Skip to main content
All Posts By

Dudi Supriadi

open innovation paradigm, henry chesbrough, business innovation, act consulting, ary ginanjar agustian, dudi supriadi

Paradigma Open Innovation dan Pengaturan Kekayaan Intelektual

By Article No Comments

Proses inovasi seringkali dirasakan sebagai suatu hal yang berat dan mahal di banyak perusahaan. Namun dari suatu kesulitan, akan muncul berbagai terobosan yang menyajikan solusi. Salah satu solusi yang keluar dari masalah inovasi internal ini adalah munculnya beragam model inovasi terbuka (open innovation) yang berlangsung dalam banyak perusahaan dalam berbagai tingkatan yang berbeda.

Salah satu bentuk open innovation yang populer adalah strategi open source seperti dalam penciptaan linux dan program aplikasi seperti android, yang melibatkan banyak software developer dari berbagai penjuru dunia. Masing-masing dari mereka menjadi kontributor dalam perbaikan proses koding di linux dan android, dan membesarkan software tersebut ke dalam berbagai jenis produk.

Istimewanya, karena melibatkan banyak orang dan terbuka untuk dilakukan kostumisasi sesuai penggunanya, teknologi yang dihasilkan menjadi tak berbayar alias gratis atau berbiaya sangat rendah. Hal ini makin membesarkan dan mempopulerkan model inovasi terbuka ini.

Namun mungkin banyak dari Anda yang ingin mengetahui apa dan bagaimana Open Innovation ini, dan bagaimana masalah hak cipta yang ditimbulkan. Berikut ini sejumlah penjelasan yang dapat membantu dalam memahami Open Innovation.

Open innovation merupakan pendekatan yang tidak hanya melibatkan internal perusahaan, tetapi juga pihak ekternal dalam mengembangkan dan mengintegrasikan ide baru secara optimal untuk kepentingan perusahaan. Pendekatan ini lebih banyak diterapkan oleh perusahaan dalam berinovasi guna mengatasi dunia bisnis yang sangat kompetitif (Fadhilah, 2018).

Pencetus Open Innovation, Dr. Henry Chesbrough adalah profesor di Haas Business School, UC Berkeley, dan direktur eksekutif untuk Center for Open Innovation. Menurutnya (Chesbrough et al, 2006), sebuah proyek dapat diluncurkan dari sumber teknologi internal atau eksternal, dan teknologi baru dapat masuk ke dalam proses inovasi di berbagai tahap.

Selain itu, proyek dapat masuk ke pasar dalam banyak hal juga, seperti melalui outlicensing atau perusahaan patungan, di samping pergi ke pasar melalui saluran pemasaran dan penjualan perusahaan sendiri
(Chesbrough, 2006) . Mengapa model ini dinamai ‘open innovation’ karena ada banyak cara agar ide mengalir ke dalam proses, dan banyak cara untuk mengalir ke pasar.

Menurut Chesbrough (2006) sejumlah perusahaan besar seperti IBM, Intel, dan Procter & Gamble (P&G) semuanya mencontohkan aspek-aspek model open innovation ini.

Dalam Fadhilah (2018) dipaparkan bahwa Open innovation dapat dianggap sebagai pendekatan yang fleksibel, yang menawarkan berbagai cara di mana ide dapat dikembangkan dan dibawa ke pasar. Perjanjian ini umumnya tergantung pada kejelasan dalam pengaturan kekayaan intelektual perusahaan (Brant dan Lohse, 2014; Gassman dan Enkel, 2004, dalam Fadhilah, 2018). Menurut Gassmann dan Enkel (2004, dalam Fadhilah, 2018) terdapat tiga proses kegiatan inti pada open innovation, yaitu proses pertama adalah proses outside-in, proses inside-out dan terakhir proses kombinasi.

Menurut Fadhilah  (2018), pada proses pertama yaitu outside-in, memiliki pengertian di mana perusahaan berusaha meningkatkan basis pengetahuan sendiri melalui integrasi supplier, customer dan mengakses pengetahuan eksternal yang dapat meningkatkan inovasi.

Fadhilah, 2018 juga menjelaskan proses kedua yaitu inside-out, perusahaan mendapat keuntungan dengan membawa ide-ide ke pasar, menjual kekayaan intelektual, dan mengembangkan teknologi dengan mentransfer ide-ide ke lingkungan luar.

Sementara, Fadhilah, 2018 menjelaskan bahwa proses yang terakhir yaitu proses kombinasi, yang menggabungkan proses outside-in dan inside-out, kemudian bekerja sebagai aliansi atau mitra dengan prinsip saling memberi dan menerima pengetahuan yang dimiliki demi kesuksesan.

Ketiga proses tersebut menggambarkan strategi open innovation. Namun begitu, dalam taksonomi open innovation beberapa studi menggambarkan proses outside-in sebagai inbound open innovation dan proses inside-out sebagai outbound open innovation (Bianchi et al. 2011; Huizingh 2011, dalam Fadhilah, 2018).

Beragam inovasi yang dilakukan Henry Chesbrough harus bisa dipelajari oleh banyak orang di negara kita. Untuk mempelajari cara melakukan manajemen inovasi bisnis, klik disini. Untuk memiliki kemampuan mendesain bisnis mandiri, anda juga bisa klik disini.

Bila memiliki kesulitan atau masalah di beberapa sisi seperti budaya dan penerapan disiplin pencapaian target. Bila itu masalahnya, bagi para Leaders di Organisasi Anda, dapat mengikuti program  Transformational Leadership dari ACT Consulting dengan klik di link ini.

Untuk melakukan perkembangan di organisasi dan korporasi Anda, Anda dapat mempelajari cara membangun budaya perusahaan dengan klik disini. Anda juga dapat mempelajari cara menciptakan strategi yang tepat untuk perusahaan dengan klik disini.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

roi science innovation framework, act consulting, frontier economics

Kerangka Pengembalian Investasi (ROI) di Bidang Inovasi dan Sains

By Article No Comments

Apakah Anda sudah mendalami cara untuk melakukan perhitungan ROI dari berbagai investasi yang dilakukan di bidang sains dan inovasi? Sumber dari Frontier Economics di atas ini dapat sedikit memberikan gambaran pada Anda mengenai cara untuk melakukan perhitungan kuantitatifnya.

