Penyelenggaraan Training Internal oleh Tim Trainer milik perusahaan, dapat memberikan hasil yang lebih mendalam. Karena contoh kasus yang diberikan dan pemberian simulasi serta workshop yang dilakukan dapat mengerucut hingga dapat menstimulasi perubahan perilaku dan pembangkitan potensi yang diharapkan oleh perusahaan.
Namun seringkali, para Trainer ini masih memiliki pekerjaan lain selain juga akan menjadi Trainer. Sehingga, memerlukan pembekalan pengetahuan dan pembelajaran skill untuk meningkatkan kemampuan masing-masing calon Trainer internal perusahaan ini untuk dapat memiliki kemampuan yang mendekati level skill seorang Trainer profesional yang dapat mendesain dan memberikan Trainer secara mantap dan mumpuni.
Untuk itu, ACT Consulting mendapatkan kepercayaan untuk membimbing Pelatihan Training of Trainer PT. Angkasa Pura I (Persero) Batch 2 dari Tanggal 11-15 Februari 2019. Pelatihan ini di buka oleh Bapak Hary Budi Waluyo selaku Training Management Senior Manager.
Training ini diberikan langsung oleh Direktur Training dari ACT Consulting yaitu Iman Herdimansyah, dan Trainer berlisensi DR (HC) Ary Ginanjar Agustian, Trie Setiatmoko yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia.
Alur kehidupan banyak menghadirkan peristiwa yang tidak terduga dan tidak dapat ditebak. Untuk dapat menghadapinya, kita harus menyediakan tenaga dan sumber daya yang berbeda dengan sebelumnya.
Namun sebenarnya, tenaga dan sumber daya itu berasal dari dalam diri kita sendiri. Kita memiliki banyak potensi yang tersembunyi dan belum teraktualisasikan. Dengan menemukan beragam potensi ini, kita akan menemukan sumber daya baru, dan menemukan sumber tenaga yang tak terbatas.
Salah satu sumber tenaga yang banyak tidak disadari oleh kita adalah; sumber spiritualitas dan emosionalitas. Beragam potensi manusia banyak yang terkunci bila pintu ini tidak dibuka. Untuk membuka, ada sejumlah cara yang dapat dilakukan. Banyak yang hanya mengandalkan sumber intelektualitas semata, dan kehabisan banyak tenaga untuk mengoptimalkannya. Padahal masih banyak sumber energi lainnya yang dapat dikembangkan.
Pada tanggal 11 Februari 2019, ACT Consulting menyelenggarakan Seminar Unlock Your Potential untuk divisi Internal Control dan Fraud Management Bank Danamon Indonesia. Seminar ini di hadiri oleh 85 peserta dari divisi ICFM yang tersebar di seluruh Indonesia.
Melalui seminar ini peserta dapat menemukan potensi yang dimiliki dan menemukan kekuatan potensial untuk dapat mengatasi berbagai tantangan yang akan dihadapi nantinya.
Pada tanggal 8-10 Februari 2019 tengah berlangsung Training Talent Based Coaching yang dipandu oleh Coach Arief & Coach Haris. Training ini dihadiri oleh sejumlah peserta yang berasal dari perusahaan perbankan, perusahaan servis keamanan dan pelaku bisnis di sektor Pendidikan.
Apa yang dipelajari di Training Talent Based Coaching?
Selama training ini, Anda akan mengenal 34 bakat yang membentuk individu. Kemudian, Anda akan mengenal hingga berlatih bagaimana melakukan praktik coaching yang tepat dengan mengacu atau fokus pada bakat unik tiap individu.
Kenapa fokus pada bakat?
Selama ini metode coaching diterapkan terlalu general dan biasanya lebih banyak menyentuh sisi kekurangan. Lalu bagaimana memperbaiki kekurangan itu dan menjadikannya kelebihan.
