Skip to main content
Tag

budaya juara

Masalah Utama Daya Saing Korporasi di Indonesia

By Article No Comments

Menurut Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index 2017-2018, hal yang menjadi masalah utama dalam melakukan bisnis di Indonesia adalah karena maraknya korupsi. (terlihat dalam data diatas).

Dari sini kita bisa melihat bahwa korupsi masih menjadi masalah utama dan menjadi faktor yang membuat daya saing perusahaan Indonesia kalah dibandingkan dengan banyak perusahaan di negara lain.

Untuk memecahkan masalah ini, tentu dibutuhkan penegakan integritas di tataran pemerintah, dan juga dalam pembenahan budaya perusahaan di sektor swasta.

Faktor masalah kedua adalah birokrasi pemerintah yang tidak efisien. Hal ini telah banyak diperbaiki melalui sistem perizinan satu atap (ptsp) yang terpadu di berbagai daerah di Indonesia. Namun masih memerlukan jangka waktu beberapa tahun lagi sebelum angka ini dapat turun dan menghasilkan pengaruh yang positif bagi indeks daya saing Indonesia di tingkat global nantinya.

Untuk perbaikan daya saing perusahaan ini, ACT Consulting memiliki program Digital Integrity, yang telah diterapkan dalam bentuk Training Digital dan Sharing Session yang dilakukan setiap minggunya di sebuah perusahaan Finance nasional yang memiliki puluhan ribu karyawan di beberapa unit usaha dan kantor cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Training ini terbukti menurunkan tingkat fraud yang terjadi di perusahaan tersebut dari angka basis points hampir 8 BPS hingga menurun ke sekitar 5 BPS saja. Ini tentu saja menghasilkan dampak keuangan yang sangat besar dan menyelamatkan uang perusahaan dalam jumlah banyak. Lebih jauh lagi, Program Digital Integrity ini telah memperbaiki sikap kerja dan memperkuat Values perusahaan. Sehingga masa depan yang lebih cerah dan menjanjikan kini dapat diraih oleh Perusahaan Finance milik Bangsa ini.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

hc breakthrough, innovation in vuca era, act consulting

Maraknya Inovasi di era VUCA

By News No Comments

Hari Rabu, tanggal 30 Januari 2019 telah berlangsung acara HC Breakthrough dengan tema; Innovation in VUCA era dengan dipandu oleh Director Bussiness Innovation dari ACT Consulting, Dudi Supriadi.

Peserta yang hadir ada 32 orang yang berasal dari puluhan perusahaan. Masing-masing dari peserta yang hadir ingin mengetahui apa saja yang penting dalam melakukan inovasi, dan bagaimana cara yang mudah dalam melakukan inovasi yang dapat mendatangkan hasil yang diharapkan.

Acara ini berlangsung di Ruang Mini Theater Lantai 4, Menara 165, Cilandak, Jakarta Selatan. Jumlah peserta yang hadir melebihi jumlah yang sebelumnya telah mendaftar. Antusiasme ini terasa dengan tingginya minat peserta dalam mengajukan sejumlah pertanyaan seputar Inovasi Bisnis dan tools inovasi apa saja yang dapat digunakan untuk memastikan inovasi bisnis berhasil dan mendatangkan hasil yang diharapkan.

Untuk mengetahui secara lengkap mengenai cara melakukan inovasi bisnis, bagaimana mengubah mindset para inovator yang ada di perusahaan, serta mendapatkan sejumlah tools yang terbukti efektif dalam menghasilkan inovasi yang dapat menghasilkan dampak yang diharapkan, peserta dapat mengikuti Workshop Business Innovation dari ACT Consulting.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

solusi society 5.0 yang telah hadir di indonesia, act consulting

Society 5.0 yang Telah Hadir di Indonesia

By Article No Comments

Perdana Menteri Jepang, Shino Abe meluncurkan apa yang dinamakan sebagai Society 5.0 di tahun 2017. Dalam pendekatan ekonomi inovatif yang dikembangkannya ini, segala hal akan berlangsung secara lebih otomasi dengan menggunakan data biometrik dan kependudukan hanya melalui sistem pengenalan sidik jari.

