Category

Article

Satya Nadella Tentang Kredo Budaya Empowerment Yang Inklusif Dari Microsoft

By Article No Comments

Dalam suatu diskusi yang dilakukan dalam World Economic Forum di tanggal 14 Desember tahun 2019, Satya Nadella, CEO Microsoft, diwawancara oleh President dari World Economic Forum, Prof Klaus Schwabb. Dalam kesempatan tersebut Nadella menyampaikan bahwa Microsoft memiliki kredo untuk melakukan pemberdayaan (empowering) kepada semua orang dari semua sudut yang berbeda di dunia.

Satya Nadella menggambarkan bahwa kredo empowerment itulah yang menurutnya paling menggambarkan visi dan misi dan yang menentukan apa dan siapa di Microsoft.

Nadella juga menyampaikan bahwa semua produk yang diciptakan oleh Microsoft, apakah itu xbox atau perangkat berteknologi tinggi, kesemuanya ditujukan untuk pasar dunia secara keseluruhan. Saat Klaus Schwab selaku Presiden dari World Economic Forum menyampaikan bahwa bila demikian maka seharusnya beragam produk digital dan ekonomi digital ditujukan bagi semua orang di seluruh dunia secara inklusif dan tidak membeda-bedakan.

“Ya”, dengan penuh semangat. Dalam merancang suatu produk di Microsoft misalnya, Nadella menyampaikan bahwa Desain adalah ilmu kelas satu yang harus melibatkan orang dari berbagai latar belakang pendidikan. Bukan hanya soal menentukan garis dan lengkung dalam sebuah prototype produk, tapi juga memerlukan pertimbangan sosiolog, ahli budaya (anthropologis), ahli matematika, dan ahli desain produk dan sebagainya. Agar produk tersebut dapat diterima oleh masyarakat secara umum.

Hal ini tentu saja berbeda dengan sejumlah visi perusahaan besar dunia yang menduduki posisi sebagai orang terkaya di dunia. Pemilik perusahaan brand fashion mahal misalnya, kini telah masuk dalam jajaran 10 orang terkaya di dunia.  Padahal produk yang diciptakan oleh perusahaan tersebut tidak menjadi kebutuhan primer bagi banyak penduduk dunia. Hanya menjadi suatu lambang kemewahan semata.

Terhitung ada pemilik dua merk branded yang masuk dalam daftar 10 orang terkaya dunia yaitu Arnault dan Carlos Slim Helu. Keduanya memiliki brand yang punya tingkat penjualan yang terhitung laris dan mendatangkan banyak keuntungan bagi usaha fashion mereka.  Satu perusahaan produsen IT besar dunia pun pernah ada di posisi teratas sebagai perusahaan terkaya. Padahal produk mereka bukanlah suatu produk yang mampu memasyarakat, karena daya beli masyarakat yang tidak mungkin untuk membayar harga tingginya.

Di tengah kegandrungan masyarakat dunia akan produk branded tersebut, Nadella yang bijak dan berasal dari tanah India yang sampai tahun 2020 ini masih memiliki banyak penduduk miskin tersebut, menyampaikan bahwa di dalam kepemimpinannya di Microsoft ia akan menjaga kredo empowerment tersebut.

Hal yang terhitung mulia untuk menjadi visi besar yang akan menjadikan sebuah perusahaan mampu terus dicintai oleh masyarakat. Di tengah derasnya kemunculan berbagai sistem operasi dalam administrasi dan keuangan, Microsoft masih tetap dicintai oleh banyak penduduk dunia karena kredo empowerment yang diberikan secara inklusif tersebut. bagaimana dengan perusahaan Anda? Apakah telah memiliki kredo yang kokoh? Apakah kredo tersebut telah menjadi jiwa bagi budaya perusahaan Anda? Apakah visi misi perusahaan Anda tergambar dalam kredo tersebut?  Mari kita terus membuka diri untuk mempelajari berbagai pengetahuan terbaru dari berbagai belahan dunia untuk mencapai kredo mulia yang ingin kita galang di perusahaan tempat kita bekerja. Salam Perusahaan Berbudaya.

AI Leadership Toolkit dari World Economic Forum 2020

By Article No Comments

Sebuah pertemuan kelas dunia haruslah menyediakan apa yang dibutuhkan oleh pesertanya. Mengantisipasi hal tersebut, 7 hari sebelum World Economic Forum (weforum) diselenggarakan, lembaga ini meluncurkan AI Leadership Toolkit.  Langkah ini dilakukan sebagai sebuah upaya untuk menghadirkan aturan tertulis mengenai pengembangan kecerdasan buatan untuk berbagai perusahaan dunia yang terlibat.

Terdapat 7 Bidang dalam AI Leadership Toolkit yang diluncurkan oleh WEForum 2020 ini.  7 hal tersebut adalah; Strategi Branding, Keamanan Siber, Masyarakat dan Budaya, Strategi Teknologi, Strategi Operasional, Strategi Persaingan, dan Strategi Konsumerisasi. 

Dalam masing-masing bidang tersebut, AI yang telah dan akan dikembangkan haruslah memenuhi aturan Etika yang ditetapkan secara global. Namun penerapan etika ini pun harus dirumuskan bersama oleh masing-masing pemerintah, diiringi oleh proses audit, dan dilakukan dengan mempertimbangkan resiko yang ada. Dalam penetapan etika penggunaan AI ini pun setiap pihak harus memperhatikan dengan jelas tanggung jawab masing-masing serta menelisik tiap kata khusus dan istilah yang digunakan agar memiliki tataran bahasa yang sama.

Dalam sumber dari website resmi world economic forum, terdapat penjelasan dasar dari 7 Modul Strategi dalam AI Leadership Toolkit yang mencakup topik strategi AI ini;

Merek/ Branding : mempekerjakan AI untuk mempertahankan reputasi merek. Menggunakan AI untuk mengelola merek, membangun kepercayaan publik, dan melindungi citra perusahaan; membangun reputasi merek dengan mengembangkan, menyebarkan, atau menggunakan AI untuk meningkatkan masyarakat.

Persaingan: mengeksploitasi AI untuk menyelesaikan misi organisasi. Dampak pada strategi, persaingan, dan industri; menggunakan AI untuk mengganggu, bersaing, dan tumbuh; mengantisipasi risiko.