Padahal, tahukah Anda jika seseorang yang dicoaching mampu mengenal dirinya lebih dalam, memahami bakatnya, dan memaksimalkan bakat itu secara tepat, maka hasilnya akan sangat luar biasa. . Fokus pada bakat atau kelebihan jauh lebih powerful mencapai target dan impian, ketimbang sibuk memperbaiki kekurangan.
Berkat Training Talent Based Coaching ini karir seseorang berkembang dengan pesat dan mudah. Hal ini karena ia menemukan 3 E yaitu : Enjoy – Ease – Excelent.
Contoh dari sejumlah tokoh yang berkembang karena mengetahui Talentnya ini adalah 3 orang Rudy yang berbeda, yaitu Rudy Hartono, Rudy Habibie, Rudy Hadisuwarno atau Rudy Chaeruddin.
Ada sebuah riset di Nebraska kepada sekelompok orang untuk testing “speed reading” atau membaca cepat. Hasilnya mereka terbagi menjadi dua kelompok.
Kelompok satu 90 kata per menit, kelompok dua 150 kata per menit. Lalu kedua kelompok itu diberikan pelatihan lagi yang sama. Hasilnya sangat mengejutkan. Kelompok satu meningkat menjadi 150 kata pet menit. Sedangkan kelompok dua menjadi 2900 kata per menit !
Nyata sekali bukan, perbedaan antara mereka yang bekerja berdasarkan Talent dan yang tidak? Selain dalam bisnis dan untuk menangani karyawan, ilmu yang didapatkan dalam Talent Based Coaching ini juga berguna untuk diterapkan oleh para Coach, Guru, Dosen dan para orangtua agar mengetahui dan mampu mengembangkan karyawan, anak, keluarga, teman, sahabat dan klien, dengan mengetahui Talent mereka.
Team Building Internalisasi Visi, Misi dan Values PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) yang dihadiri langsung oleh Direktur Utama; Bapak Khamim Priyo Budianto . Dalam Outbond training ini peserta disapa langsung oleh DR HC Ary Ginanjar Agustian melalui live conference call dari Mekkah.
Outbond Training ini dibawakan oleh Coach Trie Setiatmoko (Tiko) dan Trainer Outbond Dadang Suherman beserta tim outbond dari ACT Consulting yang terdiri dari beberapa orang ahli.
KIEC merupakan anak perusahaan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang didirikan pada tanggal 16 Juni 1982, dengan misi menjadi pusat lokasi industri hulu dan hilir industri baja, kimia, dan petrokimia.
Bagaimana pendapat para ahli dan akademisi mengenai model kepemimpinan apa yang paling menguntungkan bagi korporasi dan organisasi? Dari sejumlah jurnal ditemukan kesimpulan dari sejumlah ahli dari riset yang mereka lakukan bahwa Transformational Leadership menghasilkan efek yang lebih hebat dibanding kepemimpinan transaksional (Avolio & Bass, 2004; Dvir et al, 2002; Erkutlu, 2008; Northouse, 2007; Waldman et al, 2001). Hal ini disampaikan oleh Sadeghi dan Pihie (2012) dari University Putra Malaysia dalam International Journal of Business and Social Science.
Sadeghi dan Pihie (2012) menyampaikan bahwa walaupun
kepemimpinan transaksional menghasilkan hasil yang diharapkan, namun
Transformational Leadership menghasilkan performa yang jauh diatas melebihi
harapan dan membawa organisasi pada banyak kemenangan di berbagai sektor
(Avolio & Bass, 2004; Erkutlu, 2008; Limsila & Ogunlana, 2008). Mereka
juga menyampaikan bahwa pemimpin yang menampilkan perilaku kepemimpinan
transformasional dapat memimpin organisasi mereka untuk lebih efektif dan lebih
produktif.
Transformational Leadership juga mampu memimpin karyawan untuk memberikan upaya ekstra, dan meningkatkan kepuasan kerja. Karyawan akan terdorong untuk memperbaiki performa kerja mereka hingga melebihi ekspektasi, dan mampu memanen hasil dari kreativitas dan inovasi yang mereka lakukan dalam organisasi, sebagai hasil dari transformational leadership (Zaidatol Akmaliah et al, 2011).
