Skip to main content
Category

Article

Manajemen di Era Turbulensi ( Bagian 1)

By Article No Comments

Momen ini ekonomi dunia dikatakan tengah berada dalam fase turbulensi, penuh badai, tidak pasti, dan tengah terjadi perlambatan ekonomi. Untuk itu, sebagai karyawan yang berada dalam sebuah bisnis, kita harus dapat melihat ulang posisi bisnis kita sendiri. 

Dalam buku dari Peter F Drucker, “Managing in Turbulence Time”, disebutkan bahwa setiap bisnis haruslah melakukan ulang hal ini;

– Periksa dengan cermat peluang apa yang diciptakan

– Lihat apakah ada perubahan dalam definisi misi yang ingin dikejar;

– Memperhatikan perubahan perilaku masyarakat dan pengaruhnya pada kegiatan ekonomi pada lapangan bisnis Anda. 

Dalam memandang dinamika bisnis, kita juga harus mencermati adakah bagian dari dinamika populasi yang masing-masing akan mewakili sejumlah perubahan besar dalam; 

– Lingkungan ekosistem target marketing masing-masing institusi,

– Lingkungan persaingan dalam ceruk sasaran produk atau layanannya,

– Sistem operasional serta sistem layanan dan pemasaran yang selama ini menentukan kinerja aliran pendapatan perusahaan 

– Bagaimana rancangan pengalaman yang dibangun untuk konsumen dalam sistem penjualan produk atau layanan 

Dalam kerangka bisnis dan sistem perusahaan kita harus melihat dalam kerangka berpikir yang lebih besar. Bahwa bahkan bisnis kecil pun di era internet ini harus memaksa diri untuk belajar berpikir dan beroperasi secara transnasional.

Menghadapi masa turbulensi maka yang harus dilakukan oleh perusahaan besar dan multinasional adalah dalam membentuk bisnis dalam ekosistem kolaboratif dalam bekerja dan terus melakukan upskilling dan reskilling. Bahwa bahkan bagi bisnis yang kelas dunia sekalipun harus kembali belajar berpikir dan berperilaku sangat berbeda.

Dalam pertimbangan krisis ekonomi yang bisa terjadi di negara mana saja, kita harus memiliki beberapa rencana cadangan. Hal ini karena krisis akan memaksa negara tersebut melakukan berbagai perubahan kebijakan. Perubahan yang akan membuat sekian perusahaan besar dan kecil dalam negara tersebut melakukan rencana dalam menyesuaikan diri atau dalam beradaptasi terhadap perubahan. 

Dalam usaha agar bisnis kita bisa tetap berjalan, berbagai usaha kecil maupun besar yang beroperasi dalam pasar lokal atau regional harus 

– Belajar mengatur produksinya secara transnasional dengan menyiapkan lebih dari satu jalur pasokan bahan baku

– Membuat dan menjalankan proses operasional dalam berbagai ragam jalur 

– Meragamkan berbagai sasaran dalam pemasaran dan penjualan 

– Mereview tahapan produksi dan bukan menjadikan satu proses “manufaktur” tetap terpusat

– Harus belajar membeli suku cadang dari berbagai wilayah dunia atau 

– Mempertimbangkan untuk memanfaatkan jalur produksi yang telah dimiliki untuk melakukan variasi hasil produk dengan membeli produk jadi dan menciptakan jalur pendapatan baru.

Peter F Drucker juga menegaskan bahwa perusahaan yang sudah menjalankan usaha dalam skala ekonomi global agar menghadapi turbulensi dengan melakukan revolusi dalam 3 hal ini dan membuat perubahan yang lebih menantang di dalam hal; 

  • Sikap (attitude); sikap terhadap persaingan, sikap terhadap pasar, sikap terhadap kompetitor, dan sikap terhadap karyawan dan sikap terhadap konsumen
  • Perilaku (behavior); mendesain ulang pemasaran dengan menciptakan jalur pengalaman konsumen yang loyal pada produk dan layanan dari perusahaan kita (costumer experience), melakukan redesain produk dengan flow design thinking, merombak ulang cara bersikap terhadap karyawan di era milenial, mendesain ulang perilaku pemasaran yang lebih empatik dan berdampak, dan lain sebagainya. 
  • Praktik (terapan); melakukan perombakan dalam penerapan eksekusi dari berbagai rencana yang telah dibuat untuk periode jangka pendek dan jangka panjang, melakukan pertimbangan lebih empatik dalam penerapan berbagai peraturan yang telah ditetapkan dunia usaha dan memenuhi serta bersifat comply pada berbagai aturan secara nasional ataupun tingkat global, 

Bagaimana Contingency Plan Perusahaan Anda Berkaitan Dengan 2019-nCoV?

By Article No Comments

Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO mengumumkan bahwa wabah virus Corona merupakan ancaman bagi dunia. Berdasarkan pada warning yang diresmikan secara global tersebut, sejumlah negara termasuk Indonesia melakukan beragam langkah untuk mencegah penyebaran virus 2019-nCoV tersebut di negara masing-masing. 

