All Posts By

admin

Satya Nadella Tentang Kredo Budaya Empowerment Yang Inklusif Dari Microsoft

By Article No Comments

Dalam suatu diskusi yang dilakukan dalam World Economic Forum di tanggal 14 Desember tahun 2019, Satya Nadella, CEO Microsoft, diwawancara oleh President dari World Economic Forum, Prof Klaus Schwabb. Dalam kesempatan tersebut Nadella menyampaikan bahwa Microsoft memiliki kredo untuk melakukan pemberdayaan (empowering) kepada semua orang dari semua sudut yang berbeda di dunia.

Satya Nadella menggambarkan bahwa kredo empowerment itulah yang menurutnya paling menggambarkan visi dan misi dan yang menentukan apa dan siapa di Microsoft.

Nadella juga menyampaikan bahwa semua produk yang diciptakan oleh Microsoft, apakah itu xbox atau perangkat berteknologi tinggi, kesemuanya ditujukan untuk pasar dunia secara keseluruhan. Saat Klaus Schwab selaku Presiden dari World Economic Forum menyampaikan bahwa bila demikian maka seharusnya beragam produk digital dan ekonomi digital ditujukan bagi semua orang di seluruh dunia secara inklusif dan tidak membeda-bedakan.

“Ya”, dengan penuh semangat. Dalam merancang suatu produk di Microsoft misalnya, Nadella menyampaikan bahwa Desain adalah ilmu kelas satu yang harus melibatkan orang dari berbagai latar belakang pendidikan. Bukan hanya soal menentukan garis dan lengkung dalam sebuah prototype produk, tapi juga memerlukan pertimbangan sosiolog, ahli budaya (anthropologis), ahli matematika, dan ahli desain produk dan sebagainya. Agar produk tersebut dapat diterima oleh masyarakat secara umum.

Hal ini tentu saja berbeda dengan sejumlah visi perusahaan besar dunia yang menduduki posisi sebagai orang terkaya di dunia. Pemilik perusahaan brand fashion mahal misalnya, kini telah masuk dalam jajaran 10 orang terkaya di dunia.  Padahal produk yang diciptakan oleh perusahaan tersebut tidak menjadi kebutuhan primer bagi banyak penduduk dunia. Hanya menjadi suatu lambang kemewahan semata.

Terhitung ada pemilik dua merk branded yang masuk dalam daftar 10 orang terkaya dunia yaitu Arnault dan Carlos Slim Helu. Keduanya memiliki brand yang punya tingkat penjualan yang terhitung laris dan mendatangkan banyak keuntungan bagi usaha fashion mereka.  Satu perusahaan produsen IT besar dunia pun pernah ada di posisi teratas sebagai perusahaan terkaya. Padahal produk mereka bukanlah suatu produk yang mampu memasyarakat, karena daya beli masyarakat yang tidak mungkin untuk membayar harga tingginya.

Di tengah kegandrungan masyarakat dunia akan produk branded tersebut, Nadella yang bijak dan berasal dari tanah India yang sampai tahun 2020 ini masih memiliki banyak penduduk miskin tersebut, menyampaikan bahwa di dalam kepemimpinannya di Microsoft ia akan menjaga kredo empowerment tersebut.

Hal yang terhitung mulia untuk menjadi visi besar yang akan menjadikan sebuah perusahaan mampu terus dicintai oleh masyarakat. Di tengah derasnya kemunculan berbagai sistem operasi dalam administrasi dan keuangan, Microsoft masih tetap dicintai oleh banyak penduduk dunia karena kredo empowerment yang diberikan secara inklusif tersebut. bagaimana dengan perusahaan Anda? Apakah telah memiliki kredo yang kokoh? Apakah kredo tersebut telah menjadi jiwa bagi budaya perusahaan Anda? Apakah visi misi perusahaan Anda tergambar dalam kredo tersebut?  Mari kita terus membuka diri untuk mempelajari berbagai pengetahuan terbaru dari berbagai belahan dunia untuk mencapai kredo mulia yang ingin kita galang di perusahaan tempat kita bekerja. Salam Perusahaan Berbudaya.

AI Leadership Toolkit dari World Economic Forum 2020

By Article No Comments

Sebuah pertemuan kelas dunia haruslah menyediakan apa yang dibutuhkan oleh pesertanya. Mengantisipasi hal tersebut, 7 hari sebelum World Economic Forum (weforum) diselenggarakan, lembaga ini meluncurkan AI Leadership Toolkit.  Langkah ini dilakukan sebagai sebuah upaya untuk menghadirkan aturan tertulis mengenai pengembangan kecerdasan buatan untuk berbagai perusahaan dunia yang terlibat.

Terdapat 7 Bidang dalam AI Leadership Toolkit yang diluncurkan oleh WEForum 2020 ini.  7 hal tersebut adalah; Strategi Branding, Keamanan Siber, Masyarakat dan Budaya, Strategi Teknologi, Strategi Operasional, Strategi Persaingan, dan Strategi Konsumerisasi. 

Dalam masing-masing bidang tersebut, AI yang telah dan akan dikembangkan haruslah memenuhi aturan Etika yang ditetapkan secara global. Namun penerapan etika ini pun harus dirumuskan bersama oleh masing-masing pemerintah, diiringi oleh proses audit, dan dilakukan dengan mempertimbangkan resiko yang ada. Dalam penetapan etika penggunaan AI ini pun setiap pihak harus memperhatikan dengan jelas tanggung jawab masing-masing serta menelisik tiap kata khusus dan istilah yang digunakan agar memiliki tataran bahasa yang sama.

Dalam sumber dari website resmi world economic forum, terdapat penjelasan dasar dari 7 Modul Strategi dalam AI Leadership Toolkit yang mencakup topik strategi AI ini;

Merek/ Branding : mempekerjakan AI untuk mempertahankan reputasi merek. Menggunakan AI untuk mengelola merek, membangun kepercayaan publik, dan melindungi citra perusahaan; membangun reputasi merek dengan mengembangkan, menyebarkan, atau menggunakan AI untuk meningkatkan masyarakat.

