul: 09.00 – 11.30
Mini Auditorium lantai 4, Menara 165
Jl. Tb Simatupang kav 1, Cilandak – Jakarta Selatan
Registrasi berlaku Untuk 2 orang
Klik link berikut ini atau daftar melalui kawan kami Aziz (0821-2356-7237)
Bit.ly/Act-HC
Bit.ly/Act-HC
Bit.ly/Act-HC
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Budaya perusahaan ditentukan oleh sejauh mana karyawan mengetahui dan mendalami nilai-nilai perusahaan yang sifatnya mendasar. Selain itu yang mendasari budaya perusahaan adalah pemetaan Visi dan Misi Organisasi dan Perusahaan.
Apabila values, visi dan misi telah sejajar, dan dipahami secara baik, maka tujuan pendirian perusahaan akan dapat dicapai dengan lebih mudah. Karyawan akan dapat bekerja dengan penuh semangat dan totalitas, karena menyadari pentingnya misi bekerja yang mereka emban sebagai amanah.
Setelah memahami tujuan organisasi dengan benar, karyawan akan dapat bekerja dengan fokus. Kreativitas yang diberikan akan terarah. Waktu bekerja juga akan dimanfaatkan dengan lebih optimal. Dengan begitu, semua tujuan dan target yang ditetapkan akan lebih mudah dicapai bersama-sama, secara kolaboratif oleh semua bagian.
Turangga Rosources di tanggal 12-13 Maret 2019 menyelenggarakan Training EQSIS-Values Internalization batch 5 yang diikuti oleh perwakilan karyawan setiap divisi Head Office.
Bapak Arianto sebagai Direktur Operasional saat opening speech menyampaikan pesan bahwa Values EQSIS adalah perekat karyawan Turangga untuk bisa bersama-sama mencapai visi perusahaan.
Coach Rinaldi Agusyana sebagai salah satu direktur di ESQ Group juga turut hadir saat opening kegiatan. Coach Trie Setiatmoko (Tiko) dan Ilham Nugraha, yang memandu serangkaian program Values Internalization di Turangga Resources.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk values internalization agar menjadi karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Half Day Training Motivasi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemerintah Kota Tangerang Selatan diberikan oleh ACT Consulting pada tanggal 12 Maret 2019.
Modul Motivasi disampaikan oleh Coach Muhammad Zaki, dan Trainer Syaiful serta tim dari ESQ dan ACT Consulting.
Acara ini diselenggarakan dalam rangkaian Bimbingan Teknis Manajemen Perubahan yang tengah dilangsungkan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan bermaksud meningkatkan Produktivitas Kinerja Aparatur Pegawainya melalui berbagai kegiatan yang diberikan ke berbagai Badan dan Biro yang ada dalam pemerintahan.
Upaya ini merupakan bagian dari kerja keras yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk meningkatkan kualitas kepada masyarakat melalui berbagai langkah terpadu.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
“We need learning and information support to be as easy and intuitive to use. Shifting from “instructional design” to “experience design” and using design thinking are key here. And we have to look at employees’ journeys at work, so we can produce learning that is simple and easy in the flow of work.”
Josh Bersin, writer & global industry analyst (Forbes,
2017).
WHY DIGITAL LEARNING SOLUTIONS?
Kurva Ebbinghaus di bawah ini menunjukkan bagaimana suatu materi pembelajaran konvensional dilupakan. Pembelajaran konvensional hanya bertahan sebentar saja. Bahkan, dari 80% pemahaman, akan terlupakan menjadi 50% saja hanya dalam waktu 10 menit setelah suatu kelas training selesai, dan kurang dari 10% materi training masih diingat dalam waktu seminggu setelah training selesai.
Namun, karena
sifatnya yang mudah diulang dan tidak memakan biaya pengulangan, Digital
Learning menunjukkan efek sebaliknya. Melebihi pembelajaran konvensional yang
hanya dapat diingat sebanyak 80% dari keseluruhan materi, Digital learning
menunjukkan kenaikan persentase hingga diatas 95% jumlah materi yang dapat
diingat karyawan. Untuk mempertahankan efek mengingat tersebut, perusahaan
hanya perlu memastikan tiap karyawan kembali melakukan review training dengan
kembali mengakses materi online training yang sama setelah 1 hari, 1 pekan, dan
1 bulan sesudah tiap sesi training digital.
WHAT ARE ESQ DIGITAL LEARNING SOLUTIONS?
Sebuah pengalaman belajar, akan menumbuh kembangkan berbagai bakat dan potensi karyawan. Secara simultan, karyawan yang telah berkembang berarti organisasi perusahaan Anda akan berkembang sebagai hasilnya.