Di Indonesia, langkah yang dilakukan pemerintah antara lain adalah melakukan pembatasan impor hewan hidup, buah-buahan, ikan dan sejumlah bahan makanan seperti bawang putih, sejak awal Februari 2020. 

Pemerintah pun melakukan berbagai pencegahan dengan sejumlah langkah seperti melarang penerbangan dari dan ke semua provinsi di China mulai pada jam 00.00 di tanggal 5 Februari 2020. 

Untuk menyelamatkan warga Indonesia yang berada di wilayah Provinsi Hubei, di kota Wuhan, daerah yang menjadi pusat penyebaran virus Corona, pemerintah telah melakukan penerbangan penyelamatan untuk upaya evakuasi tersebut. 

Jumlah warga negara Indonesia yang berhasil dipulangkan 238 orang, dari 245 warga negara yang terdaftar tengah berada disana. 4 orang menolak di evakuasi atas kemauan sendiri, sementara 3 orang tidak lolos dari screening awal keberadaan virus Corona dalam tubuh mereka. 

Warga negara kita yang telah berhasil di evakuasi ini pun tengah masih menjalani masa karantina selama 14 hari untuk menentukan apakah mereka tertular Corona atau tidak, di pulau Natuna. 

Namun dunia bisnis di tanah air ternyata menyampaikan sejumlah kekhawatiran mereka. Diantaranya adalah para eksportir yang menyampaikan protes mereka karena khawatir pihak China akan membalas larangan impor yang ditetapkan pemerintah tersebut dengan pembatasan ekspor berbagai komoditas dari Indonesia ke negara tirai bambu tersebut. 

Kekhawatiran dunia pun makin meluas, saat mencermati bagaimana virus Corona menyebar bukan hanya di China, tapi juga hingga di negara lain seperti di Singapura. Hingga pada hari ini (2/10/2020) pemerintah menaikkan status siaga Corona di Singapura menjadi siaga kuning. 

Bagaimana pengaruh virus Corona pada kondisi ekonomi global dibahas oleh berbagai media utama dunia. Juga oleh lembaga ekonomi dunia seperti World Economic Forum. Kondisi ekonomi di negara kita termasuk yang tidak banyak terpengaruh oleh virus Corona dan perdagangan yang terganggu karenanya. 

Namun sejumlah negara lain seperti Korea, Jepang, Eropa dan Amerika, ternyata amat terpukul.  Hal ini karena negara-negara tersebut mengandalkan fasilitas produksi mereka, tersebar di berbagai propinsi di China. 

Honda misalnya, memiliki 3 pabrik di Wuhan saja. Toyota, General Motors, dan Volkswagen yang semuanya memiliki fasilitas produksi di China pun menghentikan produksi mereka. Tak hanya bisnis otomotif yang terganggu, produksi pesawat yang dilakukan Airbus di Tianjin pun dihentikan. Hal ini berkaitan dengan pembatasan travel yang dilakukan dari Uni Eropa ke China. 

Begitu juga dengan berbagai merk otomotif mewah dunia seperti Jaguar, Aston Martin, Land Rover. Serta berbagai merk ternama dunia seperti Burberry, H&M, Hugo Boss, Adidas, Gap yang memiliki fasilitas manufaktur fashionnya di berbagai provinsi yang tersebar di China. 

Beragam bisnis milik Amerika dan Inggris yang berjalan di China pun terganggu karena fasilitas produksi mereka harus ditutup berkenaan dengan kekhawatiran merebaknya wabah virus Corona ini. Starbucks dengan ribuan café mereka yang tersebar di China terpaksa ditutup. 

Demikian juga dengan toko furniture milik Denmark, Ikea yang terpaksa ditutup di seluruh China. McDonalds pun menutup hingga tigaratus lebih restoran dan 10% jaringan katornya yang tersebar di berbagai provinsi di China. 

Demikian pula dengan dua taman bermain Disney di China yang mengalami penutupan di momen yang seharusnya menjadi saat kunjungan tertinggi pada tahun ini. Kerugian yang dilaporkan oleh the guardian mencapai 280 juta dollar amerika hanya untuk Disney saja. 

Apabila kekhawatiran dunia meluas hingga ke Singapura, bukan hanya fashion dan otomotif yang mungkin terpengaruh. Hal ini karena Singapura merupakan pusat bisnis di Asia dan berbagai negara meletakkan server utama mereka di negara tersebut.  Apabila travel warning juga diberlakukan untuk Singapura, apa yang mungkin akan terjadi? 

Apakah para pemilik bisnis yang memiliki fasilitas produksi di China akan bisa melakukan switching facility dengan cepat? Berbagai perusahaan, institusi dan lembaga yang ada di tanah air seharusnya pada saat ini telah membuat dan menyusun contingency plan dan berbagai back up plan berkaitan dengan resiko yang mungkin timbul karena sebaran virus Corona ini. 