Pelanggan: memperkuat hubungan pelanggan dengan AI. Nilai bagi pelanggan; peningkatan layanan; kebutuhan dan masalah pelanggan; membangun dan memelihara kepercayaan.

Cybersecurity: membangun ketahanan terhadap risiko cyber AI. Menilai dan menangani risiko keamanan dari AI; menggunakan AI untuk meningkatkan ketahanan dunia maya; mengintegrasikan ketangguhan dunia maya ke dalam strategi.

Model pengoperasian: menggunakan AI untuk meningkatkan proses. Transformasi dan inovasi model proses dan operasi; meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Manusia dan budaya: memungkinkan AI dan manusia untuk bekerja bersama. Augmentasi manusia; budaya dan etika untuk kesuksesan AI; inklusi dan keanekaragaman; kepegawaian dan keterampilan; menggunakan AI dalam manajemen sumber daya manusia.

Teknologi: mengelola implementasi AI. Membangun sistem AI; menarik investasi TI yang ada; pembelian dan mitra utama; membayangkan masa depan teknologi AI.

Pengurangan Investasi di Perusahaan Beremisi Karbon Tinggi Untuk Menjaga Sustainabilitas Planet Bumi

By Article No Comments

Dalam Global Risk Reports World Economic Forum 2020 dikatakan bahwa masalah utama dunia adalah dalam hal perubahan iklim atau climate change yang disebabkan oleh meningkatnya sampah dan emisi karbon dioksida. 

Isu perubahan iklim ini telah banyak disebarkan sejak Al Gore masih menjabat sebagai wakil presiden di Amerika Serikat. Namun baru beberapa tahun ini masyarakat dunia mulai melakukan langkah-langkah nyata untuk melakukan pencegahan dari terjadinya kerusakan yang lebih parah.

Kesadaran massif ini baru muncul setelah masyarakat dunia merasakan sendiri pemanasan global yang menyebabkan terjadinya bencana banjir bandang dan munculnya kebakaran hutan yang parah di berbagai belahan dunia.

Para pemimpin muda dari generasi zellenial, yang lahir setelah tahun 2000 pun mulai muncul dari berbagai negara di dunia. Para zellenial leader ini telah bisa berbicara untuk kelangsungan hidup generasinya. Seorang Greta Thunberg sejak usianya masih 9 tahun telah mulai berbicara bahwa ia ingin agar anak cucunya nanti masih bisa hidup di dunia yang sehat dan masih bisa menikmati oksigen dari udara bebas.

Di momen World Economic Forum 2020, Greta Thunberg yang kini telah berusia remaja tampil sebagai pemimpin muda yang mampu menggubah pidato yang mencekam dari beragam penelitian yang ia susun secara naratif.  Greta menyatakan bahwa perubahan suhu global sebanyak 1,5 derajat celcius akan bisa memusnahkan banyak spesies dunia dan menyebabkan terjadinya bencana alam yang massif.

Data yang dikumpulkan Greta Thunberg dari berbagai penelitian yang dibacanya itu menjadi fakta menakutkan yang baru diketahui publik secara umum dan terbuka pada WEF 2020 ini. hingga para pemimpin dunia seperti Chief Economist dari China, Ma Jun pun menyatakan bahwa kini negaranya yang semula menjadi negara penghasil emisi karbon terbesar dunia, sudah mulai melakukan evaluasi yang menyeluruh dan melakukan langkah investasi yang hati-hati.

Chief Economist China, Ma Jun dalam penyampaiannya kemarin, tanggal 21 Januari 2020 menyampaikan bahwa negaranya saat ini memang masih membakar batubara hitam yang merusak lapisan ozon dunia hingga saat ini.

Namun Ma Jun juga menyampaikan bahwa dalam realita ekonomi,  China dan banyak negara dunia lainnya seperti Indonesia, pembangkit listrik tenaga batubara masih menjadi pilihan produksi listrik yang termurah dan masih terhitung aman dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar nuklir sebagai penghasil energi. 

Masalah keberlanjutan ekonomi atau sustainabilitas kehidupan di planet bumi ditampilkan pada hari pertama dari rangkaian diskusi di forum ekonomi terbesar dunia tersebut. World Economic Forum yang dihadiri oleh mayoritas pemimpin negara, pemimpin perusahaan, serta para menteri ekonomi dari berbagai negara ini pun dipaksa untuk memikirkan ulang berbagai kebijakan dan peraturan dalam negerinya masing-masing dalam berbagai upaya untuk penyelamatan ekosistem alami di planet tercinta ini.

Bahkan perusahaan asuransi besar dunia, serta perusahaan investasi besar dunia yang tampil berdiskusi dalam tajuk “Averting Climate Apocalypse” atau “Mencegah Kiamat Iklim Dunia” pun menyampaikan bahwa mereka telah membuat kebijakan dalam dunia investasi untuk mendukung upaya penyelamatan ekosistem planet bumi. 

Bahwa kini berbagai lembaga keuangan dunia harus mematuhi aturan untuk tidak melakukan penanaman investasi di perusahaan yang tidak melakukan kebijakan yang mendukung sustainabilitas ekosistem di planet bumi.  Oliver Bate, CEO dari sebuah perusahaan asuransi besar dunia semula menetapkan tahun 2050 sebagai tahun “carbon neutral”.

Namun masih dalam WEforum hari pertama, perwakilan dari masyarakat asli yang tinggal di hutan di negara Chad, Hindou Oumarou Ibrahim berkata dengan tegas bahwa masyarakat darimana ia berasal tidak bisa menunggu hingga tahun 2050. Bahwa upaya penyelamatan bumi harus dimulai sekarang. Karena bahkan sekarang pun sudah terlambat. Bahwa penduduk di negaranya tidak bisa menunggu 30 tahun lagi. Karena “mungkin bumi tidak sampai pada usia tersebut”, demikian kalimat yang meluncur secara jujur dari lisan Oliver Bate yang meralat kata-katanya sendiri di awal diskusi.

Remohab, Startup Jepang untuk Rehab Medis di Tempat Bagi Pasien Penyakit Jantung

By Article No Comments

Jepang tengah melaksanakan berbagai langkah strategis untuk menerjemahkan berbagai keberhasilan dalam penelitian dari sejumlah universitas agar menjelma menjadi solusi jitu yang dapat menolong masyarakat lebih luas di bidang kesehatan medis.