Society 5.0 ini merupakan jawaban dari kecemasan yang muncul saat dunia secara global merasa takut akan apa yang dapat terjadi dalam revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 ini semula memancing kekhawatiran banyak negara yang memiliki jumlah penduduk sangat banyak, karena menghadirkan otomasi robotik dan optimasi komputer dan internet. Lalu apa yang akan terjadi dengan begitu banyak tenaga kerja, apakah banyak orang yang akan tidak memiliki pekerjaan? Di sisi lain, pengembangan robotika dan artificial intelligence memakan biaya yang sangat tinggi, yang tidak mungkin dilakukan dan dikembangkan oleh negara berkembang yang memiliki dana riset yang terbatas.

Negara Jepang mencanangkan akan menjadi penggerak terdepan dalam sistem masyarakat berbasis artificial intelligence berorientasi kemasyarakatan ini, karena memiliki teknologi teratas dalam advance biometrik dan budaya monozukuri (ketelitian dan kesungguhan) dalam industri manufakturnya. Bersama dalam forum ekonomi dunia (world economic forum), sejumlah ahli dari eropa dan amerika bertemu di jepang untuk merumuskan sejumlah solusi untuk menghadirkan robotika ke dunia keseharian masyarakat disana.

Namun negara asia lainnya terutama Asia Tenggara, telah juga menghadirkan layanan yang telah menjadikan society 5.0 ini terwujud di masyarakat, dengan tetap mempertahankan kearifan lokal. Bahkan, apa yang dilakukan oleh para inventor dan innovator Indonesia dan Malaysia, telah dapat mendatangkan solusi yang mudah dan murah. Tanpa membutuhkan waktu sejumlah tahun ke depan, Indonesia dan Malaysia telah memiliki Society 5.0 dalam versinya sendiri.

Dalam segi kesehatan, Jepang telah menciptakan berbagai teknologi untuk membuat seorang tua dapat mendapatkan layanan kesehatan dan pengobatan tanpa perlu mendatangi dokter di rumah sakit. Namun Jepang masih harus menunggu beberapa tahun lagi untuk bisa menciptakan kendaraan swa kemudi dan menciptakan robot scanner penyakit untuk dapat mewujudkan impian Society 5.0 menjadi kenyataan yang dapat dinikmati banyak orang.

Padahal, solusi yang sama dengan konsep Jepang ini telah berlangsung di Indonesia melalui layanan gojek yang telah merambah ke dunia kedokteran dengan integrasi aplikasi halodoc. Dalam mengakses aplikasi ini, kita tinggal curhat ke dokter yang tepat, dan kita akan mendapatkan obat yang diperlukan untuk penyakit  yang dirasakan. Bahkan, karena halodoc terintegrasi dengan gojek, tanpa perlu kita kemana-mana, pengemudi gojek akan mengetuk pintu rumah kita dan mengantarkan obatnya.

Karena itu, seorang guru besar dari Malaysia, Prof Revany Bustami meramalkan bahwa Asia Tenggara akan memimpin penerapan Society 5.0 ini. Hal ini tak lain dan tak bukan karena Malaysia telah menciptakan aplikasi Grab dan Indonesia telah menciptakan Gojek.

Aplikasi yang semula hanya berupa ride hailing ini telah merambah berbagai solusi yang bersifat empowering atau memberdayakan. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh David Aikman dalam Robot Revolution Innitiative dalam World Economic Forum di Jepang di tahun 2017. Saat itu Aikman menyatakan bahwa kita seharusnya membuat teknologi memberdayakan manusia, dan bukan mendikte manusia. Ia menyatakannya sebagai Empowering, not Directing.

Solusi lainnya mengenai Society 5.0 ini akan kita bahas satu persatu dalam sejumlah tulisan ke depan. Untuk itu teruslah update dan ikuti berbagai tulisan berikutnya dari ACT Consulting. Salam Transformasi Progresif.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

manajemen millenial, harapan millenial, karyawan millenial, act consulting

Peka dan Ramah dalam Manajemen Karyawan Millenial

By Article No Comments

Bagaimana cara untuk melakukan strategi manajemen yang terbaik untuk menangani dan memimpin millenial? Anda mungkin tengah memikirkan hal ini. Data-data yang disampaikan oleh Price Waterhouse Cooper menunjukkan sejumlah karakteristik dan harapan yang dimiliki oleh karyawan millenial.

Millennial memanfaatkan teknologi dengan cara yang berbeda. Millennial mengambil pelajaran dari pengalaman mereka hidup dalam krisis ekonomi global. Generasi ini lebih menekankan pemenuhan kebutuhan pribadi daripada organisasi dimana mereka bekerja.