ESQ memiliki 3 metode pembelajaran digital yang ditujukan untuk
memberikan pengalaman belajar sebagai sebuah perjalanan (experiental learning journey).
Solusi yang telah dikembangkan ESQ dalam pembelajaran digital terdiri
dari;
Virtual Training
Virtual Coaching
Webinar Management
3 PATHWAY OF ESQ DIGITAL SOLUTIONS
Virtual Training
Solusi training
yang komprehensif, untuk menjawab masalah jarak, biaya dan waktu. Menjangkau ratusan
bahkan ribuan karyawan dalam waktu yang sama, dan program maintenance yang lebih termonitor
dan berkesinambungan.
Dengan
beragam digital content yang tersedia:
E-movie: Video konten berisi materi pembahasan yang
bisa disesuaikan dengan kebutuhan organisasi (customized).
Digital Library; perpustakaan online
yang terdiri dari berbagai buku yang relevan dengan tema pembelajaran.
Digital Motivation; Quotes inspirasional yang disebarkan
secara berkala dengan tujuan untuk mengingatkan peserta terkait modul yang
sudah dipelajari.
E-Learning:
Modul pembelajaran yang disusun dengan
menggunakan sistem elektronik sehingga mampu mendukung proses pembelajaran
Virtual Coaching;
Platform pembelajaran yang bersifat adaptif. Membantu karyawan dalam
memetakan masalah mereka dan memperoleh solusi. Dalam platform Virtual Coaching
ini juga karyawan juga bisa mendapatkan langsung solusi dari CEO, Trainer dan
Tokoh, dalam bentuk short videos. Layanan penuh dari aplikasi Virtual Coaching
ini terdiri dari;
Emotion mapping (mood states evaluation),
Tree maps of problems,
Solutions Ideas
Webinar management
Merupakan sesi CEO Talks yang mempertemukan karyawan dengan CEO, sehingga jumlah karyawan yang ratusan hingga puluhan ribu bisa memiliki kesempatan untuk melakukan tatap muka interaktif dengan CEO. Dikemas secara profesional dalam konsep program Televisi.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki solusi Digital Training sesuai dengan keperluan organisasi Anda. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Honey (2000) dalam Ellis dan Kuznia (2014) menyampaikan tingkat manfaat digital training bagi karyawan yaitu bahwa 90% dari peserta digital training menyampaikan bahwa apa yang mereka pelajari adalah hal yang berguna. Sementara, 81% provider digital training dan 66% pegawai setuju bahwa digital training akan memberikan keuntungan yang besar bagi kapasitas korporasi dan organisasi untuk belajar.
Secara umum, partisipan yang mengikuti penelitian memberikan komentar dan pandangan yang positif terhadap digital training karena kenyamanan yang mereka rasakan. Walau begitu, kita perlu memperhatikan sejumlah faktor lain yang berpengaruh pada keberhasilan digital training seperti faktor motivasi belajar dan kebiasaan belajar mandiri yang berbeda-beda tingkatnya pada masing-masing peserta. Ketidak mampuan seseorang untuk mengatasi kesulitan belajarnya secara mandiri dan kurangnya motivasi untuk berubah dapat menjadi faktor yang menyebabkan seseorang mempertanyakan kegunaan dan manfaat dari digital training pada dirinya.
Menurut Adkins (2011) dalam Ellis
dan Kuznia (2014), biaya yang dihabiskan oleh korporasi untuk menggunakan dan
membeli produk digital training di Amerika Serikat diestimasi telah mencapai
hingga 6,8 milyar dollar Amerika, dan di tahun 2015 biaya yang dikeluarkan
untuk digital training mencapai angka hingga 7,1 milyar dolar Amerika.
Untuk menemukan angka tersebut
diatas, Adkins (2011) melakukan penelitian pada perusahaan kecil, sedang dan
besar, dan memperhitungkan demand korporasi tersebut terhadap produk dan layanan
digital training. Dari seluruh pasar e-learning di Amerika Serikat, korporasi
mengambil porsi hingga 37,4% dan merupakan segmen terbesar bagi pasar
e-learning di Amerika serikat.
Hal ini karena berbagai manfaat
digital training bagi karyawan yang mencakup sejumlah faktor yaitu;
pengurangan biaya training dengan menggunakan solusi
training virtual
kostumisasi solusi training untuk para pegawai
kemampuan untuk menyimpan data training secara detail.
Terdapat catatan yang rinci tentang performa pegawai, kebutuhan training
mereka, dan informasi penting lainnya.
Kemampuan untuk memproduksi modul sesuai kebutuhan yang
meningkat terhadap solusi training
Aksesibilitas pada sumber training yang akurat dan
terbaru, tersedia melalui ujian yang sistematis dan update dari materi
e-learning dan informasi dari para ahli di bidangnya.
