Khotbah Idul Fitri Masjid Bank Indonesia 2019 oleh DR (H.C.) Ary Ginanjar Agustian

By June 10, 2019 June 12th, 2019 News

Idul Fitri, Momen Penyatuan Umat & Kemerdekaan dari Belenggu Ego dan Nafsu

Dr. HC. H. Ary Ginanjar Agustian

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Bergemuruh kumandang Takbir, Tahmid, dan Tahlil di pagi yang cerah ini. Takbir yang bukan hanya manusia yang mengumandangkannya, tapi seluruh alam semesta raya bergemuruh mengucapkannya.
2ـ ﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ﴾ [الإسراء : 44].
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah…”

Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya.
Takbir, Tahmid, Tahlil juga dikumandangkan oleh matahari, bulan, bintang yang tak terhingga jumlahnya.
Inilah pujian-pujian yang diucapkan manusia dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya beserta alam semesta raya.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar3x
Allahu Akbar Walillahi al-hamd

Ketika bibir kita mengucap takbir Allahu Akbar, maka kita telah berikrar, hanya Allah Yang Maha Besar. Tak ada lagi selain Dia yang lebih besar. Tak ada lagi yang lebih penting dan mulia kecuali Dia, Allah Al Kabir. Tak ada lagi kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Hanya Allah saja yang dijadikan kepentingan oleh kita.

Takbir yang kita kumandangkan semoga tak hanya sebatas di mulut saja. Begitu mudah diucapkan, namun jarang kita memaknai kandungan yang terdapat di dalamnya. Takbir semacam itu tak lebih dari Takbir Intelektual, yakni takbir yang kita pahami hanya sebatas pengetahuan belaka.

Kita juga semoga tidak terjebak pada takbir jenis kedua, yaitu Takbir Emosional. Kita bertakbir hanya ikut-ikutan. Orang lain ramai-ramai bertakbir, maka kita pun berempati dengan cara mengumandangkan takbir pula. Ini disebut juga takbir budaya. Semaraknya malam takbiran, di mana terdapat arak-arakan keliling kota, kampung dan desa, salah satu contoh takbir jenis ini.

Takbir yang harus kita kumandangkan adalah Takbir Spiritual. Takbir yang tak hanya diucapkan secara lisan, namun dipahami maknanya dan dimasukkan ke dalam hati, menambah tebalnya dinding keyakinan.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar3x
Allahu Akbar Walillahi al-hamd

Hari ini telah sampailah kita di hari Idul Fitri setelah 30 hari pendakian untuk meraih Lailatul Qadar dan kembali pada Fitrah. Mengapa disebut mendaki? Karena perjalanan menuju puncak jati diri yang Fitrah tidaklah mudah, banyak godaan dan rintangan. Kisah pencarian Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad yang melakukan pendakian ke tempat-tempat tinggi saat mencari Tuhan.

Begitu pula kita seperti mendaki selama 30 hari Ramadhan untuk menuju puncak kesuksesan mendapatkan jati diri manusia yang hakiki, jatidiri tertinggi yaitu kesejatian fitrah manusia.

Manusia diciptakan dari dua unsur yaitu fisik dari tanah dan ruh Ilahiah. Unsur fisik membuat manusia tertarik ke bumi sehingga mendorong mereka memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani seperti sandang, pangan, papan, dan kebutuhan bilogis lainnya. Sedangkan ruh Ilahi membuat manusia tertarik ke langit dan mengantarkannya kepada hal-hal yang bersifat ruhaniah.

Dorongan jasmani kerap mendominasi manusia, sehingga tak jarang manusia terjerumus karenanya. Seseorang yang tidak mampu mengendalikan diri dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani sering melakukan hal-hal negatif, berlebihan, bahkan menghalalkan segala cara dari mulai mencuri, manipulasi, korupsi.

Dengan adanya puasa, manusia diharapkan mampu mengendalikan diri dari dorongan naluriah jasmaniah dan mengasah sisi emosional dan spiritual. Inilah puasa yang afdol.

Pendakian puasa terberat dan tersulit adalah di 10 hari terakhir. Sebagaimana kita ketahui pada 10 hari terakhir Ramadhan Allah menganugerahi malam yang sangat istimewa Malam 1000 Bulan, malam penuh kemuliaan, keberkahan, kesejahteraan, dan pengampunan. Di malam itulah pahala dilipat gandakan, semua ibadah yang kita lakukan seakan kita melakukannya 83 tahun dan ditambah 4 bulan. Pada malam itu ditentukannya takdir 1 tahun ke depan. Betapa luar biasanya berkah Lailatul Qadar.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui dari surat Al Qadar:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” SQ. Al-Qadar: 1-5.