Untuk itulah, Price Waterhouse Cooper menegaskan bahwa korporasi harus mempertimbangkan hal ini dan tidak bersikap memaksakan kehendak, dalam berkomunikasi atau berhadapan dengan para millennial. Cara komunikasi yang dahulu dianggap efektif kini harus dirubah.

Mengapa hal ini penting? Karena diungkapkan oleh PWC selanjutnya bahwa millennial cenderung tidak nyaman dengan sistem korporasi yang kaku, dan menjadi tidak suka saat menghadapi kebuntuan informasi (information silo). Apa yang disebut Silo adalah suatu bagian menyimpan sendiri informasinya dari bagian lainnya. Dalam era millennial, hal ini harus dirubah, karena era jaman now adalah era ekonomi informasi. Mereka yang menguasai informasi terbaru, tertajam dan terbaik dalam menganalisa, akan memenangkan persaingan pasar.

Untuk itu, perusahaan perlu menyesuaikan program komunikasi organisasi (corporate communication) yang dimiliki agar tidak lagi kaku, tapi lebih akrab, ramah dan lucu. Ya, ini penting agar karyawan merasa nyaman, betah dan dirangkul. Diungkapkan pula bahwa millennial mengharapkan kemajuan terjadi dengan cepat. Mereka juga mengharapkan karir yang menarik dan beragam. Keragaman ini juga mereka harapkan dapat mereka dapatkan dalam bentuk umpan balik yang diterima.

Millennial ingin lebih baik dari generasi sebelumnya dan ingin mencapai banyak prestasi, menyelesaikan lebih banyak projects, dan meraih performa tinggi, karena secara alami daya saing dan daya juang mereka dapat dipicu dan dipantik. Namun ini harus dilakukan dengan menciptakan makna atau values creation. Sebuah perusahaan yang memiliki tujuan yang mulia, akan membuat millennial bersedia mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya. Bahkan dengan bayaran rendah atau tanpa bayaran sekalipun. Namun sekali mereka merasa perusahaan berbuat tidak adil dan mengambil keuntungan secara tidak wajar atas diri mereka, maka loyalitasnya akan langsung luntur.

Millennial menginginkan gaya manajemen dan budaya perusahaan yang jauh berbeda dari yang diberikan kepada generasi sebelumnya. Millennial memiliki ambisi dan keinginan untuk terus belajar dan untuk bergerak keatas di dalam organisasi dimana mereka berkecimpung. Mereka ingin maju secara cepat, dan mengharapkan setiap perjuangan yang mereka berikan secara lebih itu dapat dihargai dengan adil. Ini membuat setiap perusahaan harus memiliki bagian SDM yang lebih peka dan responsive. Millennial ingin perusahaan memiliki dan mengadopsi atau menciptakan program penimbangan kinerja yang detail dan sistem remunerasi yang terkostumisasi secara spesifik yang akan menimbang kinerja mereka secara adil.

Millennial ingin bekerja secara lebih fleksibel, namun mengininkan umpan balik yang muncul secara teratur. PWC juga menyampaikan bahwa millennial membutuhkan dorongan motivasi dan semangat. Ini akan membuat mereka merasa lebih dihargai dan bahagia.

Millennial mengharapkan perusahaan melakukan program employer branding seserius seperti program consumer branding. Millenial mengharapkan korporasi dapat lebih innovative dalam mempertahankan mereka, dengan melakukan cara-cara yang tidak pernah ada sebelumnya.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

seminar motivasi berbasis core values, jamkrindo syariah, act consulting

Seminar Motivasi Berbasis Core Values Jamkrindo Syariah

By News No Comments

Tanggal 25 Januari tengah diselenggarakan Seminar Jamkrindo Syariah dengan Tema Motivasi dan Spirit Dalam Meningkatkan Kinerja Berbasis Core Value. Acara ini berlangsung di tengah Rapat Kerja Nasional PT Penjaminan Jamkrindo Syariah tahun 2019.