Lebih dari itu, Transformational Leadership model juga berpengaruh terhadap efektivitas dan performa para pemimpin (Hur et al, 2011; Burke et al, 2006; Judge & Piccolo, 2004). Hasil yang diperoleh dari berbagai langkah dalam model Transformational Leadership ini memberikan hasil yang lebih hebat dibanding dengan melakukan langkah kepemimpinan transaksional.
Erkutlu (2008) juga menemukan bahwa dimensi Transformational Leadership berkorelasi secara positif dengan efektivitas kepemimpinan sementara model kepemimpinan laissez-faire menunjukkan korelasi negatif.
Selain itu, Givens (2008) dari Jurnal Emerging Leadership
Journeys, Vol. 1 Iss. 1, 2008, pp. 4-24, dikutip bahwa sejumlah riset
menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional berdampak pada kepuasan
karyawan (Hatter & Bass; Koh, Steers, & Terborg, 1995) dan komitmen
pada organisasi (Barling et al., 1996; Koh et al.). Riset juga menunjukkan
bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh pada komitmen karyawan dalam
beraneka program transformasi yang berjalan di perusahaan (Yu, Leithwood, &
Jantzi, 2002) dan kondisi organisasi (Lam, Wei, Pan, & Chan, 2002). Karena
banyaknya pengaruh yang dihasilkan dari model kepemimpinan transformasional
inilah, Tucker & Russel (2004) dalam Givens (2008) menyatakan bahwa model
kepemimpinan ini dibutuhkan di semua organisasi.
Persaingan di era vuca menjadi semakin sengit, namun banyak perusahaan di Indonesia terus berbenah diri dan tidak mau menyerah. Hal ini dapat terlihat dari antusiasme peserta yang hadir di Menara 165, lantai 4, di ruangan Mini Auditorium, hari ini.
Di tanggal 6 Februari 2019 ini telah terlaksana Seminar Human Capital Breakthrough yang dihadiri oleh peserta dari berbagai instansi dan perusahaan di berbagai daerah di Indonesia.
Walaupun tantangan di dunia bisnis menjadi makin sulit, kerja keras dari banyak pihak dengan strategi yang tepat, akan mendatangkan solusi dan dapat membuat masa depan organisasi menjadi lebih cerah.
Diantaranya para peserta yang tertarik untuk belajar tentang strategi transformasi bisnis terbaru ini, terdapat peserta dari perusahaan di bawah ini;
Universitas Muhammadiyah,
PGN Mas (anak perusahaan PGN yang beroperasi di bidang properti)
PT Akasha Indonesia (Akasha Wira Internasional)
PT Adika Catur Daya
PT Mega Akses Persada (Fiberstar)
Bina Batik Nusantara
KAHA Group
PT Artajasa Pembayaran Elektronis
Bank BJB Syariah
Kami berharap agar para peserta yang datang dari berbagai perusahaan dapat terus termotivasi untuk bangkit menjadi perusahaan besar yang diperlukan masyarakat. Yang keberadaannya dapat mendatangkan berbagai keuntungan bagi lingkungan dimana perusahaan tersebut berada, dan dapat memajukan umat manusia secara keseluruhan.
Kami harap pengetahuan mengenai strategi bisnis yang diberikan dalam seminar hari ini mampu meningkatkan kemampuan kompetitif dari perusahaan yang hadir, untuk terus mengembangkan solusi yang dibutuhkan publik. Salam Transformasi Bisnis dari ACT Consulting.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara melakukan Transformasi Bisnis untuk mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Banyak orang merasa bahagia dengan yang sedikit. Sementara
banyak yang memiliki banyak uang, namun tidak bahagia. Ternyata jawabannya ada
pada Grand Why. Mengapa bisa begini? Ternyata ini dijelaskan dalam ilmu
psikologi lho. Ternyata ditemukan oleh Kasser & Ryan (1993) bahwa orang
yang menempatkan prinsip kuat mengenai uang dan makna kekayaan biasanya juga
memiliki hubungan yang baik dengan pasangan, memiliki pertumbuhan karakter yang
baik, dan murah hati di masyarakat dimana ia hidup. Ketiga hal yang
mendatangkan kebahagiaan tersebut, berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan
psikologis dasar, yang membuat orang lebih mudah meraih kebahagiaan.