Di dalam hadits dikatakan:
“Siapa yang beribadah pada Lailatul Qadar dengan landasan iman dan harap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Siapa yang berpuasa Ramadan dengan landasan iman dan berharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 1768)

Namun di dalam perjalanan pendakian 10 hari terakhir, kebanyakan orang justru turun gunung, meluncur lagi ke bawah dari nilai-nilai fitrah. Di penghujung Ramadhan, saat seharusnya kita bersungguh-sungguh meraih Lailatul Qadar, kita disibukan dengan perjalanan fisik, sibuk pada keluarga, pakaian baru, makanan lezat kita kehilangan kefitrahan. Kesibukan mempersiapkan Hari Raya Idul Fitri seringkali membuat kita kehilangan nilai-nilai kefitrahan.

Setelah kita Idul Fitri, seharusnya kita bersih dari segala belenggu ego dan nafsu, dan menjadikan Allah di atas segala-galanya. Idul ’Fitri merupakan simbol kemenangan pertarungan antara suara hati ilahiyah dengan berbagai belenggu nafsu, pertempuran antara mementingkan Allah Sang Pencipta dengan kepentingan diri, golongan, dam kelompok. Orang-orang yang sudah kembali kepada fitrah inilah yang berhak mendapat kemenangan, karena jiwanya sudah kembali bersih dan suci.

Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al A’Raf ayat 172
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Al Hijr: 29).

Fitrah manusia sesungguhnya adalah senantiasa ingin mendekat kepada Penciptanya. Ruh ciptaan Allah senantiasa mendekat pada nilai-nilai mulia Asma’ul Husna. Fitrah inilah yang membuat malaikat sujud kepada manusia, yang diperintahkan Allah kepada Adam. Malaikat sujud kepada manusia bukan karena unsur fisik, bukan karena harga diri, bukan karena kekayaan dan kesempurnaan manusia. malaikat merunduk sujud karena fitrah suci yang Allah tanamkan dalam jiwa manusia, dan manusia berjanji memegang amanah tersebut. Sebuah amanah yang pernah ditawarkan kepada gunung dan bumi, namun mereka menolaknya.

Pendakian selama 30 hari Ramadhan membuat kita kembali fitrah. Kita kembali pada akhlak Allah Al Ahad Yang Satu, Allah Al Jami Yang Maha Menyatukan.

Idul Fitri adalah Penyatuan kembali. Setelah Idul Fitri harus lahir persatuan. Baru saja bangsa ini menyelesaikan perhelatan Pemilu. Semoga pasca Idul Fitri kita kembali menjadi bangsa yang utuh, lupakan perpecahan, lupakan perbedaan.

Manusia itu umat yang satu. Sebagaimana di dalam Al Quran: “Sesungguhnya umat kamu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, oleh sebab itu maka hendaklah kamu menyembah Aku”. (Q.S. Al-Anbiya [21]: 92).

Manusia itu hanya satu umat saja. Satu disakiti maka bagian tubuh yang lain pun akan merasa sakit. Ketika dimensi fisik tidak ada maka jiwa manusia itu menyatu dari seluruh dunia. Hari ini kembali kepada fitrah dari Allah Al Ahad yang satu dan Allah Al Jamie Yang Maha Menyatukan, inilah saat menyatunya kembali Indonesia setelah luka-luka Pemilu.

Setelah Idul Fitri kita juga kembali pada Allah Al Ghofar yang Maha Memaafkan.
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran ayat 133-134).

Apa lagi tanda-tanda orang yang mendapatkan kemenangan Idul Fitri? Mereka adalah orang yang saling memaafkan dan melapangkan dada dari permasalahan di masa lalu. Ia mampu melihat persaman dalam setiap perbedaan, mampu melihat cahaya dalam setiap kegelapan. Pemikirannya akan mampu menjadi perekat semua perbedaan.

Baca Juga:  Program Transformational Leadership PT Kalimantan Prima Persada

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar3x
Allahu Akbar Walillahi al-hamd

Saudara-saudaraku kaum Muslimin. Bangsa ini melewati saat penting yaitu dalam menentukan kepemimpinan. Siapapun yang menang atau kalah sesungguhnya ujian di hadapan Allah. Yang menang akan diadili oleh Allah di Padang Mahsyar dihadapan Allah Hakim Yang Maha Agung. Bagaimana pertanggungjawaban atas kepemimpinannya terhadap ratusan juta penduduk Indonesia. Sedangkan yang kalah akan dinilai sejauh mana ia sabar dan ikhlas atas takdirNya yang sesungguhnya yang terbaik untuk dirinya di hadapan Allah Maha Tahu dan Paling Tahu.

Sebagai sebuah ibrah pembelajaran mari kita tengok sejarah Futtuh Mekkah atau Kemenangan Mekkah yang terjadi juga di bulan Ramadhan.