Budaya yang ingin ditegakkan dalam perusahaan terdiri dari 6 (enam) butir nilai-nilai budaya yang dianut perusahaan, Core Value Jamkrindo Syariah yaitu MUMTAZ (excellent):

  • Maslahah (kemanfaatan)
  • Ukhuwah (persaudaraan)
  • Mas’uliah (tanggung jawab)
  • Ta’awun (kerjasama)
  • Amanah (dapat dipercaya)
  • Ziyadah (pertumbuhan)

Harapan yang ingin dicapai dari Seminar ini adalah keyakinan untuk mencapai target, menyadarkan bahwa bekerja dengan sepenuh hati akan mendatangkan pertolongan Tuhan YME. Seminar ini juga diharapkan dapat menghilangkan sekat antar sektor, dan menghilangkan kegamangan dalam bekerja.

Training ini dibawakan langsung Oleh Coach Rinaldi Agusyana dan Trainer Bayu Yudha Pribadi dengan para para pejabat Jamkrindo yang berada satu level dibawah Dewan Direksi.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

society 5.0 dan keseimbangan hidup, act consulting

Society 5.0 dan Keseimbangan Hidup

By Article No Comments
mans journey of the soul

Mulai tahun kemarin, publik sedang ramai membicarakan revolusi teknologi 4.0. Dua hari lalu, Senin 21 Januari 2019, Kantor Perdana Menteri Jepang secara resmi meluncurkan “Society 5.0”.

Konsep yang diusung dalam Society 5.0 ini mengusung keseimbangan dalam 5 unsur utama yang ada dalam kehidupan seorang manusia, yaitu; Emosional, Intelektual, Fisikal, Sosial, dan; Spiritualitas. Dalam kultur Jepang yang mengutamakan Zen atau keseimbangan, hal ini menjadi sangat penting.

Society 5.0 adalah suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based) yang dikembangkan oleh Jepang.  Konsep ini lahir sebagai pengembangan dari revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi mendegradasi peran manusia. 

Sebelum konsep 5.0 ini diluncurkan, masyarakat tengah mengalami kerisausan akibat adanya teknologi tinggi yang berbasis kecerdasan artifisial, yang digambarkan dalam sinema sebagai suatu momok yang menakutkan. Kekhawatiran masyarakat mengenai berkurangnya lapangan pekerjaan dan berkembangnya teknologi robotik pun bisa sedikit dikurangi.

Akibat lain yang bisa timbul dari revolusi teknologi yang terjadi adalah berubahnya perekonomian. Sector yang dulu menjadi leading driver seperti oil and gas, akan menjadi bidang yang ditinggalkan dengan berkembangnya teknologi otomotif berbasis listrik dan gas. Hal ini memaksa negara-negara penghasil bahan tambang untuk merubah driver utama dalam perekonomian mereka. Seperti yang terlihat dari langkah-langkah yang dilakukan oleh banyak negara timur tengah dalam upaya mereka beralih sumber devisa ke sector finansial dan pariwisata.

Selalu ada dua sisi mata koin dari teknologi. Saat manusia khawatir akan munculnya robot humanoid, Jepang meluncurkan society 5.0 ini. Hal lain yang membuat kita khawatir akan teknologi informasi ini adalah saat terjadi mekanisme ekonomi informasi yang membuat politik global terpengaruh. Kita melihat bagaimana salah satu sisi dunia berubahnya wajah dunia akibat disinformasi yang tercipta karena banyaknya loophole untuk melakukan rekayasa informasi dalam algoritma dunia maya. Hingga muncul kasus seperti kemenangan Trump di Amerika Serikat.

Mata koin yang positif terlihat dari launching Society 5.0 di Jepang ini. Dimana kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang ada justru akan dimanfaatkan secara positif dan dicari sisi baiknya yang akan mampu menguntungkan dan memudahkan hidup manusia.

Apa yang dilakukan adalah mentransformasi big data yang dikumpulkan melalui internet pada segala bidang kehidupan (the Internet of Things) menjadi suatu kearifan baru, yang akan didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi kemanusiaan. Transformasi ini akan membantu manusia untuk menjalani “kehidupan yang lebih bermakna”.

Dari munculnya sisi buruk dari teknologi yang ditakuti banyak orang ini, manusia akhirnya kembali lari pada sang pemilik kehidupan, Sang Pencipta. Seiring dengan ditemukannya berbagai fakta bahwa otak manusia dibuat untuk dapat mampu menemukan pola, sebab dan akibat, dan mencari Prima Causa yang utama, yaitu Tuhan. Apakah itu dalam bentuk munculnya disiplin ilmu baru bernama mindfulness , hingga munculnya penegasan dari Daniel Goleman tentang kebutuhan manusia akan spiritualitas, yang ditulis dalam bukunya Altered Traits. Dimana buku ini membahas tentang perlunya manusia beribadah melalui berbagai tata cara untuk menemukan keseimbangan.