Persaingan: mengeksploitasi AI untuk menyelesaikan misi organisasi. Dampak pada strategi, persaingan, dan industri; menggunakan AI untuk mengganggu, bersaing, dan tumbuh; mengantisipasi risiko.

Pelanggan: memperkuat hubungan pelanggan dengan AI. Nilai bagi pelanggan; peningkatan layanan; kebutuhan dan masalah pelanggan; membangun dan memelihara kepercayaan.

Cybersecurity: membangun ketahanan terhadap risiko cyber AI. Menilai dan menangani risiko keamanan dari AI; menggunakan AI untuk meningkatkan ketahanan dunia maya; mengintegrasikan ketangguhan dunia maya ke dalam strategi.

Model pengoperasian: menggunakan AI untuk meningkatkan proses. Transformasi dan inovasi model proses dan operasi; meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Manusia dan budaya: memungkinkan AI dan manusia untuk bekerja bersama. Augmentasi manusia; budaya dan etika untuk kesuksesan AI; inklusi dan keanekaragaman; kepegawaian dan keterampilan; menggunakan AI dalam manajemen sumber daya manusia.

Teknologi: mengelola implementasi AI. Membangun sistem AI; menarik investasi TI yang ada; pembelian dan mitra utama; membayangkan masa depan teknologi AI.

Pengurangan Investasi di Perusahaan Beremisi Karbon Tinggi Untuk Menjaga Sustainabilitas Planet Bumi

By Article No Comments

Dalam Global Risk Reports World Economic Forum 2020 dikatakan bahwa masalah utama dunia adalah dalam hal perubahan iklim atau climate change yang disebabkan oleh meningkatnya sampah dan emisi karbon dioksida. 

Isu perubahan iklim ini telah banyak disebarkan sejak Al Gore masih menjabat sebagai wakil presiden di Amerika Serikat. Namun baru beberapa tahun ini masyarakat dunia mulai melakukan langkah-langkah nyata untuk melakukan pencegahan dari terjadinya kerusakan yang lebih parah.

Kesadaran massif ini baru muncul setelah masyarakat dunia merasakan sendiri pemanasan global yang menyebabkan terjadinya bencana banjir bandang dan munculnya kebakaran hutan yang parah di berbagai belahan dunia.

Para pemimpin muda dari generasi zellenial, yang lahir setelah tahun 2000 pun mulai muncul dari berbagai negara di dunia. Para zellenial leader ini telah bisa berbicara untuk kelangsungan hidup generasinya. Seorang Greta Thunberg sejak usianya masih 9 tahun telah mulai berbicara bahwa ia ingin agar anak cucunya nanti masih bisa hidup di dunia yang sehat dan masih bisa menikmati oksigen dari udara bebas.

Di momen World Economic Forum 2020, Greta Thunberg yang kini telah berusia remaja tampil sebagai pemimpin muda yang mampu menggubah pidato yang mencekam dari beragam penelitian yang ia susun secara naratif.  Greta menyatakan bahwa perubahan suhu global sebanyak 1,5 derajat celcius akan bisa memusnahkan banyak spesies dunia dan menyebabkan terjadinya bencana alam yang massif.

Data yang dikumpulkan Greta Thunberg dari berbagai penelitian yang dibacanya itu menjadi fakta menakutkan yang baru diketahui publik secara umum dan terbuka pada WEF 2020 ini. hingga para pemimpin dunia seperti Chief Economist dari China, Ma Jun pun menyatakan bahwa kini negaranya yang semula menjadi negara penghasil emisi karbon terbesar dunia, sudah mulai melakukan evaluasi yang menyeluruh dan melakukan langkah investasi yang hati-hati.

Chief Economist China, Ma Jun dalam penyampaiannya kemarin, tanggal 21 Januari 2020 menyampaikan bahwa negaranya saat ini memang masih membakar batubara hitam yang merusak lapisan ozon dunia hingga saat ini.

Namun Ma Jun juga menyampaikan bahwa dalam realita ekonomi,  China dan banyak negara dunia lainnya seperti Indonesia, pembangkit listrik tenaga batubara masih menjadi pilihan produksi listrik yang termurah dan masih terhitung aman dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar nuklir sebagai penghasil energi. 

Masalah keberlanjutan ekonomi atau sustainabilitas kehidupan di planet bumi ditampilkan pada hari pertama dari rangkaian diskusi di forum ekonomi terbesar dunia tersebut. World Economic Forum yang dihadiri oleh mayoritas pemimpin negara, pemimpin perusahaan, serta para menteri ekonomi dari berbagai negara ini pun dipaksa untuk memikirkan ulang berbagai kebijakan dan peraturan dalam negerinya masing-masing dalam berbagai upaya untuk penyelamatan ekosistem alami di planet tercinta ini.

Bahkan perusahaan asuransi besar dunia, serta perusahaan investasi besar dunia yang tampil berdiskusi dalam tajuk “Averting Climate Apocalypse” atau “Mencegah Kiamat Iklim Dunia” pun menyampaikan bahwa mereka telah membuat kebijakan dalam dunia investasi untuk mendukung upaya penyelamatan ekosistem planet bumi. 

Bahwa kini berbagai lembaga keuangan dunia harus mematuhi aturan untuk tidak melakukan penanaman investasi di perusahaan yang tidak melakukan kebijakan yang mendukung sustainabilitas ekosistem di planet bumi.  Oliver Bate, CEO dari sebuah perusahaan asuransi besar dunia semula menetapkan tahun 2050 sebagai tahun “carbon neutral”.

