Aktualisasi Grand Why Maksimalkan Bahagiamu

By February 6, 2019 Article

Banyak orang merasa bahagia dengan yang sedikit. Sementara banyak yang memiliki banyak uang, namun tidak bahagia. Ternyata jawabannya ada pada Grand Why. Mengapa bisa begini? Ternyata ini dijelaskan dalam ilmu psikologi lho. Ternyata ditemukan oleh Kasser & Ryan (1993) bahwa orang yang menempatkan prinsip kuat mengenai uang dan makna kekayaan biasanya juga memiliki hubungan yang baik dengan pasangan, memiliki pertumbuhan karakter yang baik, dan murah hati di masyarakat dimana ia hidup. Ketiga hal yang mendatangkan kebahagiaan tersebut, berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan psikologis dasar, yang membuat orang lebih mudah meraih kebahagiaan.

Sementara, hal yang sebaliknya akan terjadi bila seseorang menempatkan prioritas hidup pada materi untuk mencapai aktualisasi diri atau menemukan Grand Why. Tujuannya adalah untuk mencapai popularitas dan imej diri, saat ia tidak dapat memenuhi ketiga kebutuhan psikologis dasar diatas. Padahal, materi hanya dapat memenuhi sedikit dari kebutuhan psikologis seseorang, dan bahkan akan membuat seseorang terdistraksi dari fokus hidup utamanya yang seharusnya dapat memenuhi kebutuhan untuk bahagia tersebut.

Sejumlah penelitian mendukung model ini secara keseluruhan, dengan menunjukkan korelasi bahwa semakin seseorang fokus pada tujuan finansial dan materialistic, maka akan semakin rendah tingkat kebahagiaan mereka. Banyak penelitian yang membenarkan hipotesa ini bahkan ditemukan dalam sejumlah hasil penelitian di negara yang sangat maju seperti di Amerika dan di Jerman (Kasser & Ryan 1996, Schmuck et al 2000). Namun hanya sedikit hasil penelitian yang berkorelasi dengan hal ini, di negara yang masih berkembang seperti Rusia dan India (e.g. Ryan et al 1999)..

Baca Juga:  RSAB HARAPAN KITA GELAR TRAINING TRANSFORMASI BUDAYA KERJA BERSAMA ACT CONSULTING

Lebih jauh lagi, baik penelitian lintas ilmu (Ryan et al 1999) dan penelitian longitudinal (Sheldon & Kasser 1998), keduanya menghasilkan kesimpulan bahwa; Tujuan intrinsic meningkatkan kebahagiaan. Sementara tujuan ekstrinsik seperti uang, tidak meningkatkan kebahagiaan, atau bahkan cenderung mendatangkan hal yang tidak membahagiakan.

Sejumlah ahli menyampaikan berbagai fakta bahwa uang tidak relative dengan bahagia. Carver & Baird (1998) menemukan mereka yang menghubungkan antara uang dan kebahagiaan, telah mengalami kehilangan kemandirian yang berkaitan dengan tujuan hidupnya.

Bahkan, Ryff et al (1999) meneliti dampak dari kemiskinan terhadap kebahagiaan yang berasal dari aktualisasi diri. Ia menemukan bahwa status sosial ekonomi tinggi ternyata hanya mendatangkan kebahagiaan saat seseorang telah memiliki penerimaan diri (self acceptance) yang baik. Serta bagaimana orang tersebut dalam mengetahui tujuan hidupnya, dapat menguasai berbagai elemen hidupnya dan mampu mengembangkan diri dan karakternya. Sementara, kekurang-kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang tidak kaya hanya terjadi saat ia melakukan proses pembandingan sosial (social comparison), dimana orang yang lebih miskin membandingkan dirinya secara tidak positif dengan orang lain, dan merasa bahwa ia tidak memiliki keahlian dan sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai kekayaan.

See? Terlihat bahwa banyak pandangan yang salah tentang kekayaan. Kita tidak seharusnya memandang kekayaan sebagai suatu hal yang buruk. Bahkan kita harus memaksimalkan segenap potensi untuk dapat meraih aktualisasi dan menyibak tujuan besar mengapa kita diciptakan dan mengapa kita harus terus meraih cita-cita yang lebih tinggi. Dari penjelasan tentang kekayaan dan kebahagiaan diatas, kami harap, Anda dapat menemukan makna yang lebih mendalam tentang besarnya berkah yang anda miliki.  

Leave a Reply