Pilihan yang disediakan antara digital training bersama
di kelas atau secara pribadi.
Untuk melihat bagaimana manfaat
digital training atau e-learning bagi karyawan, Sebuah studi empiris dilakukan
dengan melibatkan 200 pegawai di Tunisia. Penelitian yang dilakukan di tahun
2013 oleh Rym, Olfa dan Melika tersebut menunjukkan bahwa pegawai di Tunisia
memperhatikan berbagai hal di dalam digital training, yang menjadi faktor
penentu tingkat penerimaan metode training digital ini dibanding metode traning
konvensional.
Sejumlah aspek tersebut adalah (Rym,
Olfa dan Melika, 2013); persepsi peserta tentang manfaat dari training yang
diikuti, kemudahan yang ditemui saat pelaksanaan e learning atau digital
training, kemudahan dalam memahami materi yang diberikan, dan pengaruh faktor
dari perangkat teknologi komunikasi yang digunakan.
Sejmlah hal diatas disampaikan
sebagai faktor individual yang mempengaruhi bagaimana teknik training digital
akan dikembangkan setelahnya. Selain itu ada juga faktor yang bersifat
organisasi atau faktor sistem yang juga menjadi faktor penentu dalam tingkat
penerimaan e-learning atau digital training bagi para pegawai di Tunisia.
Sebelumnya, penelitian yang
dilakukan oleh Favier et al pada tahun 2004 di Perancis menunjukkan bahwa pihak
yang menentukan perkembangan platform e learning adalah para peserta, tutor
atau trainer, dan juga institusi dimana proyek e learning dilakukan. Hal ini
sejalan dengan penelitian yang juga dilakukan di Perancis oleh R. Meissonier
dan E. Houzé di tahun 2004. Menurut sumber tersebut, ada sejumlah manfaat
digital training bagi karyawan, yaitu dalam hal;
Kemudahan belajar dengan perulangan yang lebih baik;
hal ini karena e learning menyediakan akses yang mudah ke sumber-sumber
pengetahuan yang relevan dan berguna. Collins et al (2003) dalam
penelitian yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa metode pembelajaran
training secara digital meningkatkan rasio penggunaan dan penyimpanan
informasi.
Fleksibilitas tempat dan lokasi; e learning memberikan
kesempatan pada peserta untuk menghadiri training di waktu dan tempat yang
tak terbatas (Tseng et al, 2007, dalam penelitian yang dilakukan di
Taiwan); hal ini sesuai dengan pendekatan “just in time” yang diberikan.
Kesempatan untuk melakukan beragam penyesuaian/
kostumisasi; e-learning memberi kesempatan bagi peserta untuk belajar
sesuai dengan ritme belajar pribadi mereka, dan dapat memilih sesuai
dengan agenda pribadi yang dimiliki.
Meningkatkan Produktivitas; e-learning atau digital
training menawarkan kesempatan pada peserta untuk memperbaiki dan
meningkatkan tingkat efektivitas mereka dalam belajar
Kolaborasi antar institusi dengan komunitas dan
kesempatan interaktif; karena e learning atau digital training mengikat
para pesertanya dengan peserta lain dan dengan para ahli bersama-sama
untuk membentuk komunitas belajar yang kolaboratif.
Rym, Olfa dan Melika (2013) juga
menyebutkan adanya faktor sistemik yang mempengaruhi tingkat penerimaan manfaat
digital training bagi karyawan yaitu;
Efek dari kualitas konten di dalam digital
training, yang mempengaruhi persepsi peserta tentang tingkat manfaat
training. Hal ini ditemukan sebagai hasil yang signifikan dan
positif. Sejalan dengan hasil yang diperoleh oleh Lee (2006, dalam
penelitian di Taiwan), serta hasil yang diperoleh oleh Pituch dan Lee
(2006, dalam penelitian di Texas, Amerika Serikat, dan Taiwan).
Semakin baik dan kaya kualitas dari e-learning, serta
adanya konsistensi sistem yang mengupdate konten secara regular, semakin
tinggi persepsi peserta terhadap tingkat urgensi dari materi
Sikap terhadap nilai manfaat dari e-learning atau
digital training nampak menjadi faktor penentu dan menjadi sangat penting
untuk penggunaan fasilitas belajar melalui digital training ini
Secara sejajar, selain dari hal
diatas, penelitian yang dilakukan oleh Rym, Olfa dan Melika (2013) juga
menunjukkan;
Tingkat urgensi perlunya pengaruh positif yang dapat
ditimbulkan secara langsung, yang dapat mengubah persepsi mengenai manfaat
digital training. Hal ini menentukan bagaimana sikap selanjutnya yang
ditunjukkan oleh para peserta.