Namun masih dalam WEforum hari pertama, perwakilan dari masyarakat asli yang tinggal di hutan di negara Chad, Hindou Oumarou Ibrahim berkata dengan tegas bahwa masyarakat darimana ia berasal tidak bisa menunggu hingga tahun 2050. Bahwa upaya penyelamatan bumi harus dimulai sekarang. Karena bahkan sekarang pun sudah terlambat. Bahwa penduduk di negaranya tidak bisa menunggu 30 tahun lagi. Karena “mungkin bumi tidak sampai pada usia tersebut”, demikian kalimat yang meluncur secara jujur dari lisan Oliver Bate yang meralat kata-katanya sendiri di awal diskusi.

Global Risks Report dan World Economic Forum 2020

By News No Comments

Isi dari Global Risks Report 2020 yang disusun oleh World Economic Forum menggambarkan resiko global yang merupakan masalah utama yang tengah dan akan berlanjut di tahun 2020 ini. Laporan ini dibuat untuk membuat sebanyak mungkin negara di dunia bersatu sebagai multi stake holder agar dapat menyelesaikan masalah atau resiko global yang ada, bersama-sama dan saling kolaborasi.

Tujuan dan fokus dari World Economic Forum tahun 2020 yang juga merupakan acara tahunan ke 50 kali yang menyatukan para ekonom dan menteri ekonomi dari berbagai negara di dunia ini memiliki fokus untuk menciptakan dunia yang saling mendukung (kohesif) dan dapat diteruskan kepada anak-cucu kita dalam keadaan baik (sustainable) nantinya.

Sepekan sebelum World Economic Forum (WEF) ini digelar, president dan WEF dan sejumlah sponsor serta pengurus berbagai lembaga di WEF 2020 ini melakukan konferensi pers mengenai Global Risks Report 2020 yang disajikan secara terbuka.

Acara ini dihadiri oleh banyak wartawan dari berbagai negara. Dalam kesempatan tersebut, salah satu hal yang menjadi perhatian banyak orang adalah masalah atau resiko global utama yaitu yang berkaitan dengan perubahan iklim (global climate).

Emily Farnworth sebagai Head of Climate Change Initiative di WEF, menyampaikan bahwa sebenarnya setiap pemerintah dapat melakukan upaya perbaikan lingkungan dengan hanya menghabiskan biaya sebanyak 0.8% dari masing-masing GDP (gross domestic product/ total pendapatan nasional tiap negara).

Untuk melakukan upaya inisiatif dalam mencegah perubahan iklim ini, menurut Farnworth tiap negara harus memiliki kebijakan yang bersifat proaktif (proactive approach). Pendekatan proaktif dalam mengelola kebijakan pemerintah ini harus dilakukan dengan memprediksi berbagai resiko yang menjadi ancaman bagi kesejahteraan rakyat.

http://reports.weforum.org/global-risks-report-2020/files/2020/01/Sharables-charts_Sharable-Long-Term-Risk-Outlook-Multistakeholders-Likelihood.png

Para ahli ekonomi dunia tersebut juga menyatakan bahwa untuk dapat melakukan prediksi yang tepat ke depannya, tidak lagi bisa melakukan pendekatan historical. Karena apa yang tengah terjadi pada saat ini tidak dapat dilihat dengan menggunakan kacamata sejarah. Hal ini karena berbagai komponen ekonomi yang ada di zaman ini tidak dapat ditemukan dalam catatan sejarah manapun.

Hal seperti kerusakan lapisan ozon, meningkatnya suhu air laut, banjir bandang yang menimpa berbagai belahan dunia, serta kebakaran hutan yang terjadi di hampir semua benua. Semua hal tersebut terjadi karena polusi yang menyebabkan perubahan iklim yang drastis.

Disebutkan juga bahwa diantara berbagai ancaman atau threats tersebut adalah dalam hal munculnya disrupsi dalam teknologi yang berpotensi menghasilkan pengangguran dan mematikan sejumlah usaha yang kuno atau obsolete. Untuk itu, dunia usaha harus terus melakukan inovasi.

Karena itu, selayaknya para ekonom dan ahli kebijakan di pemerintahan haruslah menggunakan model matematika prediktif (predictive mathematics) yang paling sesuai untuk menghitung dan menganalisa berbagai komponen ekonomi yang ada di masing-masing negara. Dengan cara ini, pemerintah atau lembaga pemerintahan dan badan perancang kebijakan public dapat memiliki ukuran penghitungan  yang valid dan terbukti berhasil serta efektif.

            Dalam acara pemaparan global risks reports 2020 ini hadir juga Borge Brende sebagai President dari World Economic Forum. Lembaga WEF ini sendiri diciptakan oleh Prof Klaus Schwabb yang hingga kini masih hidup dan menjadi tokoh utama dalam berbagai acara yang diselenggarakan setiap tahun di kota Davos, Swiss.

            Brende menyebutkan analisa dari ahli IMF yaitu Gita Gopinath yang menggambarkan bahwa pada tahun 2019, terjadi global synchronized economic slowdown atau perlambatan ekonomi tersinkron yang terjadi secara global.

Berita Gembira Dalam Pembukaan World Economic Forum 2020

By News No Comments

Pada acara pembukaan World Economic Forum 2020 di hari Senin 21 Januari 2020 ini, Gita Gopinath selaku Chief Economist dari IMF (International Monetary Fund) menyampaikan bahwa di tahun 2019 terjadi perkembangan ekonomi terburuk setelah krisis keuangan global (global financial crisis).

Namun di awal tahun 2020 ini, Gopinath juga melihat perubahan iklim geopolitik dunia dimana dimulai pertemuan untuk mencapai berbagai kesepakatan antara Amerika Serikat dan China, yang melakukan perdamaian perdagangan (trade truce).

Dimulainya fase pertama perdamaian dagang antara USA dan China dan menghilangnya kekhawatiran masyarakat ekonomi dunia akan terjadinya kesepakatan keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa perjanjian (no deal brexit) dipandang dapat membantu perekonomian dunia untuk kembali ke jalur pertumbuhannya. Semula, synchronized slowdown telah menyebabkan global economic slowdown yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi terjadi keluar dari jalurnya (derailed growth).

