JAKARTA – Sekitar 100 orang dalam lingkup RSUD Cengkareng serentak mengenakan batik pada Rabu (18/11/2020) di Pullman Hotel, Jakarta Barat. Mereka berasal dari berbagai level di antaranya Direktur, Kepala Bagian, Spesialis, Medis dan Keperawatan.
Direktur RSUD Cengkareng, drg. Bambang Suheri MAP turut hadir bersama pimpinan lainnya seperti Kabag SDM, Kabag Penunjang Medis, Kabag Keuangan dan Perencanaan.
ACT Consulting bersama insan kesehatan tersebut gelar Training Peningkatan Kompetensi Budaya Organisasi Menuju Budaya Kerja Baru RSUD Cengkareng sebanyak 3 Batch, yang dipandu oleh Coach Falash dan Coach Denny (Trainer lisensi dari Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian).
Mengingat Pandemi Covid-19, kegiatan luring ini tentu dibarengi dengan Protokol Kesehatan.
“Kita senantiasa selalu bersyukur dan mengingat kembali makna kerja yang dilakukan oleh bapak serta ibu. Maka ijinkan kami berbagi ilmu untuk pembangunan budaya dan capasity Building,” papar Coach Falash.
Harapan RSUD Cengkareng ikuti program ini salah satunya untuk meningkatkan motivasi kerja tim medis serta pelayanan yang maksimal dari petugas medis terhadap pasien. Sesuai dengan Nilai Organisasi atau Keep In yang dipegang teguh oleh mereka ‘Kemitraan, Empahty, Profesional, Integritas, Inovatif’.
Training tersebut menuai berbagai macam respon atau feedback dari beberapa orang. Rita Rumiris salah satunya yang memaparkan sebuah kesan setelah mengikuti rangkaian kegiatan.
“Berbahagia hari ini bisa berkesempatan mendapat banyak hal tentang ESQ. Tapi yang paling berkesan itu bahwa kita tuh harus mengerti apa sih tujuan hidup kita. Meaning and purposenya harus kita mulai detik ini juga.”
Wanita berambut pendek itu berharap semakin banyak karyawan RSUD Cengkareng yang mengerti dengan ESQ ini bisa membuat tim saling mencintai, bekerjasama, memberikan kontribusi yang paling berharga untuk organisasi.
“Semoga training bermanfaat membangun budaya RSUD Cengkareng dan makna kerja, Aamiin,” harap Ardy salah satu Tim ACT Consulting.
JAKARTA – Seperti apa jika Meneg BUMN dan mantan Meneg BUMN berada dalam satu forum. ACT Consulting berhasil menyatukan Erick Thohir dan Dahlan Iskan, Selasa (17/11/2020) dalam agenda rutin CEO Talk yang kali ini mengusung tema “Menjadi CEO ber-AKHLAK”.
Dalam Webinar ini, Erick Thohir bertindak sebagai Keynote Speech. Sedangkan Dahlan Iskan (Menteri BUMN 2011-2014) dan Ary Ginanjar Agustian (President ESQ Group) sebagai narasumber. Hadir juga moderator kondang Sandrina Malakiano yang tampil dengan kostum batik.
Erick Thohir membagikan slide pertamanya yang berisi tentang hasil riset dari Thomas J. Stanley Ph. D mengenai 100 success factors, yakni mengenai faktor-faktor penentu kesuksesan yang menunjukkan bahwa ‘Tingkat IQ’ berada di urutan ke-21, sedangkan ‘lulus dengan nilai terbaik’ menjadi kunci kesuksesan ke-23. Lalu peringkat 1-nya apa?
“Tidak ada yang namanya pintar dari 10 tertinggi riset tersebut. Bisa dilihat bahwa nomor 1 yakni kejujuran. Jujur menjadi point utama yang sangat penting.”
Mendengar akan hal itu, Dahlan Iskan menyampaikan pandangannya tentang kejujuran dengan perpektif yang berbeda. Selama 7 tahun terakhir setelah usai menjabat Menteri BUMN, Dahlan mengaku vacum dari berbagai forum BUMN. “Awalnya Saya tidak mau hadir dalam acara BUMN manapun. Karena saya tidak boleh mengganggu, membuat rusuh, apalagi campur tangan. Saya harus menjaga dari hal itu.”
Ia mengutarakan pemikirannya terkait kejujuran. Pertama tentang 3 penyakit jujur dan juga 2 jenis jujur. “Penyakit orang jujur yaitu sok jujur, menganggap orang lain tidak jujur, dan kaku. Lalu ada 2 jenis jujur yaitu secara esensial dan administrative,” sambungnya.
Dalam arti, tambahnya, ibarat masuk Surga tapi sendirian. Ia berharap pemimpin serta karyawannya bisa masuk surga dunia dan akhirat bersama-sama dengan cara memiliki sifat jujur demi kepentingan bersama, bukan secara personal saja.
Terlihat dari link zoom Studio ACT Consulting lantai 23 Menara 165, ada sekitar 1,800 lebih peserta yang hadir. Sandrina Malakiano dan Rendy Yusran berkesempatan untuk memandu Narasumber, Direksi dari 203 BUMN, 89 Anak perusahaan BUMN termasuk juga swasta sekitar 30 orang. Para peserta yang join melalui zoom, tak hanya berasal dari Indonesia, namun dari Malaysia serta dari berbagai profesional, akademi, kalangan.
JAKARTA – ACT Consulting menggelar Forum Seminar AKHLAK dengan mengusung tema “Menjadi CEO ber-AKHLAK”, yang dilaksanakan pada Selasa (17/11/2020) Pukul 08.00 – 11.30 WIB via Zoom Meeting.
Webinar rutin ini dibuka oleh Keynote Speech yang disampaikan langsung Menteri BUMN Republik Indonesia, Erick Thohir, B.A., M.B.A. Kemudian dilanjutkan oleh Prof. Dr. (H.C) Dahlan Iskan (Menteri BUMN 2011-2014) dan Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (President ESQ Group) sebagai narasumber.
Acara dipandu oleh Sandrina Malakiano dan Rendy Yusran. Lebih dari 1,800 peserta dan di antaranya hadir Direksi dari 203 BUMN, 89 Anak perusahaan BUMN termasuk juga swasta sekitar 30 orang. Mereka datang tak hanya dari Indonesia, namun dari Malaysia serta dari berbagai profesional, akademi, kalangan.
“Kita sebagai pemimpin harus lihat dan turun ke bawah. Dan pertemuan saya waktu itu dengan mas Ary, ustadz Arifin, Aa Gym bahas bagaimana menginspirasi umat dengan adanya hero atau panutan. Bahwa sebagai pemimpin, kita lihat fakta dan dasarnya,” ucap Erick dengan wajah yang sumringah sambil menyapa para narasumber dan peserta webinar.