Upaya menjembatani praktek klinis dan penelitian dasar dalam dunia medis ini dilakukan di tingkat pemerintah dengan mendorong tiga serangkai Universitas Osaka, Universitas Tokyo, dan Universitas Tohoku untuk bekerjasama dengan Universitas Stanford dan memulai kolaborasi dalam menyiapkan versi Jepang dari program Biodesign.

Hasilnya adalah peluncuran Kursus 10 Bulan di tahun 2015 yang bernama Japan Biodesign. Konsepnya adalah untuk membentuk talenta yang dapat memahami kebutuhan pasien dan petugas layanan kesehatan dan memberdayakan mereka dengan berbgai perangkat dan layanan medis yang dikembangkan oleh industri dan akademisi.

Mengambil proyek penelitian yang memiliki potensi komersial dari tahap awal adalah kuncinya, kata Prof. Sawa. Tujuan dari Japan Biodesign adalah memahat ekosistem yang secara berkesinambungan menghadirkan perangkat medis dan inovasi layanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lanjut usia di  Jepang.

“Sekarang, kami menciptakan innovator, peneliti, dokter dan orang kreatif yang juga berwirausaha dan dapat memberikan hasil pada skala industri,” kata Prof. Sawa yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Biodesign Jepang. “Ini adalah kesempatan bagi orang untuk menciptakan industri baru di bidang kedokteran”, katanya.

Salah satu kesuksesan pertama Japan Biodesign adalah Remohab Inc., sebuah usaha yang mengembangkan perawatan kardiovaskular jarak jauh dengan memantau rehabilitasi pasien melalui olahraga.

Penyakit jantung adalah penyebab kematian terbanyak kedua di Jepang dan gagal jantung sering menjadi penyebabnya. Penyakit Gagal Jantung mempengaruhi 1,2 juta orang di Jepang. Namun rehabilitasi jantung di rumah sakit sulit bagi pasien lansia karena kebutuhan untuk sering berkunjung. Setelah beberapa saat, banyak yang berhenti atau tidak menerima perawatan yang tepat.

Untuk itu dikembangkan aplikasi Remohab bagi para pasien gagal jantung ini. Aplikasi Remohab mengembangkan sistem rumah menggunakan IoT (internet of things), yang membantu pasien melanjutkan rehabilitasi di bawah pengawasan real-time jarak jauh oleh para profesional kesehatan. Jika Remohab berhasil, itu akan menjadi perusahaan pertama dari jenisnya secara global, kata CEO Remohab, Dr. Tatsunori Taniguchi.

Sebelum menghadiri kursus Biodesign Jepang, Dr. Taniguchi, yang bekerja sebagai dokter kardiovaskular setelah lulus dari Universitas Osaka, mengakui bahwa ia bahkan tidak tahu untuk apa huruf “CEO” berdiri. Namun, yang dia tahu adalah bahwa penelitian dan studi tidak cukup. Dia harus mencari solusi untuk menyembuhkan pada orang tua, yang solusi itu juga yang dapat menjadi sebuah bisnis.

Taniguchi adalah salah satu yang pertama menghadiri kursus intensif 10 bulan di Japan BioDesign Osaka. Disana ia belajar bagaimana menghubungkan penelitian dengan fase komersial, bagaimana mengevaluasi pasar dan membangun strategi seputar asuransi kesehatan, dan keterampilan lainnya.

“Kursus Japan Bio Design ini memberi saya kepercayaan diri yang sangat besar untuk mendapatkan begitu banyak informasi dan pengetahuan yang berbeda dalam cara yang praktis dan sistematis, cocok untuk kewirausahaan”.

Sejak meluncurkan Remohab pada tahun 2017, perusahaan Dr. Taniguchi telah berubah dan mulai menarik 50 juta yen dalam modal ventura dari Osaka University Venture Capital Co., Ltd. dan Hack Ventures Co., Ltd.

Sementara, pada tahun keduanya, Remohab juga memenangkan Excellence Award dalam Kontes Bisnis Kesehatan 2019 yang dilakukan oleh pemerintah Jepang.

“Berbagai keberhasilan itu membuat saya sangat senang mendengar bahwa pasien usia lanjut yang mengambil pelatihan dari aplikasi Remohab kami ini sekarang telah berhasil kembali ke gaya hidup yang lebih aktif dan dapat kembali tersenyum,” kata Dr. Taniguchi.

Masa Depan Dunia Medis Di Tangan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Digital Health

By Article No Comments

Pernahkah anda melihat film serial kesehatan? Anda mungkin pernah menonton serial seperti Dr House atau Grey’s Anatomy. Dalam film serial yang menarik tersebut kita bisa melihat bagaimana sebuah kondisi kesehatan membutuhkan penanganan dan pengalaman tingkat tinggi. Bahkan dalam berbagai episodenya, Dr House digambarkan sebagai seorang dokter eksentrik yang amat jenius. Ia seringkali dapat menebak dan memprediksi tindakan apa yang harus dilakukan pada seorang pasien. Bahkan saat para koleganya yang lebih ahli dan bijak darinya melakukan kesalahan anamnesa.

Anamnesa atau pembuatan diagnosa untuk mengetahui tingkat keparahan dalam penyakit seseorang hanya bisa dilakukan oleh dokter yang memiliki tingkat pengalaman yang tinggi dan telah melakukan praktek selama puluhan tahun. Namun dokter sejenis itu amat langka dan makin menua. Bagaimana masyarakat bisa menerima layanan kesehatan hebat dari para dokter terbaik dunia itu?

Solusinya ternyata ada pada artificial intelligence. Data dan pengalaman yang dimiliki oleh karakter jenius Dr House tersebut kini diabadikan dalam berbagai aplikasi digital di dunia medis.  Salah satu pelopor Digital Health secara global adalah suatu lembaga penelitian medis di Jerman yaitu Hasso Plattner Institute (HPI). Lembaga ini berada di kota Postdam, Jerman, dan dianggap sebagai salah satu university excellence center dalam bidang digital engineering. Institut ini memiliki tiga jurusan pasca sarjana yaitu peminatan Sistem Rekayasa Teknik Informatika (IT Systems Engineering), peminatan Digital Health, dan peminatan Teknik Pengolahan Data (Data Engineering). 

Di Eropa, Hasso Plattner Institute ini masuk dalam jajaran universitas terbaik versi CHE University Rangkings. CHE University Rangking adalah sistem pemeringkatan universitas yang paling rinci dan komprehensif yang membawahi lebih dari 300 universitas dan perguruan tinggi di Jerman, Austria, Swiss dan Belanda.  CHE sendiri adalah singkatan untuk Center for Higher Education.

