Tips Untuk Meningkatkan Produktivitas Bekerja di Bulan Ramadhan (15)

By May 29, 2019 Article

Selamat Pagi Sahabat, bagaimana keadaan Anda hari ini? Kami harap kita semua selalu dalam lindungan dan RidhaNya. Di hari Ramadhan ke dua puluh empat ini, kami harap telah terjadi sejumlah peningkatan yang signifikan dalam usaha Anda untuk mencapai target Ramadhan. Apakah perbaikan dan peningkatan itu terjadi dalam hal ibadah, maupun dalam hal profesional untuk keberhasilan berkelanjutan dalam kehidupan kita semua.

Mungkin Anda masih merasa belum optimal, tapi cobalah hargai perubahan kecil sekalipun, dengan rasa syukur. Karena dengan rasa syukur, Anda dan kita semua akan lebih mudah untuk meningkatkan perbaikan dan perubahan diri untuk mencapai arahan yang lebih baik lagi ke depannya. Salam Transformasi Performa dari ACT Consulting. Mari kita ikuti Tips Produktivitas Ramadhan untuk hari ini.

#Tips 15: Membangun Ketakwaan Profesional Dari Ibadah Ramadhan

Di dalam bulan Ramadhan ini, kita merasakan rasa cinta dan rindu yang teramat mendalam pada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, serta para sahabatnya. Hal ini karena kita tengah menjalankan berbagai ibadah yang tuntunannya berasal dari contoh dan teladan yang mereka berikan.

Di bulan ini, kerinduan akan keindahan dan pesona surga juga mendorong kita untuk memperbaiki perilaku, perkataan dan meningkatkan kualitas kerja dan karya kita. Hal ini terutama karena keinginan kita untuk meraih tempat di taman surga, dimana disana kita dapat menatap wajah Allah SWT. Sang Pencipta yang selalu menjaga kita dalam kasih dan sayangNya setiap waktu. Yang telah menghadirkan semua keberuntungan dan kebaikan dalam  hidup kita.

Kita juga tengah berusaha untuk meraih kecintaan para fakir miskin yang deritanya kini tengah kita rasakan dengan berpuasa. Menahan lapar dan dahaga, membuat kita dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh mereka yang kurang memiliki uang untuk dapat makan dan minum. Menahan hawa nafsu dan amarah, sebagaimana para fakir miskin tersebut harus menahan ego yang mereka miliki karena memiliki status sosial yang tidak tinggi. Namun mereka tinggi di mata Allah SWT bila memiliki iman dan taqwa. Inilah yang ingin disampaikan Allah SWT dari ibadah puasa.

Bahwa penderitaan yang dirasakan setiap hari oleh kaum fakir miskin tersebut, adalah hal yang membuat mereka agung di mataNya. Bahwa kerja keras yang tulus yang mereka lakukan, dilakukan hanya untuk mengharapkan sedikit rezeki yang cukup untuk sekedar makan dan minum di hari itu. Bahkan boleh jadi mereka sering sekali melakukan puasa karena kekurangannya tersebut.

Baca Juga:  Tips Untuk Meningkatkan Produktivitas Bekerja di Bulan Ramadhan (10)

Maka bagaimana dengan kita, para karyawan professional yang memiliki pendapatan yang menengah keatas? Sesungguhnya di dalam harta kita terdapat banyak godaan untuk menghabiskannya di jalan yang tidak diridhai Allah SWT. Di dalamnya terdapat kemubaziran dan unsur foya-foya yang menjauhkan kita dari cinta Allah SWT. Hingga walaupun kita memiliki citra dan imaji yang agung di mata manusia, boleh jadi di mata Allah SWT, kita tidak ada apa-apanya dibanding para fakir miskin yang penuh derita namun ikhlas atas ketentuan Allah SWT.

Di masa kini, terdapat sejumlah pendekatan yang akhirnya dilakukan oleh para professional yang ingin meraih cinta Allah SWT ini. Terdapat gerakan untuk meniru kehidupan para ahlus suffah (sufi), dan menjalani hidup dengan keterbatasan ala fakir miskin tersebut. Namun tetap berada di lingkungan rumah yang mewah dan kendaraan yang terjamin.

Para sufi korporasi ini, amat hati-hati dalam menjaga perilaku dan perbuatan mereka. Karena mereka merasa selalu dalam pengawasan Allah SWT dan para malaikatNya. Mereka adalah pejuang kejujuran masa kini yang memiliki budi pekerti agung dan amat bersih dalam bertransaksi dan bekerja.

Para sufi korporat ini, mengutamakan ibadah diatas hal lainnya. Di saat adzan berkumandang, Anda dapat melihat mereka sebagai orang-orang pertama yang berada di jajaran shaf terdepan di masjid terdekat. Bahkan mereka dengan tegas meninggalkan ruang rapat dan mematikan telepon selular mereka hingga dzikir terakhir setelah shalat digulirkan.

Kita bisa melihat bahwa kecerdasan spiritual dan emosional para sufi korporat ini, menghasilkan lompatan keuntungan yang tinggi bagi organisasi dimana mereka berada. Bahwa tidak diperlukan upaya kotor untuk dapat meraih keuntungan. Bahwa dengan melakukan jalan karir yang bersih, mereka berjuang untuk menegakkan kejujuran dan meninggalkan jejak kemuliaan di tempat-tempat dimana mereka pernah menjabat. Berbagai kegemilangan pun menjadi hasilnya.

Para sufi korporat ini berhasil memadukan antara kehidupan karir yang gemilang dengan aktivitas ibadah yang berintensitas tinggi. Mereka menjadikan ayat-ayat quran mewarnai perkataan dan penuturannya. Menghidupkan nilai-nilai Islam di dalam manajemen yang mereka laksanakan, serta melaksanakan teladan dari Rasul dan para sahabat di dalam disiplin professional yang mereka lakukan.

Apakah kita para sufi korporat itu? Mungkin saja. Semoga momen Ramadhan tahun ini makin mendewasakan kita dan mematangkan upaya kita untuk terus memperbaiki diri. Untuk terus meningkatkan kerja dan menghasilkan karya yang berarti bagi kemajuan umat manusia seluruhnya. Hingga keberadaan kita dapat menjadi wujud kasih sayang Allah SWT bagi seluruh semesta. Salam Transformasi Performa dari ACT Consulting. Ikuti terus berbagai tips dan artikel dari kami di website www.actconsulting.co

Leave a Reply