Pembicara kedua Dahlan Iskan mengaku sudah 7 tahun sejak tidak jadi Menteri, selalu menolak acara-acara yang di lingkungan BUMN. Namun kali ini bersemangat hadir bersama Erick Thohir.
CEO Talk ini ditujukan bagi para Direksi, pimpinan Senior, penggerak budaya organisasi, para profesional di bidang transformasi budaya organisasi dan pengembangan sumber daya manusia, serta sivitas akademika perguruan tinggi dan masyarakat luas yang memiliki minat di bidang budaya organisasi.
Hal ini berangkat dari berbagai studi dan riset yang mengatakan bahwa peranan pemimpinan sangat penting dalam keberhasilan pembangunan budaya organisasi. Pemimpin diharapkan mampu menjadi teladan, pembimbing dan juga pemimpin perubahan dalam implementasi AKHLAK sebagai core values BUMN.
Menurut President ESQ Group Ary Ginanjar, di tengah badai VUCA dan pandemi Covid-19 yang melanda, peran pimpinan menjadi semakin krusial untuk memastikan perusahaan tetap bisa survive. Core values diibaratkan Ary sebagai jangkar sebuah kapal.
“Sebagai nakhoda harus memastikan kapalnya berlayar dengan baik. Demikian juga para CEO, mereka dituntut memastikan core values yang merupakan jangkar perusahaan, tertanam dalam dirinya dan juga pada jiwa karyawannya,” ujar Ary di Menara 165.
AKHLAK sebagai satu-satunya core values seluruh BUMN haruslah tercermin dari perilaku Leader yang idealnya bertindak sebagai role model bagi tim yang dipimpinnya untuk meraih cita-cita perusahaan.
Kemampuan untuk berbicara dengan baik di depan khalayak ramai adalah hal yang harus dikuasai untuk dapat sukses dalam banyak profesi. Untuk dapat maju ke jenjang karir yang lebih tinggi pun membutuhkan keterampilan public speaking.
Lebih jauh lagi, kemampuan untuk berbicara di depan umum, dapat membuka banyak lapangan pekerjaan. Banyak kesempatan untuk memiliki profesi dengan imbal jasa tinggi bila kemampuan public speaking ini telah terasah dengan mumpuni.
Berikut ini beberapa contohnya; seorang guru atau dosen dapat menjadi trainer, pendakwah atau pembicara kelas daerah atau kelas nasional. Karyawan yang akan pensiun dapat merintis karir menjadi trainer dan konsultan. Untuk naik jabatan menjadi pimpinan pun, kemampuan ini diperlukan.
Apalagi untuk mereka yang berada di garis depan dalam penjualan atau harus bertemu khalayak seperti pers dan masyarakat luas. Profesi seperti sales, public relations, corporate secretary, dan banyak lagi profesi yang butuh keterampilan public speaking ini.
Pada hari Rabu-Jumat tanggal 17-19 Juli 2019, di Menara 165, Cilandak, Jakarta Selatan, tengah berlangsung Training for Trainers dan Sertifikasi untuk Profesi Public Speaking ini. Dalam program ini 2 (dua) hari pertama adalah untuk pelatihan, dan 1 (hari) terakhir untuk sertifikasi. Program ini dipimpin oleh Direktur School of Communication, Rendy Yusran dan Trainer Adek Asrizal.
Diharapkan dari Program ini para peserta dapat meningkatkan skill dan karir dengan memiliki keahlian dan sertifikat nasional sebagai Public Speaker yang handal dan terpercaya. Salam Transformasi Performa dari ACT Consulting.
Salam Transformasi Performa dari ACT Consulting. Ikutilah artikel lainnya dari website kami untuk mendapatkan berbagai tips, artikel bisnis, artikel ilmiah, dan pengetahuan lainnya. Untuk mempelajari cara melakukan inovasi dan perkembangan bisnis dapat mempelajari manajemen inovasi bisnis, klik disini. Untuk memiliki kemampuan mendesain bisnis mandiri, anda juga bisa klik disini.
Bila memiliki kesulitan atau masalah di beberapa sisi seperti budaya dan penerapan disiplin pencapaian target. Bila itu masalahnya, bagi para Leaders di Organisasi Anda, dapat mengikuti program Transformational Leadership dari ACT Consulting dengan klik di link ini.
Untuk melakukan perkembangan di organisasi dan korporasi Anda, Anda dapat mempelajari cara membangun budaya perusahaan dengan klik disini. Anda juga dapat mempelajari cara menciptakan strategi yang tepat untuk perusahaan dengan klik disini.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna)
Bergemuruh kumandang Takbir, Tahmid, dan Tahlil di pagi yang cerah ini. Takbir yang bukan hanya manusia yang mengumandangkannya, tapi seluruh alam semesta raya bergemuruh mengucapkannya.
2ـ ﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ﴾ [الإسراء : 44].
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah…”
Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya.
Takbir, Tahmid, Tahlil juga dikumandangkan oleh matahari, bulan, bintang yang tak terhingga jumlahnya.
Inilah pujian-pujian yang diucapkan manusia dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya beserta alam semesta raya.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar3x
Allahu Akbar Walillahi al-hamd
Ketika bibir kita mengucap takbir Allahu Akbar, maka kita telah berikrar, hanya Allah Yang Maha Besar. Tak ada lagi selain Dia yang lebih besar. Tak ada lagi yang lebih penting dan mulia kecuali Dia, Allah Al Kabir. Tak ada lagi kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Hanya Allah saja yang dijadikan kepentingan oleh kita.
Takbir yang kita kumandangkan semoga tak hanya sebatas di mulut saja. Begitu mudah diucapkan, namun jarang kita memaknai kandungan yang terdapat di dalamnya. Takbir semacam itu tak lebih dari Takbir Intelektual, yakni takbir yang kita pahami hanya sebatas pengetahuan belaka.
Kita juga semoga tidak terjebak pada takbir jenis kedua, yaitu Takbir Emosional. Kita bertakbir hanya ikut-ikutan. Orang lain ramai-ramai bertakbir, maka kita pun berempati dengan cara mengumandangkan takbir pula. Ini disebut juga takbir budaya. Semaraknya malam takbiran, di mana terdapat arak-arakan keliling kota, kampung dan desa, salah satu contoh takbir jenis ini.
