Article Archives - ACT Consulting
was successfully added to your cart.
Category

Article

Transformasi Budaya Perusahaan

Bahaya Entropi Budaya (Toxic Culture)

By | Article | No Comments

Transformasi Budaya Perusahaan

Dalam wacana ‘Transformasi Budaya Perusahaan’ dikenal istilah Entropi Budaya / Toxic Culture yaitu energi dalam kelompok yang digunakan untuk pekerjaan yang tidak produktif. Entropi budaya mengukur konflik, friksi, dan keputusasaan yang muncul dalam sebuah organisasi atau perusahaan.

Entropi budaya yang disebut juga energi disfungsional, berpengaruh pada kinerja perusahaan. Ketika entropi budaya tinggi, energi yang tersedia untuk produktifitas menjadi rendah, dan berdampak pada kinerja perusahaan juga rendah. Ketika entropi budaya rendah, energi untuk produktifitas menjadi tinggi, dan kinerja tinggi.

Ketika derajat disfungsi atau gangguan dalam suatu organisasi tinggi, karena faktor-faktor seperti pengendalian yang berlebihan, hati-hati, kebingungan, birokrasi, hirarki, kompetisi internal, menyalahkan, jumlah energi karyawan yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan pekerjaan meningkat. Padahal energi yang terlibat dalam mengatasi entropi budaya adalah energi yang tersedia untuk pekerjaan yang produktif.

Sebuah studi yang dilakukan Barrett Values Centre dan Hewitt terhadap 163 organisasi dan perusahaan in Australia pada tahun 2008, menunjukkan korelasi antara entropi dengan pertumbuhan revenue. Dalam jangka waktu tiga tahun tampak jelas korelasinya, makin rendah tingkat entropi maka prosentase pertumbuhan revenue menjadi meningkat. Sedangkan makin tinggi tingkat entropi maka makin rendah pertumbuhan revenuenya.

Entropy Level 3 Year Revenue Growth %
<10% 32.87%
10% – 19% 24.90%
20% – 29% 24.90
>29% 11.39%

Selain menemukan korelasi entropi dengan pertumbuhan revenue, Barrett Values Centre dan Hewitt juga menemukan korelasi positif antara entropi dan staff engagement.Yang dimaksud dengan staff engagement adalah bentuk keterikatan antara pekerja dengan organisasi atau perusahaan yang menaungi mereka. Jika entropi budaya rendah maka enggagement tinggi sedangkan jika entropi tinggi maka engagement rendah.

Cultural Entropy Staff Engagement
Tingkat 1 (Terbaik) 5% 89%
Tingkat 2 8% 76%
Tingkat 3 15% 55%
Tingkat 4 (Terburuk) 21% 40%

Ketika seorang karyawan memiliki engagement yang rendah terhadap perusahaannya, maka ia menjadi tidak termotivasi dalam melakukan pekerjaannnya. Mereka mengeluarkan jumlah energi minimum di tempat kerja. Mereka mengambil istirahat lebih panjang, surfing internet, atau melakukan apapun untuk menghentikan rasa bosan atau membuat waktu cepat berlalu.

Sedangkan karyawan yang memiliki engagement adalah mereka yang sangat termotivasi melakukan pekerjaan mereka. Ketika orang sangat termotivasi, mereka menghabiskan berjam-jam tambahan di tempat kerja, dan berpikir tentang kontribusi mereka bahkan ketika mereka tidak di tempat kerja. Output dari seseorang termotivasi dua kali lebih banyak dari yang tidak termotivasi.

Orang yang memiliki engagement adalah mereka yang merasa selaras dengan nilai-nilai organisasi dan terinspirasi oleh misi atau visi dari organisasi. Visi dan misi yang menginspirasi akan memfokuskan energi semua karyawan kepada arah yang sama dan membuat mereka merasa pekerjaannya bermakna untuk kehidupan mereka. Seorang karyawan yang sangat termotivasi akan memiliki komitmen, antusias dan bersemangat, serta menyentuh tingkat terdalam.