Gita Gopinath menggambarkan bahwa kini telah ada sejumlah tanda tentative (tentative sign) mengenai perbaikan ekonomi ini dan menyampaikan perhitungan IMF bahwa perkembangan ekonomi yang semula berada di angka 2,9% secara global, telah mulai stabil kembali. Namun Gopinath tetap menekankan bahwa perkembangan ekonomi masih cenderung lamban.

Untuk itu IMF menyatakan revisi angka pertumbuhan ekonomi global kini dikabarkan oleh Gopinath bisa mencapai angka 3,3% di 2020 dan mungkin meningkat ke angka 3.4% di tahun 2021. Sebelumnya, prediksi yang dibuat oleh Gita Gopinath di bulan Oktober 2019 ini membuat tim ekonomi pemerintah Indonesia menetapkan angka perkembangan ekonomi yang semula berada diatas 5% pada tahun-tahun sebelumnya, menjadi hanya 4,8% untuk tahun 2020 ini.

Gita Gopinath menyampaikan bahwa kesepakatan damai fase pertama antara Amerika Serikat dan China mengurangi dampak negative secara kumulatif (cumulative negative impact) bagi pendapatan ekonomi global dunia (global GDP).

Berbagai faktor yang mempengaruhi ekonomi dunia diantaranya adalah elektrifikasi yang dilakukan oleh sejumlah produsen dan industri manufaktur kendaraan demi memenuhi standar emisi rendah yang ditetapkan di berbagai belahan dunia. Sebelumnya pada tahun 2020, produsen besar seperti Daimler Benz saja sampai harus melakukan efisiensi dan melakukan perumahan bagi ratusan ribu pegawainya di berbagai belahan dunia.

Sektor auto ini banyak mempengaruhi ekonomi karena dalam proses manufaktur dibutuhkan banyak komponen yang dihasilkan dari sejumlah negara yang berbeda di dunia. Untuk itu, perubahan rancangan utama kendaraan yang semula berbahan dasar minyak bumi yang membutuhkan spesifikasi onderdil yang rumit dan membutuhkan banyak komponen, menjadi lebih sederhana. Jumlah komponen untuk membentuk satu kendaraan listrik lebih sedikit, dan produsen berbagai sparepart kendaraan ini masih sedikit jumlahnya. Hingga proses manufaktur kendaraan listrik kini hanya membutuhkan sedikit saja pekerja. Oleh karena itu, elektrifikasi kendaraan ini menjadi salah satu disruptor dalam ekonomi dunia.

Gita Gopinath selaku Chief Economist dari IMF menyampaikan dalam acara pembukaan World Economic Forum 2020 bahwa bagi sejumlah negara yang memiliki resiko fiskal akibat investasi yang lemah, harus menggunakan berbagai tools makroekonomi untuk mengurangi dampak inflasi dan mencegah agar tingkat bunga tetap rendah. Selain itu juga para penyusun kebijakan public harus dapat meningkatkan konsentrasi mereka dalam sisi pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan industri ramah lingkungan. 

Untuk mengatasi kekhawatiran bagi negara yang memiliki hutang ekonomi yang tinggi, Gopinath menyarankan agar melakukan konsolidasi dengan sejumlah negara donor. Serta agar negara-negara tersebut mempersiapkan contingency backup untuk membantu masyarakat ekonomi lemah. Diantaranya dengan memberikan porsi yang cukup bagi social safety net atau jaminan kesejahteraan sosial di masing-masing negara untuk mencegah resiko ekonomi yang lebih besar.

Selain itu, negara-negara dengan ekonomi lemah tersebut haruslah dapat membalik atau mencoba mengatasi pengaruh dari kebijakan proteksionisme yang semula dihadapi. Diantaranya dengan merestrukturisasi angka bunga dalam sistem perpajakan. Gopinath menyampaikan bahwa secara global dibutuhkan sistem kebijakan perpajakan baru untuk  mencegah dampak disruptif dari berkembangnya ekonomi digital ke berbagai arah.

Selain itu, negara-negara ini juga harus memiliki struktur pajak yang menarik bagi para pembayar pajak sehingga ekonomi dapat terus tumbuh secara positif dan pemerintah dapat memberikan kebijakan pengurangan pajak untuk industri manufaktur yang memiliki peran besar dalam ekonomi.

Remohab, Startup Jepang untuk Rehab Medis di Tempat Bagi Pasien Penyakit Jantung

By Article No Comments

Jepang tengah melaksanakan berbagai langkah strategis untuk menerjemahkan berbagai keberhasilan dalam penelitian dari sejumlah universitas agar menjelma menjadi solusi jitu yang dapat menolong masyarakat lebih luas di bidang kesehatan medis.

Upaya menjembatani praktek klinis dan penelitian dasar dalam dunia medis ini dilakukan di tingkat pemerintah dengan mendorong tiga serangkai Universitas Osaka, Universitas Tokyo, dan Universitas Tohoku untuk bekerjasama dengan Universitas Stanford dan memulai kolaborasi dalam menyiapkan versi Jepang dari program Biodesign.

Hasilnya adalah peluncuran Kursus 10 Bulan di tahun 2015 yang bernama Japan Biodesign. Konsepnya adalah untuk membentuk talenta yang dapat memahami kebutuhan pasien dan petugas layanan kesehatan dan memberdayakan mereka dengan berbgai perangkat dan layanan medis yang dikembangkan oleh industri dan akademisi.

Mengambil proyek penelitian yang memiliki potensi komersial dari tahap awal adalah kuncinya, kata Prof. Sawa. Tujuan dari Japan Biodesign adalah memahat ekosistem yang secara berkesinambungan menghadirkan perangkat medis dan inovasi layanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lanjut usia di  Jepang.