Dalam analisis empiris tingkat pengembalian investasi  (ROI) dalam bidang pengetahuan dan inovasi, ada dua metodologi utama:

• pendekatan ‘makroekonomi’ yang berupaya mengukur pengembalian secara langsung dengan memperkirakan fungsi produksi yang menghubungkan input (termasuk ukuran pengetahuan) untuk keluaran seperti aktivitas ekonomi atau produktivitas; dan

• pendekatan ‘ekonomi mikro’ yang berupaya melihat langsung pada jalur yang menghubungkan input dan output dan menyediakan cara untuk mengukur pentingnya saluran yang berbeda di antara mereka. Pendekatan ekonomi mikro masih cukup relatif dibandingkan dengan pendekatan fungsi ekonomi makro / produksi yang sudah mapan.

Kerangka luas dari metodologi fungsi produksi dapat diurutkan kembali ke Griliches (dari tahun 1979). Dimana metode ini menghubungkan ukuran output dengan ukuran input, di mana “pengetahuan” adalah salah satu variabel input.

Pendekatannya dapat diterapkan dari data di tingkat perusahaan, industri atau nasional, dan dapat di analisis dengan menggunakan metode data time-series, cross-sectional atau panel.

Terkadang, pendekatan dua tahap digunakan, pertama memodelkan hubungan antara investasi pengetahuan dan inovasi, dan kedua hubungan antara inovasi dan output.

Lebih pragmatis, metode fungsi produksi berguna karena bisa diterapkan menggunakan data yang biasanya cukup tersedia dari statistik nasional, atau survei tingkat perusahaan yang sering dilakukan di ekonomi tingkat lanjut.

Perkiraan ROI dapat mencakup tidak hanya ROI perusahaan tetapi juga perkiraan ROI sosial. Diantaranya dengan memasukkan beberapa model ukuran pengetahuan yang dihasilkan oleh orang lain untuk melihat apakah ada input yang berpengaruh pada output. Ini biasanya bergantung pada beberapa cara evaluasi bobot stok pengetahuan dari masing-masing perusahaan, industri atau negara yang dianalisis menjadi satu ukuran.

Bobot dapat ditentukan dengan mengamati aliran input antara perusahaan atau industri, arus perdagangan antar negara, atau langkah-langkah lain yang bisa dilakukan secara khusus untuk analisis tertentu.

elon musk, memulai bisnis dari ide, mengatasi ketidakmungkinan, act consulting, business model, design your business now

“Membangun Bisnis dari Ide” Rahasia Elon Musk Melawan Ketidakmungkinan

By Article No Comments

Banyak orang memulai bisnis dengan intuisi. Sejumlah lulusan sekolah bisnis, memulai dengan landasan pengetahuan yang kuat. Sejumlah yang lain, bermodalkan pengalaman dan relasi. Namun seberapa banyak yang melakukan bisnis, dengan desain bisnis yang teruji secara empiris?

Semua hal memang berasal dari ide. Namun dalam memulai usaha, apa saja yang dibutuhkan dalam membangun ide tersebut? Elon Musk menyampaikan rahasianya, yaitu;

  • Do you have a good idea. Ujilah apakah ide anda cukup hebat
  • Can you work really hard. Tantang diri anda sanggupkah bekerja sangat keras untuk mewujudkannya
  • Are you able to attract great team. Apakah anda bisa membuat orang-orang hebat tertarik untuk mendukung ide dan membantu anda
  • Are you able to motivate your team. Apakah anda sanggup untuk memotivasi kinerja tim anda.

Keempat hal diatas, dikatakan Elon sebagai 1% inspirasi dan 99% keringat. Atau 1% ide dan 99% nya adalah; Kerja Keras. Seperti yang dikatakan semua orang bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses. Bila kita tidak sanggup memberikan kerja keras, maka bersiaplah menerima hasil yang buruk. Sementara bila kita mengidamkan hasil yang baik, maka kita harus banyak memiliki cadangan ide dan melakukan upaya perbaikan ide disana dan disini.

Seringkali sebuah perusahaan memulai dengan ide yang baru terbukti salah di kemudian hari. Namun mereka dapat melakukan adaptasi dengan cukup cepat untuk mengubah kegagalan yang dialami, dan mengubah kegagalan tersebut dengan berbagai ide dan usaha yang baru, agar yang semula salah dapat berbuah menjadi benar, dengan banyak perbaikan.

Elon Musk menghabiskan puluhan juta dollar, atau ratusan milyar rupiah, untuk dapat memperbaiki ide awal yang salah, yang semula dimilikinya. ia bahkan menyampaikan ada masa-masa dimana keuangan perusahaannya hanya mampu menanggung beban usaha beberapa hari saja. Dua atau tiga hari ke depan, lebih tepatnya.

Bagaimana dengan Anda? Apakah keadaan ini pernah Anda alami? Wah, berarti anda memiliki pengalaman yang cukup kaya. Berarti Anda telah memiliki modal pengalaman untuk menuju kesuksesan berikutnya. Yang harus dilakukan hanyalah; menemukan dimana kesalahan, dan melakukan perbaikan untuk membuat usaha Anda berhasil.

Apakah kata-kata diatas ini cukup untuk membangun bisnis? Tentu tidak. Kata-kata diatas masih belum menggambarkan apa saja yang Anda perlukan dalam bisnis dan cara mengangani persoalan yang timbul. Kita butuh untuk dapat menemukan cara untuk dapat menggambarkan bisnis kita dalam satu kertas.

Untuk itu kami memiliki program pelatihan yang dibimbing oleh salah satu Trainer yang pernah mengembangkan bisnis ESQ di  beberapa kota di Indonesia dan di Malaysia. Sebagai Direktur dari Business Innovation di ACT Consulting, Pak Dudi Supriadi akan membantu Anda dalam menganalisa model bisnis Anda, dan membantu Anda menemukan apa yang belum Anda ketahui sebelumnya tentang bisnis yang Anda jalani.

Hanya dalam 1 hari. Anda akan mendapatkan sejumlah manfaat di bawah ini dari Training “Design Your Business Now” yaitu;

  • Memperoleh keberanian untuk memulai atau merubah desain bisnis yang sekarang dimiliki
  • Memperoleh rasa percaya diri untuk teguh melaksanakan semua kerja keras yang dibutuhkan
  • Memperoleh gambaran masalah dan solusi bisnis Anda dalam satu kertas secara mandiri
  • Memiliki pengetahuan dan wawasan tentang cara yang terukur dan empiris dalam melihat semua permasalahan dalam bisnis
  • Dapat menyusun langkah perbaikan bisnis dengan efektif dan efisien serta mudah

Kesemuanya ada dalam Training *“Design Your Business Now”*. Training terbaru dari ACT Consulting divisi Business Innovation.