Hasso Plattner Institut ini memiliki lembaga bernama HPI School of Design Thinking yang merupakan sekolah inovasi pertama di Eropa yang juga memiliki cabang di Stanford d.School. Universitas ini menjadi  pusat dan penghubung para innovator untuk saling berkolaborasi dan mengembangkan kreativitas. Bahkan dikatakan sebagai pusat bagi para innovator, kolaborator dan orang-orang kreatif. Misi dari skeolah ini adalah untuk membantu menciptakan lebih banyak innovator, dimana saja.

Dengan semangat tersebut, HPI School of Design Thinking ini banyak mengembangkan inovasi dalam bidang teknologi informatika. Namun yang paling menarik adalah HPI memiliki pusat penelitian untuk mahasiswa program doctoral di bidang medis yang tersebar di berbagai belahan dunia. Diantaranya di Cape Town, Haifa dan Nanjing. Dengan 14 Profesor tetap dan 50 orang professor pendukung.

HPI ini mengajarkan dan melakukan fokus penelitian dalam bidang yang sangat kompleks, luas, dan saling interkoneksi dalam bidang teknologi informatika. Tujuannya adalah untuk mengembangkan berbagai temuan dan melakukan penelitian yang memiliki kegunaan tinggi dalam semua bidang kehidupan dan membuatnya agar mudah diakses dan mudah digunakan oleh masyarakat atau bersifat user-oriented.

HPI pun selain berkaitan dengan Stanford, kini mengembangkan bidang penelitian digital health ini di New York melalui  University Hospital Mount Sinai Health System (MSHS) yang ditandatangani pada tanggal 29 Maret 2019.

Tujuan dari kerjasama kedua institusi medis ini adalah untuk memperluas bidang digital medis dan untuk meningkatkan perkembangan berbagai aplikasi digital health. Salah satunya adalah untuk menghasilkan analisa real time dari berbagai data kesehatan dengan menggunakan artificial intelligence untuk menghasilkan informasi medis bagi para pasien atau bagi orang-orang yang berpotensi terkena masalah kesehatan tertentu secara lebih awal, untuk membantu pengambilan berbagai keputusan medis yang lebih tepat dan lebih sesuai.

Sementara di belahan bumi yang lain yaitu di Jepang, telah juga dikembangkan konsep Japan Biodesign yang melakukan berbagai riset kolaboratif yang dikembangkan oleh universitas dengan kalangan industri dan manufaktur serta para kreator aplikasi digital.

Seperti dikatakan oleh Profesor HPI dan Kepala Digital Health Center, Dr Erwin Bottinger bahwa kita telah lama mengetahui bahwa kecerdasan buatan (AI) dan analisa tepat waktu (real time analysis) dari berbagai data kesehatan yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dibutuhkan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, mencegah makin parahnya perkembangan berbagai penyakit, dan memperbaiki kesehatan seluruh umat manusia.

Untuk itu diperlukan kolaborasi dan kerjasama di bidang digital health dari berbagai belahan dunia demi meletakan batu pertama (groundbreaking) di dunia medis. Tujuannya adalah untuk memperbaiki tingkat presisi evaluasi medis dan pengambilan keputusan penanganan berbagai penyakit yang berbahaya dan mengancam nyawa (terminal disease). Dengan mengumpulkan para ahli, peneliti muda dan para mahasiswa idealis yang kreatif ini, berbagai inovasi dan aplikasi hebat diharapkan dapat tercipta dan menjadi solusi global yang dapat merevolusi dunia kesehatan dan memperbaiki tingkat kesehatan penduduk secara nasional dan di tingkat global.

Sebelumnya para peneliti dari HPI dan Mount Sinai ini telah mempublikasikan beragam hasil penelitian dari para pionir di dunia diagnostika genome (DNA), digital  health, teknik analisa data biomedis, kecerdasan buatan, dan teknologi informatika. Hal ini disampaikan oleh Dr. Joel Dudley, PhD, Associate Professor Genetics and Genomics di gabungan kedua institusi HPI dan Mount Sinai tersebut. dengan kerjasama tersebut, maka kolam keahlian dari para peneliti in dapat digunakan secara luas dengan dukungan sosial dan bantuan pengerahan dana yang disebarkan secara luas dalam sistem kesehatan di Eropa dan Amerika.

T-ICU Startup Medis Penyelamat Pasien ICU dari Jepang

By Article No Comments

Jepang tengah memimpin penemuan dan penelitian medis di dunia dengan berbagai programnya seperti society 5.0, Japan BioDesign dan 500 Startups Kobe. Di antara keberhasilan pertama dari program 500 Startups Kobe adalah T-ICU Co., Ltd., yang menyediakan rumah sakit dengan dukungan jarak jauh bagi pasien dalam perawatan intensif.  Aplikasi inovatif ini memenangkan Excellence Award dalam Kontes Bisnis Kesehatan Jepang 2019.

Tomoyuki Nakanishi,  awalnya hanyalah seorang dokter yang menangani pasien gawat darurat di ICU. Ia juga seorang ahli perawatan intensif yang bersertifikat. Saat melakukan pekerjaannya sehari-hari, ia melihat bahwa 70% rumah sakit Jepang tidak memiliki spesialis di bidang perawatan penyakit dengan tingkat keparahan mengancam nyawa (pasien penyakit terminal akut) atau pasien gawat darurat yang harus dirawat di ICU.

Ini membuat perawatan intensif yang diberikan oleh berbagai rumah sakit menjadi kurang efektif dan banyak pasien memiliki masalah kesehatan berulang. Setelah melakukan penelitian sendiri  Nakanishi berusaha menemukan apa penyebab dari masalah ini dan bagaimana pemecahannya.

Ternyata yang Nakanishi temukan adalah bahwa masalahnya adalah para ahli medis atau dokter dengan keahlian tinggi tersebut berada di berbagai kota yang berbeda dan tidak bisa saling berkomunikasi secara real time dengan para dokter yang keahliannya berada di bawahnya. Untuk itu diperlukan wadah  berupa aplikasi yang dapat memberikan komunikasi secara bentuk video untuk bertukar informasi kesehatan secara elektronik secara real-time.