Oleh karena itu penting untuk menjaga agar entropi perusahaan jangan sampai tinggi. Makin tinggi entropi maka makin rendah engagement karyawan, dan pertumbuhan revenue perusahaan pun rendah. Sedangkan makin rendah entropi, engagement karyawan akan meningkat dan pertumbuhan revenue perusahaan meningkat.

Untuk meningkatkan engagement karyawan, maka perusahaan perlu menyelaraskan nilai, visi, dan misi individu karyawan dengan perusahaan. Dengan demikian mereka dapat secara otentik membawa keseluruhan diri mereka untuk bekerja. Dengan nilai-nilai budaya yang selaras maka karyawan akan beresonansi dengan tujuan organisasi.

Sesungguhnya fenomena entropi ini tidak hanya terjadi pada organisasi dan perusahaan, namun juga berlaku dalam skala bangsa. Padahal semakin besar entropi yang disebabkan perpecahan, konflik, persaingan, ketidak jujuran, pelanggaran hukum, dll, maka akan semakin besar kerugian yang akan terjadi. Akankah semua ini dibiarkan?

Oleh: DR. HC. Ary Ginanjar Agustian (Founder ACT Consulting)

Program Pelatihan dan Pengembangan SDM

Manfaat Program Pelatihan dan Pengembangan SDM

By | Article | No Comments

Program Pelatihan dan Pengembangan SDM

Manfaat Program Pelatihan dan Pengembangan SDM

Keberhasilan suatu perusahaan sangat tergantung dari kinerja karyawan yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu peranan karyawan sangat penting dalam kemajuan perusahaan.

Karyawan dengan kinerja tinggi mampu memberikan hasil maksimal bagi kemajuan perusahaan.

Salah satu cara untuk menciptakan karyawan yang memiliki produktivitas dan kinerja tinggi adalah melalui program pelatihan dan pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) yang baik.

Ada sangat banyak manfaat dari pelatihan dan pengembangan SDM. Menurut Schuler (1992) setidaknya ada 5 poin manfaat pentinya, yaitu :

1) Pelatihan dan pengembangan SDM mampu mengurangi dan menghilangkan kinerja yang buruk.

Kegiatan pengembangan akan mampu meningkatkan kinerja pegawai. Jika pegawai saat ini dirasa kurang dapat bekerja secara efektif, serta ditujukan untuk dapat mencapai efektivitas kerja sebagaimana yang diharapkan oleh organisasi.

2) Pelatihan dan pengembangan SDM Meningkatkan produktivitas Individiu & Tim.

Mengikuti program pengembangan berarti pegawai juga memperoleh tambahan ketrampilan dan pengetahuan baru. Hal ini bukan hanya bermanfaat bagi pelaksanaan pekerjaan mereka namun juga kerja tim secara kesuluruhan.

3) Pelatihan dan pengembangan SDM Meningkatkan fleksibilitas angkatan kerja.

Dengan banyaknya ketrampilan yang dimiliki, maka akan lebih fleksibel juga bagi karyawan untuk menyesuaikan diri dengan kemungkinan adanya perubahan yang terjadi dilingkungan organisasi. Contoh saja jika organisasi memerlukan pegawai dengan kualifikasi tertentu, maka organisasi tidak perlu lagi menambah pegawai yang baru, oleh Karena pegawai yang dimiliki sudah cukup memenuhi syarat untuk pekerjaan tersebut.

4) Pelatihan dan pengembangan SDM Meningkatkan komitmen karyawan.

Dengan melalui kegiatan pengembangan, pegawai diharapkan akan memiliki persepsi yang baik tentang organisasi yang secara tidak langsung akan meningkatkan komitmen kerja pegawai serta dapat memotivasi mereka untuk menampilkan kinerja yang baik.

5) Pelatihan dan pengembangan SDM Mengurangi turn over dan absensi.

Bahwa dengan semakin besarnya komitmen pegawai terhadap organisasi akan memberikan dampak terhadap adanya pengurangan tingkat turn over absensi. Dengan demikian juga berarti meningkatkan produktivitas organisasi.

Dengan 5 manfaat pelatihan dan pengembangan SDM perusahaan akan lebih dapat berkembang dengan pesat.