Secara tidak langsung, didapatkan juga nilai dari
persepsi terhadap pentingnya digital training yang menunjukkan angka yang
cukup tinggi, yaitu t = 7.421; p = 0.000, g = 0.682
Didapatkan juga pengaruh dari tingkat persepsi manfaat
training pada sikap peserta pada training. Hal ini ditemukan lebih
berpengaruh dibandingkan tingkat persepsi peserta terhadap kemudahan
penggunaan perangkat IT dalam mengikuti digital training.
Sementara, di tahun 2014, Ellis dan
Kuznia dari Amerika Serikat mempelajari bagaimana pengaruh korporat e-learning
terhadap para pegawainya. Ternyata ditemukan bahwa kesuksesan digital training
sangat bergantung pada bagaimana korporasi dan organisasi mendukung dan melatih
pegawai untuk menggunakan teknologi pembelajaran.
Selain itu, sejumlah faktor lain
yang sangat mempengaruhi tingkat kegunaan digital training diantaranya adalah
(Ellis dan Kuznia, 2014);
komitmen dari jajaran manajemen senior,
kemudahan dalam penggunaan digital training atau
platform digital training yang bersifat user friendly,
tingkat efektivitas dari program digital training yang
diberikan
investasi korporat di bidang sumberdaya manusia, dan
budaya organisasi yang mendukung inovasi dan
pembelajaran (Schweizer, 2004).
Untuk mengetahui kelebihan digital training, anda bisa mengakses
link ini. Selain hal diatas, terdapat juga hasil
penelitian mengenai Kurva Ebbinghaus yang mempengaruhi hasil belajar yaitu;
Untuk mendapatkan bantuan mengenai
cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi
perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki solusi
Digital Training sesuai dengan keperluan organisasi Anda. Hubungi kami via
email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Pak Risono, President Director PT GAG Nikel menyatakan bahwa apa yang dialaminya selama Training Transformational Leadership adalah sebuah jalan untuk mewujudkan Indonesia Emas, sebuah hal yang dahulu diucapkannya di depan Ka’bah dua tahun yang lalu.
Pak Risono percaya bahwa Indonesia adalah Negara Besar yang membutuhkan banyak pemimpin yang memiliki kekuatan prinsip yang berasal dari keimanan, yang dapat menciptakan generasi yang sejahtera, tanpa bergantung pada negara lain dan tanpa bergantung pada prinsip yang salah.
Pak Risono mengaku melihat promosi training Transformational Leadership ini dan dalam sekejap mata langsung memutuskan untuk mengikutinya. Setelah mengikutinya, ia meyakini bahwa apa yang ia temukan adalah Jalan Terbaik dari Tuhan.
Di dalam Training Transformational Leadership ini Pak Risono merasakan ikut dirangkul dalam komunitas orang-orang yang memiliki prinsip yang sama untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Di Training ini ia dipersatukan dengan orang-orang yang juga para pemimpin, yang memiliki visi besar dan mulia yang sama dengannya.
Pak Risono merasa Training Transformational Leadership ini adalah jalan yang dibukakan oleh Illahi, yang membuatnya memiliki kesempatan untuk menyebarkan kebesaran Cahaya Illahi dengan membangun generasi yang kuat, generasi yang tidak kelaparan, yang tidak bergantung pada budaya atau negara lain.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Bapak Drs U. Saefudin Noor, Direktur Utama Perum Jasa Tirta II mengucapkan bahwa Program Transformational Leadership adalah lebih dari sekedar Training. Namun ini adalah sebuat proses refleksi kepemimpinan, perjalanan untuk menemukan diri sendiri, yang dijalaninya mengenai masa-masa yang dijalaninya sebagai seorang pemimpin.
Dalam Training Transformational Leadership ini Pak Saefudin menyatakan bahwa Training dua hari bersama DR HC Ary Ginanjar Agustian adalah sebuah perjalanan untuk melihat tujuan dan untuk melihat hari ini, dan bagaimana cara untuk mencapainya kedepan.
Menurut Pak Saefudin, mengubah (change management) adalah sesuatu hal yang sulit, namun dengan menemukan tujuan yang jelas, dan kemampuan untuk mampu melihat keadaan saat ini, maka perubahan akan dapat dilakukan dengan mudah.
Bila kita tidak tahu dan tidak dapat menemukan kekuatan diri kita, dan tujuan yang kita ingin capai, maka perubahan akan menjadi sulit. Namun dengan dapat menemukan tujuan yang betul, dan dapat menemukan kekuatan apa yang kita miliki untuk mewujudkannya, maka perubahan yang diinginkan akan dapat dicapai.