Dengan aplikasi ini maka para dokter ahli dan dokter yang langsung menangani pasien di kota lain atau di kota terpencil dapat saling berkomunikasi. Solusi yang diberikan oleh Tele ICU atau Cloud ICU ini berupa aplikasi yang menghubungkan para ahli yang berlokasi di pusat-pusat tele-ICU terpencil.

Dengan T-ICU ini memungkinkan para dokter spesialis di luar kota sekalipun akan mampu bekerja lintas lokasi untuk berinteraksi dengan para staf medis yaitu dokter dan perawat yang melakukan tindakan pada pasien secara langsung di samping tempat tidur melalui tautan video.  

Nakanishi mendirikan T-ICU Ltd. pada tahun 2016 untuk menjadi perusahaan pertama yang menyediakan layanan seperti itu di Jepang, tetapi ia hanya dapat mencetak satu kontrak rumah sakit. Bahkan itu bentuk kerjasama ini datang hanya sekali saja pada Juni 2018 dan melalui koneksi teman.

Untuk mengembangkan aplikasinya, Nakanishi dan Tim di T-ICU mengambil bagian dalam kursus Kobe Accelerator pada tahun 2018. “Kursus Itu sangat intensif,” kata Dai Ogura, COO perusahaan. “Setiap hari, kami diminta menggambarkan bisnis kami hanya dalam satu kalimat.”

Apa yang paling meninggalkan kesan pada Tn. Ogura bukanlah bagian teknis dari kursus, tetapi fokus pada menempa mentalitas yang tepat agar bisnis berhasil.

Hanya dalam waktu setahun kemudian, daftar klien T-ICU mengembang dalam dua digit dan startup ini telah mulai mengumpulkan 153 juta yen dari para investor. Perusahaan ini  sekarang mulai mendapat telepon dari klien potensial di Asia Tenggara, kata Ogura.

Setelah memperbarui desain antarmuka (interface) dalam aplikasi T-ICU, Mr. Ogura melihat potensi bagi perusahaan untuk memasuki pasar Amerika Serikat yang memiliki sejarah lebih lama menggunakan tele-ICU. Sifat rendah biaya sistem T-ICU harus menarik, katanya.

Bangkitnya Industri Dirgantara Asia, Indonesia Boleh Berbangga

By Article No Comments

Industri Dirgantara Asia Tengah Bangkit. Hal ini nampak dari pengakuan kemampuan aviasi dari produsen Asia, untuk dapat diterima di pasar barat. Baru pada tanggal 19 Juni 2019, telah terjadi kesepakatan antara Mitsubishi Aircraft Corporation dengan sebuah perusahaan penerbangan di Amerika Serikat, dengan jumlah pesanan mencapai 15 unit pesawat terbang untuk model Spacejet M100. Model ini dapat mengangkut jumlah penumpang hingga 84 orang.

Sebelumnya, pada tahun 2017, Skywest Airlines yang berpusat di Utah, membuat pesanan 100 pesawat MR90 untuk dapat dikirimkan pada kurun waktu tahun 2017 hingga tahun 2020. Pesawat ini dapat mengangkut jumlah penumpang hingga 88 orang. Hal ini tentu sangat membanggakan. Namun hal ini tidak terjadi dalam sekejap mata. Bahkan industri penerbangan di Jepang ini pernah menghadapi sejumlah tantangan. 

Kedua jenis pesawat ini termasuk dalam ukuran menengah, dan dapat beroperasi untuk penerbangan yang berlangsung selama beberapa jam. Sehingga cocok untuk digunakan pada perusahaan penerbangan nasional di suatu negara. Inilah penyebab mengapa ANA (All Nippon Airways) dan SkyWest yang merupakan operator penerbangan domestic di Amerika Serikat  kemudian memutuskan untuk membeli model pesawat jet tercanggih dan terbaru ini.

Sebelumnya telah ada perusahaan nasional Jepang bernama NAMC (Nihon Aircraft Manufacturing Corporation) yang telah memproduksi pesawat yang mulai terbang sejak tahun 1962. Pesawat tersebut adalah YS-11. Pesawat yang dapat mengangkut 60 penumpang ini mulai dibeli oleh Hawaian Airlines pada tahun 1966. Bagian lain dari Amerika, Piedmont Airlines juga membeli produk YS11 buatan Jepang ini pada tahun 1967.

Bagaimana dengan negara kita Indonesia? Kita juga patut berbangga karena industri pesawat terbang nusantara, telah menjual banyak pesawat CN235 ke berbagai negara dunia. Pesawat kecil dengan jumlah penumpang hingga 51 orang ini amat laku dan digunakan oleh berbagai negara diantaranya oleh Turkish Air Force, Turki, French Air Force, Perancis. Irish Air Corps, Irlandia, dan Royal Malaysian Air Force, Malaysia.  Selain itu banyak sekali negara-negara lain dari berbagai benua yang juga memesan pesawat ini. Hingga tak mengherankan kita dapat menyaksikan b agaimana PT Dirgantara Indonesia yang pernah memangkas hingga separuh pegawainya ini kini telah menampilkan keuntungan yang cukup besar.

Selain itu salah satu hal yang amat membanggakan lainnya adalah, PT Dirgantara Indonesia juga dipercaya untuk melakukan manufacturing sejumlah helicopter tempur dengan lisensi dari berbagai negara di dunia. Diantaranya Helikopter Puma, Super Puma, Eurocopter Fennec, hingga NC212 dengan lisensi dari Aviocar.

Neuralink dan OpenAI, Harapan Elon Musk Untuk Menyetarakan Kemampuan Otak Manusia Dengan Artificial Intelligence dan Menyembuhkan Berbagai Penyakit.

By Article No Comments

Elon Musk termasuk ke dalam sejumlah ahli IT yang menyatakan Artificial Intelligence sebagai ancaman bagi umat manusia. Namun alih-alih merasa terancam, ia menciptakan berbagai solusi dengan membentuk sejumlah perusahaan untuk dapat membuat teknologi AI menjadi terbuka bagi semua orang.

Ada dua perusahaan yang didirikannya hampir bersamaan, yaitu Open AI dan Neuralink. Ide dari keduanya berasal dari paham Transhumanism. Paham ini memiliki misi untuk melakukan transformasi dari kondisi manusia saat ini dengan menciptakan teknologi canggih yang disebarkan terbuka pada umum agar membuka kemungkinan dalam peningkatan kecerdasan dan kesehatan umat manusia.