Pada hari itu Mekkah diliputi suasana ketakutan luar biasa. Semua penduduk cemas memikirkan nasibnya. Sebagian menanti di sudut rumahnya, sebagian lagi memasuki Al Masjidil Haram menanti apa gerangan yang akan mereka hadapi.

Kaum Muslimin tumpah di kota Mekkah. Rasulullah SAW menunggangi untanya, tak ada kesombongan tergurat di wajahnya. Sebuah kisah menggambarkan dengan indah bagaimana di punggung untanya beliau merunduk sehingga janggut beliau hampir menyentuh punggung untanya. Pada hari kemenangan itu, beliau lalu berkata:

“Hari ini hari Ka’bah harus dihormati, hari ini orang-orang Quraisy dimuliakan Allah!
Kepada pasukannya Beliau SAW memerintahkan jangan menyerang kecuali diserang lebih dulu. Setelah itu masuklah semua regu dari semua penjuru Mekkah. Mekkah pun takluk tanpa perlawanan dan agama Allah SWT menguasai seluruh pelosok kota dan orang memasukinya berbondong-bondong. Rasulullah SAW menuju Baitullah, Ka’bah, dan lalu thawaf, lalu menghancurkan berhala-berhala dan patung-patung yang terdapat di sekitar Ka’bah.
“…Kebenaran tiba dan lenyaplah kebatilan! Sesungguhnyalah, bahwa kebatilan pasti lenyap.” (QS Al Isra : 81)

Rasulullah lalu mengucapkan pujian ke hadirat Allah SWT: “Tiada Tuhan selain Allah, yang telah memenuhi janji-Nya, dan telah menolong hamba-NYA dan telah pula mengalahkan pasukan Ahzab! Hai orang-orang Quraisy, menurut pendapat kalian, tindakan apa yang hendak kuambil terhadap kalian?” Mereka menyahut serentak: “Tentu yang baik-baik!” Hai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia. Kukatakan kepada kalian apa yang dahulu pernah dikatakan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya; “Tak ada hukuman apa pun terhadap kalian. Pergilah kalian semua! Kalian semua bebas!”
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sofyan bin Harb, ia aman. Barangsiapa menutup pintu rumah-nya, ia aman.
Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia aman’.”

Penduduk Quraisy hampir tidak percaya dengan keputusan yang disampaikan Rasulullah SAW. Mereka bersyukur dan kembali ke rumahnya masing-masing.

Pada hari itu semua penduduk Mekkah memeluk Islam, walau pun ada sebagian dari mereka yang masih ragu. Peristiwa tersebut terjadi di bulan Ramadhan, dan Beliau SAW tinggal di Mekkah setelah itu selama sebulan.

Ada sebuah kisah menarik di balik penaklukan kota Mekah. Hindun, seorang kafir Quraisy yang sanga memusuhi Rasulullah suatu saat pernah berdiri di depan Ka’bah lalu mengucapkan sumpah bahwa ia tidak akan pernah masuk agama Islam.

Namun setelah Futuh Mekah, Hindun menemui Nabi Muhammad SAWuntuk bersyahadat, menyatakan diri masuk Islam. Tanpa bujukan dan paksaan dari siapapun.

Saat berjumpa dengan Abu Sofyan ia ditanya, “Hindun, bukankah engkau dulu pernah bersumpah, andaikata semua onta di tanah Arab ini masuk Islam, engkau tidak mau memeluk agama Islam?”

Hindun menjawab: “Benar, dulu aku pernah bersumpah bahwa aku tidak mau masuk Islam,” tapi sekarang bukan aku yang masuk Islam, tapi Islam itu masuk ke dalam hatiku.”

Surat An – Nashr di dalam Al Quran bercerita tentang kesuksesan dan kemenangan. Menurut sebagian besar ulama, surat ini turun dua tahun setelah Fathul (kemenangan) Makkah. Isi surat ini adalah berita gembira tentang kemenangan agama Islam di tempat dimana berhala paling banyak disembah sebelumnya.

Dalam surat ini juga dideskripsikan dengan berbondong-bondongnya orang masuk Islam setelah 20 tahun Rasulullah SAW dan para shahabat berjuang. Inilah kesuksesan yang hakiki, dan pemenangnya adalah pemenang yang sesungguhnya. Di surat ini akan dijelaskan apa sebenarnya kesuksesan itu, bagaimana kesuksesan itu bisa diraih, dan apa saja yang seharusnya dilakukan oleh sang pemenang setelah kemenangan itu datang dalam tiga ayat saja:

  1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan

Dalam ayat ini kata ‘nashrullaahi’ didahulukan, baru kemudian kata ‘fath/kemenangan’. Karena setelah Allah menolong-lah baru kemenangan itu datang! Perasaan bahwa kemenangan itu adalah karena pertolongan Allah-lah yang membuat Rasulullah SAW tetap tawadhu/rendah hati saat memasuki kota Makkah saat Fathul Makkah. Beliau mengendarai untanya sambil terus menunduk sampai beliau tiba di Ka’bah, kemudian beliau sholat 4 rakaat di sana. Beliau dikerumuni dan dielu-elukan penduduk Makkah, tapi beliau tetap tawadhu, semua musuh-musuhnya dimaafkan dan dibebaskan.