*“DESIGN YOUR BUSINESS NOW ”*

================================

Jadwal Training ESQ Design Your Business Now

================================

Tanggal  : Sabtu, 4 Mei 2019

Waktu  : 08.00 – 17.00 WIB

Tempat  : Mini Theatre Lantai 4, Menara 165

Jl. Tb Simatupang kav 1, Cilandak, Jakarta Selatan

Investasi : Rp. 2.500.000

Promo : Rp. 1.500.000/seat

silahkan melakukan transfer ke a/n PT. ARGA BANGUN BANGSA dengan nomor rekening :

– BCA : 679 030 6595

– Mandiri : 101 000 6655 110

– Mandiri Syariah : 700 059 1178

jika sudah transfer silahkan konfirmasi kembali dg mengirim tanda bukti transfer. Terimakasih 😊

Epria ESQ – 0856 9208 3272

dennis muilenburg, ceo boeing corporation, act consulting, cst 100 starliner

CEO Boeing Dennis Muilenburg tentang Pesawat Luar Angkasa CST 100 Starliner

By Article No Comments

Banyak dari para tokoh dunia berhasil membesarkan perusahaannya karena memiliki impian besar yang tidak dimiliki oleh banyak orang. Dalam hal ini, terlihat bahwa impian besar tersebut dimiliki oleh CEO dan Presiden Boeing Corporation, Dennis Muilenburg.

Lulus sebagai sarjana dari jurusan aerospace engineering dan juga menerima gelar master di bidang aeronautics, Dennis Muilenburg memiliki cita-cita besar yang tak ragu untuk dicapainya. Sejalan dengan pendidikannya, ia tak ragu dalam memfokuskan pengembangan Boeing di bidang penerbangan luar angkasa.

Saat ditanya oleh David Bernstein di The Economic Forum pada tahun 2018, Dennis menyampaikan bahwa pengembangan teknologi luar angkasa ini akan memiliki ripple effect atau efek riak pada pengembangan teknologi di berbagai bidang lainnya, tidak hanya masalah teknologi penerbangan saja.

Agar sebuah penerbangan luar angkasa yang akan menuju Mars dapat dilakukan pergi dan pulang dengan selamat, di perlukan inovasi dari berbagai bidang ilmu. Seperti dalam hal teknologi medis, teknologi gawai cerdas, teknik material, dan lain sebagainya. Diakui oleh Dennis bahwa pengembangan teknologi penerbangan luar angkasa ini adalah hal tersulit yang harus dilakukannya di Boeing.

Saat ditanya mengapa orang ingin pergi ke Mars, Dennis menyampaikan bahwa banyak orang yang membutuhkan inspirasi dalam kehidupan mereka. Mereka ingin merasakan pengalaman dalam hal deep space exploration atau eksplorasi luar angkasa yang akan memberikan perspektif baru dalam hidup mereka.

Keberhasilan dari penerbangan eksplorasi luar angkasa ini pula akan memberikan inspirasi tidak hanya untuk pengembangan teknologi saat ini. Namun akan menginspirasi generasi muda dan generasi yang akan datang, untuk melakukan perjalanan mengeksplorasi jagat raya.

CST 100 Starliner adalah pesawat luar angkasa rancangan Boeing yang telah di launching untuk pulik pada bulan April 2019. Pesawat ini menjawab impian banyak orang untuk melakukan perjalanan ruang angkasa. Namun masih terlalu jauh untuk membayangkan perjalanan ke Planet Mars. Sampai saat ini, perjalanan yang telah dibuat menjadi mungkin dilakukan oleh publik adalah seputar orbit bumi.

Beragam manajemen inovasi bisnis yang dilakukan Dennis Muilenburg harus bisa dipelajari oleh banyak orang di negara kita. Untuk mempelajari cara melakukan manajemen inovasi bisnis, klik disini.

Namun Anda bisa saja memiliki kesulitan atau masalah di beberapa sisi seperti budaya dan penerapan disiplin pencapaian target. Bila itu masalahnya, bagi para Leaders di Organisasi Anda, dapat mengikuti program Transformational Leadership dari ACT Consulting dengan klik di link ini.

Untuk melakukan perkembangan mendasar di organisasi dan korporasi Anda seperti yang dilakukan Dennis Muilenburg di Boeing, Anda dapat mempelajari cara membangun budaya perusahaan dengan klik disini.
Anda juga dapat mempelajari cara menciptakan strategi yang tepat untuk perusahaan dengan klik disini.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter  para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki
langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

eric schmidt, ceo google, budaya perusahaan, strategi membangun budaya, act consulting

Bagaimana Eric Schmidt Mengembangkan Google

By Article No Comments
Eric Schmidt, CEO Google pada 2001 – 2011

Sebelum memimpin Google, Eric adalah CEO dari Novell sejak tahun 1997 – 2001. Sebelum di Novell, ia menjabat sebagai Vice President untuk Sun Microsystems dan President untuk Sun Technology Enterprise. Kemudian ia diundang oleh Larry Page dan Sergey Brin untuk wawancara di Google. Eric juga seorang programmer yang menulis sendiri program bernama Lex untuk melakukan analisa leksikal pada Unix Computer Operating Systems.

Saat itu Eric berkata bahwa yang terjadi adalah adu argumentasi. Larry dan Sergey berusaha menyampaikan pada Eric bahwa bisnis yang tengah dijalaninya akan tergerus karena terdisrupsi oleh perkembangan teknologi. Eric mengatakan bahwa mendapatkan informasi tersebut dari dua orang yang masih berusia 25 tahun, membuat egonya terusik. Namun, secara intelektual ia mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh kedua pendiri Google tersebut, benar adanya.

Posisi Google di Antara Platform IT Lainnya

Menurut Schmidt saat memberi pidato di The Economic Forum di Washington DC pada tahun 2010, ada beberapa platform yang mengesankan dan terus melakukan perkembangan dalam skala global. Apa yang disampaikannya masih relevan hingga saat ini di tahun 2019.

Pemaparan yang diberikan Schmidt adalah;

  • Apple; Best Consumer Platform, Apple sebagai platform konsumen terbaik
  • Facebook; People Platform, Facebook sebagai platform yang menghubungkan antar orang
  • Amazon; Practical Platform, Amazon sebagai platform praktis yang bermaksud memenuhi kebutuhan tiap orang secara mudah
  • Google; Information Platform, Google sebagai platform sumber informasi data dalam berbagai bentuknya

Schmidt mengatakan bahwa keempat platform diatas adalah aplikasi jaringan dengan skala yang dapat ditentukan. Pengembangan dari tiap skala ini amat penting untuk dipelajari, ujarnya. Nilai pasar dari tiap platform ini sangat tinggi; dan di tahun 2010 tersebut, semua masih bermula, katanya.