Transhumanism, merupakan bagian dari Futurology, dimana Artificial Intelligence bersatu dengan Technological Singularity (TS). Makna dari Technological Singularity sendiri adalah peningkatan intelegensi super yang dilakukan secara sangat cepat melalui berbagai teknologi tercanggih.

OpenAI sendiri adalah perusahaan bentukan Elon Musk dengan Sam Altman, pendiri Y Combinator. Y Combinator adalah perusahaan IT yang menyediakan bimbingan dan pendanaan untuk berbagai startup yang potensial dari berbagai belahan dunia.

Pertanyaan yang mendorong terbentuknya perusahaan ini adalah apakah kita benar-benar akan membiarkan masyarakat dimasuki oleh perangkat lunak otonom dan agen perangkat keras yang detail operasionalnya hanya diketahui oleh segelintir orang saja? Jawabannya adalah tentu saja tidak. Pada bulan Juli 2019, Microsoft mengumumkan bahwa mereka akan berinvestasi 1 milyar dollar untuk mebantu idealisme OpenAI.

Dalam presentasinya di bulan Juli 2019, pada founder Neuralink menjelaskan mengapa perusahaan ini diperlukan oleh public. Mereka juga memberikan sejumlah penjelasan mengenai beragam inovasi yang dihasilkan oleh Neuralink sejak dibentuk pada tahun 2016.

Menurut President dari Neuralink, Max Hodak, perusahaannya didirikan dengan tujuan untuk memahami dan menangani kerusakan otak dengan perangkat Brain Machine Interface (BMI) yang dapat menyembukan berbagai penyakit otak. Selain itu, tujuan kedua adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi otak, dengan melakukan simbiosis dengan artificial intelligence. Sementara, tujuan ketiga adalah untuk menciptakan masa depan yang lebih setara.

Mengapa tujuan ketiga ini dimunculkan? Kekhawatiran Elon Musk adalah bila kemampuan otak manusia dikalahkan oleh mesin artificial intelligence. Dengan penciptaan Neuralink ini, katanya, manusia bisa menciptakan kemampuan untuk mengatasi masalah tersebut.

Ide Neural Link ternyata semula berasal dari penemuan istilah Neural Lace. Neural Lace adalah lapisan digital diatas korteks dimana Neuroprostheticsian (ahli bedah otak) dapat menginterpretasi sinyal otak dan memungkinkan para penderita cacat untuk dapat mengendalikan lengan atau kaki buatan yang mereka kenakan.

Neural Lace ini dikatakan sebagai Lapisan ketiga (tertiary layer). Karena manusia telah memiliki sistem limbic (di dalamnya terdapat kebutuhan primer) sebagai lapisan pertama dan korteks serebri (bagian otak tempat berpikir, merencanakan) sebagai lapisan kedua. Lapisan tersier ini disebut juga sebagai digital super intelligence layer, yang saat ini masih terpisah dari manusia, karena kita menggunakan otak ketiga ini dengan bantuan alat berpikir seperti komputer, laptop, dan telepon.

Bagaimana penjelasan mengenai teknologi yang digunakan dalam Neuralink ini bermula sejak publikasi penelitian pada tahun 2003, dimana teknologi BMI telah dapat dideteksi. Pada saat itu digunakan simpanse untuk mendeteksi kecepatan berpikir. Hingga hampir tahun 2020 ini, kecepatan berpikir di lapisan tersier ini masih terbatas, karena kecepatan mengolah output masih dibatasi oleh keharusan untuk mengetik atau untuk berbicara pada perangkat cerdas yang kita miliki. Namun, kata Elon Musk, dengan adanya simbiosis antara otak dengan artificial intelligence, maka kecepatan ini akan menjadi lebih cepat.

Bagaimana cara kerja BMI? BMI bekerja dengan menempatkan elektroda berukuran micron di dalam otak. Elektroda ini dapat merekam action potentials yang dihasilkan oleh neuron yang saling berkomunikasi dengan melakukan neural firing antar sinaps, yang disebut sebagai spikes.

Pendirian Neuralink ini bukan tanpa sejarah sebelumnya. Salah satu pendiri, Dong Jin Seo atau yang sering disebut sebagai DJ Seo, adalah seorang penemu dari University of Berkeley. Dalam meraih gelar PhDnya, Seo menciptakan Neural Dust. Alat ini adalah sebuah peralatan berukuran kecil yang ditempatkan di syaraf otak yang dapat berkomunikasi dengan sistem syaraf dan memiliki kecerdasan untuk dapat memahami sinyal penyakit dan mampu untuk dapat menyembuhkan berbagai gejala penyakit tersebut dengan metode yang cerdas.

Dalam versi pertama N1 Sensor dari Neuralink, terdapat 10 ribu elektroda. Di dalam elektroda ini terdapat Threads, Robots, Electronics, dan Algorithms. Dalam rencana teknologi masa depan yang direncanakan oleh Neuralink, akan dilakukan penanaman modul diluar kepala manusia. Alat ini akan berkomunikasi secara nirkabel dengan benang elektroda fleksibel yang dipasang di dalam otak.

BMI yang digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit atau mengatasi cacat tubuh, dilakukan dengan penempatan alat di bagian motor korteks, terutama di bagian somato sensory cortex. Cara kerjanya adalah dengan deep brain stimulation dalam metode closed loop therapies.

Penempatan benang elektroda fleksibel ini memungkinkan pelaksanaan metode closed loop therapies yang terdiri dari tiga proses yaitu; record -> decode -> stimulate. Jadi, saat ada pemicu eksternal, otak akan melakukan neural signal interpretation (interpretasi terhadap sinyal otak) yang menghasilkan informasi baru yang kemudian direkam. Setelah merekam data secara analog, benang elektroda yang terhubung secara nirkabel dengan N1 systems on Chips ini kemudian mengolah data tersebut menjadi informasi digital yang akan diolah untuk menghasilkan feedback tertentu ke otak dalam bentuk stimulasi.

Pada tahun 2020, Neuralink berencana untuk mulai diterapkan pada para pasien yang mengalami lumpuh total (quadriplegia) yang disebabkan oleh cedera yang terjadi pada sumsum tulang belakang (spinal cord) urutan C1-C4. Teknologi yang dibuat Neuralink dikategorikan oleh DR Matt Mc Dougal, seorang ahli bedah syaraf di Neuralink, sebagai Fully Interface Neuron Bio Compatible Hermetic Packaging. Atau perangkat kedap udara yang ditanamkan di neuron (syaraf otak) yang bersifat kompatibel dengan kondisi biologis manusia, yang dapat melakukan interaksi secara penuh dalam berbagai aspek.