Takbir yang harus kita kumandangkan adalah Takbir Spiritual. Takbir yang tak hanya diucapkan secara lisan, namun dipahami maknanya dan dimasukkan ke dalam hati, menambah tebalnya dinding keyakinan.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar3x
Allahu Akbar Walillahi al-hamd
Hari ini telah sampailah kita di hari Idul Fitri setelah 30 hari pendakian untuk meraih Lailatul Qadar dan kembali pada Fitrah. Mengapa disebut mendaki? Karena perjalanan menuju puncak jati diri yang Fitrah tidaklah mudah, banyak godaan dan rintangan. Kisah pencarian Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad yang melakukan pendakian ke tempat-tempat tinggi saat mencari Tuhan.
Begitu pula kita seperti mendaki selama 30 hari Ramadhan untuk menuju puncak kesuksesan mendapatkan jati diri manusia yang hakiki, jatidiri tertinggi yaitu kesejatian fitrah manusia.
Manusia diciptakan dari dua unsur yaitu fisik dari tanah dan ruh Ilahiah. Unsur fisik membuat manusia tertarik ke bumi sehingga mendorong mereka memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani seperti sandang, pangan, papan, dan kebutuhan bilogis lainnya. Sedangkan ruh Ilahi membuat manusia tertarik ke langit dan mengantarkannya kepada hal-hal yang bersifat ruhaniah.
Dorongan jasmani kerap mendominasi manusia, sehingga tak jarang manusia terjerumus karenanya. Seseorang yang tidak mampu mengendalikan diri dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani sering melakukan hal-hal negatif, berlebihan, bahkan menghalalkan segala cara dari mulai mencuri, manipulasi, korupsi.
Dengan adanya puasa, manusia diharapkan mampu mengendalikan diri dari dorongan naluriah jasmaniah dan mengasah sisi emosional dan spiritual. Inilah puasa yang afdol.
Pendakian puasa terberat dan tersulit adalah di 10 hari terakhir. Sebagaimana kita ketahui pada 10 hari terakhir Ramadhan Allah menganugerahi malam yang sangat istimewa Malam 1000 Bulan, malam penuh kemuliaan, keberkahan, kesejahteraan, dan pengampunan. Di malam itulah pahala dilipat gandakan, semua ibadah yang kita lakukan seakan kita melakukannya 83 tahun dan ditambah 4 bulan. Pada malam itu ditentukannya takdir 1 tahun ke depan. Betapa luar biasanya berkah Lailatul Qadar.
Sebagaimana yang sudah kita ketahui dari surat Al Qadar:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” SQ. Al-Qadar: 1-5.
Di dalam hadits dikatakan:
“Siapa yang beribadah pada Lailatul Qadar dengan landasan iman dan harap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Siapa yang berpuasa Ramadan dengan landasan iman dan berharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 1768)
Namun di dalam perjalanan pendakian 10 hari terakhir, kebanyakan orang justru turun gunung, meluncur lagi ke bawah dari nilai-nilai fitrah. Di penghujung Ramadhan, saat seharusnya kita bersungguh-sungguh meraih Lailatul Qadar, kita disibukan dengan perjalanan fisik, sibuk pada keluarga, pakaian baru, makanan lezat kita kehilangan kefitrahan. Kesibukan mempersiapkan Hari Raya Idul Fitri seringkali membuat kita kehilangan nilai-nilai kefitrahan.
Setelah kita Idul Fitri, seharusnya kita bersih dari segala belenggu ego dan nafsu, dan menjadikan Allah di atas segala-galanya. Idul ’Fitri merupakan simbol kemenangan pertarungan antara suara hati ilahiyah dengan berbagai belenggu nafsu, pertempuran antara mementingkan Allah Sang Pencipta dengan kepentingan diri, golongan, dam kelompok. Orang-orang yang sudah kembali kepada fitrah inilah yang berhak mendapat kemenangan, karena jiwanya sudah kembali bersih dan suci.
Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al A’Raf ayat 172
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Al Hijr: 29).
Fitrah manusia sesungguhnya adalah senantiasa ingin mendekat kepada Penciptanya. Ruh ciptaan Allah senantiasa mendekat pada nilai-nilai mulia Asma’ul Husna. Fitrah inilah yang membuat malaikat sujud kepada manusia, yang diperintahkan Allah kepada Adam. Malaikat sujud kepada manusia bukan karena unsur fisik, bukan karena harga diri, bukan karena kekayaan dan kesempurnaan manusia. malaikat merunduk sujud karena fitrah suci yang Allah tanamkan dalam jiwa manusia, dan manusia berjanji memegang amanah tersebut. Sebuah amanah yang pernah ditawarkan kepada gunung dan bumi, namun mereka menolaknya.
Pendakian selama 30 hari Ramadhan membuat kita kembali fitrah. Kita kembali pada akhlak Allah Al Ahad Yang Satu, Allah Al Jami Yang Maha Menyatukan.
Idul Fitri adalah Penyatuan kembali. Setelah Idul Fitri harus lahir persatuan. Baru saja bangsa ini menyelesaikan perhelatan Pemilu. Semoga pasca Idul Fitri kita kembali menjadi bangsa yang utuh, lupakan perpecahan, lupakan perbedaan.
Manusia itu umat yang satu. Sebagaimana di dalam Al Quran: “Sesungguhnya umat kamu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, oleh sebab itu maka hendaklah kamu menyembah Aku”. (Q.S. Al-Anbiya [21]: 92).
Manusia itu hanya satu umat saja. Satu disakiti maka bagian tubuh yang lain pun akan merasa sakit. Ketika dimensi fisik tidak ada maka jiwa manusia itu menyatu dari seluruh dunia. Hari ini kembali kepada fitrah dari Allah Al Ahad yang satu dan Allah Al Jamie Yang Maha Menyatukan, inilah saat menyatunya kembali Indonesia setelah luka-luka Pemilu.
Setelah Idul Fitri kita juga kembali pada Allah Al Ghofar yang Maha Memaafkan.
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran ayat 133-134).
Apa lagi tanda-tanda orang yang mendapatkan kemenangan Idul Fitri? Mereka adalah orang yang saling memaafkan dan melapangkan dada dari permasalahan di masa lalu. Ia mampu melihat persaman dalam setiap perbedaan, mampu melihat cahaya dalam setiap kegelapan. Pemikirannya akan mampu menjadi perekat semua perbedaan.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar3x
Allahu Akbar Walillahi al-hamd
Saudara-saudaraku kaum Muslimin. Bangsa ini melewati saat penting yaitu dalam menentukan kepemimpinan. Siapapun yang menang atau kalah sesungguhnya ujian di hadapan Allah. Yang menang akan diadili oleh Allah di Padang Mahsyar dihadapan Allah Hakim Yang Maha Agung. Bagaimana pertanggungjawaban atas kepemimpinannya terhadap ratusan juta penduduk Indonesia. Sedangkan yang kalah akan dinilai sejauh mana ia sabar dan ikhlas atas takdirNya yang sesungguhnya yang terbaik untuk dirinya di hadapan Allah Maha Tahu dan Paling Tahu.