Perlu diketahui melaksanakan program pelatihan dan pengembangan yang baik adalah investasi jangka panjang. Investasi demi membangun perusahaan yang sehat, kuat, dan maju sehingga mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin ketat.

Bagaimana Cara Mengukur Kekuatan Budaya Organisasi?

By | Article | No Comments

Cara Mengukur Kekuatan Budaya Organisasi Perusahaan

Cara Mengukur Kekuatan Budaya Organisasi

Banyak perusahaan kesulitan untuk mengetahui tingkat budaya organisasi yang ada dalam tubuh perusahaannya. Mereka tidak mengetahui apakah budaya yang ada kuat atau lemah.

Berbicara kekuatan budaya organisasi, pada intinya menjelaskan bagaimana pengaruh budaya organisasi pada organisasi tersebut. Jika budaya kuat maka nilai-nilai dalam organisasi dipegang secara intensif dan dianut bersama secara meluas oleh angggota organisasi.

Lantas bagaimana ciri-ciri budaya organisasi yang kurang kuat agar mampu mengantisipasi kerugian yang lebih besar? Menurut Deal dan Kennedy (2006) ciri-ciri budaya organisasi yang lemah adalah sebagai berikut:

#1 Mudah terbentuk kelompok antara satu dengan yang lainnya

Cara Mengukur Kekuatan Budaya Organisasi Perusahaan 1

Budaya perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memiliki kesamaan visi dan misi. Seluruh anggota dalam organisasi juga paham dan menerapkan nilai-nilai yang dimiliki perusahaan. Oleh karena itu jika terjadi perpecahan dan terbentuk kelompok-kelompok adalah salah satu budaya organisasi tersebut lemah.

#2 Setia pada kelompok melebihi kesetiaan pada organisasi

Cara Mengukur Kekuatan Budaya Organisasi Perusahaan 2

Ketika kelompok sudah terbentuk maka akan ada masalah lain yaitu, adanya kelompok yang lebih mementingkan kepentingan kelompok ketimbang organisasi. Dari sini akan terciptalah Toxic Culture yang bukan hanya merugikan individu dalam perusahaan namun juga organisasi secara utuh.

#3 Anggota organisasi tidak segan-segan mengorbankan kepentingan organisasi untuk kepentingan kelompok

Cara Mengukur Kekuatan Budaya Organisasi Perusahaan 3

Ini adalah tingkatan yang paling parah dan dapat menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Anggota organisasi rela mengorbankan kepentingan organisasi untuk kelompok yang ia miliki.

Budaya organisasi yang kuat akan membantu organisasi memberikan kepastian seluruh individu yang untuk terus berkembang bersama dan mempertahankan eksistensinya. Sedangkan budaya organisasi yang lemah akan berpengaruh negatif pada organisasi. Budaya lemah ini akan memberi arah yang salah kepada para pegawai hingga organisasi tidak efektif dan kompetitif.

Oleh karena itu sebelum terjadi kerugian besar, setiap perusahaan harus mengetahui kondisi budaya perusahaan yang ada.. ACT Consulting memiliki program Organization Culture Health Index (OCHI) untuk mengetahui tingkat kesehatan suatu organisasi. OCHI telah membawa 140 lebih perusahaan mengetahui indeks kesehatan dalam tubuh perusahaan dan membantunya mengembangkan budaya organisasi.

Beradaptasi Dengan Budaya Perusahaan Baru

5 Tips Berdaptasi Dengan Budaya Perusahaan Bagi Karyawan Baru

By | Article | No Comments

Beradaptasi Dengan Budaya Perusahaan BaruBeradaptasi Dengan Budaya Perusahaan Baru

Bagi seorang karyawan baru, butuh penyesuaian untuk beradaptasi pada lingkungan kerja yang baru. Anda wajib untuk siap menyesuaikan diri dengan segala perubahan iklim kerja, perubahan lingkungan pertemanan, rekan kerja, bos baru, tanggung jawab baru, honor baru, serta kemungkinan akan ada tantangan baru.