Konektivitas yang dimiliki oleh berbagai platform ini, membuat kita bisa melakukan banyak hal yang mengagumkan, kata Eric lagi. Sesuai dengan apa yang disebut sebagai Morse Law atau Hukum Morse, bahwa komputer makin cepat dan makin menduplikasi kapasitasnya setiap dua tahun. Ini berarti, dalam 10 tahun, komputer akan menjadi 30 kali lebih cepat, jelas Schmidt.

Pembagian Peran Kepemimpinan di Google

Penjelasan Schmidt mengenai tugas yang dijalaninya di Google, cukup menarik dan dapat dikatakan mengejutkan. Mendapatkan pengakuan seperti itu dari seorang CEO kelas tentu amatlah mengejutkan. Apa sebenarnya yang ia katakan?

Eric Schmidt mengatakan bahwa ia memimpin Google bertiga dengan Larry Page dan Sergei Brin. Mereka, melakukan pemisahan atau segregasi tugas dan kewajiban. Eric melakukan pekerjaan seperti membangun organisasi, menjalankan dan menangani masalah di dalam rapat-rapat. Ia juga memberikan wahana dan mengembangkan berbagai basis intelektual bagi semua masyarakat google. Yang disebutnya sebagai Citizens of Google.

Sementara Larry dan Sergei, lari lebih dulu, katanya. Eric mengatakan bahwa tidak pernah ada rapat yang melibatkan produk, yang belum dirapatkan dengan orang lain sebelum mereka bertemu dirinya. Ia baru mendapatkan penjelasan setelahnya.

Diketahui di kemudian hari, bahwa orang yang banyak berperan dalam kreasi berbagai produk baru yang unggul di Google adalah Sundar Pichai, yang kemudian menjadi penerus Eric sebagai CEO Google dan Alphabet.

Sundar bukan seorang programmer, namun dengan bekal pendidikan magister sains di Stanford dan magister administrasi bisnis dari Wharton School University of Pennsylvania dan latar belakang sebagai konsultan manajemen, ia mampu memberikan ide-ide yang merevolusi dunia. Sundar mengagas Chrome dan memimpin pengembangannya. Hingga Google mampu menjatuhkan dominasi Internet Explorer rancangan Microsoft.

Eric menekankan lebih jauh lagi, bahwa tidak pernah ada saat dimana ia dapat menambakan nilai pada apa yang tengah dilakukan oleh Larry dan Sergei, katany. Karena kedua pendiri Google tersebut, lari lebih dulu jauh mendahuluinya.

Apa yang dilakukan Eric sebagai CEO, jelasnya lebih lanjut adalah, untuk mengejar ketertinggalannya. Sebagai pimpinan ia juga harus memastikan seluruh bagian di perusahaan ikut berlari mengikuti semua yang tengah dilakukan oleh Larry dan Sergei.

Menciptakan Perusahaan Berskala Google

Pada tahun 1998, Larry Page dan Sergei Brin menciptakan Google. Algoritma yang dirancang oleh kedua jenius ini, berbeda dengan mesin pencarian lainnya, dan dianggap yang terbaik di dunia.

Apa yang ada di dalamnya? Hal ini karena adanya sistem Page Rank di Google, yang dijelaskan oleh Schmidt bahwa sistem ini mendeteksi dan melakukan kategorisasi mengenai siapa yang mencari Anda. Inilah yang membuat Google menjadi sistem pencarian dasar yang paling banyak digunakan di dunia.

Mengenai cara untuk menciptakan perusahaan berskala Google, Eric menyampaikan bahwa harus ada;

  • Inovasi baru, menciptakan teknologi yang menjadi kebutuhan banyak orang
  • Organisasi baru, pemilahan terhadap akses dan tujuan pencarian informasi
  • Produktivitas tinggi, karyawan di Google terkenal sangat workaholik
  • Berdebat boleh, tapi saat selesai, kembali bertindak sebagai rekan kerja yang saling mendukung
  • Berkemauan keras,
  • Memberikan insentif yang sama dan adil
  • Memiliki tujuan yang sama yaitu untuk membentuk Perusahan yang hebat
  • Membangun komunitas karyawan yang kompatibel secara sosial dan intelektual
  • Memiliki pandangan yang sama dalam hidup, latar belakang budaya yang sama

Budaya Perusahaan yang Ada di Google

Eric Schmidt mengatakan bahwa budaya yang ada di Google adalah tentang kerjasama yang dilakukan bahu membahu, untuk merubah dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Google, menurut Schmidt, selalu berusaha untuk mendahului masa yang tengah berjalan. Mereka fokus bekerja untuk menemukan berbagai hal di masa depan. Dengan adanya informasi yang dapat diakses melalui Google sebagai mesin pencari, umat manusia kini lebih mudah melakukan prediksi masa depan.

Selain dapat melakukan prediksi, hal lain yang dimungkinkan dengan keberadaan Google adalah ia dapat mengenalkan kita pada banyak orang baru, pada banyak ide-ide baru, jelas Schmidt.

Dunia saat ini tidak sempurna, kata Eric lagi. Tapi Google berupaya untuk mengambil peran dalam menjadikan dunia sebagai sebuah tempat yang lebih aman, dengan nilai dari platform yang saat itu tengah dipimpinnya.

Eric juga berharap bahwa dengan keberadaan Google, dapat mengangkat orang dari kemiskinan material, dan dari kemiskinan informasi.

Beragam ekspansi bisnis yang dilakukan Eric Scmidt harus bisa dipelajari oleh banyak orang di negara kita. Namun Anda bisa saja memiliki kesulitan atau masalah di beberapa sisi seperti budaya dan penerapan disiplin pencapaian target. Bila itu masalahnya, bagi para Leaders di Organisasi Anda, dapat mengikuti program Transformational Leadership dari ACT Consulting dengan klik di link ini.

Untuk melakukan perkembangan mendasar di organisasi dan korporasi Anda seperti yang dilakukan Eric Schmidt di Google, Anda dapat mempelajari cara membangun budaya perusahaan dengan klik disini.
Anda juga dapat mempelajari cara menciptakan strategi yang tepat untuk perusahaan dengan klik disini.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter  para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki
langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

eric schmidt, eks chairman google, dont be evil, motto google, act consulting, makna bekerja di google

Eric Schmidt, eks Chairman tentang Motto Google; “Dont be Evil”

By Article No Comments

Mengepalai sebuah perusahaan global yang memiliki kekuatan teknologi dengan cabang di banyak negara di dunia, bukan suatu hal yang mudah. Namun, ternyata motto google amatlah sederhana dan mudah dipahami.
Motto yang menggambarkan bahwa jiwa dari perusahaan besar ini ternyata jauh dari suatu bayangan yang menakutkan.