Sebagai sebuah ibrah pembelajaran mari kita tengok sejarah Futtuh Mekkah atau Kemenangan Mekkah yang terjadi juga di bulan Ramadhan.
Pada hari itu Mekkah diliputi suasana ketakutan luar biasa. Semua penduduk cemas memikirkan nasibnya. Sebagian menanti di sudut rumahnya, sebagian lagi memasuki Al Masjidil Haram menanti apa gerangan yang akan mereka hadapi.
Kaum Muslimin tumpah di kota Mekkah. Rasulullah SAW menunggangi untanya, tak ada kesombongan tergurat di wajahnya. Sebuah kisah menggambarkan dengan indah bagaimana di punggung untanya beliau merunduk sehingga janggut beliau hampir menyentuh punggung untanya. Pada hari kemenangan itu, beliau lalu berkata:
“Hari ini hari Ka’bah harus dihormati, hari ini orang-orang Quraisy dimuliakan Allah!
Kepada pasukannya Beliau SAW memerintahkan jangan menyerang kecuali diserang lebih dulu. Setelah itu masuklah semua regu dari semua penjuru Mekkah. Mekkah pun takluk tanpa perlawanan dan agama Allah SWT menguasai seluruh pelosok kota dan orang memasukinya berbondong-bondong. Rasulullah SAW menuju Baitullah, Ka’bah, dan lalu thawaf, lalu menghancurkan berhala-berhala dan patung-patung yang terdapat di sekitar Ka’bah.
“…Kebenaran tiba dan lenyaplah kebatilan! Sesungguhnyalah, bahwa kebatilan pasti lenyap.” (QS Al Isra : 81)
Rasulullah lalu mengucapkan pujian ke hadirat Allah SWT: “Tiada Tuhan selain Allah, yang telah memenuhi janji-Nya, dan telah menolong hamba-NYA dan telah pula mengalahkan pasukan Ahzab! Hai orang-orang Quraisy, menurut pendapat kalian, tindakan apa yang hendak kuambil terhadap kalian?” Mereka menyahut serentak: “Tentu yang baik-baik!” Hai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia. Kukatakan kepada kalian apa yang dahulu pernah dikatakan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya; “Tak ada hukuman apa pun terhadap kalian. Pergilah kalian semua! Kalian semua bebas!”
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sofyan bin Harb, ia aman. Barangsiapa menutup pintu rumah-nya, ia aman.
Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia aman’.”
Penduduk Quraisy hampir tidak percaya dengan keputusan yang disampaikan Rasulullah SAW. Mereka bersyukur dan kembali ke rumahnya masing-masing.
Pada hari itu semua penduduk Mekkah memeluk Islam, walau pun ada sebagian dari mereka yang masih ragu. Peristiwa tersebut terjadi di bulan Ramadhan, dan Beliau SAW tinggal di Mekkah setelah itu selama sebulan.
Ada sebuah kisah menarik di balik penaklukan kota Mekah. Hindun, seorang kafir Quraisy yang sanga memusuhi Rasulullah suatu saat pernah berdiri di depan Ka’bah lalu mengucapkan sumpah bahwa ia tidak akan pernah masuk agama Islam.
Namun setelah Futuh Mekah, Hindun menemui Nabi Muhammad SAWuntuk bersyahadat, menyatakan diri masuk Islam. Tanpa bujukan dan paksaan dari siapapun.
Saat berjumpa dengan Abu Sofyan ia ditanya, “Hindun, bukankah engkau dulu pernah bersumpah, andaikata semua onta di tanah Arab ini masuk Islam, engkau tidak mau memeluk agama Islam?”
Hindun menjawab: “Benar, dulu aku pernah bersumpah bahwa aku tidak mau masuk Islam,” tapi sekarang bukan aku yang masuk Islam, tapi Islam itu masuk ke dalam hatiku.”
Surat An – Nashr di dalam Al Quran bercerita tentang kesuksesan dan kemenangan. Menurut sebagian besar ulama, surat ini turun dua tahun setelah Fathul (kemenangan) Makkah. Isi surat ini adalah berita gembira tentang kemenangan agama Islam di tempat dimana berhala paling banyak disembah sebelumnya.
Dalam surat ini juga dideskripsikan dengan berbondong-bondongnya orang masuk Islam setelah 20 tahun Rasulullah SAW dan para shahabat berjuang. Inilah kesuksesan yang hakiki, dan pemenangnya adalah pemenang yang sesungguhnya. Di surat ini akan dijelaskan apa sebenarnya kesuksesan itu, bagaimana kesuksesan itu bisa diraih, dan apa saja yang seharusnya dilakukan oleh sang pemenang setelah kemenangan itu datang dalam tiga ayat saja:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan
Dalam ayat ini kata ‘nashrullaahi’ didahulukan, baru kemudian kata ‘fath/kemenangan’. Karena setelah Allah menolong-lah baru kemenangan itu datang! Perasaan bahwa kemenangan itu adalah karena pertolongan Allah-lah yang membuat Rasulullah SAW tetap tawadhu/rendah hati saat memasuki kota Makkah saat Fathul Makkah. Beliau mengendarai untanya sambil terus menunduk sampai beliau tiba di Ka’bah, kemudian beliau sholat 4 rakaat di sana. Beliau dikerumuni dan dielu-elukan penduduk Makkah, tapi beliau tetap tawadhu, semua musuh-musuhnya dimaafkan dan dibebaskan.
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
Dalam ayat kedua dijelaskan maksud kemenangan hakiki. Kemenangan iman, yang merupakan buah dari perjuangan dan pertolongan Allah. Simbol kemenangannya bukanlah kekuasaan, tapi Allah mendeskripsikannya dengan masuknya orang-orang ke dalam Islam secara berbondong-bondong.
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
Ayat terakhir adalah pesan Allah bagi sang pemenang. Agenda sang pemenang sejati bukanlah euphoria dan pesta pora, tetapi mempersiapkan kematian. Setelah Fathul Makkah, Rasulullah disibukkan dengan banyaknya kabilah yang menemui beliau untuk masuk Islam. Namun Allah menyuruh Rasul-Nya agar menyibukkan diri dengan empat berikut ini sebagai persiapan kematian, agar tetap menang sampai kita dipanggil Allah.