Di hari pertama bekerja, siapa pun akan merasa gugup & sedikit cemas. Terkadang sampai grogi lantaran memang belum mengenal suasana di dalam kantor.

Kemampuan adaptasi yang baik sangat diperlukan pada kondisi seperti ini. Secara singkat, semakin cepat Anda dapat menyesuaikan diri, semakin cepat pula Anda dapat bekerja maksimal . Berikut ini 5 tips yang akan membantu Anda menyesuaikan diri di tempat kerja baru.

1. Fokuskan Perhatian Saat Proses Perkenalan

Tentunya menjadi karyawan baru, Anda akan mendapatkan bimbingan menurut tim HRD yang membantu Anda pada minggu-minggu pertama Anda bekerja.

Selama minggu perkenalan ini, tentunya Anda akan dikenalkan dengan aneka macam yang berhubungan dengan internal perusahaan. Mulai dari struktur organisasi, cakupan aktivitas bisnis perusahaan, visi dan nilai-nilai yang dianut perusahaan.

Selain itu tujuan sosialisasi ini membuat karyawan baru menjadi familiar dengan kultur, regulasi, gaya kerja, & departemen yang ada.

2. Bangun Kesempatan Menjalin Pertemanan

Untuk bisa mengenal & dikenal sesama rekan kerja, Anda tidak bisa duduk diam dan menunggu ditanya dengan orang lain. Anda memerlukan persiapan menggunakan mencari sebanyak-banyaknya bahan bicara yg bisa dipakai untuk membangun interaksi pertemanan baru.

Perhatikan hal apa saja yang sedang terjadi dan viral di negeri ini atau bahkan di luar negeri, kuliner apa yg kira-kira sedang banyak dibicarakan orang, informasi apa yg sedang hangat, bahkan sesederhana hobi, film favorit, dan lagu favorit pun bisa membantu 2 orang yang tadinya tidak saling mengenal mulai membentuk pertemanan.

3. Terbuka untuk menerima kritik dan saran

Salah satu penyebab karyawan baru sulit bertahan adalah kurangnya kemampuan untuk menerima kritik dan saran. Kritik yang membangun dari atasan maupun rekan-rekan kerja yang lebih senior akan membantu Anda untuk lebih cepat menguasai bidang pekerjaan yang baru.

4. Tentukan target untuk diri sendiri

Sebagai seorang karyawan Anda pasti dibekali dengan target yang harus dicapai dalam sehari, sebulan, atau setahun. Tetapi tak ada salahnya jika Anda membuat target pribadi. Tentukan hal apa saja yang ingin Anda capai dalam pekerjaan dan tentukan pula rentang waktu pencapaiannya. Semakin detail target yang Anda buat akan semakin bagus.

5. Ketahui deskripsi tugas

Anda harus mengetahui spesifikasi pekerjaan Anda sejak awal. Cari tahu pos-pos apa saja yang menjadi bagian dari wilayah tugas Anda agar lebih fokus dalam mempelajari pekerjaan.

Itulah 5 tips beradaptasi di tempat kerja baru. Dengan mengetahui & menjalankan kelima tips di atas, Anda akan lebih mudah menyesuaikan diri & bekerja secara maksimal dengan hubungan yg baik dengan rekan-rekan kerja baru. Selamat mencoba!

Ayo Lejitkan Potensimu Dengan Mengetahui Dan Mengembangkan 5 Kekuatan Terbaik Dalam Diri

By | Article | No Comments

Mengetahui kekuatan dalam diri Strength Finder Survey

Strengths (kekuatan) adalah perpaduan unik dari bakat, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliki setiap orang. Orang menggunakan sifat dan kemampuan bawaan ini untuk menyelesaikan pekerjaan, berhubungan dengan orang lain, dan mencapai tujuan mereka. Tetapi sebagian besar orang tidak tahu apa strengths (kekuatan) yang ia miliki.

Untuk itulah Anda perlu mengeksplor kekuatan dalam diri melalui program ACT Consulting STRENGTHSFINDER. Melalui STRENGTHSFINDER Anda akan mengetahui LIMA tema KEKUATAN Anda yang paling DOMINAN.