Ada sejumlah hal yang menjadi penyebab mengapa alat ini harus dipasangkan sebagai implant di otak, menurut pendiri Neuralink, yaitu agar dapat beroperasi secara nirkabel (completely wireless), bertahan seumur hidup (decades for lifetime), menggunakan gelombang sederhana (practical bandwith), dan dapat digunakan di rumah tanpa tergantung pada peralatan rumah sakit.

Data Survei Yang Menginspirasi Reformasi Regulasi Bisnis Hingga Meningkatkan Rangking Ease of Doing Business Indonesia 2018

By Article No Comments

Setiap perusahaan yang menjalankan usahanya dengan baik dan memenuhi standar etika bisnis memiliki peran untuk membangun dan memperbaiki keadaan perekonomian di tanah air.  Dengan membaiknya keadaan bisnis, maka ekonomi negara pun akan terus membaik. Untuk itu dalam penyusunan regulasi, pemerintah tampak turut mempertimbangkan hasil survey berbagai lembaga dunia yang telah meneropong kiprah yang dilakukan para CEO di Indonesia di tahun berjalan dan tahun sebelumnya.

Tulisan ini diturunkan dengan menganalisa hasil data yang didapatkan dari data World Bank Doing Business di tahun 2018 dan 2019 dengan membandingkan pada langkah dan kondisi  yang dilakukan dan direncanakan oleh para pengusaha (CEO Indonesia) di tahun 2017 yang tergambar dari hasil survey tahun 2017 dari Oxford Business Group. Lembaga ini  melakukan survey kepada para CEO dari berbagai perusahaan internasional, lokal dan swasta di Indonesia.

Di tahun 2017, Oxford Business Group meninjau keadaan ekonomi yang tengah berlangsung di Indonesia dengan melibatkan 38% respondennya berasal dari perusahaan internasional,  51% persen responden merupakan perusahaan lokal, dan 89% perusahaan yang mengikuti survey adalah perusahaan swasta. Hasil survey ini memperlihatkan bahwa hampir 92% dari para CEO di Indonesia yang menjadi responden merasa positif atau sangat positif mengenai kemajuan iklim bisnis yang ada di Indonesia.

Hasil survey ini memperlihatkan bahwa kekhawatiran utama para pengusaha di Indonesia ada pada 3 hal, yang berupa birokrasi, sumber daya manusia, dan biaya modal (costs of capital). Kekhawatiran terbesar berada pada masalah birokrasi, yang dirasakan oleh hampir separuh dari seluruh responden. Tepatnya ada 47% dari para CEO di Indonesia yang khawatir pada masalah ini.

Sementara, di urutan kedua, masalah sumber daya manusia berada di urutan kedua dengan persentase sebanyak 43% dari para CEO yang merasakannya. Masalah utama yang dirasakan di sektor sumberdaya manusia adalah tingginya permintaan untuk para ahli di bidang teknik, keuangan, kesehatan dan informatika. Sementara masalah biaya modal hanya berada di urutan ketiga dengan kekhawatiran hanya dirasakan oleh 10% saja dari para CEO di Indonesia.

Bila hal ini disingkronkan dengan data lain lembaga lain seperti dari Bank Dunia, berbagai kekhawatiran ini tampak dijawab oleh Pemerintah di tahun selanjutnya dengan meningkatkan dukungan terhadap dunia bisnis dengan dilakukannya sejumlah kebijakan untuk mendukung perkembangan bisnis di tanah air.

Lembaga di bawah Bank Dunia yang bernama Doing Business ini, meneropong bahwa terjadi reformasi regulasi berupa penurunan biaya untuk pembuatan perseroan terbatas di Jakarta dan Surabaya di tahun 2018, kemudahan dalam  mendapatkan kredit, mendapatkan sambungan listrik dan adanya tax amnesti dalam pembayaran pajak, adanya perlindungan terhadap investor minoritas, dan kemudahan dalam perdagangan lintas batas dengan dibentuknya sistem penagihan tunggal elektronik untuk kebijakan impor.

Beragam reformasi yang dilakukan ini mendatangkan dampak yang sangat positif terhadap kondisi bisnis di Indonesia. Sebagaimana terlihat dalam indeks kemudahan dalam melakukan bisnis di Indonesia yang berada di peringkat ke 91 dari ratusan negara di dunia di tahun 2017, yang kemudian meningkat ke posisi ke 71 di tahun 2018. Namun terjadi penurunan di tahun 2019 ini sebanyak dua peringkat ke posisi ranking 73.

Mungkin sekali hal ini terjadi karena di tahun 2018, tidak banyak terdapat reformasi regulasi dan birokrasi di bidang bisnis. Seperti ditampilkan oleh Doing Business, hanya terdapat reformasi dalam hal kemudahan pendaftaran properti, kemudahan memulai bisnis dengan pendaftaran jaminan sosial, dan dibuatnya sistem terkomputerisasi data untuk memudahkan akses pebisnis mendapatkan informasi kredit. Hanya 3 langkah yang direformasi di tahun 2019 dibanding dengan 6 langkah di tahun 2018.

Dalam laporan yang dieditori oleh Patrick Cooke dari Oxford Business Group untuk regional Asia, termuat sejumlah data seperti bahwa walaupun di tahun 2017 para CEO memiliki kekhawatiran terhadap ketidakpastian keadaan politik dan seringnya terjadi perubahan kebijakan, namun secara umum para CEO di Indonesia memiliki pandangan yang positif. Sehingga kemudian para 40% dari para CEO ini menyatakan bahwa mereka akan melakukan investasi modal. Dari data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terdapat gambaran bahwa telah terjadi penanaman modal langsung (foreign direct investment/ FDI) dalam sejumlah sektor bisnis di tanah air,  yaitu pada industri permesinan dan elektronika, dan pada urutan kedua pada industri kertas dan percetakan. Sementara terjadi juga peningkatan volume investasi di sektor farmasi dan pertambangan.

Dalam laporan hasil survey yang dibuat oleh Oxford Business Group ini, hal utama yang mendorong semua investasi asing ini adalah karena meningkatnya konsumsi rumah tangga di masyarakat dan di sektor swasta seperti properti, infrastruktur, energi dan manufacturing. Sementara yang masih dianggap sebagai momok yang menakutkan adalah adanya resiko eksternal berupa kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpengaruh terhadap tingkat inflasi,  yang dapat membuat perusahaan bersikap lebih ketat dalam sektor keuangan mereka.