“faSABBIH”
Banyaklah bertasbih. Mensucikan Allah. Subhanallah. Inilah hal pertama yang harus dilakukan setelah kita menang: mensucikan Allah. Alasannya? Pada masa perjuangan dan kerja keras dalam meraih kemenangan, sangat mungkin kita ternoda dengan perasaan negatif kita sendiri sebagai manusia. Misalnya pikiran bahwa Allah tidak menolong kita.
“biHAMDI ROBBIKA”
Pujilah Tuhanmu. Alhamdulillahi robbi. Sikap the real champion selanjutnya adalah memuji Allah. Pemenang tidak pernah memuji diri atau berbangga diri atas kemenangan yang diperoleh. Allah lah yang patut dipuji karena pertolongan itu datangnya dari Allah. Bahkan kesulitan dan kesengsaraan akan membuahkan pahala besar sehingga kita bisa mencapai derajat yang Allah inginkan! Alhamdulillah… Hanya pujian yang pantas bagi Allah di setiap keadaan.
“wa(-i-)STAGHFIR”
Memohon ampun. Astaghfirullah. Inilah amalan terbaik yang bisa dilakukan orang di penghujung masa hidupnya. Inilah amalan terbaik setelah seseorang melakukan kebaikan. Ternyata istighfar diperintahkan setelah kita selesai sholat, selesai haji, dll. Ini bukti bahwa istighfar adalah amalan setelah melakukannya amalan baik. Maksud Allah bahwa istighfar itu membuat kita mengakui bahwa apa yang kita lakukan ini bukan akhir dari kebaikan. “Aku yakin ini belum sempurna dan aku ingin istighfar agar aku bisa melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi.”
“innahuu kaana TAWWABAA”
Bertaubat. Setelah memohon ampun, pemenang sejati adalah seorang yang tidak mau mengulangi kesalahannya di masa lalu. Rasulullah mengibaratkan betapa senangnya Allah menerima taubat orang yang bertaubat itu seperti senangnya seorang ibu yang kehilangan anak yang disusuinya, lalu ia mencari bayinya, lalu bayangkan bagaimana perasaan ibu itu ketika menemukan kembali bayinya.
Keempat hal inilah sikap-sikap pemenang yang Allah ajarkan. Semoga kita mampu meneladaninya.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar 3x
Allahu Akbar Walillahi al-hamd
Setelah pemimpin bangsa ini terpilih, perjuangan baru terbentang. Bagaimana mewujudkan misi bangsa Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesi, mensejahterakan rakyat, dan mencerdaskan warga negaranya, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Itulah yang dimaksud menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta.
Saudara-saudaraku, kaum muslimin mari kita merapatkan barisan membangun bangsa ini. Masih banyak pekerjaan yang harus kita garap untuk memperbaiki negara yang kita cintai ini. Kita masih menghadapi sejumlah persoalan moral dan karakter. Maka persoalan moral bangsa ini tiada lain solusinya adalam mengembalikan pada tuntunanNya. Bukan dengan cara pendidikan karakter ala barat. Pendidikan karakter Islam adalah akhlakul karimah akhlak yang baik sebagaimana diajarkan Al Quran dan sejalan tuntunan dan teladan Nabi Muhammad.
Menurut Zaini Jamaludin, Dosen dari Fakultas Manajemen and Muamalah, International Islamic University College, Malaysia, dalam hasil penelitiannya yang dimuat oleh Journal of Global Business and Economics di tahun 2011 menemukan perlunya spiritualitas dalam kepemimpinan.
Menurut Jamaludin et al (2011), kebanyakan pekerja menghabiskan terlalu banyak waktu kita di tempat kerja atau dalam kegiatan sosial dan rekreasi yang berhubungan dengan pekerjaan. Sementara walaupun pekerjaan sangat penting untuk kesejahteraan ekonomi, itu tidak memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia secara penuh (Fairholm 1996).
Jamaludin et al (2011) juga menyampaikan bahwa dalam banyak kasus, prestasi ekonomi tidak membawa sukacita dan kegembiraan dalam hidup. Kekosongan jiwa dan hati selalu terkait dengan kurangnya kebutuhan kerohanian. Spiritualitas menyiratkan hubungan dengan sesuatu yang tidak berwujud di luar diri (Fairholm 1996).
Jamaludin et al (2011) melanjutkan bahwa bekerja sebagai bentuk aktualisasi diri hanya sebagian dari pencapaian dalam hidup kita. Yang lebih penting menurut Benefiel (2005) adalah “paruh kedua perjalanan ”, yang lebih mengarah pada transformasi kita sendiri daripada tentang perolehan materi (kerohanian).
Jamaludin et al (2011) menyampaikan bahwa Fry (2003) berpendapat bahwa motivasi ekstrinsik memenuhi kebutuhan yang lebih rendah (yaitu uang, materi) dan motivasi intrinsik memenuhi kebutuhan tatanan yang lebih tinggi (yaitu makna hidup). Spiritualitas berarti awal dari menjadi sadar akan kesadaran yang lebih tinggi dari pada ego yang berpusat pada tubuh-pikiran, dan kemampuan untuk hidup semakin banyak di bawah bimbinganNya (Chakraborty dan Chakraborty 2004).
Dalam Jamaludin et al (2011) dengan mengutip Fry (2003) menyebutkan bahwa orang harus memenuhi kebutuhan tertentu agar
dapat bertahan dan ia mempertimbangkan spiritualitas sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia. Ditunjukkan bahwa, dalam situasi di
mana spiritualitas tidak diberikan penekanan yang cukup, pekerja tampaknya kehilangan makna, motivasi dan
lebih jauh lagi, tidak
adanya kegembiraan saat menyelesaikan tugas (Kriger dan Seng 2005).
Oleh karena itu, Jamaludin
et al (2011) menyampaikan bahwa para
pemimpin memiliki peran penting dalam memastikan bahwa kebutuhan spiritual pekerja terpenuhi untuk meningkatkan kualitas dan
produktivitas kerja mereka.
Menurut Jamaludin et al (2011), pemimpin dan pekerja dalam korporasi tidak hanya mencari imbalan ekonomi dan respek untuk pekerjaan yang dilakukan tetapi juga
mencari kepuasan spiritual (Fairholm 1996). Karenanya, peran pemimpin lebih penting untuk kelangsungan hidup dan adaptasi institusi sosial daripada manajemen kontrol audit sistem atau efisiensi (Kakabadse et.al. 2002, dalam
Jamaludin et al, 2011).