ESQ dengan penuh kerendahan hati menyatakan bahwa konsep ini telah lebih dahulu kami sampaikan. Mengenai perlunya keseimbangan sosial dalam prinsip-prinsip 165. Dimana tercantum 5 langkah kesuksesan hidup yaitu;

  • Mission statement; intellectual quotient
  • Character building; spiritual quotient
  • Self control; emotional quotient
  • Strategic collaboration; social quotient
  • Total action; physical quotient

Mari kita bersama-sama menekuri kembali khazanah ilmu 165 yang telah diberikan Tuhan YME kepada kita semua. Lalu bersama kita bangkit dan mewujudkan amazing society yang menjadi cita-cita besar dari 165 untuk mewujudkan kesejehteraan umat manusia yang unggul dan lestari. Salam hangat untuk para sahabat ESQ dari Menara 165.

sales conference outbond, mars petcare indonesia, act consulting

Outbound Target Setting MARS Petcare Indonesia

By News No Comments

Puluhan orang area manager MARS Petcare Indonesia mengikuti Sales Conference Outbond dari ACT Consulting pada tanggal 8 Januari 2019. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bapak Edu sebagai Country Director MARS Petcare Indonesia.

Para pimpinan area yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia seperti dari Sumatera, Bandung, Surabaya, Kalimantan, Bali, Yogya ini bersatu bersama dalam beragam aktivitas yang disusun dengan sistematis dan menyenangkan, dengan konsep Fun Theory dari ACT Consulting.

Melalui games, simulasi dan beragam aktivitas yang disampaikan dalam paket Outbond ini, peserta juga memperoleh penyegaran kembali tentang tujuan dalam bekerja yang fun dan kolaboratif dalam mencapai cita-cita menjadi perusahaan petcare terbaik di Asia Tenggara.

Internalisasi Values perusahaan juga dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan membangun. Values dari MARS Petcare Indonesia antara lain; Teamwork, Trust & Respect, Responsibility, Passion, dan Worklife Balance.

Dengan nilai bekerja yang penuh kegembiraan, MARS Petcare memiliki target finansial yang tinggi. Itulah yang menjadikan alasan kuat mengapa Sales Conference Outbond ini perlu dilaksanakan. Dengan kegiatan yang membakar semangat dan mempertinggi skill kolaborasi di dalam tim penjualan ini, target yang tinggi pun menjadi mungkin untuk dicapai.

Kegiatan Outbond ini dipimpin langsung oleh Iman Herdimansyah selaku Training Director dari ESQ dan Dadang Suhendar selaku Senior Outbond Leader dari ACT Consulting. Aktivitas ini dilaksanakan dengan penuh semangat di Hotel Lodge Taman Safari, Bogor.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).



kesehatan keuangan, masalah keuangan, act consulting, financial wellness program

Gaya Hidup, Kecerdasan Finansial dan Produktivitas Kerja

By Article No Comments

Sejumlah cara manusia untuk mempertahankan diri, salah satunya adalah dengan melakukan gaya hidup setingkat di atas kemampuan mereka. Pendapat ini dikemukakan oleh George W Crane dalam bukunya yang berjudul Psychology Applied. Buku yang ditulis oleh begawan ilmu psikologi dari Amerika ini masih relevan dengan kondisi yang dilakukan oleh masyarakat hari ini. Namun pada kenyataannya, melakukan gaya hidup yang lebih tinggi dari pada kemampuan, mendatangkan penyakit pada aspek finansial kita.

Banyak yang demi gaya hidup kemudian kehabisan uang di tengah bulan. Bahkan banyak yang menggunaka kartu kredit  hingga berhutang puluhan juta atau bahkan ratusan juta. Tak sedikit ditemui kasus di dunia SDM dimana karyawan yang memiliki hutang banyak kemudian keluar kerja dan meninggalkan jejak tagihan di perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya.

Di sisi lain, produktivitas kerja juga ikut terpengaruh. Pegawai yang memiliki masalah finansial seringkali tidak dapat berkonsenterasi dalam bekerja. Bahkan sering dijumpai pekerja tidak masuk atau absen, karena masalah yang dideritanya.