Pak Saefudin menyatakan bahwa Training Transformational Leadership ini telah sangat menginspirasi dirinya dan para peserta lainnya untuk dapat melihat tujuan yang jelas tersebut, dan membuat para peserta mampu melihat kekuatan apa yang masing-masing orang telah miliki untuk mewujudkannya.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Di tahun 1980an, Oracle telah tumbuh menjadi perusahaan IT yang sangat besar di Amerika Serikat dan di dunia. Saat itu, Oracle telah menjadi perusahaan software besar yang membuatnya berada di urutan pertama di bidang database, di urutan kedua setelah Microsoft di bidang software untuk personal computer, dan di urutan kedua untuk Enterprise Resource Planning Software (ERP) setelah SAP.
Apa yang ditawarkan oleh Oracle pada banyak konsumennya adalah; “Bagaimana kami bisa membuat Perusahaan Anda menjadi Hebat”.
Namun, Oracle di tahun 1980an itu tumbuh dengan skala penjualan yang melampaui kemampuannya untuk memenuhi apa yang dijanjikan kepada konsumen. Pihak sales membukukan angka-angka untuk produk software yang bahkan belum diciptakan oleh Oracle. Konsumen menunggu-nunggu solusi yang ditawarkan Oracle untuk usaha mereka, hingga waktu development software selama 3 (tiga) tahun sesuai perjanjian.
Konon kebiasaan sales yang terlalu bombastis dalam membukukan penjualan ini terjadi karena ambisi sang Pendiri, Larry Ellison, yang berambisi untuk mengalahkan Bill Gates dan Microsoft untuk menjadi perusahaan terkaya di dunia dan untuk menjadi orang terkaya di dunia. Apa yang diimpikan oleh Larry Ellison yang terkenal karena ambisi besarnya untuk selalu menjadi pemenang di segala bidang ini, membuat matanya buta dan membuatnya menjanjikan segala hal secara berlebihan.
Namun mimpi buruk para akuntan di dalam Oracle pun menjadi kenyataan. Saat Oracle version 6 yang diluncurkan ternyata memiliki banyak bugs di dalamnya, dan sangat mengecewakan bagi konsumen. Ini membuat Oracle kemudian hampir tutup. Kerugian yang terjadi mencapai hingga ratusan juta dollar Amerika. Nilai kekayaan bersih yang dimiliki Larry Ellison pun jatuh berkurang hingga membuatnya hampir miskin.
Di tengah semua bencana finansial yang mereka alami, Larry Ellison kemudian mencari bantuan dari seorang konsultan manajemen yang ternama saat itu, yang juga seorang ahli teknologi. Ia adalah Raymond J Lane, yang sebelumnya berhasil membesarkan sejumlah perusahaan seperti IMB dan EDS (Electronic Data Systems).
Di tahun 1992, Lane direkrut oleh Oracle Corporation untuk membalikkan penjualan, layanan, konsultasi dan pemasaran perusahaan, ia dan ditunjuk sebagai presiden Oracle USA pada bulan Juni.
Oracle, yang menderita pertumbuhan pesat pada akhir tahun 80-an tanpa check and balance atas costumer practice-nya, saat itu juga tertinggal secara teknologi.
Perputaran cepat di pertengahan 90-an kemudian dilakukan oleh Lane dengan memperkuat Corporate Culture dan membesarkan Costumer Service Satisfaction serta proses operasional dibuat untuk menjadi lebih tertib prosedur.
Akhirnya, tindakan penyelamatan dilakukan dengan didorong oleh teknologi database baru yaitu dengan diluncurkannya Oracle 7 yang menghadirkan beragam solusi sesuai dengan rangkaian fitur yang dijanjikan kepada konsumen, dengan menyelesaikan berbagai bugs yang ada pada versi sebelumnya. Oracle 7 pun kemudian cepat menjadi hits.
Oracle serta merta menjadi pulih kembali dan keluar dari lubang jarum dengan adanya sistem organisasi penjualan dan layanan yang lebih baik. Berbagai terobosan yang dilakukan Lane di perusahaan, diantaranya dilakukan dengan meluncurkan divisi aplikasi bisnis Oracle.
Pendiri Apple, Steve Jobs mengenang bahwa “Larry mengatakan kepada saya bahwa 15 menit setelah rapat, dia tahu Ray adalah satu-satunya pria yang dia temui yang hampir cukup pintar untuk menjalankan Oracle.” Pada tahun 1996, Lane diangkat sebagai Presiden dan CEO Oracle.
Di bawah kepemimpinan Ray Lane, bersama dengan Larry Ellison dan Jeff Henley, Oracle berkembang dari 7.500 menjadi 40.000 karyawan, mengalahkan saingan basis data utamanya, Sybase dan Informix, untuk menjadi pemimpin dalam industri basis data sambil membangun bisnis utama dalam aplikasi dan konsultasi.