Sementara, hal yang sebaliknya akan terjadi bila seseorang
menempatkan prioritas hidup pada materi untuk mencapai aktualisasi diri atau
menemukan Grand Why. Tujuannya adalah untuk mencapai popularitas dan imej diri,
saat ia tidak dapat memenuhi ketiga kebutuhan psikologis dasar diatas. Padahal,
materi hanya dapat memenuhi sedikit dari kebutuhan psikologis seseorang, dan
bahkan akan membuat seseorang terdistraksi dari fokus hidup utamanya yang
seharusnya dapat memenuhi kebutuhan untuk bahagia tersebut.
Sejumlah penelitian mendukung model ini secara keseluruhan,
dengan menunjukkan korelasi bahwa semakin seseorang fokus pada tujuan finansial
dan materialistic, maka akan semakin rendah tingkat kebahagiaan mereka. Banyak
penelitian yang membenarkan hipotesa ini bahkan ditemukan dalam sejumlah hasil
penelitian di negara yang sangat maju seperti di Amerika dan di Jerman (Kasser
& Ryan 1996, Schmuck et al 2000). Namun hanya sedikit hasil penelitian yang
berkorelasi dengan hal ini, di negara yang masih berkembang seperti Rusia dan
India (e.g. Ryan et al 1999)..
Lebih jauh lagi, baik penelitian lintas ilmu (Ryan et al
1999) dan penelitian longitudinal (Sheldon & Kasser 1998), keduanya
menghasilkan kesimpulan bahwa; Tujuan intrinsic meningkatkan kebahagiaan.
Sementara tujuan ekstrinsik seperti uang, tidak meningkatkan kebahagiaan, atau
bahkan cenderung mendatangkan hal yang tidak membahagiakan.
Sejumlah ahli menyampaikan berbagai fakta bahwa uang tidak
relative dengan bahagia. Carver & Baird (1998) menemukan mereka yang
menghubungkan antara uang dan kebahagiaan, telah mengalami kehilangan
kemandirian yang berkaitan dengan tujuan hidupnya.
Bahkan, Ryff et al (1999) meneliti dampak dari kemiskinan
terhadap kebahagiaan yang berasal dari aktualisasi diri. Ia menemukan bahwa
status sosial ekonomi tinggi ternyata hanya mendatangkan kebahagiaan saat seseorang
telah memiliki penerimaan diri (self acceptance) yang baik. Serta bagaimana
orang tersebut dalam mengetahui tujuan hidupnya, dapat menguasai berbagai
elemen hidupnya dan mampu mengembangkan diri dan karakternya. Sementara,
kekurang-kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang tidak kaya hanya terjadi saat
ia melakukan proses pembandingan sosial (social comparison), dimana orang yang
lebih miskin membandingkan dirinya secara tidak positif dengan orang lain, dan
merasa bahwa ia tidak memiliki keahlian dan sumberdaya yang dibutuhkan untuk
mencapai kekayaan.
See? Terlihat bahwa banyak pandangan yang salah tentang
kekayaan. Kita tidak seharusnya memandang kekayaan sebagai suatu hal yang
buruk. Bahkan kita harus memaksimalkan segenap potensi untuk dapat meraih
aktualisasi dan menyibak tujuan besar mengapa kita diciptakan dan mengapa kita
harus terus meraih cita-cita yang lebih tinggi. Dari penjelasan tentang
kekayaan dan kebahagiaan diatas, kami harap, Anda dapat menemukan makna yang
lebih mendalam tentang besarnya berkah yang anda miliki.