Di Amerika Serikat, dalam survey yang dilakukan oleh Price Waterhouse Cooper, memberikan gambaran kerugian perusahaan karena masalah ini. Bahwa dari 10 ribu karyawan yang menghabiskan waktu kerja selama 3 – 5 jam sehari untuk memikirkan masalah keuangan mereka, jumlah kerugian yang diderita   perusahaan mencapai hingga 3,3 juta dollar per tahunnya.

Kesulitan keuangan juga mempengaruhi employee engagement. Loyalitas kerja, penghargaan terhadap gaji dan bonus yang diberikan, dapat terganggu saat karyawan mengalami masalah keuangan. Ia akan mungkin mencari tempat lain atau melakukan pekerjaan tambahan yang dapat mengganggu pekerjaan utamanya. Terlihat bahwa karyawan yang mengalami kesulitan keuangan merasa tidak menyukai tempat kerja mereka. Sementara yang tidak mengalami kesulitan keuangan, lebih merasa puas pada tempat mereka bekerja.

Dalam hasil survei yang dilakukan oleh Bank of America, saat millennial ditanya tentang apa yang mereka inginkan dari perusahaan, mereka menjawab; ingin bantuan keuangan. Sejumlah pilihan yang diinginkan millenials dan dapat diberikan oleh perusahaan diantaranya dengan memberikan tools  pengelolaan keuangan online, akses untuk bertemu ahli keuangan, data dan hasil riset yang relevan, software keuangan, mengikuti training atau seminar keuangan yang relevan, dan adanya seminar tentang keuangan di tempat bekerja.

Lebih dari sepertiga karyawan ingin mendapatkan bantuan perencanaan keuangan dari pihak yang tidak menjual produk keuangan tertentu. Ini agar saran dan bimbingan yang mereka dapatkan tidak bias dan bersifat netral. Saat program kesehatan finansial ditawarkan oleh Perusahaan, karyawan yang mengalami kesulitan keuangan akan lebih memilih untuk memanfaatkannya, (sebanyak 72% dari responden).

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara meningkatkan keterampilan finansial dan meninggikan produktivitas para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

strategi retensi millenials, act consulting, esq outbond

Strategi Retensi Millenials

By Article No Comments

Millenial akan menguasai pasar tenaga kerja hingga 50% dari seluruh angkatan kerja di tahun 2050, demikian menurut prediksi yang dibuat oleh PWC dan KPMG. Karena karakternya yang unik, diperlukan strategi retensi yang khusus untuk memanage para millenial ini.

Strategi Mempertahankan Millenial untuk mampu mengembangkan loyalitas bekerja di perusahaan Anda ada beragam. Namun kita harus mendasarkan setiap langkah strategis di bidang SDM, dengan berdasar pada data yang valid. Untuk itu, ACT Consulting menghadirkan tulisan ini untuk Anda.

Menurut hasil survei yang termuat dalam KPMG Report 2017, sejumlah langkah kunci di bawah ini dapat Anda lakukan untuk meningkatkan retensi dan engagement dari karyawan Millenial yang Anda miliki;

  1. Millenial mengutamakan Budaya Kerja. Budaya adalah kunci yang dicari milenial saat mempertimbangkan tempat bekerja. Perusahaan harus menampilkan sejumlah sejarah kesuksesannya untuk dapat membuat millenial mau bekerja dengan loyal. Perusahaan juga harus membesarkan budaya kreativitas dan menjunjung tinggi moralitas bekerja yang luhur. Dengan cara ini, millenial akan loyal, karena meyakini mereka bekerja di tempat yang tepat.
  2. Millenial ingin menikmati pekerjan mereka. Fun adalah yang dicari millenial dalam pekerjaan impian mereka. Bagi mereka, hidup terlalu singkat untuk terperangkap di pekerjaan yang membosankan. Kegiatan luar ruang dan aktivitas yang menarik dan menantang, akan mendorong millenial untuk mau bekerja lebih. Salah satunya adalah dengan kegiatan seperti Outbond yang menantang dan membangun skill mereka.
  3. Millenial berkomunikasi dengan jujur dan terbuka. Sikap jujur ini amat mereka harapkan dari tempat kerja mereka. Bila mereka mendapatkan ini, mereka akan merasa pendapat mereka dihargai. Millenial ingin berkontribusi dan menginginkan perusahaan dapat memberi potensi pengembangan makna hidup yang besar bagi mereka.