Ya. Motto Google, perusahaan teknologi terbesar di dunia yang sekarang memiliki payung bernama Alphabet ini hanyalah; “Dont be Evil”. Atau jangan berbuat jahat.

Motto ini dikatakan Eric Schmidt berasal dari lontaran perkataan seorang karyawan di dalam sebuah rapat. Motto Google ini kemudian menjadi viral dan menjadikan perusahaan teknologi ini tumbuh dekat dengan masyarakat dunia.

Makna Bekerja di Google

Motto Google ini sejalan dengan keinginan banyak karyawan yang berada di dalamnya bahwa mereka ingin melihat dunia berubah menjadi lebih baik. “Our Employees Want To Change The World”, kata Schmidt.

Bahwa keuntungan materi berjumlah besar yang didapatkan sebagai gaji dan bonus, hanyalah sebuah hiburan atau entertainment. Demikian filosofi yang dimiliki oleh banyak karyawan di Google, menurut Schmidt.

Berkembangnya makna bekerja di Google yang kemudian menjadi misi hidup. Hal ini tumbuh dalam jiwa tiap karyawan ini membuat banyak dari mereka bekerja dengan super produktif.

Bahkan bekerja dengan jauh melampaui target keharusan jam kerja secara umum. Yang terjadi malah Google kesulitan dalam menyuruh karyawannya pulang. Atau membuat mereka berhenti bekerja dan beristirahat.

Mereka ingin karyawan fokus dan memiliki energi untuk bekerja dengan baik. Itulah mengapa Google menyediakan berbagai kebutuhan hidup karyawan. Seperti laundry, sport room, game room, makanan yang bebas diakses kapan saja, makan pagi, makan siang dan makan malam. Dengan berbagai variasi menu yang lezat dan menarik.

Satu-satunya aturan kerja yang ada hanyalah: Larangan untuk tidur di kantor. Mengenai tidur, Google tidak menyediakan kasur. Karyawan harus tidur dimana saja asal bukan di kantor. “Bila perlu mereka mampu untuk tidur di hotel, tapi jangan di kantor”, kata Schmidt.

Mengapa Karyawan Google Berkinerja Super?

Mengapa Google bisa memiliki karyawan yang berkinerja super seperti itu? Makna bekerja yang telah ditemukan karyawan di Google, itulah jawabannya. Karena adanya cita-cita untuk melihat dunia berubah melalui kerja dan inovasi yang mereka ciptakan. Itulah yang membuat perusahaan besar ini terus berkembang. Karyawan dengan kompetensi dan kapabilitas tinggi. Yang memiliki niat mulia dalam bekerja, dan bekerja dengan sekeras mungkin, sekuat tenaga.

Namun, untuk masuk ke perusahaan ini tidak mudah. Ada board of hiring atau komite perekrutan yang memiliki persyaratan yang ketat. Bahkan, calon karyawan yang diundang wawancara tidak mengetahui posisi apa yang ditawarkan untuknya. Tidak hingga ia datang dan wawancara dimulai. Itu adalah salah satu cara yang digunakan Google untuk menjaga privasi produk dan kerahasiaan pekerjaan.

Beragam tes dan seleksi yang harus dilalui pun dinilai sangat sulit dan rumit, bahkan David Bernstein, ketua The Economic Forum mengatakan bahwa lebih sulit untuk masuk ke Google daripada masuk ke Harvard.

Schmidt mengatakan, parahnya, seseorang pernah di wawancara hingga 60 kali untuk suatu posisi. Namun belum juga diterima. Hingga Schmidt kemudian menurunkan jumlah maksimal wawancara menjadi 8 kali dan diturunkan lagi menjadi maksimal 5 kali wawancara sebelum seseorang dapat diterima di Google.

Krisis Fundamental Dunia Barat

Dalam wawancara yang dilakukan dalam The Economic Forum di Washington DC pada tahun 2011, Eric Schmidt memberikan pidato pembuka yang menarik. Ia tidak berusaha menjadi lucu, namun logika filosofis yang disampaikannya, membuat banyak hadirin tertawa dan mengangguk menyetujui. Apa yang disampaikan Schmidt?

Schmidt saat pidato mengeluarkan uang lembaran $20. Ia perlihatkan pada hadirin, lalu ia meminta setiap orang di ruangan, untuk mengikuti kata-katanya. Eric lalu membacakan apa yang tertulis di setiap lembaran dollar di Amerika. “In God We Trust”. Pada Tuhan kami Percaya, kata Eric. Para hadirin mengikutinya. “All others must bring data”. “Semua hal yang lain harus dibuktikan dengan data”, lanjut Eric Schmidt berikutnya, yang membuat hadirin serempak tertawa.

Schmidt mengatakan di tahun 2011 tersebut, bahwa dunia barat tengah memiliki dua masalah besar yang disebutnya sebagai Krisis Fundamental. Krisis Fundamental pertama yang disebut oleh Schmidt adalah masalah globalisasi. Ternyata, globalisasi juga dirasakan sebagai suatu hal yang berat bukan saja bagi masyarakat dari negara berkembang di kawasan Asia dan Afrika saja.

Schmidt mengatakan bahwa perkembangan teknologi yang akan terus berlanjut. Yang akan membuat dunia berkembang menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditempati, kata Schmidt. Teknologi yang berkembang akan menghasilkan interkoneksi atau keterhubungan antar berbagai tempat, berbagai perusahaan, dan berbagai layanan. Itulah yang membuat dunia akan menjadi lebih nyaman.

Namun di sisi lain, ada krisis fundamental di baliknya, hingga disebutkan oleh Schmidt sebagai suatu hal yang harus ditangani. Bisa kita bahasakan sebagai krisis moral atau moral hazard. Yang kemudian tumbuh dan masih menjadi problem utama hingga saat ini, dengan adanya interkonektivitas dan perkembangan teknologi ini.

Krisis Fundamental yang kedua adalah munculnya berbagai inovasi bisnis, yang membuat banyak pekerjaan menjadi hilang. Jobless problem, kata Eric Scmidt di tahun 2011. Tentang apa yang menurutnya tengah terjadi di dunia barat, sekitar 8 tahun yang lalu.

Ada sesuatu dari perkataan Schmidt yang saat itu tengah menjabat sebagai CEO Google. Ia membuka suatu fakta yang tidak banyak disadari oleh kita yang hidup di timur. Bahwa ternyata ketidaksanggupan sumber daya manusia untuk mengikuti perkembangan teknologi bukan saja terjadi di Asia atau di Afrika saja. Tapi juga banyak terjadi di dunia barat. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan mereka karena perkembangan teknologi.