Dengan fokus kepada lima kekuatan tersebut, Anda dapat mengenali bakat, membangunnya menjadi kekuatan, dan menikmati keberhasilan karir melalui kinerja yang konsisten, dan nyaris sempurna.

Berfokus pada strengths (kekuatan) setiap hari juga akan membuat Anda enam kali lebih mungkin merasa engaged dalam pekerjaan. Anda juga lebih produktif, baik secara individu maupun dalam tim. Dan tiga kali lebih mungkin mengatakan memiliki kualitas hidup yang sangat baik.

More Info:
http://actconsulting.co/gallup-strengthsfinder-survey-order/

pengukuran kesehatan budaya organisasi

Mengukur Kekuatan Dan Kesehatan Budaya Organisasi

By | Article | No Comments

pengukuran kesehatan budaya organisasi

Budaya organisasi yang baik dan sehat adalah budaya organisasi yang memiliki kekuatan, dimana sebagian besar anggota tim mendukung serta melaksanakan budaya yang telah disepakati. Untuk mengetahui apakah budaya organisasi tersebut sehat atau tidak, maka setiap perusahaan perlu melakukan pengukuran budaya organisasi.

Akan tetapi selama ini banyak organisasi/perusahaan tidak memiliki metode untuk mengukur budaya organiasi (sesuatu yang intangible). Sekalinya pun ada, metode pengukuran budaya organisasi yang dimiliki sangatlah kompleks (banyak pertanyaan, membingungkan)

Padahal mengukur budaya organisasi sangatlah penting untuk kemajuan perusahaan. Budaya organisasi bisa dengan mudah dijadikan KPI di semua lini. Pengukuran budaya organisasi juga bisa mengetahui seberapa besar tingkat toxic culture (entropi) dalam organisasi.

Cara Mengukur Budaya Organisasi yang Baik

ACT Consulting melalui program Organization Culture Health Index (OCHI) telah berpengalaman melakukan pengukuran budaya organisasi kepada lebih dari 140 organisasi di Indonesia dan Malaysia. Dengan OCHI, kesehatan budaya organisasi dapat terukur sampai unit kerja terkecil mulai dari Direktorat-Divisi-Departemen-Seksi.

More info:

+62 856-9489-7725

Baca juga:
Meningkatkan Budaya Perusahaan & Kualitas SDM Tanpa Batasan Waktu dan Lokasi
Pentingnya Menanamkan Nilai-Nilai Organisasi Untuk Menguatkan Budaya Perusahaan Dan Integritas
5 Cara Membentuk Tim dan Budaya Kerja yang Solid

Meningkatkan Budaya Perusahaan & Kualitas SDM Batasan Waktu dan Lokasi

Meningkatkan Budaya Perusahaan & Kualitas SDM Tanpa Batasan Waktu dan Lokasi

By | Article | No Comments

Meningkatkan Budaya Perusahaan & Kualitas SDM Batasan Waktu dan Lokasi

Pelatihan merupakan suatu cara bagi perusahaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang mereka punya. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak keluhan dari karyawan bahwa pelatihan yang mereka ikuti hanya buang waktu dan biaya saja.

Bahkan sebuah penilitian menggambarkan hanya 10-40 persen pelatihan yang berguna dan bisa terapkan dalam dunia pekerjaan.

Angka ini menunjukan bahwa masih banyak perusahaan yang hanya melakukan pemborosan untuk pelatihan kepada karyawannya. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Banyak faktor. Namun perlu digaris bawahi bahwa masih banyak proses belajar / pelatihan yang berjalan tidak berkesinambungan. Pelatihan hanya berhenti didalam kelas sehingga karyawan tidak dapat mempelajari kembali hal-hal yang sudah disampaikan di dalam pelatihan.

Cara Meningkatkan Budaya Perusahaan yang Efektif & Fleksibel

Menjawab masalah tersebut, ACT Consulting memperkenalkan program “Integrated learning“. Program pembelajaran terintegrasi yang mengkombinasikan antara proses di dalam kelas (tatap muka) dengan proses belajar berbasis teknologi.