“Sekarang, kami menciptakan innovator, peneliti, dokter dan orang kreatif yang juga berwirausaha dan dapat memberikan hasil pada skala industri,” kata Prof. Sawa yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Biodesign Jepang. “Ini adalah kesempatan bagi orang untuk menciptakan industri baru di bidang kedokteran”, katanya.

Salah satu kesuksesan pertama Japan Biodesign adalah Remohab Inc., sebuah usaha yang mengembangkan perawatan kardiovaskular jarak jauh dengan memantau rehabilitasi pasien melalui olahraga.

Penyakit jantung adalah penyebab kematian terbanyak kedua di Jepang dan gagal jantung sering menjadi penyebabnya. Penyakit Gagal Jantung mempengaruhi 1,2 juta orang di Jepang. Namun rehabilitasi jantung di rumah sakit sulit bagi pasien lansia karena kebutuhan untuk sering berkunjung. Setelah beberapa saat, banyak yang berhenti atau tidak menerima perawatan yang tepat.

Untuk itu dikembangkan aplikasi Remohab bagi para pasien gagal jantung ini. Aplikasi Remohab mengembangkan sistem rumah menggunakan IoT (internet of things), yang membantu pasien melanjutkan rehabilitasi di bawah pengawasan real-time jarak jauh oleh para profesional kesehatan. Jika Remohab berhasil, itu akan menjadi perusahaan pertama dari jenisnya secara global, kata CEO Remohab, Dr. Tatsunori Taniguchi.

Sebelum menghadiri kursus Biodesign Jepang, Dr. Taniguchi, yang bekerja sebagai dokter kardiovaskular setelah lulus dari Universitas Osaka, mengakui bahwa ia bahkan tidak tahu untuk apa huruf “CEO” berdiri. Namun, yang dia tahu adalah bahwa penelitian dan studi tidak cukup. Dia harus mencari solusi untuk menyembuhkan pada orang tua, yang solusi itu juga yang dapat menjadi sebuah bisnis.

Taniguchi adalah salah satu yang pertama menghadiri kursus intensif 10 bulan di Japan BioDesign Osaka. Disana ia belajar bagaimana menghubungkan penelitian dengan fase komersial, bagaimana mengevaluasi pasar dan membangun strategi seputar asuransi kesehatan, dan keterampilan lainnya.

“Kursus Japan Bio Design ini memberi saya kepercayaan diri yang sangat besar untuk mendapatkan begitu banyak informasi dan pengetahuan yang berbeda dalam cara yang praktis dan sistematis, cocok untuk kewirausahaan”.

Sejak meluncurkan Remohab pada tahun 2017, perusahaan Dr. Taniguchi telah berubah dan mulai menarik 50 juta yen dalam modal ventura dari Osaka University Venture Capital Co., Ltd. dan Hack Ventures Co., Ltd.

Sementara, pada tahun keduanya, Remohab juga memenangkan Excellence Award dalam Kontes Bisnis Kesehatan 2019 yang dilakukan oleh pemerintah Jepang.

“Berbagai keberhasilan itu membuat saya sangat senang mendengar bahwa pasien usia lanjut yang mengambil pelatihan dari aplikasi Remohab kami ini sekarang telah berhasil kembali ke gaya hidup yang lebih aktif dan dapat kembali tersenyum,” kata Dr. Taniguchi.

Masa Depan Dunia Medis Di Tangan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Digital Health

By Article No Comments

Pernahkah anda melihat film serial kesehatan? Anda mungkin pernah menonton serial seperti Dr House atau Grey’s Anatomy. Dalam film serial yang menarik tersebut kita bisa melihat bagaimana sebuah kondisi kesehatan membutuhkan penanganan dan pengalaman tingkat tinggi. Bahkan dalam berbagai episodenya, Dr House digambarkan sebagai seorang dokter eksentrik yang amat jenius. Ia seringkali dapat menebak dan memprediksi tindakan apa yang harus dilakukan pada seorang pasien. Bahkan saat para koleganya yang lebih ahli dan bijak darinya melakukan kesalahan anamnesa.

Anamnesa atau pembuatan diagnosa untuk mengetahui tingkat keparahan dalam penyakit seseorang hanya bisa dilakukan oleh dokter yang memiliki tingkat pengalaman yang tinggi dan telah melakukan praktek selama puluhan tahun. Namun dokter sejenis itu amat langka dan makin menua. Bagaimana masyarakat bisa menerima layanan kesehatan hebat dari para dokter terbaik dunia itu?

Solusinya ternyata ada pada artificial intelligence. Data dan pengalaman yang dimiliki oleh karakter jenius Dr House tersebut kini diabadikan dalam berbagai aplikasi digital di dunia medis.  Salah satu pelopor Digital Health secara global adalah suatu lembaga penelitian medis di Jerman yaitu Hasso Plattner Institute (HPI). Lembaga ini berada di kota Postdam, Jerman, dan dianggap sebagai salah satu university excellence center dalam bidang digital engineering. Institut ini memiliki tiga jurusan pasca sarjana yaitu peminatan Sistem Rekayasa Teknik Informatika (IT Systems Engineering), peminatan Digital Health, dan peminatan Teknik Pengolahan Data (Data Engineering). 

Di Eropa, Hasso Plattner Institute ini masuk dalam jajaran universitas terbaik versi CHE University Rangkings. CHE University Rangking adalah sistem pemeringkatan universitas yang paling rinci dan komprehensif yang membawahi lebih dari 300 universitas dan perguruan tinggi di Jerman, Austria, Swiss dan Belanda.  CHE sendiri adalah singkatan untuk Center for Higher Education.

Hasso Plattner Institut ini memiliki lembaga bernama HPI School of Design Thinking yang merupakan sekolah inovasi pertama di Eropa yang juga memiliki cabang di Stanford d.School. Universitas ini menjadi  pusat dan penghubung para innovator untuk saling berkolaborasi dan mengembangkan kreativitas. Bahkan dikatakan sebagai pusat bagi para innovator, kolaborator dan orang-orang kreatif. Misi dari skeolah ini adalah untuk membantu menciptakan lebih banyak innovator, dimana saja.