Sementara, Jamaludin et al (2011) juga menyampaikan bahwa menurut Al-Mailam (2004), yang menyatakan bahwa pemimpin transformasional memberdayakan pekerja untuk mencapai visi yang diartikulasikan bagi organisasi dan misinya, maka hal ini akan mengarah pada peningkatan produktivitas, moral karyawan, kepuasan kerja serta peningkatan pertumbuhan pribadi dan profesional. Efek gaya kepemimpinan transformasional pada kepuasan kerja, komitmen, efisiensi dan peningkatan organisasi telah secara empiris didukung sejumlah peneliti (Sahin 2004, dalam Jamaludin et al, 2011).
Jamaludin et al (2011) juga mengutip Mullin (2005) yang menambahkan bahwa proses kepemimpinan transformasional akan menghasilkan pengikut yang bermotivasi tinggi dan berkomitmen, mengembangkan visi yang mampu mengubah organisasi dan meningkatkan idealisme dan nilai-nilai pengikut selain dari menanamkan perasaan keadilan, kesetiaan dan kepercayaan. Dampak positif kepemimpinan transformasional pada berbagai indikator kinerja dan kepuasan kerja adalah nilai tambah di atas dampak kepemimpinan transaksional (Bass 1985).
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Dilansir dari bisnis.com dari bulan Maret 2019 diperoleh keterangan bahwa Bank Sulselbar yang merupakan Bank Pembangunan Daerah (BPD) milik pemda Se-Sulsel dan Sulbar tengah merancang transformasi, dengan salah satu instrumennya adalah menjadi bank devisa. Perencanaan tersebut bahkan telah tertuang pada rencana jangka 5
tahunan perseroan atau Corprate Plan Bank Sulselbar 2016—2020 dan selanjutnya
dimanfestasikan pada Rencana Bisnis Bank (RBB) 2019 sebagai bentuk keseriusan.
Upaya Transformasi yang dilakukan oleh Bank Sulselbar
dilakukan dengan sangat serius. Hal ini tampak dengan dijalinnya kerjasama
dengan ACT Consulting dalam hal pengukuran indeks kesehatan budaya organisasi
atau organization culture health index (OCHI) beberapa waktu lalu. Hasil dari
Survey OCHI yang dilakukan secara komputerisasi dan online serentak bagi semua
cabang di wilayah Sulselbar ini, dipaparkan pada tanggal 28 Mei 2019.
Hasil Pemaparan Survey Organization Culture Health Index (OCHI) yang dipercayakan kepada ACT Consulting ini antara lain menyibak harapan karyawan, persepsi karyawan, dan gambaran kesehatan budaya kerja di dalam organisasi. Paparan akhir ini diterima secara langsung oleh Direktur Utama dari Bank Sulselbar, Bapak Haji Andi Muhammad Rahmat.
Acara paparan ini di ikuti oleh seluruh Board of Director Bank Sulselbar di ruang Meeting Direksi Bank Sulselbar, Makasar. Kegiatan ini dipandu oleh Corporate Culture and Corporate Strategy Expert Coach Rinaldi Agusyana dan Senior Konsultan Bidang Budaya Organisasi, Ariningtyas Prameswari.
Dengan harapan agar pengetahuan yang diperoleh dari hasil survey Organization Culture Health Index ini dapat membantu Bank Sulselbar dalam upaya transformasi yang tengah dilakukannya serta mencapai visi dan targetnya yang salah satunya adalah untuk menjadi Bank Devisa.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Menurut Pitoyo (2016), hubungan antara atasan dengan bawahan
dalam konteks kepemimpinan transformasional lebih dari sekedar pertukaran
“komoditas” (pertukaran imbalan secara ekonomis), tapi sudah menyentuh sistem
nilai ( value system). Pemimpin transformasional mampu menyatukan seluruh
bawahannya dan mampu mengubah keyakinan ( beliefs), sikap, dan tujuan pribadi
masing-masing bawahan demi mencapai tujuan, bahkan melampaui tujuan yang
ditetapkan (Humphreys, 2002, dalam Pitoyo, 2016).
Pitoyo (2016) juga melanjutkan pemaparannya bahwa keterlibatan
karyawan merupakan salah satu output yang ditunjukkan karyawan dalam aktivitas
bekerjanya. Semakin keterlibatan karyawan tinggi dalam perusahaan, semakin
mengindikasikan kinerjanya juga meningkat. Seorang karyawan bersedia untuk
terlibat pastinya ada sebab dan tujuan
tertentu, sehingga ini menarik untuk diketahui apa saja yang membuat seorang
karyawan bersedia terlibat dalam bekerja.
Gadhi (2013, dalam Pitoyo, 2016) mendapatkan 2 hasil temuan
penelitian, dimana secara langsung kepemimpinan transformasional berpengaruh
positif terhadap keterlibatan kerja dan secara tidak langsung makna kerja mampu
menjadi mediasi parsial pada kepemimpinan transformasional terhadap keterlibatan
kerja.
Sedangkan Podolny (2005, dalam Pitoyo, 2016) mendapatkan
temuan bahwa para pemimpin memainkan peran penting dalam membentuk atau
mempengaruhi meaning in work bawahannya. Pemimpin menggunakan visi, misi dan
tujuan, serta identitas organisasi untuk mempengaruhi persepsi karyawan tentang
meaning in work. Keadaan tersebut, memiliki pengaruh penting pada meaning in
work pada karyawan.
Ditambahkan juga, oleh Mei et al. (2004, dalam Pitoyo, 2016)
bahwa work engagement diteliti sebagai konsekuensi untuk menemukan makna dalam
pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna dalam pekerjaan merupakan
faktor motivasi intrinsik yang memprediksi work engagement.
Di sisi lain, Gallup (2009, dalam Pitoyo, 2016) mendapatkan temuan bahwa selama
waktu dihabiskan di tempat kerja ketika karyawan sedang terlibat, karyawan akan
menghargai pekerjaan yang mereka lakukan dan hal tersebut menunjukkan
pentingnya nilai-nilai dari peran kerja.
Definisi yang diambil oleh Pitoyo (2016) yaitu bahwa Kepemimpinan transformasional adalah suatu proses dimana para pemimpin dan anggota saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Pemimpin berupaya untuk mengubah perilaku anggotanya agar menjadi orang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi serta berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan berkualitas guna mencapai tujuan organisasi. Para anggota organisasi yang dipimpin secara transformasional akan merasakan adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap pimpinan, dan mereka termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan cara lebih baik dari yang diharapkan (Yulk, 1998, dalam Pitoyo, 2016).
Menurut O’Leary (2001, dalam Pitoyo, 2016) kepemimpinan
transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seseorang manajer
bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui
status quo (keadaan sekarang) atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang
sepenuhnya baru.