  1. dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
    Dalam ayat kedua dijelaskan maksud kemenangan hakiki. Kemenangan iman, yang merupakan buah dari perjuangan dan pertolongan Allah. Simbol kemenangannya bukanlah kekuasaan, tapi Allah mendeskripsikannya dengan masuknya orang-orang ke dalam Islam secara berbondong-bondong.
  2. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Ayat terakhir adalah pesan Allah bagi sang pemenang. Agenda sang pemenang sejati bukanlah euphoria dan pesta pora, tetapi mempersiapkan kematian. Setelah Fathul Makkah, Rasulullah disibukkan dengan banyaknya kabilah yang menemui beliau untuk masuk Islam. Namun Allah menyuruh Rasul-Nya agar menyibukkan diri dengan empat berikut ini sebagai persiapan kematian, agar tetap menang sampai kita dipanggil Allah.
“faSABBIH”

Banyaklah bertasbih. Mensucikan Allah. Subhanallah. Inilah hal pertama yang harus dilakukan setelah kita menang: mensucikan Allah. Alasannya? Pada masa perjuangan dan kerja keras dalam meraih kemenangan, sangat mungkin kita ternoda dengan perasaan negatif kita sendiri sebagai manusia. Misalnya pikiran bahwa Allah tidak menolong kita.

“biHAMDI ROBBIKA”

Pujilah Tuhanmu. Alhamdulillahi robbi. Sikap the real champion selanjutnya adalah memuji Allah. Pemenang tidak pernah memuji diri atau berbangga diri atas kemenangan yang diperoleh. Allah lah yang patut dipuji karena pertolongan itu datangnya dari Allah. Bahkan kesulitan dan kesengsaraan akan membuahkan pahala besar sehingga kita bisa mencapai derajat yang Allah inginkan! Alhamdulillah… Hanya pujian yang pantas bagi Allah di setiap keadaan.

“wa(-i-)STAGHFIR”

Memohon ampun. Astaghfirullah. Inilah amalan terbaik yang bisa dilakukan orang di penghujung masa hidupnya. Inilah amalan terbaik setelah seseorang melakukan kebaikan. Ternyata istighfar diperintahkan setelah kita selesai sholat, selesai haji, dll. Ini bukti bahwa istighfar adalah amalan setelah melakukannya amalan baik. Maksud Allah bahwa istighfar itu membuat kita mengakui bahwa apa yang kita lakukan ini bukan akhir dari kebaikan. “Aku yakin ini belum sempurna dan aku ingin istighfar agar aku bisa melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi.”

“innahuu kaana TAWWABAA”

Bertaubat. Setelah memohon ampun, pemenang sejati adalah seorang yang tidak mau mengulangi kesalahannya di masa lalu. Rasulullah mengibaratkan betapa senangnya Allah menerima taubat orang yang bertaubat itu seperti senangnya seorang ibu yang kehilangan anak yang disusuinya, lalu ia mencari bayinya, lalu bayangkan bagaimana perasaan ibu itu ketika menemukan kembali bayinya.

Keempat hal inilah sikap-sikap pemenang yang Allah ajarkan. Semoga kita mampu meneladaninya.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar 3x
Allahu Akbar Walillahi al-hamd

Setelah pemimpin bangsa ini terpilih, perjuangan baru terbentang. Bagaimana mewujudkan misi bangsa Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesi, mensejahterakan rakyat, dan mencerdaskan warga negaranya, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Itulah yang dimaksud menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta.

Saudara-saudaraku, kaum muslimin mari kita merapatkan barisan membangun bangsa ini. Masih banyak pekerjaan yang harus kita garap untuk memperbaiki negara yang kita cintai ini. Kita masih menghadapi sejumlah persoalan moral dan karakter. Maka persoalan moral bangsa ini tiada lain solusinya adalam mengembalikan pada tuntunanNya. Bukan dengan cara pendidikan karakter ala barat. Pendidikan karakter Islam adalah akhlakul karimah akhlak yang baik sebagaimana diajarkan Al Quran dan sejalan tuntunan dan teladan Nabi Muhammad.

Leave a Reply