Apa Solusi Dari CEO Google?

Schmidt (di tahun 2011 itu) menyampaikan bahwa jawabannya adalah pada edukasi hati. “The Heart Answers”, kata Schmidt. Pemerintah di dunia barat harus berinvestasi lebih pada sektor pendidikan, tak hanya pada pendidikan matematika, katanya.

Menyadari bahwa perusahaan yang dipimpinnya saat itu banyak berdampak pada pemerintahan di seluruh dunia, Schmidt yang juga aktif dalam politik di Amerika ini mengatakan bahwa Pemerintahan harus menciptakan model untuk pendidikan inovasi, di negara masing-masing.

Schmidt menyadari bahwa sebagai CEO Google saat itu, ia diperhitungkan sebagai salah satu tokoh dunia. Ia mengetahui bahwa kata-katanya akan berdampak pada perbaikan hidup banyak orang.

Karena itu ia melanjutkan dalam pidatonya bahwa “Pemerintah harus menghilangkan berbagai halangan (roadblocks) yang ada dalam penciptaan berbagai bisnis baru. Karena itulah yang akan menjadi solusi bagi masalah pengangguran yang tengah terjadi di Amerika. Karena dengan adanya bisnis baru, maka akan banyak lapangan pekerjaan yang tercipta.

The Heart Answer

Pendapat Eric Schmidt tentang apa yang terjadi di dunia barat saat itu pada tahun 2011, telah merubah wajah pendidikan di Amerika Serikat. Pendidikan sosio emosional telah dikembangkan di jenjang pendidikan dasar dan menengah di negara tersebut. Sejalan sebagai apa yang disebut Schmidt sebagai “The Heart Answer”.

Jawaban ini sejalan dengan Motto Google yang disebutkan Schmidt, “dont be evil”. Untuk menciptakan generasi yang lebih baik, yang tidak menyukai perbuatan jahat pada orang lain, dengan mempelajari keterampilan untuk dapat cerdas secara sosial, emosional dan spiritual.

Jauh sebelum hal tersebut menjadi diskursus yang disadari di dunia barat, jawaban tentang The Heart Answer telah disampaikan oleh penulis buku Emotional Spiritual Quotient (ESQ), DR (HC) Ary Ginanjar Agustian, di tahun 1999. Buku yang diterbitkannya sendiri tersebut meledak menjadi best seller dan telah laku hingga lebih dari dua juta cetak hingga tahun ini. Kemudian berkembang menjadi berbagai pelatihan dengan lembaga yang memiliki alumni pelatihan lebih dari 1,7 juta orang dari seluruh dunia.

DR HC Ary Ginanjar Agustian juga telah melakukan presentasi mengenai konsep ESQ memenuhi undangan University of Oxford pada bulan Maret, tahun 2007. Di hadapan 17 Professor dari berbagai latar belakang ilmu dan dari berbagai negara.

Itulah The Heart Answer yang kini populer, yang memberikan makna bekerja bagi para karyawan di google, dan di berbagai perusahaan yang menjadi klien ESQ dan ACT Consulting hingga saat ini.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

definisi service innovation, act consulting

Definisi Service Innovation dan Dimensi Kapabilitas yang Dibutuhkan

By Article No Comments

Dalam inovasi bisnis, beragam temuan dapat diciptakan. Hal ini bukan hanya berkaitan dengan inovasi produk saja, tapi juga dalam inovasi layanan yang dapat diberikan oleh perusahaan jasa. Blommerde & Lynch (2014)  membuat sebuah penelitian yang bertema tentang dinamika kapabilitas yang diperlukan dalam mengembangkan service innovation.

Ojasalo (2009, dalam Blommerde & Lynch, 2014) mendefinisikan inovasi layanan sebagai kemampuan “untuk mengantisipasi perubahan dalam perilaku, kebutuhan, dan harapan pelanggan, serta konsekuensinya, kompetensi untuk merancang layanan dengan lebih baik dan membuat konsep layanan baru”.

Salunke et al. (2011 dari sumber yang sama) melihatnya sebagai tingkat pengetahuan baru yang dapat  diintegrasikan ke dalam penawaran layanan yang secara langsung atau tidak langsung menciptakan nilai bagi perusahaan.

European Comission (2012: 12) menganggap inovasi layanan sebagai “konsep dan penawaran layanan baru yang  ditingkatkan secara signifikan” oleh manufaktur dan perusahaan jasa.

Sedangkan Giannopoulou et al. (2011) menganggapnya sebagai kemampuan untuk menghasilkan solusi yang sebelumnya belum tersedia untuk pelanggan melalui penambahan atau perubahan konsep layanan

Den Hertog et al. (2010: 500) mendefinisikan inovasi layanan sebagai “ide-ide baru atau tidak berwujud, yang berasal dari kombinasi ide-ide yang ada (terkadang dalam kombinasi dengan benda-benda fisik) yang menyatu dan memberikan proposisi nilai baru untuk klien ”.

Kedua studi ini dan karya sebelumnya oleh Van Ark et Al. (2003) juga mengaitkan inovasi layanan dengan dimensi organisasi di mana hal itu dapat terjadi termasuk konsep layanan, saluran interaksi klien, kemitraan, atau pemberian layanan sistem.

Dimensi Kapabilitas Service Innovation

Blommerde & Lynch (2014) menyusun sejumlah dimensi kapabilitas yang berada di seputar service innovation. Sejumlah kapabilitas tersebut adalah;

Strategising Capability; kapabilitas untuk menyusun berbagai hal seputar kebutuhan konsumen dan masyarakat yang ditempatkan secara strategis untuk meningkatkan nilai layanan

Knowledge Management Capability; kapabilitas pengaturan dan optimalisasi potensi intelektual dalam perusahaan yang menjadi sumber untuk menciptakan beragam service innovation baru sesuai keinginan konsumen dan masyarakat

Networking Capability; kapabilitas organisasi untuk melakukan perluasan jaring sosial yang dapat memperluas pemasaran dan penjualan.