Pitoyo (2016) menjelaskan bahwa kepemimpinan
transformasional pada prinsipnya memotivasi bawahan untuk berbuat lebih baik
dari apa yang bisa dilakukan, dengan kata lain dapat meningkatkan kepercayaan
atau keyakinan diri bawahan yang akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja.
Menurut Rosso (2010, dalam Pitoyo 2016) setelah menjelajahi
berbagai sumber tentang meaning in work dapat dibagi menjadi tiga domain
penelitian, fokus pada (1) values, (2) motivations, and (3) beliefs about work.
Konsistensi antara manajer dengan visi misi organisasi dan nilai-nilai inti
dari bawahan mereka lebih mungkin untuk muncul. Dengan demikian, bawahan
cenderung melihat pekerjaan yang lebih bertujuan, motivasi yang penting dan
semuanya sebagai komponen integral dalam pekerjaan.
Sementara itu, Pitoyo (2016) juga menjelaskan bahwa Ghadi
(2013) melakukan penelitian tentang keterkaitan antara transformational
leadership dan meaning in work pada work engagement. penelitian tersebut
mendapatkan temuan bahwa transformational leadership dan meaning in work
berpengaruh signifikan pada work engagement.
Pitoyo (2016) juga menunjukkan bahwa dalam penelitian yang
lain oleh Susetyo (2015) dengan variabel yang sama mendapatkan penelitian bahwa
transformasional leadership dan meaning in work berpengaruh positif secara
signifikan pada work engagement. Lebih mendalam dijelaskan bahwa karyawan yang
mempunyai pemahaman tentang arti kerja lebih bersedia untuk terlibat. Hal ini
dikarenakan keterlibatan karyawan bukan karena sebab keterpaksaan melainkan
kesadaran dari dalam diri sendiri.
Pitoyo (2016) melanjutkan bahwa menurut Vance (2006) keterlibatan
kerja adalah hasil dari atribut pribadi seperti pengetahuan, keterampilam,
kemampuan, tempramen, sikap dan sosial pengaturan dan praktik SDM yang secara
langsung mempengaruhi komponen karyawan, proses dan konteks pekerjaan/kinerja
karyawan.
Pitoyo (2016) juga menyampaikan bahwa dalam suatu perusahaan
makna bekerja dapat terpenuhi ketika seorang karyawan menemukan apa yang
dicari, menemukan pentingnya nilai dalam pekerjaan yang dilakukannya, dan
menemukan harapan dalam pekerjaannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya
keterlibatan kerja.
Dalam penelitian yang dilakukannya, Pitoyo (2016)
mendapatkan kesimpulan bahwa Transformational Leadership mempunyai pengaruh
positif terhadap Work Engagement. Pitoyo (2016) memberikan saran bahwa penting
untuk perusahaan memperhatikan trait transformational leadership ini dalam
memilih dan menempatkan karyawan di setiap level jabatannya.
Pitoyo (2016)
menyampaikan bahwa perusahaan sebaiknya memilih pemimpin yang mempunyai
gaya kepemimpinan transformasional di setiap level manajemen perusahaan dengan
kriteria menjadi pengaruh ideal (idealized influence), inspirasi (inspirational
motivation), melalui pengembangan intelektual (intellectual stimulation), dan
perhatian pribadi ( individualized consideration), sehingga keterlibatan
bawahan akan lebih optimal.
Selain itu, Pitoyo juga menemukan bahwa makna bekerja berpengaruh positif terhadap Work Engagement. Artinya pemahaman makna kerja setiap karyawan akan mempengaruhi keterlibatan peran dalam bekerja. Dengan melihat kondisional seperti ini, sebaiknya perusahaan memberikan pemahaman tentang Meaning in Work kepada karyawan baik dengan cara komunikasi interpersonal atasan dengan bawahan maupun melalui training.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).
Selamat Pagi Sahabat, bagaimana
keadaan Anda hari ini? Kami harap kita semua selalu dalam lindungan dan
RidhaNya. Di hari Ramadhan ke dua puluh empat ini, kami harap telah terjadi
sejumlah peningkatan yang signifikan dalam usaha Anda untuk mencapai target
Ramadhan. Apakah perbaikan dan peningkatan itu terjadi dalam hal ibadah, maupun
dalam hal profesional untuk keberhasilan berkelanjutan dalam kehidupan kita
semua.
Mungkin Anda masih merasa belum
optimal, tapi cobalah hargai perubahan kecil sekalipun, dengan rasa syukur.
Karena dengan rasa syukur, Anda dan kita semua akan lebih mudah untuk
meningkatkan perbaikan dan perubahan diri untuk mencapai arahan yang lebih baik
lagi ke depannya. Salam Transformasi Performa dari ACT Consulting. Mari kita
ikuti Tips Produktivitas Ramadhan untuk hari ini.
#Tips 15: Membangun Ketakwaan Profesional Dari Ibadah
Ramadhan
Di dalam bulan Ramadhan ini, kita merasakan rasa cinta dan
rindu yang teramat mendalam pada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, serta para
sahabatnya. Hal ini karena kita tengah menjalankan berbagai ibadah yang
tuntunannya berasal dari contoh dan teladan yang mereka berikan.
Di bulan ini, kerinduan akan keindahan dan pesona surga juga
mendorong kita untuk memperbaiki perilaku, perkataan dan meningkatkan kualitas
kerja dan karya kita. Hal ini terutama karena keinginan kita untuk meraih tempat
di taman surga, dimana disana kita dapat menatap wajah Allah SWT. Sang Pencipta
yang selalu menjaga kita dalam kasih dan sayangNya setiap waktu. Yang telah
menghadirkan semua keberuntungan dan kebaikan dalam hidup kita.
Kita juga tengah berusaha untuk meraih kecintaan para fakir
miskin yang deritanya kini tengah kita rasakan dengan berpuasa. Menahan lapar
dan dahaga, membuat kita dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh mereka yang
kurang memiliki uang untuk dapat makan dan minum. Menahan hawa nafsu dan
amarah, sebagaimana para fakir miskin tersebut harus menahan ego yang mereka
miliki karena memiliki status sosial yang tidak tinggi. Namun mereka tinggi di
mata Allah SWT bila memiliki iman dan taqwa. Inilah yang ingin disampaikan
Allah SWT dari ibadah puasa.
Bahwa penderitaan yang dirasakan setiap hari oleh kaum fakir
miskin tersebut, adalah hal yang membuat mereka agung di mataNya. Bahwa kerja
keras yang tulus yang mereka lakukan, dilakukan hanya untuk mengharapkan
sedikit rezeki yang cukup untuk sekedar makan dan minum di hari itu. Bahkan boleh
jadi mereka sering sekali melakukan puasa karena kekurangannya tersebut.