Tragedi di Oracle terjadi karena kelemahan dalam budaya perusahaan. Sebuah perusahaan dengan budaya yang baik dan kuat akan bisa bertindak dengan elegan dan rapi dalam memanen kesempatan yang ada di lapangan dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran.
Kemampuan karyawan dalam mematuhi code of conducts atau work and sales ethics adalah gambaran dari benih budaya organisasi yang ditumbuhkan untuk menjadi kokoh, kuat dan subur di dalam organisasi.
Baru setelah keseimbangan di dalam organisasi tercipta, maka organisasi akan bisa bertumbuh dengan eksponensial dan mencapai berbagai impian yang dimiliki. Seperti adagium yang terkenal bahwa tujuan yang baik tidaklah dapat menghalalkan segala cara, namun tujuan yang baik haruslah dicapai dengan cara-cara yang baik.
Untuk mendapatkan bantuan dari ACT Consulting mengenai cara menumbuhkan budaya organisasi yang kuat, anda dapat klik disini.
Untuk dapat menguasai keterampilan strategi yang mumpuni untuk dapat mengelola perusahaan di tengah berbagai badai, Anda bisa klik disini.
Untuk dapat menguasai keterampilan membangun budaya perusahaan secara mandiri, dan menjadi ahli budaya perusahaan dengan sertifikasi yang diakui nasional, Anda bisa klik disini.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Penelitian dari Petchsawanga &
Duchon (2012) telah menunjukkan bahwa dengan memperhatikan sisi spiritual karyawan, organisasi membantu mengurangi
stres, meningkatkan kreativitas, dan meningkatkan penyelesaian masalah
(Tischler et al. 2002).
Dengan berfokus pada kualitas spiritual, kebermaknaan dan kegembiraan di
tempat kerja, sejumlah perusahaan telah
menemukan (dalam Petchsawanga & Duchon (2012));
peningkatan
kepuasan kerja (Harung et al. 1996),
peningkatan
keterlibatan kerja,
identifikasi
organisasi, dan
kepuasan
imbalan kerja (Kolodinsky et al. 2008),
kejujuran
yang lebih besar,
kepercayaan
, dan komitmen (Krishnakumar dan Neck 2002),
bahkan meningkatkan
performa pekerjaan (Duchon dan Ploughman 2005).
Contoh dari organisasi kelas dunia yang sukses seperti Hewlett-Packard, Tom’s of Maine, Ford Motor Company
(Burack 1999), Bank Dunia (Laabs 1995), AT&T, Chase Manhattan Bank, DuPont,
dan Apple Computer (Cavanagh 1999) menunjukkan hasil positif. Kesemua
perusahaan tersebut telah menciptakan program untuk
menghadirkan spiritualitas atau aktivitas ibadah/ ritualitas di tempat kerja.
Sebagai contoh, AT&T mengirimkan manajer
menengah ke program pengembangan tiga hari yang membantu para peserta untuk
lebih memahami diri mereka sendiri dan lebih baik mendengarkan bawahan mereka
(Cavanagh 1999). Mengejar pengetahuan tentang diri sendiri dan meningkatkan kemampuan untuk “mendengarkan” daripada mengontrol adalah fitur
utama dalam banyak pencarian spiritual.
Hewlett-Packard membangun spiritualitas di
tempat kerja melalui filosofi perusahaan yang menekankan nilai-nilai
kepercayaan dan saling menghormati, yang pada gilirannya diyakini berkontribusi
pada kerja sama dan berbagi rasa tujuan (Burack 1999).
Paradigma spiritual pada dasarnya mengakui
bahwa manusia bekerja tidak hanya dengan tangan mereka, tetapi juga hati atau
roh mereka (Ashmos dan Duchon 2000). Ketika orang bekerja dengan semangat yang
berkomitmen, mereka dapat menemukan semacam makna dan tujuan, semacam pemenuhan
yang berarti tempat kerja dapat menjadi tempat di mana orang dapat
mengekspresikan seluruh atau seluruh diri mereka.
Dengan demikian, Petchsawanga & Duchon (2012) menyimpulkan bahwa menghadirkan elemen spiritual dalam pekerjaan memungkinkan pengekspresian pengalaman manusia pada tingkat terdalamnya, tingkat spiritual yang tidak hanya mengurangi stres, konflik, dan ketidakhadiran, tetapi juga meningkatkan kinerja pekerjaan (Krahnke et al. 2003), kesejahteraan karyawan, dan kualitas hidup (Karakas 2010).