Dengan Integrated Learning peserta pelatihan mampu mempelajari kembali materi pelatihan yang telah di customize sesuai kebutuhan, dan dapat mengakses materi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa dibatasi waktu dan lokasi.

Dengan begitu peserta akan lebih menguasai materi yang sudah disampaikan baik pada saat tatap muka maupun belajar secara mandiri.

Info lengkap :

0857-7226-3725
0857-7226-3725

Inilah Hal Yang Perlu Dipelajari Setiap Perusahaan Dari Budaya Kerja Di Google

By | Article | No Comments

Budaya organisasi perusahaan mempunyai peranan penting dalam keberhasilan suatu perusahaan. Budaya itu membantu menarik bakat terbaik yang ada di industri.

Sayangnya, kebanyakan perusahaan di Indonesia masih memberlakukan peraturan ketat dan sistem kerja yang ‘serius’. Alasannya? agar karyawan disiplin, produktif, dan target tercapai.

Benarkah cara demikian? Tidak juga..!! suasana kerja yang santai dan ceria justru bisa lebih memacu produktivitas karyawan, sehingga segala target kerja dan perusahaan pun tercapai. Tak percaya? Google adalah bukti nyatanya.

Google merupakan salah satu perusahaan yang sukses mencampurkan inovasi teknologi dengan budaya orgnanisasi yang kuat.

“To Organize the world’s information and make it accessible as universal”, Itulah misi Google, yaitu mengatur informasi dunia dan dapat diakses dan bermanfaat secara universal. Misi inilah yang melatarbelakangi budaya kerja yang diterapkan Google :

1. Budaya Organiasi Dengan Suasana Kerja Santai

Google terkenal memiliki etos kerja yang santai. Dengan filosofi ini, pekerja dapat mengeluarkan potensi terbaiknya dan menyelesaikan pekerjaannya tanpa harus terbebani tekanan dan keharusan menggunakan seragam kerja.

2.  Budaya Perusahaan yang memberikan pekerjaan tantangan dengan kebebasan berekspresi dalam bekerja.

“Bekerja harus mmempunyai tantangan, dan tantangan itu wajib harus menyenangkan”

Google memberikan tantangan sekaligus kebebasan bagi karyawannya untuk mengembangkan produk sesuai dengan keinginan karyawan masing-masing. Beberapa layanan baru Google, misalnya Gmail, Google News, Adsense, dan Orkut berasal dari inovasi karyawan-karyawannya tersebut.

3. Budaya Perusahaan dengan Transparansi & Keterbukaan

Tidak ada pemisah antara bos dan karyawan. Di kantor pusat Google, dikenal adanya acara TGIF (Thank God Its Friday). Di acara tersebut, para karyawan google bisa langsung mengobrol dengan CEO mereka dan bebas berdiskusi apa saja.

4. Budaya Perusahaan yang Kolaboratif & Suportif

Ini adalah bagaimana setiap karyawan diharuskan berkolaborasi dengan timnya dan juga divisi lain. Kerja sendirian dalah hal dilarang, karena kerja tim menjadi lebih penting dan akan menghasilkan suatu produk atau hasil yang maksimal. Kerjasama ini juga bisa antar divisi atau bahkan lintas Negara.

5. Budaya Perusahaan yang Mengutamakan Proses Belajar Karyawan

Google sangat mengetahui bahwa aset terpenting perusahaan adalah SDM mereka. Karyawan google di bebaskan dan difasilitasi untuk mengikuti berbagai macam proses pembelajaran demi kemajuan perusahaan.

Menanamkan Nilai Nilai Organisasi, pengembangan budaya perusahaan

Pentingnya Menanamkan Nilai-Nilai Organisasi Untuk Menguatkan Budaya Perusahaan Dan Integritas

By | Article | No Comments

Menanamkan Nilai-Nilai Organisasi

Menanamkan Nilai Nilai Organisasi, pengembangan budaya perusahaan

Menciptakan budaya perusahaan yang baik dan berkualitas, perlu sebuah fondasi yang kuat pada perusahaan tersebut dalam menerapkan nilai-nilai organisasi, visi misi, sistem organisasi dan perilaku kerja, serta gaya kepemimpinan yang efektif.