Pelanggaran integritas seharusnya tidak terjadi di tempat
kerja. Bisnis dan industri di Malaysia berhasil menjadi besar dan karyawan
mereka bergaji tinggi karena memegang prinsip integritas dengan kuat. Hal ini disampaikan
dalam 7th International Conference on Financial Criminology 2015, yang
diselenggarakan di Oxford, Inggris. Makalah yang disampaikan merupakan hasil
penelitian yang berjudul; Integrity Systems in Malaysian Public Sector: An
Empirical Finding, yang disampaikan oleh Mohamad Hafiz Roslia, Mohamad Azizal
bin Abd Azizb, Farahwahida Mohdc, dan Jamaliah Said.
Pelanggaran integritas adalah bentuk kerusakan etika kerja
di tempat kerja. Bagaimana hasil penelitian internasional seputar masalah ini
dan apa solusinya? Menurut Chris Hitch, Ph.D. (2015), salah satu Director
program dari Kenan Flagher Business School dalam publikasi yang berjudul Return
on Integrity (ROI): How Acting with Integrity Improves Business Results,
pelanggaran etika bekerja terjadi dalam skala kecil dan besar di tempat kerja.
Bahkan, ia mengutip laporan tahun 2014 yang diluncurkan oleh Ethics Resource Center
yang menemukan bahwa 41% populasi dari 6400 pekerja yang disurvei menyampaikan
bahwa mereka telah menemukan adanya pelanggaran etika tersebut di tempat mereka
bekerja.
Survei yang mereka lakukan juga menemukan bahwa kebanyakan
pelanggaran tersebut dilakukan secara berulang, dan bukan hanya terjadi sekali
saja. Hitch menyampaikan bahwa umumnya kita membaca tentang perilaku tidak etis
dan lalu mengambil asumsi yang tidak akurat dengan menyatakan bahwa perilaku
tidak etis dilakukan oleh orang yang tidak etis – oleh orang-orang dengan moral
dan karakter yang rusak. Namun, Hitch menyatakan bahwa asumsi itu tidak tepat. Bahwa
kenyataan yang terjadi, tidaklah demikian. Hitch mengutip Dr. Alison Fragale,
the Mary Farley Ames Lee Distinguished Scholar dan seorang associate professor
of organizational behavior di UNC Kenan-Flagler Business School.
Ia menyatakan bahwa, studi terbaru menemukan bahwa pelanggaran
etika kecil cenderung mengarah ke pelanggaran yang lebih besar. Teori ini dapat
menjelaskan mengapa pelanggaran biasanya dilakukan kembali. Hal ini bahkan
terbukti dalam eksperimen psikologi. Penelitian perilaku yang dilakukan oleh Francesca
Gino, Lisa Ordonez, and David Welsh (2014) menemukan bahwa saat seseorang
diberi kesempatan untuk melakukan kecurangan secara berulang, mereka akan lebih
cenderung untuk melakukan kecurangan kembali dalam tes berikutnya, dan bahkan
mengulang kecurangan mereka hingga ketiga kalinya pada putaran tes berikutnya.
Eksperimen yang dilakukan oleh Gino, Ordonez dan Welsh
(2014) ini meminta subyek tes untuk melakukan sejumlah seri dalam tugas
pemecahan masalah. Banyak dari sejumlah subyek tes ini diberikan kesempatan
untuk melakukan kecurangan pada putaran pertama, putaran kedua, dan putaran berikutnya.
Sementara, subyek tes dalam kelompok control tidak diberi peluang untuk berbuat
curang.
Peneliti menemukan bahwa separuh subyek tes diperkenankan
untuk melakukan kecurangan untuk mendapatkan uang sebanyak seperempat dollar
untuk setiap soal yang berhasil mereka selesaikan di putaran pertama. Di putaran
ketiga, terdapat 60% orang dalam kelompok eksperimen yang melakukan kecurangan
untuk bisa mendapatkan uang sebanyak 2,5 dollar amerika per soal, di putaran
ketiga. Sementara, subyek tes yang berada di kelompok control, lebih cenderung
untuk tidak melakukan kecurangan. Bahkan di putaran ketiga, hanya 30% subyek
tes yang melakukannya.