Customer Involvement Capability; kapabilitas organisasi untuk memformulasikan kerjasama yang saling menguntungkan dan timbal balik dengan konsumen untuk dapat menghasilkan berbagai inovasi baru di bidang jasa (service innovation)

Keempat dimensi tersebut dibentuk menjadi Service Innovation Model di bawah ini;

Kemampuan inovasi layanan menggambarkan kemampuan organisasi untuk memberikan nilai pada pelanggan. Layanan ini dilakukan secara berulang dan terus menenerus mengembangkan layanan baru untuk meningkatkan yang sudah ada. Kapabilitas Service Innovation ini digambarkan sebagai fenomena multi dimensi yang terdiri dari empat hal yang saling terkait yaitu dimensi strategi, knowledge management, jaringan, dan keterlibatan pelanggan.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

takeshi uchiyamada, chairman toyota, act consulting, kisah sukses

Memimpin Seperti Berlayar, Filosofi Takeshi Uchiyamada dalam Memimpin Toyota

By Article No Comments
Takeshi Uchiyamada, chairman Toyota

Setelah lulus dari Nagoya University di Jurusan Fisika, Takeshi langsung diterima di Toyota. Ia bekerja selama 44 tahun sebelum akhirnya menjadi CEO di tahun 2013, setelah melakukan banyak inovasi di Toyota, diantaranya dengan mengembangkan mobil Hybrid yang disebut Toyota Prius.

Takeshi menyebutkan bahwa ia memiliki passion diluar bekerja, yaitu dalam berlayar dengan kapal layar. Ia telah melakukan hobby-nya ini selama 40 tahun bersama sekelompok kawannya.

Dalam berlayar, kita harus mengetahui tentang arus dan ombak yang terus berubah, serta kemunculan angin dari arah berlawanan. Demikian penuturan Takeshi dalam pidatonya di Forum The Economic Club di Washington DC.

Takeshi juga menjelaskan bahwa dalam berlayar, akan muncul bahaya nyata yang benar-benar di depan mata. Dalam menghadapi berbagai bahaya tersebut, kita harus yakin bahwa kita bisa memulihkan keadaan setelah tiap bencana yang hadir. Serta harus mengecilkan ego diri dan berserah menjadi bagian dalam kerjasama tim untuk dapat bertahan. Itulah jiwa dari berlayar, demikian penuturan Takeshi.

Beragam esensi dalam berlayar ini, diakui Takeshi sebagai hal yang ia sukai. Serta ia rasakan sebagai hal yang juga harus dihadapinya dalam memenej penjualan, inovasi dan produksi dalam sebuah perusahaan otomotif global yang dipimpinnya.

Ia mengaku bahwa sejumlah hal yang terjadi dalam perjalanan bisnis Toyota, berjalan seperti momen-momen turbulensi yang cukup berat. Beragam krisis harus dihadapi Toyota seperti krisis finansial di tahun 2007-2008, krisis recall di tahun 2010 (karena defect dalam penciptaan produksi di salah satu merk produknya), serta gempa bumi dan tsunami besar yang menimpa Jepang dan menyebabkan disrupsi jalur supply chain global dari Toyota di tahun 2011.

Namun, Takeshi menyebutkan bahwa Toyota berhasil berlayar melalui berbagai kesulitan tersebut dan terus berjuang memberikan yang terbaik dengan prinsip continous improvement ala Jepang yaitu dengan prinsip Kaizen.

Turbulensi yang dihadapi sekarang, menurut Takeshi, berbeda. Pertama, ada turbulensi teknologi, yaitu mengenai sistem teknologi apa yang harus ada dan dimiliki oleh mobil pada masa kini. Seperti proses yang harus dilaluinya saat penciptaan Prius untuk abad 21.

Saat itu, ia harus memecahkan masalah apa yang dialami dalam penciptaan Prius yang tidak dapat bergerak seinchi pun dengan desain mobil dan mesin baru yang diciptakan timnya. Selama 49 hari, ia tidak bisa tidur. Sampai akhirnya mereka menemukan inti masalahnya dan berhasil memecahkannya. Baru saat akhir tahun menjelang, mobil tersebut dapat mulai berjalan sejauh 500 meter. Itu bukan sebuah hasil yang diharapkan, namun menjadi luar biasa dibanding dengan semua hal yang harus dilalui sebelumnya.

Kami tidak menyerah, kami terus bekerja keras untuk menghadirkan solusi, hingga akhirnya kami berhasil. Demikian kata Takeshi. Ia menaruh keyakinan dan harapan yang besar dalam kemampuan timnya untuk berinovasi dan memberikan solusi. Hal ini serta merta membuahkan hasil yang diharapkan hingga akhirnya di penghujung Desember 1997, Prius dapat diluncurkan.

Takeshi mengatakan bahwa ia dan timnya kemudian mengambil intisari dari masalah-masalah yang ia temukan dan ia pelajari dalam penciptaan Prius ini, pada sejumlah prototipe mobil-mobil lain yang kemudian diciptakan Toyota. Hingga akhirnya Prius mencapai penjualan sejumlah 3 juta kendaraan di seluruh dunia, pada bulan Juni di tahun 2014.

Banyak pihak dan kompetitor yang mengakui, dan kemudian menjadikan mobil ciptaannya sebagai acuan untuk prototipe kendaraan masa depan. Tipe mobil hybrid dan mobil listrik yang akan banyak diproduksi oleh banyak perusahaan otomotif di dunia.

Dengan filosofi kerja keras dan kesempurnaan di semua lini produksi yang dimiliki oleh sistem Toyota Production System atau The Toyota Way, kisah perjalanan bisnis Toyota tampak masih akan terbentang jauh ke depan.

Filosofi berlayar yang dimiliki oleh Takeshi Uchiyamada dalam menahkodai Toyota juga bisa kita tiru. Prinsip menghargai setiap orang dalam kerjasama tim yang kokoh juga dapat kita tiru. Kebahagiaan dalam menikmati pekerjaan sebagai panggilan hidup dan melakukan habit inovasi sebagai hobby juga sebuah hal yang bisa kita adopsi dari tangguhnya tim Prius dalam memperjuangkan mimpi mereka. Bagaimana dengan Anda?

Kita dapat belajar mengenai cara Takeshi memimpin dalam program Transformational Leadership, dan dapat menguasai beragam skill inovasi dalam program Business Innovation dari ACT Consulting.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

takeshi uchiyamada, ceo toyota, act consulting

Dorongan Takeshi Uchiyamada Menghadirkan Solusi Dibalik Kisah Penemuan Prius

By Article No Comments
Takeshi Uchiyamada, chairman of Toyota Motor Corp., pauses during a Bloomberg Television interview at the World Economic Forum (WEF) in Davos, Switzerland, on Wednesday, Jan. 18, 2017. World leaders, influential executives, bankers and policy makers attend the 47th annual meeting of the World Economic Forum in Davos from Jan. 17 – 20. Photographer: Simon Dawson/Bloomberg

Takeshi Uchiyamada, adalah CEO Toyota Motor Corporation sejak tahun 2013. Ia dikenal orang sebagai pencipta dari Toyota Prius. Kendaraan Hybrid yang dimiliki Toyota, yang dapat beroperasi dengan bahan bakar bensin dengan rasio yang sangat hemat, dan juga dapat beroperasi dengan energi listrik.