Akan tetapi, masih banyak perusahaan yang baru mulai merumuskan nilai organisasi dan kesulitan mensosialisasikannya kepada pegawai.

Ada juga organisasi yang karyawannya tahu nilai dan perilaku yang diharapkan oleh organisasi, namun tidak ada motivasi dari kayawan untuk menjalankannya.

Padahal budaya perusahaan yang kuat selalu membuat nilai-nilai perusahannya hidup dan mendominasi nilai individu setiap karyawan. Semakin kuat nilai-nilai perusahaan mempengaruhi karyawan, semakin kuat juga budaya perusahaan dalam membangun fondasi budaya yang kokoh. Dengan begitu akan tercipta semangat kerja, etika, dan integritas terhadap organisasi. 

Disinilah program internalisasi budaya perusahaan diperlukan sebagai sarana agar para karyawan mampu buy in kepada nilai organisasi. Bukan saja secara kognitif (knowledge) namun juga afektif (emosi), sehingga mereka own it dan menunjukkannya dalam perilaku.

ACT Consulting melalui program khusus yaitu Value Internalization (VI) Program memberikan solusi melalui serangkaian aktivitas. yang didesain secara khusus untuk membantu menginternalisasikan nilai-nilai perusahaan ke dalam diri setiap karyawannya.

Adapun durasi program dan aktivitas yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klien terkait dengan target internalisasi nilai yang ditetapkan saat itu. Untuk mengetahui lebih jauh tentang VI dan sejauh mana program ini efektif diterapkan di perusahaan Anda, silahkan hubungi ACT Consulting.

Cara Membangun Budaya Perusahaan yang Solid

5 Cara Membentuk Tim dan Budaya Kerja yang Solid

By | Article | No Comments

Cara Membangun Budaya Perusahaan yang Solid

Untuk membangun sebuah budaya perusahaan yang sehat, sangatlah sulit bila dibangun oleh seorang diri. Butuh sebuah tim kerja yang solid untuk membantu menjalankan budaya kerja yang baik untuk menjalankan roda bisnis.

Namun membangun tim kerja yang solid tidaklah semudah yang dibayangkan. Padahal jika tim kerja tidak solid maka bisa jadi masalah besar bagi perusahaan. Untuk itu berikut tips membangun tim kerja yang solid:

Membentuk Budaya Kerja dan Tim yang Solid

1. Memahami Tujuan Organisasi

Sebuah perusahaan bisa dikatakan sukses apabila tujuan dari organisasi tersebut bisa tercapai. Untuk itu perlu penanaman nilai-nilai organisasi seefektif mungkin kepada tim agar memahami tujuan tersebut. Dengan memahami tujuan organisasi maka akan jadi panduan tim untuk menjalankan roda bisnis. Program internalisasi nilai-nilai perusahaan: Value Internalization Program.

2. Berikan contoh positif

Untuk membangun tim kerja yang solid, sebuah tim butuh teladan yang baik. Bila sebagai pemimpin tidak mampu memberikan contoh positif maka jangan tim mau melakukan apa yang di inginkan.

3. Menerima inovasi baru

Dalam membangun tim yang solid maka Anda harus terbuka atas opini dan ide-ide baru yang muncul. Berikan kesempatan kepada tim untuk mengeluarkan ide-ide baru dan berikan kebebasan bagi mereka untuk menyampaikan opini.

4. Meningkatkan kualitas kerja tim

Untuk membangun tim yang solid Anda perlu meningkatkan kualitas mereka. Program pelatihan sangat penting untuk meningkatkan keahlian sehingga tim kerja memiliki kapasitas kemampuan untuk menjalankan roda perusahaan. Salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas kerja tim bisa dengan melakukan outbound training.

5. Saling menghormati

Untuk membangun tim dan budaya kerja yang solid maka Anda harus memulai sikap positif saling menghormati sehingga aura positif akan menyebar ke tim kerja Anda.