Dengan semangat tersebut, HPI School of Design Thinking ini banyak mengembangkan inovasi dalam bidang teknologi informatika. Namun yang paling menarik adalah HPI memiliki pusat penelitian untuk mahasiswa program doctoral di bidang medis yang tersebar di berbagai belahan dunia. Diantaranya di Cape Town, Haifa dan Nanjing. Dengan 14 Profesor tetap dan 50 orang professor pendukung.

HPI ini mengajarkan dan melakukan fokus penelitian dalam bidang yang sangat kompleks, luas, dan saling interkoneksi dalam bidang teknologi informatika. Tujuannya adalah untuk mengembangkan berbagai temuan dan melakukan penelitian yang memiliki kegunaan tinggi dalam semua bidang kehidupan dan membuatnya agar mudah diakses dan mudah digunakan oleh masyarakat atau bersifat user-oriented.

HPI pun selain berkaitan dengan Stanford, kini mengembangkan bidang penelitian digital health ini di New York melalui  University Hospital Mount Sinai Health System (MSHS) yang ditandatangani pada tanggal 29 Maret 2019.

Tujuan dari kerjasama kedua institusi medis ini adalah untuk memperluas bidang digital medis dan untuk meningkatkan perkembangan berbagai aplikasi digital health. Salah satunya adalah untuk menghasilkan analisa real time dari berbagai data kesehatan dengan menggunakan artificial intelligence untuk menghasilkan informasi medis bagi para pasien atau bagi orang-orang yang berpotensi terkena masalah kesehatan tertentu secara lebih awal, untuk membantu pengambilan berbagai keputusan medis yang lebih tepat dan lebih sesuai.

Sementara di belahan bumi yang lain yaitu di Jepang, telah juga dikembangkan konsep Japan Biodesign yang melakukan berbagai riset kolaboratif yang dikembangkan oleh universitas dengan kalangan industri dan manufaktur serta para kreator aplikasi digital.

Seperti dikatakan oleh Profesor HPI dan Kepala Digital Health Center, Dr Erwin Bottinger bahwa kita telah lama mengetahui bahwa kecerdasan buatan (AI) dan analisa tepat waktu (real time analysis) dari berbagai data kesehatan yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dibutuhkan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, mencegah makin parahnya perkembangan berbagai penyakit, dan memperbaiki kesehatan seluruh umat manusia.

Untuk itu diperlukan kolaborasi dan kerjasama di bidang digital health dari berbagai belahan dunia demi meletakan batu pertama (groundbreaking) di dunia medis. Tujuannya adalah untuk memperbaiki tingkat presisi evaluasi medis dan pengambilan keputusan penanganan berbagai penyakit yang berbahaya dan mengancam nyawa (terminal disease). Dengan mengumpulkan para ahli, peneliti muda dan para mahasiswa idealis yang kreatif ini, berbagai inovasi dan aplikasi hebat diharapkan dapat tercipta dan menjadi solusi global yang dapat merevolusi dunia kesehatan dan memperbaiki tingkat kesehatan penduduk secara nasional dan di tingkat global.

Sebelumnya para peneliti dari HPI dan Mount Sinai ini telah mempublikasikan beragam hasil penelitian dari para pionir di dunia diagnostika genome (DNA), digital  health, teknik analisa data biomedis, kecerdasan buatan, dan teknologi informatika. Hal ini disampaikan oleh Dr. Joel Dudley, PhD, Associate Professor Genetics and Genomics di gabungan kedua institusi HPI dan Mount Sinai tersebut. dengan kerjasama tersebut, maka kolam keahlian dari para peneliti in dapat digunakan secara luas dengan dukungan sosial dan bantuan pengerahan dana yang disebarkan secara luas dalam sistem kesehatan di Eropa dan Amerika.

T-ICU Startup Medis Penyelamat Pasien ICU dari Jepang

By Article No Comments

Jepang tengah memimpin penemuan dan penelitian medis di dunia dengan berbagai programnya seperti society 5.0, Japan BioDesign dan 500 Startups Kobe. Di antara keberhasilan pertama dari program 500 Startups Kobe adalah T-ICU Co., Ltd., yang menyediakan rumah sakit dengan dukungan jarak jauh bagi pasien dalam perawatan intensif.  Aplikasi inovatif ini memenangkan Excellence Award dalam Kontes Bisnis Kesehatan Jepang 2019.

Tomoyuki Nakanishi,  awalnya hanyalah seorang dokter yang menangani pasien gawat darurat di ICU. Ia juga seorang ahli perawatan intensif yang bersertifikat. Saat melakukan pekerjaannya sehari-hari, ia melihat bahwa 70% rumah sakit Jepang tidak memiliki spesialis di bidang perawatan penyakit dengan tingkat keparahan mengancam nyawa (pasien penyakit terminal akut) atau pasien gawat darurat yang harus dirawat di ICU.

Ini membuat perawatan intensif yang diberikan oleh berbagai rumah sakit menjadi kurang efektif dan banyak pasien memiliki masalah kesehatan berulang. Setelah melakukan penelitian sendiri  Nakanishi berusaha menemukan apa penyebab dari masalah ini dan bagaimana pemecahannya.

Ternyata yang Nakanishi temukan adalah bahwa masalahnya adalah para ahli medis atau dokter dengan keahlian tinggi tersebut berada di berbagai kota yang berbeda dan tidak bisa saling berkomunikasi secara real time dengan para dokter yang keahliannya berada di bawahnya. Untuk itu diperlukan wadah  berupa aplikasi yang dapat memberikan komunikasi secara bentuk video untuk bertukar informasi kesehatan secara elektronik secara real-time.