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan melalui penemuan makna hidup dan spiritualitas hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Untuk membantu Anda menemukan peningkatan manfaat dari spiritualitas karyawan di pekerjaan dalam perusahaan, Anda dapat mengikutkan mereka pada training New Chapter dengan membaca keterangan lengkapnya disini, atau langsung mendaftarkan karyawan anda disini.
Billionaire Masayoshi Son, chairman and chief executive officer of SoftBank Group Corp., speaks at SoftBank World 2015 in Tokyo, Japan, on Thursday, July 30, 2015. SoftBank said they will take pre-orders for an enterprise model of its Pepper robot in Japan from Oct. 1 for 55,000 yen a month. Photographer: Kiyoshi Ota/Bloomberg *** Local Caption *** Masayoshi Son
Bila anda mengikuti kisah besarnya Tokopedia di Indonesia, anda mungkin membaca mengenai salah satu perusahaan besar dunia yang berinvestasi di platform e-commerce berwarna hijau ini. Ya, investasi dari Softbank, adalah salah satu yang membuat Tokopedia menjadi unicorn.
Konon jauh sebelum berinvestasi di startup Indonesia, Masayoshi telah terlebih dulu berinvestasi di Yahoo, di saat perusahaan ini masih memiliki karyawan 30 orang, di tahun 1995.
Masayoshi juga yang berinvestasi sebesar dua puluh juta US dollar di Alibaba, disaat perusahaan itu bahkan belum memiliki keuntungan sama sekali, di tahun 1999. Keuntungan Softbank meningkat 4500% dengan melambungnya harga saham Alibaba saat pertama melantai di bursa, yaitu dari 20 juta dollar investasinya, Alibaba menjadi bernilai 90 juta dollar amerika.
Pandangan Inovatif Futurist adalah pandangan yang dimiliki oleh Masayoshi dalam berinvestasi. Saat berkuliah, ia mengambil dua jurusan sekaligus yaitu Ilmu Komputer dan Ekonomi. Saat masih berkuliah, ia pernah bertanya pada kawannya, pekerjaan apa yang bisa mendatangkan uang 10 ribu dollar per bulan dengan hanya bekerja lima menit sehari. Kawan-kawannya tertawa dan meledeknya. Namun Masayoshi tidak surut.
Tak lama kemudian, Masayoshi menemukan sebuah kesimpulan bahwa ia akan dapat memiliki banyak uang dengan menciptakan sebuah inovasi, yang dengan itu ia bisa menjual hak cipta atau mendapatkan royalti darinya.
Dengan kebiasaannya untuk berfokus 5 menit sehari untuk menemukan ide brilyan apa yang bisa membuatnya kaya, Masayoshi akhirnya menemukan ide untuk menciptakan mesin penerjemah elektronik. Ia kemudian menciptakan mesin penerjemah elektronik dengan kemampuan ilmu komputer yang dimilikinya.
Mesin penerjemah elektronik buatannya itu kemudian dibeli oleh perusahaan elektronik besar, Sharp, dengan harga 1,7 juta dollar amerika. Tak lama, ia kemudian membuat satu lagi inovasi dan mendapatkan pembelian hak cipta sebesar 1,5 juta dollar amerika. Sehingga saat ia lulus, ia telah memiliki uang sebesar 3,2 juta dollar. Teman-teman yang dahulu menertawainya kini hanya bisa terdiam.
Pandangan luas yang dimiliki oleh Masayoshi datang dari rasa ingin tahunya yang sangat besar. Masayoshi muda, sangat suka membaca. Pada usia 16 tahun, ia membaca kisah hidup CEO Mc Donald di Jepang saat itu. Dari situlah ia kemudian menelepon ke perusahaan tersebut untuk dapat bertemu sang CEO.
Setelah 60 kali menelepon jarak jauh, Masayoshi muda merasa bahwa ia harus datang ke Tokyo. Karena biaya telepon jarak jauh yang dihabiskannya lama kelamaan lebih besar dari harga tiket pesawat ke Tokyo.
Akhirnya di saat ia bisa mendatangi kantor pusat Mc Donald di Tokyo saat itu, ia bersikeras untuk dapat menemui sang CEO. Ia berjanji untuk tidak akan mengganggu. Ia mengatakan ia hanya ingin menatap orang yang dikaguminya itu, karena ia benar-benar menyukai kisah dalam buku yang ditulis sang CEO.
Usaha kerasnya pun berbuah manis. Masayoshi diberi kesempatan untuk bertemu dan berbincang dengan sang CEO. Pada kesempatan selama 15 menit itu, Masayoshi mengajukan pertanyaan; bidang apa yang harus ia pelajari, yang akan berkembang dengan pesat di masa depan. sang CEO mengatakan; Komputer! Itulah yang akan berkembang dengan sangat-sangat baik di masa depan. Teknologi komputer akan berkembang ke seluruh dunia. Saat itu di tahun 1973, Masayoshi membulatkan tekad untuk belajar ilmu komputer.