Dari eksperimen ini kita dapat melihat bahwa godaan
finansial merupakan motif perubah yang sangat signifikan. Bahwa saat seseorang
melihat ada kesempatan untuk berbuat curang demi mendapatkan uang, atau saat
sistem finansial yang ada di sebuah tempat pekerjaan masih belum cukup baik,
60% dari subyek akan melakukannya.
Padahal, godaan finansial sebenarnya dapat dihindari. Saat seseorang
telah memiliki motivasi yang kuat untuk mempertahankan kejujuran dalam bekerja,
ia tidak akan melakukannya. Namun motivasi harus diperkuat dengan skill atau
keahlian. Dalam hal ini, diperlukan keahlian dalam bidang mengelola keuangan. Skill
untuk mengelola keuangan ini, akan membuat orang terhindar dari melakukan
pelanggaran etika. Karena ia telah memiliki kemapanan di hatinya, dan telah
meraih ketenangan dalam hidupnya.
Hari ini dan esok, tengah berlangsung Training Spiritual Revival untuk ratusan karyawan millenials di lingkungan Bank Indonesia. Program ini adalah program pembentukan karakter atau Personal Transformation Program pada diri karyawan baru di lingkungan Bank Indonesia.
Training ini berlangsung pada 6-7 Februari 2019 untuk 160 orang pegawai baru di lingkungan Bank Indonesia, dipandu langsung oleh Direktur Training Department dari ESQ Group, Coach Iman Herdimansyah dan Asisten Trainer Saifullah, berlangsung di Gedung Kebun Sirih, Bank Indonesia Jakarta.
Tujuan training ini adalah untuk membentuk karakter calon pimpinan masa depan Bank Indonesia yang Religius. Training Spiritual Revival ini adalah program pembekalan pembentukan karakter sebagai rangkaian dari Program BI Religi yang dicanangkan oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo sejak pertama kali menjabat.
Bank Indonesia sebagai ujung tombak kekuatan finansial bangsa Indonesia, mempercayakan pembangunan karakter karyawan dan transformasi budaya kerja pada ACT Consulting (ESQ Group) dalam program mewujudkan BI Religi. Bagaimana dengan lembaga atau korporasi Anda? Hubungi kami di email info@actconsulting.co atau telepon di 0818-213-165 (Donna).
Pada hari Sabtu, 2 Februari 2019, telah berlangsung Outbond Capacity Building yang diikuti oleh Seluruh ASN dan Non ASN Direktorat Jenderal Pemerintahan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Kegiatan ini Merupakan salah satu kegiatan rutin yang di lakukan untuk meningkatkan kinerja seluruh karyawan di lingkungan Ditjen PPMD, kegiatan ini di buka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal PPMD Drs. H. Muklis, M.Si.
Outbond dengan 400 orang peserta yang berasal dari berbagai jabatan di level pimpinan, staf hingga OB ini dipandu oleh Coach Dudi, Outbond Expert Dadang Suhendar dan Asisten Trainer Ilham.
Kegiatan yang berlangsung di seputar Area Hotel Le Eminence Puncak ini berlangsung dengan antusiasme seluruh peserta. Sejak pagi hari Outbond ini diawali dengan Amazing Race mencari Harta Karun diarea Outdoor Hotel, yaitu di area seperti Sungai, Sawah, Kebun, Peternakan.
Harta Karun yang didapat adalah perlengkapan yang akan dipergunakan untuk aktifitas pada Games berikutnya. Kerjasama dan kekompakan Tim sangat diuji dalam aktifitas ini. Dalam outbond ini selain membangun kapasitas intelektual, emosional dan spiritual, team building juga dibangun. Karena dalam aktivitas games dan simulasi yang dilakukan, semua jabatan menyatu, dari level pimpinan, staf, hingga OB.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).