Dengan aplikasi ini maka para dokter ahli dan dokter yang langsung menangani pasien di kota lain atau di kota terpencil dapat saling berkomunikasi. Solusi yang diberikan oleh Tele ICU atau Cloud ICU ini berupa aplikasi yang menghubungkan para ahli yang berlokasi di pusat-pusat tele-ICU terpencil.

Dengan T-ICU ini memungkinkan para dokter spesialis di luar kota sekalipun akan mampu bekerja lintas lokasi untuk berinteraksi dengan para staf medis yaitu dokter dan perawat yang melakukan tindakan pada pasien secara langsung di samping tempat tidur melalui tautan video.  

Nakanishi mendirikan T-ICU Ltd. pada tahun 2016 untuk menjadi perusahaan pertama yang menyediakan layanan seperti itu di Jepang, tetapi ia hanya dapat mencetak satu kontrak rumah sakit. Bahkan itu bentuk kerjasama ini datang hanya sekali saja pada Juni 2018 dan melalui koneksi teman.

Untuk mengembangkan aplikasinya, Nakanishi dan Tim di T-ICU mengambil bagian dalam kursus Kobe Accelerator pada tahun 2018. “Kursus Itu sangat intensif,” kata Dai Ogura, COO perusahaan. “Setiap hari, kami diminta menggambarkan bisnis kami hanya dalam satu kalimat.”

Apa yang paling meninggalkan kesan pada Tn. Ogura bukanlah bagian teknis dari kursus, tetapi fokus pada menempa mentalitas yang tepat agar bisnis berhasil.

Hanya dalam waktu setahun kemudian, daftar klien T-ICU mengembang dalam dua digit dan startup ini telah mulai mengumpulkan 153 juta yen dari para investor. Perusahaan ini  sekarang mulai mendapat telepon dari klien potensial di Asia Tenggara, kata Ogura.

Setelah memperbarui desain antarmuka (interface) dalam aplikasi T-ICU, Mr. Ogura melihat potensi bagi perusahaan untuk memasuki pasar Amerika Serikat yang memiliki sejarah lebih lama menggunakan tele-ICU. Sifat rendah biaya sistem T-ICU harus menarik, katanya.

Bangkitnya Industri Dirgantara Asia, Indonesia Boleh Berbangga

By Article No Comments

Industri Dirgantara Asia Tengah Bangkit. Hal ini nampak dari pengakuan kemampuan aviasi dari produsen Asia, untuk dapat diterima di pasar barat. Baru pada tanggal 19 Juni 2019, telah terjadi kesepakatan antara Mitsubishi Aircraft Corporation dengan sebuah perusahaan penerbangan di Amerika Serikat, dengan jumlah pesanan mencapai 15 unit pesawat terbang untuk model Spacejet M100. Model ini dapat mengangkut jumlah penumpang hingga 84 orang.

Sebelumnya, pada tahun 2017, Skywest Airlines yang berpusat di Utah, membuat pesanan 100 pesawat MR90 untuk dapat dikirimkan pada kurun waktu tahun 2017 hingga tahun 2020. Pesawat ini dapat mengangkut jumlah penumpang hingga 88 orang. Hal ini tentu sangat membanggakan. Namun hal ini tidak terjadi dalam sekejap mata. Bahkan industri penerbangan di Jepang ini pernah menghadapi sejumlah tantangan. 

Kedua jenis pesawat ini termasuk dalam ukuran menengah, dan dapat beroperasi untuk penerbangan yang berlangsung selama beberapa jam. Sehingga cocok untuk digunakan pada perusahaan penerbangan nasional di suatu negara. Inilah penyebab mengapa ANA (All Nippon Airways) dan SkyWest yang merupakan operator penerbangan domestic di Amerika Serikat  kemudian memutuskan untuk membeli model pesawat jet tercanggih dan terbaru ini.

Sebelumnya telah ada perusahaan nasional Jepang bernama NAMC (Nihon Aircraft Manufacturing Corporation) yang telah memproduksi pesawat yang mulai terbang sejak tahun 1962. Pesawat tersebut adalah YS-11. Pesawat yang dapat mengangkut 60 penumpang ini mulai dibeli oleh Hawaian Airlines pada tahun 1966. Bagian lain dari Amerika, Piedmont Airlines juga membeli produk YS11 buatan Jepang ini pada tahun 1967.

Bagaimana dengan negara kita Indonesia? Kita juga patut berbangga karena industri pesawat terbang nusantara, telah menjual banyak pesawat CN235 ke berbagai negara dunia. Pesawat kecil dengan jumlah penumpang hingga 51 orang ini amat laku dan digunakan oleh berbagai negara diantaranya oleh Turkish Air Force, Turki, French Air Force, Perancis. Irish Air Corps, Irlandia, dan Royal Malaysian Air Force, Malaysia.  Selain itu banyak sekali negara-negara lain dari berbagai benua yang juga memesan pesawat ini. Hingga tak mengherankan kita dapat menyaksikan b agaimana PT Dirgantara Indonesia yang pernah memangkas hingga separuh pegawainya ini kini telah menampilkan keuntungan yang cukup besar.

Selain itu salah satu hal yang amat membanggakan lainnya adalah, PT Dirgantara Indonesia juga dipercaya untuk melakukan manufacturing sejumlah helicopter tempur dengan lisensi dari berbagai negara di dunia. Diantaranya Helikopter Puma, Super Puma, Eurocopter Fennec, hingga NC212 dengan lisensi dari Aviocar.

Pengaruh-British-Exit-di-Tahun-2020-(Brexit)-Bagi-Indonesia

Pengaruh British Exit di Tahun 2020 (Brexit) Bagi Indonesia

By News No Comments
Pengaruh-British-Exit-di-Tahun-2020-(Brexit)-Bagi-Indonesia

Suatu referendum yang dilakukan oleh suatu negara bukanlah hal yang ringan. Seperti yang terjadi saat Indonesia memberikan peluang referendum bagi Timor Timur, maka yang kemudian terjadi adalah lepasnya daerah tersebut dan kini telah menjadi sebuah negara kecil yang terpisah dari Indonesia.