Masayoshi pun kemudian pergi ke Amerika di tahun itu juga. Ia pindah belajar ke California dan menamatkan SMA selama 3 minggu dengan mengambil ujian kelulusan di Serramonte High. Singkat cerita, setelah lulus kuliah, Masayoshi kembali ke Jepang.
Kisah bisnis Masayoshi pun kemudian dimulai dengan mendirikan Softbank. Softbank bermula sebagai sebuah perusahaan yang berkonsentrasi untuk menjual berbagai software hasil temuan banyak inovator dari seluruh penjuru dunia. Perusahaan ini dengan cepat menjadi besar. Tak lama, Softbank kemudian mulai membesarkan fokusnya untuk menjadi perusahaan yang melakukan investasi di berbagai perusahaan teknologi di seluruh dunia.
Singkat cerita, dengan kejelian Softbank yang dapat melihat peluang besar di balik sejumlah bisnis start up seperti Yahoo di tahun 1995 dan Alibaba di tahun 1999, Softbank menjadi besar dan kaya dengan sangat cepat. Hingga pada satu titik, Masayoshi Son pernah mengalahkan jumlah valuasi yang dimiliki oleh Bill Gates, pendiri Microsoft yang menjadi orang terkaya di dunia pada saat itu.
Di tahun 2016, investasi yang sangat besar juga dilakukan oleh Softbank, yaitu dengan membeli perusahaan perancang mikrochip (semi konduktor) yaitu ARM. Investasi ini kemudian menjadi investasi terbesar yang dilakukan di sebuah perusahaan di Eropa.
Hal yang mendasari investasi ini adalah keyakinan Masayoshi bahwa ARM memiliki 99% hak paten dari semua mikrochip yang ada di dunia. Sementara, ia yakin bahwa semua hal di planet bumi pada akhirnya akan menggunakan mikrochip. Karena itu ia memiliki keyakinan bahwa ARM akan menjadi lebih besar daripada Google.
Masayoshi bisa memiliki pertimbangan yang matang dalam berinvestasi karena ia memiliki latar belakang ilmu di bidang Ekonomi dan di bidang ilmu komputer. Sehingga ia mengetahui dengan pasti, peluang yang ada di balik setiap investasi yang akan ia lakukan.
Saat ia melihat Alibaba misalnya, ia melihat ada kesalahan dalam model bisnis yang dilakukan oleh Jack Ma. Namun ia melihat bagaimana Ma mampu mengumpulkan puluhan orang untuk bekerja padanya, dalam keadaan perusahaan yang belum memiliki keuntungan. Disitu ia melihat kepemimpinan dan bakat wirausaha yang penuh kerja keras dan dedikasi yang diberikan Ma di Alibaba. Masayoshi bukan hanya menjadi penanam modal, ia pun mengendalikan perusahaan dengan saham yang dimilikinya. Ia lalu membantu Ma menemukan model bisnis yang tepat untuk diaplikasikan di Alibaba, yang bisa membuatnya kemudian menjadi besar seperti sekarang.
Hal yang sama, dilakukan juga oleh Masayoshi di ARM. Ia melihat besarnya kompetensi yang dimiliki oleh perusahan ini. Ia juga melihat peluang di balik kemampuan khusus dan unik yang dimiliki ARM, hanya saja, ia kembali melihat adanya manajemen dan bisnis model yang salah yang dilakukan oleh ARM, yang ingin ia perbaiki dengan investasinya.
Pandangan untuk menurunkan ilmu dan mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki ke perusahaan dimana ia berinvestasi, adalah kehebatan milik para investor besar kelas dunia. Sama seperti kisah Masayoshi Son, Warren Buffet juga melakukan hal yang sama di perusahaan-perusahaan yang ia beli. Bagaimana dengan Anda?
Bila anda ingin agar perusahaan Anda memiliki kemampuan Inovatif Futurist seperti yang dimiliki oleh Masayoshi Son, anda dapat mengikuti program Business Innovation dari ACT Consulting. Untuk membuat karyawan anda menjadi luwes dalam melakukan strategi bisnis, Anda dapat mengikutkan mereka di program Corporate Strategy Intelligence.
Untuk mengetahui bagaimana cara menjadi kaya seperti Masayoshi Son, ESQ kini memiliki training yang mampu membuat Anda memiliki skill pengelolaan keuangan dan keterampilan investasi. Training ini bernama The Billionare Mind. Tidak hanya menyasar orang dewasa, Training Billionaire Mind juga diberikan untuk Kids dan Teens. Anda bisa mendaftar disini.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk keterampilan keuangan dan investasi di diri para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).