Maka bagaimana dengan kita, para karyawan professional yang
memiliki pendapatan yang menengah keatas? Sesungguhnya di dalam harta kita
terdapat banyak godaan untuk menghabiskannya di jalan yang tidak diridhai Allah
SWT. Di dalamnya terdapat kemubaziran dan unsur foya-foya yang menjauhkan kita
dari cinta Allah SWT. Hingga walaupun kita memiliki citra dan imaji yang agung
di mata manusia, boleh jadi di mata Allah SWT, kita tidak ada apa-apanya
dibanding para fakir miskin yang penuh derita namun ikhlas atas ketentuan Allah
SWT.
Di masa kini, terdapat sejumlah pendekatan yang akhirnya
dilakukan oleh para professional yang ingin meraih cinta Allah SWT ini. Terdapat
gerakan untuk meniru kehidupan para ahlus suffah (sufi), dan menjalani hidup
dengan keterbatasan ala fakir miskin tersebut. Namun tetap berada di lingkungan
rumah yang mewah dan kendaraan yang terjamin.
Para sufi korporasi ini, amat hati-hati dalam menjaga
perilaku dan perbuatan mereka. Karena mereka merasa selalu dalam pengawasan
Allah SWT dan para malaikatNya. Mereka adalah pejuang kejujuran masa kini yang
memiliki budi pekerti agung dan amat bersih dalam bertransaksi dan bekerja.
Para sufi korporat ini, mengutamakan ibadah diatas hal
lainnya. Di saat adzan berkumandang, Anda dapat melihat mereka sebagai
orang-orang pertama yang berada di jajaran shaf terdepan di masjid terdekat. Bahkan
mereka dengan tegas meninggalkan ruang rapat dan mematikan telepon selular
mereka hingga dzikir terakhir setelah shalat digulirkan.
Kita bisa melihat bahwa kecerdasan spiritual dan emosional
para sufi korporat ini, menghasilkan lompatan keuntungan yang tinggi bagi
organisasi dimana mereka berada. Bahwa tidak diperlukan upaya kotor untuk dapat
meraih keuntungan. Bahwa dengan melakukan jalan karir yang bersih, mereka
berjuang untuk menegakkan kejujuran dan meninggalkan jejak kemuliaan di
tempat-tempat dimana mereka pernah menjabat. Berbagai kegemilangan pun menjadi
hasilnya.
Para sufi korporat ini berhasil memadukan antara kehidupan
karir yang gemilang dengan aktivitas ibadah yang berintensitas tinggi. Mereka menjadikan
ayat-ayat quran mewarnai perkataan dan penuturannya. Menghidupkan nilai-nilai
Islam di dalam manajemen yang mereka laksanakan, serta melaksanakan teladan
dari Rasul dan para sahabat di dalam disiplin professional yang mereka lakukan.
Apakah kita para sufi korporat itu? Mungkin saja. Semoga momen
Ramadhan tahun ini makin mendewasakan kita dan mematangkan upaya kita untuk terus
memperbaiki diri. Untuk terus meningkatkan kerja dan menghasilkan karya yang
berarti bagi kemajuan umat manusia seluruhnya. Hingga keberadaan kita dapat
menjadi wujud kasih sayang Allah SWT bagi seluruh semesta. Salam Transformasi
Performa dari ACT Consulting. Ikuti terus berbagai tips dan artikel dari kami
di website www.actconsulting.co
Bila berjalan-jalan di Mall di daerah teluk, atau bermain di salah satu taman hiburan keluarga, Anda mungkin sekali akan menemukan nama ini; Majid Al Futtaim Group. Ya, Majid Al Futtaim Group adalah salah satu konglomerasi besar yang memegang banyak jenis usaha yang tersebar di 13 negara di Asia, Jazirah Arab dan Afrika.
Terpisah dari keluarga Al Futtaim yang memiliki Al Futtaim Group sebagai sebuah konglomerasi yang memegang lisensi sejumlah merk automotif di emirat arab, Majid Al Futtaim mendirikan grup perusahaan atas namanya sendiri di tahun 1992. Al Futtaim Group sendiri telah berdiri sejak tahun 1930 dan hingga sekarang masih dibesarkan oleh Abdullah Al Futtaim.
Majid Al Futtaim adalah sepupu dari Abdullah Al Futtaim. Majid memegang separuh bagian dari Al Futtaim Group yang menangani industri properti, keuangan, hiburan, makanan, dan lain-lain yang beroperasi di Dubai, Mesir, Oman, Bahrain, dan sejumlah negara lainnya di Asia, Timur Tengah dan Afrika.
Kebanyakan dari pemegang jabatan utama di Majid Al Futtaim Group terdiri dari sejumlah pengusaha dari Inggris dan Eropa. Tariq Al Futtaim, putra dari Majid, adalah satu-satunya eksekutif yang berada dalam jajaran direksi yang merupakan bagian dari keluarga.
Majid Al Futtaim Group memegang lisensi untuk hypermarket Carrefour di 13 negara di Arab dan Afrika. Juga memiliki sejumlah hotel, mall, pemegang dari sejumlah merk busana internasional, serta taman hiburan keluarga.
Datang dari keluarga kaya Al Futtaim, membuatnya memiliki berbagai kemudahan untuk membesarkan bisnisnya, namun ini bukan tanpa syarat. Bahkan dikatakan oleh Asia One, sebuah majalah bisnis asia bahwa Majid Al Futtaim group memiliki komitmen yang tinggi untuk memegang prinsip good corporate governance, keterbukaan informasi dan keuangan, serta komitmen terhadap visi dan misi korporasi.
Majid mempertahankan integritas dan membuat bisnisnya berjalan secara inklusif dan terbuka. Bahkan perusahaannya dijuluki sebagai korporasi dengan tingkat keterbukaan tertinggi di antara perusahaan lain dari Uni Emirat Arab (UAE). Hal ini terlihat dari publikasi laporan keuangan yang dilakukan secara rutin dan terbuka.
Bila memiliki kesulitan atau masalah di beberapa sisi seperti budaya
dan penerapan disiplin pencapaian target. Bila itu masalahnya, bagi para
Leaders di Organisasi Anda, dapat mengikuti program Transformational Leadership
dari ACT Consulting dengan klik di link ini.
Untuk melakukan perkembangan di organisasi dan korporasi Anda, Anda dapat
mempelajari cara membangun budaya perusahaan dengan
klik disini.
Anda juga dapat mempelajari cara menciptakan strategi
yang tepat untuk perusahaan dengan klik disini.
Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter
para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif
di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang
diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke
0821-2487-0050 (Donna).