Referendum dilakukan oleh suatu negara untuk memutuskan hal besar yang menyangkut hajat hidup para penduduknya.  Baru-baru ini, Kerajaan Inggris Raya atau Great Britain melakukan referendum yang diikuti oleh warganya. Pada referendum yang dilakukan pada tanggal 23 Juni 2016 tersebut, lebih dari 72% rakyat inggris sejumlah lebih dari 30 juta orang melakukan pemilihan suara dalam referendum brexit tersebut.  saat itu 52% rakyat inggris memilih untuk melakukan brexit, atau sejumlah 17.4 juta warga Inggris yang memilih agar negaranya keluar dari Uni Eropa.

Sejumlah kebijakan ekonomi regional di kawasan Inggris Raya dapat berubah karena pilihan rakyat Inggris ini. Menurut ahli hubungan internasional dari Indonesia, Dinna Wisnu PhD dalam sebuah situs nasional, Inggris dalam masalah ini memberlakukan kebijakan untuk melanjutkan perjanjian perdagangan dengan negara-negara di dalam Uni Eropa. Dikatakan bahwa sampai 1 Mei 2019, ada 10 perjanjian dagang yang berlaku secara rollover, yang telah diselesaikan dengan kesepakatan yang berbeda-beda.

Menurut artikel yang memuat pendapat ahli hubungan internasional di kawasan eropa tersebut, ketakutan terbesar Inggris adalah apabila perjanjian dilakukan tanpa adanya suatu kesepakatan yang berpotensi memicu pindahnya investasi Global dari Negara tersebut ke Negara Eropa lainnya. 

Hal lain yang menjadi kekhawatiran pemerintah Inggris adalah adanya hutang pemerintah yang cukup tinggi yaitu sebesar 80%, yang menghambat fleksibilitas gerak pemerintah dari segi anggaran jangka pendek dan jangka menengah.

Namun sejumlah situs pendidikan seperti situs kampus Oxford bahkan memberikan porsi khusus bagi mahasiswa dan karyawan kampus tersebut yang berasal dari Negara Uni Eropa. Hal ini karena kesepakatan pemerintah tersebut dapat menyebabkan timbulnya biaya dari berbagai pos. seperti munculnya keharusan dari pihak kampus untuk membayarkan visa dari para karyawannya yang berasal dari negara Uni Eropa, yang semula tidak berbayar.

Hal lain seperti biaya pabean, munculnya biaya impor dan ekspor, serta peraturan yang akan berlaku di imigrasi saat keluar dari perbatasan inggris. Sejumlah traveller juga mengkhawatirkan apakah akan terjadi penambahan biaya untuk masalah visa, tiket dan penggunaan paspor.

Sejumlah kekhawatiran lain datang dari sektor sumber daya manusia, dimana jumlah rakyat Inggris tidak mencukupi untuk dapat memberikan fungsi pelayananan dan pendidikan bagi warganya. Fungsi tersebut yang selama ini dipenuhi oleh tenaga kerja dari negara lain di Eropa ini, kini menimbulkan pos pengeluaran baru bagi perusahaan-perusahaan pengguna tenaga kerja regional ini.

Sikap Boris Johnson sendiri sebagai Perdana Menteri Inggris sangat tampak dalam pidatonya saat pertama kali dilantik. Ia dengan tegas menyatakan bahwa dengan keputusan Brexit tersebut, Inggris akan melakukan proses demokrasi yang lebih otonom. Yaitu bahwa Inggris Raya akan bebas dari pengaruh pemimpin uni eropa yang berasal dari luar negara tersebut. Bahwa Inggris hanya akan dipimpin dan diatur oleh orang-orang yang berasal dari negara tersebut. Oleh orang-orang yang dipilih dan diturunkan oleh rakyat Inggris sendiri.

Mengenai pengaruh Brexit yang akan berlaku pada tanggal 31 Januari 2020 ini bagi Indonesia, para pengamat memberikan pandangan yang berbeda-beda. Duta Besar kerajaan Inggris di Indonesia, Owen Jenkins mengatakan bahwa pengaruh keluarnya Inggris dari Uni Eropa tidak akan banyak berdampak bagi negara kita. Bahwa kalaupun ada hal tersebut bisa mendatangkan sejumlah hal yang bersifat positif bagi Indonesia. Yaitu akan terbukanya peluang bagi ekonomi RI untuk memasuki pasar beberapa komoditas di Inggris, yang semula dipenuhi oleh negara-negara di dalam Uni Eropa.

Dinna Wisnu menyatakan bahwa hubungan perdagangan antara Indonesia dan Inggris termasuk baik. Selama 2014 hingga 2018, terjadi surplus volume perdagangan walaupun ada tren penurunan. Wisnu menyatakan bahwa produk yang paling banyak di ekspor oleh Indonesia adalah nikel, bahan alas kaki, tekstil, kayu olahan, elektronik dan produk agrikultur.

Wisnu dalam situs nasional tersebut menyebutkan bahwa ada kemungkinan Inggris Raya akan mengatur ulang kesepakatan perdagangan dengan negara-negara non Eropa. Karena itu, ia menyatakan agar kementerian di Indonesia bergerak cepat untuk melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah Inggris Raya untuk masalah ini. Dinna Wisnu menyatakan bahwa Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan posisi sebagai pemasok berbagai kebutuhan Inggris yaitu dalam hal produk konsumen seperti alas kaki, olahan kayu, mesin elektronik seperti mesin cetak dan produk agrikultur seperti minyak sawit. Hal ini karena Inggris adalah negara terbesar di Uni Eropa yang menjadi tujuan ekspor Indonesia.

id_ID
ms_MY en_GB id_ID