Sementara, juga terjadi banyak dukungan pemerintah dari data yang diberikan oleh Kepala Bapennas (dalam hasil survey dari oxford business group) bahwa di tahun 2017  pemerintah melakukan perencanaan untuk memfokuskan pembangunan pada enam sektor untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yaitu pada sektor industri pemrosesan, pertanian, perdagangan, informatika dan komunikasi, serta sektor konstruksi dan pelayanan keuangan.

Berbagai langkah yang dilakukan pemerintah ini kemudian menghasilkan peningkatan perbaikan pada harga komoditas dan berlanjutnya investasi di sektor energi, yang kemudian membantu pemerintah dalam melakukan pendanaan dalam berbagai proyek infrastruktur yang memiliki dampak jangka panjang.

Namun para pengusaha masih merasakan bahwa besarnya investasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ini memiliki dampak yang tidak banyak menstimulasi perbaikan kondisi dalam sektor bisnis yang mereka jalani. Namun hal ini bisa saja terjadi karena permasalahan sampling yang tidak merata diantara sejumlah sektor bisnis yang menjadi responden survey. Hasil yang tergambar adalah bahwa peran pemerintah dirasakan masih terbatas. Hingga 54% responden menyatakan bahwa sektor bisnis mereka hanya mendapatkan dukungan pemerintah sebanyak 20% saja.

Namun hal ini dibarengi dengan sikap bijak para pengusaha yang menyatakan bahwa dukungan terbaik yang dapat diberikan pemerintah adalah dalam hal perbaikan birokrasi. Hingga kemudian hal ini ditanggapi pemerintah secara responsif dengan melakukan reformasi birokrasi secara massif dalam perbaikan regulasi dan perbaikan teknologi informatika untuk memajukan pelayanan public yang dapat mendukung kemajuan bisnis.

Hal lain yang amat berpengaruh pada kondisi bisnis adalah keterbukaan sistem yang tergambar pada peningkatan level transparansi berbisnis. Dengan data tergambar pada bagan di bawah ini. meningkatnya transparansi ini membantu untuk menarik investor dan menurunkan biaya peminjaman, serta meningkatkan kepercayaan investor pemberi pinjaman karena mereka dapat melihat langsung pada data keuangan korporasi yang dipersembahkan secara terbuka. Sebagaimana tuntutan yang harus dipenuhi perusahaan untuk meningkatkan level kepatuhan mereka terhadap Good Corporate Governance.

Marwan Lahoud, Keturunan Arab Yang Berperan Strategis Dalam Industri Pertahanan Perancis

By Article No Comments

Lahir pada tahun 1966 di Lebanon, Marwan Lahoud kemudian pindah ke Perancis pada tahun 1982 mengikuti keluarganya saat Libanon dilanda konflik. Namun ia sempat bergabung sebagai bagian dari Pasukan Sementara PBB di Libanon selama satu tahun pada saat kelas tiga di sekolah menengah.

Pada tahun 1984, Marwan Lahoud mulai belajari di Ecole Polytechnique pada usia 18 tahun. Permintaannya untuk menjadi warga negara Perancis diterima berkat dukungan Philippe Seguin, Menteri Sosial Perancis saat itu. Hal ini memungkinkan Marwan Lahoud untuk berabung dengan Korps De L’armementb ketika lulus Politeknik. Saat itu ia memilih Sekolah Aeronautika dan Antariksa Nasional untuk pelatihannya sebagai insinyur persenjataan.

Perjalanan karir Marwan Lahoud terus merayap naik. Di awal, ia menjadi kepala pusat perhitungan Landes Test Center di Delegasi Umum untuk Persenjataan Perancsi, pada tahun 1989. Kemudian ia memegang tanggung jawab untuk menangani berbagai proyek untuk merenovasi fasilitasn pengujian dan koordinasi investasi.

Pada tahun 1994, ia memegang peran dalam Layanan Teknis Sistem Rudal Taktis. Lalu naik lagi karirnya menjadi Wakil Direktur Rudal dan Ruang Angkasa. Pada akhir 1995, Marwan Lahoud diangkat menjadi Penasihat Urusan Industri, Penelitian dan Persenjataan bagi Menteri Pertahanan Charles Millon.

Pada tahun 1998, Marwan Lahoud direkrut oleh Aerospatiale. Disana ia menjadi Direktur Pengembangan. Di Juni 1999, ia diangkat sebagai Wakil Direktur untuk Koordinasi Strategis dan Wakil Direktur untuk Urusan Militer. Pada tahun 2000, ia menegosiasikan merger dengan Matra, yang kemudian menjadi rintisan pembentukan EADS (European Aeronautics Defence and Space –cikal bakal Airbus).

Dengan dibentuknya EADS pada Juli 2000, Marwan Lahoud diangkat sebagai Wakil Presiden Senior untuk bagian Merger dan Akuisisi. Dalam posisi ini ia melakukan penciptaan Airbus, MBDA (perusahaan persenjataan yang menciptakan berbagai missil dan rudal Perancis), dan Astrium (produsen pesawat luar angkasa perancis). Pada tahun 2003, di usia 36 tahun, ia menjadi Presiden dan CEO MBDA.

MBDA adalah pengembang dan produsen rudal dan missil yang beroperasi di Perancis, Italia, Inggris, Jerman, Spanyol dan Amerika Serikat. Pada tahun 2003 tersebut, perusahaan ini memiliki 10 ribu karyawan. Pada tahun 2011, MBDA memiliki omzet 3 Milyar Euro dan menghasilkan lebih dari 3000 rudal. Bekerjasama dengan 90 angkatan bersenjata dari berbagai negara di dunia, omzet MBDA kemudian mencapai 10,5 Milyar Euro.

Pada tahun 2012, Marwan Lahoud diangkat sebagai Direktur Pelaksana EADS Perancis, sambil mempertahankan posisinya sebagai Direktur Strategis. Bila dirangkum, Marwan Lahoud telah membesarkan grup Airbus sejak tahun 2007 hingga 2017. Pada tahun 2017, ia memegang peran sebagai Chief Strategy and Marketing Officer di Airbus.

id_ID
ms_MY en_GB id_ID