Skip to main content

Tragedi Budaya yang Hampir Membuat Oracle Tutup di Tahun 1992

By March 11, 2019April 30th, 2019Article

Di tahun 1980an, Oracle telah tumbuh menjadi perusahaan IT yang sangat besar di Amerika Serikat dan di dunia. Saat itu, Oracle telah menjadi perusahaan software besar yang membuatnya berada di urutan pertama di bidang database, di urutan kedua setelah Microsoft di bidang software untuk personal computer, dan di urutan kedua untuk Enterprise Resource Planning Software (ERP) setelah SAP.

Apa yang ditawarkan oleh Oracle pada banyak konsumennya adalah; “Bagaimana kami bisa membuat Perusahaan Anda menjadi Hebat”.

Namun, Oracle di tahun 1980an itu tumbuh dengan skala penjualan yang melampaui kemampuannya untuk memenuhi apa yang dijanjikan kepada konsumen. Pihak sales membukukan angka-angka untuk produk software yang bahkan belum diciptakan oleh Oracle. Konsumen menunggu-nunggu solusi yang ditawarkan Oracle untuk usaha mereka, hingga waktu development software selama 3 (tiga) tahun sesuai perjanjian.

Konon kebiasaan sales yang terlalu bombastis dalam membukukan penjualan ini terjadi karena ambisi sang Pendiri, Larry Ellison, yang berambisi untuk mengalahkan Bill Gates dan Microsoft untuk menjadi perusahaan terkaya di dunia dan untuk menjadi orang terkaya di dunia. Apa yang diimpikan oleh Larry Ellison yang terkenal karena ambisi besarnya untuk selalu menjadi pemenang di segala bidang ini, membuat matanya buta dan membuatnya menjanjikan segala hal secara berlebihan.

Namun mimpi buruk para akuntan di dalam Oracle pun menjadi kenyataan. Saat Oracle version 6 yang diluncurkan ternyata memiliki banyak bugs di dalamnya, dan sangat mengecewakan bagi konsumen. Ini membuat Oracle kemudian hampir tutup. Kerugian yang terjadi mencapai hingga ratusan juta dollar Amerika. Nilai kekayaan bersih yang dimiliki Larry Ellison pun jatuh berkurang hingga membuatnya hampir miskin.

Di tengah semua bencana finansial yang mereka alami, Larry Ellison kemudian mencari bantuan dari seorang konsultan manajemen yang ternama saat itu, yang juga seorang ahli teknologi. Ia adalah Raymond J Lane, yang sebelumnya berhasil membesarkan sejumlah perusahaan seperti IMB dan EDS (Electronic Data Systems).

Di tahun 1992, Lane direkrut oleh Oracle Corporation untuk membalikkan penjualan, layanan, konsultasi dan pemasaran perusahaan, ia dan ditunjuk sebagai presiden Oracle USA pada bulan Juni.

Oracle, yang menderita pertumbuhan pesat pada akhir tahun 80-an tanpa check and balance atas costumer practice-nya, saat itu juga tertinggal secara teknologi.

Perputaran cepat di pertengahan 90-an kemudian dilakukan oleh Lane dengan memperkuat Corporate Culture dan membesarkan Costumer Service Satisfaction serta proses operasional dibuat untuk menjadi lebih tertib prosedur.

Akhirnya, tindakan penyelamatan dilakukan dengan didorong oleh teknologi database baru yaitu dengan diluncurkannya Oracle 7 yang menghadirkan beragam solusi sesuai dengan rangkaian fitur yang dijanjikan kepada konsumen, dengan menyelesaikan berbagai bugs yang ada pada versi sebelumnya. Oracle 7 pun kemudian cepat menjadi hits.

Baca Juga:  Daya Tarik Indonesia di Mata Investor Dalam Oxford Business Group Tahun 2019

Oracle serta merta menjadi pulih kembali dan keluar dari lubang jarum dengan adanya sistem organisasi penjualan dan layanan yang lebih baik. Berbagai terobosan yang dilakukan Lane di perusahaan, diantaranya dilakukan dengan meluncurkan divisi aplikasi bisnis Oracle.

Pendiri Apple, Steve Jobs mengenang bahwa “Larry mengatakan kepada saya bahwa 15 menit setelah rapat, dia tahu Ray adalah satu-satunya pria yang dia temui yang hampir cukup pintar untuk menjalankan Oracle.” Pada tahun 1996, Lane diangkat sebagai Presiden dan CEO Oracle.

Di bawah kepemimpinan Ray Lane, bersama dengan Larry Ellison dan Jeff Henley, Oracle berkembang dari 7.500 menjadi 40.000 karyawan, mengalahkan saingan basis data utamanya, Sybase dan Informix, untuk menjadi pemimpin dalam industri basis data sambil membangun bisnis utama dalam aplikasi dan konsultasi.

Tragedi di Oracle terjadi karena kelemahan dalam budaya perusahaan. Sebuah perusahaan dengan budaya yang baik dan kuat akan bisa bertindak dengan elegan dan rapi dalam memanen kesempatan yang ada di lapangan dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran.

Kemampuan karyawan dalam mematuhi code of conducts atau work and sales ethics adalah gambaran dari benih budaya organisasi yang ditumbuhkan untuk menjadi kokoh, kuat dan subur di dalam organisasi.

Baru setelah keseimbangan di dalam organisasi tercipta, maka organisasi akan bisa bertumbuh dengan eksponensial dan mencapai berbagai impian yang dimiliki. Seperti adagium yang terkenal bahwa tujuan yang baik tidaklah dapat menghalalkan segala cara, namun tujuan yang baik haruslah dicapai dengan cara-cara yang baik.

Untuk mendapatkan bantuan dari ACT Consulting mengenai cara menumbuhkan budaya organisasi yang kuat, anda dapat klik disini.

Untuk dapat menguasai keterampilan strategi yang mumpuni untuk dapat mengelola perusahaan di tengah berbagai badai, Anda bisa klik disini.

Untuk dapat menguasai keterampilan membangun budaya perusahaan secara mandiri, dan menjadi ahli budaya perusahaan dengan sertifikasi yang diakui nasional, Anda bisa klik disini.

Untuk memperoleh keterampilan kepemimpinan yang dibutuhkan untuk dapat memimpin perusahaan di tengah beragam badai, Anda bisa klik disini.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?