Saat Takeshi Uchiyamada pertama kali berpikir tentang kendaraan impian yang ingin ia ciptakan, yang ada di pikirannya adalah bahwa kendaraan ini haruslah menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang tengah dihadapi dunia saat itu. Lalu ia dan timnya mengusulkan konsep yang sekarang disebut sebagai “Prius” tersebut.

Pihak manajemen Toyota saat itu bukan hanya menerima dengan antusias idenya, mereka juga mengatakan bahwa impian Takeshi masih terlalu sederhana. Maka mereka meningkatkan lagi target inovasi yang harus dilakukan oleh Takeshi dan timnya. Tim yang semula memiliki target yang menurut mereka dapat dicapai dengan kerja keras, menjadi harus dicapai dengan kerja keras yang luar biasa. Namun, Takeshi mendapatkan dukungan penuh dari manajemen.

Saat itu di tahun 1997, Prius kemudian mulai diproduksi massal dan dipasarkan. Sebelumnya, tim Takeshi harus berurusan dengan sekian kali ujicoba dan sejumlah kegagalan. Bahkan prototipe Prius yang pertama kali dibuat, bisa dibilang gagal karena tidak dapat berjalan dengan baik. Apakah Takeshi menyerah? Bila ya, maka kendaraan ini tidak akan hadir seperti sekarang.

Prius adalah contoh dari inovasi yang dibuat atas dasar kepedulian terhadap isu global yang ada. Kendaraan ini yang semula ditargetkan Takeshi hanya 1,5x lipat lebih efisien dari sebelumnya, ternyata ditantang untuk menjadi 3x lebih efisien dibanding kendaraan yang dimiliki Toyota sebelumnya.

Tantangan lain yang harus dilalui dalam inovasi Prius adalah bahwa mesin kendaraan yang dibuat haruslah tetap ringan dan berharga murah. Hal ini yang hingga sekarang tidak dapat dilakukan oleh Tesla. Yang model-model yang diciptakannya masihlah bermesin sangat berat dan sangat mahal. Bahkan saat melihat Tesla pertama kali diluncurkan, pihak Toyota mengatakan bahwa mereka tidak mungkin menciptakan kendaraan dengan berat dan harga yang demikian tinggi.

Toyota saat ini tengah melakukan beragam inovasi dalam menciptakan mobil bertenaga hidrogen yang harganya semakin murah. Toyota Mirai, yang diciptakan di tahun 2017, telah menjadi buah bibir di Amerika dan Jepang. Karena kemampuannya dalam menggunakan bahan bakar hidrogen. Kendaraan ini bebas emisi dan menghasilkan gas buang yang aman dan jernih.

Selain Toyota Mirai, ada juga sejumlah kendaraan lain berbahan bakar Hidrogen yang diciptakan oleh Honda dan oleh merk kendaraan lain dari Eropa dan Amerika. Namun pemasaran kendaraan ini masih terbatas karena belum banyaknya stasiun pengisian hidrogen di sejumlah tempat. Namun, kendaraan masa depan yang bebas emisi kini sudah di depan mata.

Bagaimana dengan inovasi yang dilakukan oleh Perusahaan Anda? Niat utama untuk melakukan inovasi haruslah berasal dari dua hal, yaitu;

  • Menciptakan solusi, atau
  • Memenuhi kebutuhan masyarakat

Kedua alasan diatas dapat diwujudkan menjadi sejumlah inovasi yang beragam. Bahkan dikatakan oleh Nadiem Makarim dan Jeff Bezos bahwa mereka yang menemukan solusi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat-lah yang akan menjadi perusahaan besar selanjutnya. Menjadi Unicorn atau Decacorn selanjutnya. Apakah itu Perusahaan Anda?

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk keterampilan dan habit inovasi pada diri para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

jeff bezos, habit inovasi amazon, act consulting

Jeff Bezos; Habit Inovasi yang Membuat Amazon Hidup di Masa Depan

By Article No Comments

Jeff Bezos, memiliki gelar di bidang fisika dan teknik listrik. Ia sejak kecil adalah anak yang sangat cerdas dan selalu mencapai prestasi tertinggi. Ia memiliki rasa humor yang tinggi dan kepedulian pada orang lain. Bahkan, Jeff mengutip ibunya yang berkata; “Jika kau melihat Jeff sedang tidak tersenyum, tunggu saja lima menit”.

Jeff Bezos memulai amazon.com sejak tahun 1994. Di tahun itu, bahkan belum banyak orang yang memiliki komputer. Namun Jeff sepenuhnya yakin bahwa bisnis ini adalah bisnis masa depan. Hingga ia meninggalkan pekerjaannya yang bergengsi di sebuah firma keuangan.

Banyak orang heran dengan berbagai inovasi yang dikeluarkan oleh Amazon. Semua hal tersebut “beyond belief”, atau berada diluar sangkaan banyak orang. Inovasi dilakukan oleh Jeff dan timnya di Amazon, bukan karena perhitungan keuangan yang ada di baliknya. Jeff dan timnya hanya suka untuk “Hidup di Masa Depan” atau “Live in The Future”. Dengan kredo kedua tersebut, tim Amazon mampu menciptakan berbagai teknologi yang sebelumnya sama sekali tidak disangka-sangka oleh orang.

Ini terlihat pada Blue Origin, perusahaan yang didirikan Jeff pada tahun 2004, yang bergerak di bidang penerbangan luar angkasa. Saat ditanya mengapa ia mendirikannya, Jeff hanya mengatakan bahwa ia memiliki cadangan modal yang sangat besar dari para pemodal, dan ia merasa harus menciptakan teknologi yang sebelumnya belum pernah ada, demi kepentingan seluruh umat manusia.

Kini, misi Amazon belum akan surut. Misi Jeff dengan perusahaan Blue Origin-nya adalah untuk membuat semua manusia dapat hidup sejahtera dengan sumber daya dari beragam planet di tata surya, dan bukan hanya di bumi. Ia mengatakan bahwa saat ini, jumlah masyarakat bumi sudah mencapai milyaran, dan semua harus saling berbagi sumber daya yang terbatas. Ia tidak ingin anak cucunya hidup dengan sumber daya yang terbatas tersebut.

Bagaimana dengan perusahaan Anda? Amazon dengan habit inovasi yang dimilikinya, mampu mengungguli semua perusahaan besar di dunia, dan mengalahkan dinasti Microsoft yang telah merajai status sebagai perusahaan terkaya di dunia selama beberapa dekade.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk habit inovasi pada diri para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).