ACT Consulting memiliki konsep pengembangan karakter dan potensi manusia yang terbaik untuk semua generasi. Untuk para Millenial, ESQ mengembangkan slogan “Amazing You” demi mendorong mereka untuk lebih percaya diri dan mau meraih semua mimpi yang besar yang dimiliki.

Untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi para millenial yang berkarya di Perusahaan Anda, pengalaman membangun skill dalam setting outdoor melalui ESQ OUTBOUND adalah salah satu pilihan terbaik yang dapat diberikan untuk merkea.

ESQ OUTBOND akan menjadi partner anda dalam pembentukan karakter pribadi yang tangguh dan berkualitas dengan semangat Experience The Nature of Spiritual Journey. ESQ OUTBOUND menghadirkan games yang menyenangkan, menantang, menginspirasi bagi para millenials. Keseluruh aktivitas yang ada dalam paket Outbond dari ESQ ini dapat  memberikan makna yang mendalam dalam aspek  intelektual, emosional dan spiritual mereka.

ESQ OUTBOUND akan mengubah paradigma hidup millenials yang bekerja bersama Anda dalam menuju arah yang lebih baik dan akan membantu anda meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta membentuk karakter pribadi yang tangguh dalam lingkungan pemerintahan / perusahaan / lembaga / organisasi / kampus / sekolah.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

mengukir karakter millenials, act consulting, andi basuni

Mengukir Karakter Millenials

By Article No Comments

Secara umum, generasi millenial, yang lahir antara tahun 1980 and 2000 kini telah memasuki jenjang menengah dalam karirnya. Para millenial ini memiliki karakter unggul dan penguasaan teknologi yang baik. Namun karena millenial memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya, diperlukan pendekatan yang berbeda dalam memanage millenial.

Menurut Price Waterhouse Cooper, pada tahun 2020, 50% tenaga kerja global terdiri dari para millenial. Aspirasi karir mereka, sikap mereka terhadap kerja, dan pengetahuan yang dimiliki oleh para millenials ini akan membentuk masa depan bisnis Anda. Millenials penting karena mereka akan memaksimalkan skill mereka yang baik dalam pengetahuan teknologi terkini, untuk memudahkan komunikasi dan pelaksanaan pekerjaan.

Masih dalam sumber survey yang sama, PWC menyampaikan bahwa bagi millenials, uang bukanlah segalanya. 52% dari responden millenials ini menyatakan bahwa mereka mencari kesempatan untuk pengembangan diri dan karir.

PWC juga mengungkapkan bahwa millenials mencari makna hidup dalam bekerja. Milllenials ingin agar pekerjaan mereka memiliki tujuan yang bermakna, mereka ingin memberi kontribusi pada dunia dimana mereka hidup, dan mereka ingin bekerja di tempat yang memiliki tujuan luhur.

Training ESQ (Emosional dan  Spiritual Quotient) adalah training  SDM  yang hadir sebagai upaya membangun Karakter dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada pada diri seseorang. Hal ini dianggap sangat menarik bagi para millenials. ESQ menggabungkan 3 potensi dalam  berkarya  yaitu modal materi/fisik, modal sosial, dan  modal spiritual.

Modal Fisik (Phisical Capital)  yaitu kemampuan untuk berfikir “What do I Think” (apa yang saya fikirkan) untuk mengelola kekayaan fisik/materi, Modal Sosial (Sosial Capital) yaitu kemempuan untuk merasa “What do I Feel” (apa yang saya rasakan) untuk mengelola kekayaan Sosial rasa kebersamaan serta keterikatan emosi, dan Modal Spiritual (Spiritual Capital)  yaitu kemampuan untuk memahami makna kehidupan “Who am I” (Siapa  Saya)  untuk mengelola kekayaan spiritual mengenal konsep diri  sebagai hamba  Tuhan.

Fenomena hari ini begitu banyak millenials yang pintar dan cerdas, profesional di bidangnya, namun mempunyai perilaku yang negatif.  Ada juga karyawan millenials  yang baik tapi tidak  Profesional. Untuk itu diperlukan Training Character Building agar dapat membentuk mindset dan berpengaruh pada pembentukan karakter secara jangka panjang dengan menjadikan kecerdasan emosional spiritual sebagai modal utama untuk menggerakkan potensi intelektual millenials.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).