Bagaimana kemungkinan sejumlah bisnis dunia bisa mempertimbangkan Indonesia sebagai sasaran investasi mereka untuk switching production facility? Terutama mengingat bahwa banyak dari perusahaan fashion dunia sebelumnya memiliki sejarah produksi di tanah air. Hal ini karena penurunan aktivitas ekonomi akibat virus Corona juga membuka kembali banyak peluang bagi industri di tanah air yang semula sempat kalah bersaing karena persaingan tidak sehat akibat harga rendah yang diciptakan oleh China dengan membayar murah buruh mereka. 

Ancaman Disrupsi Dari Makin Luasnya Penggunaan Drone

By Article No Comments

Penggunaan suatu teknologi bisa berakibat positif atau negatif. Semua tergantung pada penggunanya. Kebanyakan hasil teknologi berupa alat atau sistem yang dapat dioptimalkan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, masalah yang ada adalah pada bagaimana cara kita untuk mengoptimalkan teknologi yang dimiliki tersebut. 

Penemuan pesawat terbang nir awak atau drone, disambut oleh banyak orang sebagai hal yang brilyan.  Dengan melakukan banyak penyesuaian, drone yang semula mirip mainan anak-anak, bisa melakukan banyak tugas. 

Dengan pemasangan kamera dan gps tracker misalnya, dan dengan optimalisasi fitur yang ada, drone ternyata dapat memiliki banyak kegunaan. Dengan optimalisasi bahan bakar yang digunakan, kemudian banyak tercipta drone yang dapat melakukan penerbangan jarak jauh. Drone kemudian dimodifikasi juga menjadi dapat membawa beban dengan muatan dan ukuran tertentu. Pihak militer bahkan menjadikan drone untuk berbagai fungsi strategis, pertahanan, bahkan untuk melakukan tindakan tertentu.  

Namun pengembangan drone lebih jauh ternyata dianggap dapat mendisrupsi sejumlah lahan pekerjaan. Pekerjaan pilot helikopter dan kameramen panorama misalnya, kini dapat digantikan dengan drone yang memiliki kamera. Untuk pengiriman barang (shipping) pun, drone kini dianggap lebih cepat karena bisa terbang melalui kemacetan, tidak seperti pengiriman via kendaraan darat. 

Sejak beberapa tahun ini, Drone pun kini dapat menjadi penolong menyelamatkan nyawa. Seperti yang telah dilakukan di pedesaan Rwanda. Drone digunakan untuk mengirimkan obat-obatan, kantung darah untuk operasi, dan keperluan lainnya. 

Semula, masalah kesehatan kritis amat ditakuti di Rwanda. Hal ini karena banyak perkampungan di negara tersebut yang belum memiliki infrastruktur yang mendukung dalam hal transportasi. Dahulu, pasien harus melalui perjalanan melewati kawasan yang sulit sebelum akhirnya bisa sampai di rumah sakit.

Di Rwanda dulu kala misalnya, banyak juga terjadi, para dokter harus mendatangi pasien di tempat-tempat terpencil untuk dapat menyembuhkan berbagai penyakit dengan diagnosa langsung. Saat dahulu, keterbatasan obat yang dimiliki oleh dokter keliling tersebut pun masih menjadi masalah.

Namun dengan bantuan drone tersebut, proses pengiriman obat bisa dilakukan tanpa harus mengandalkan kendaraan, dan dengan waktu yang sangat cepat. Para pasien di salah satu kota yang mengalami situasi kritis karena kekurangan jumlah pasokan kantong darah pun, kini bisa ditolong dengan bantuan peran drone. 

Sejumlah negara seperti Jepang pun menempatkan drone dalam pengembangan society 5.0. Melalui drone, banyak hal krusial yang dapat dikirimkan dengan lebih cepat dan aman. Sejumlah negara Asia pun banyak melakukan pengembangan usaha dengan bantuan pesawat terbang nir-awak ini. Singapura sebagai negara dengan ukuran luas wilayah yang kecil saja, memiliki sejumlah perusahaan jasa drone. 

Indonesia pun telah memiliki asosiasi pilot drone (APDI). Sejak tahun 2018 pun di kawasan Sentul, Bogor telah berdiri pabrik drone pertama di negeri ini. pembuatan pabrik ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal yang semula banyak melakukan ekspor drone dari Eropa dan China. 

Penggunaan teknologi terbaru, akan makin luas dilakukan di masyarakat. Sejumlah usaha yang berkaitan dengan pengiriman misalnya, dianggap akan terdisrupsi dengan keberadaan drone, bila tidak beradaptasi. 

Flying Health Incubator Ekosistem Kolaboratif Pengembangan Inovasi Medis Digital Ala Jerman

By Article No Comments

Pengembangan dan inovasi medis berjalan di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat, Stanford memiliki Stanford Biodesign dan Stanford Digital Health. Lembaga ini bekerjasama juga dengan Jepang dengan program Japan Biodesign dan Japan Digital Health, serta ada juga program 500 startups Japan serta program lainnya. 

Namun Jerman  yang memiliki sejarah para peraih hadiah Nobel, tidak berdiam diri. Negara ini juga telah mengadakan kerjasama dengan Stanford Biodesign diantaranya dengan Hasso Plattnerr Institute (HPI). Lebih jauh lagi, pemerintah Jerman membuka ekosistem inovatif dengan mengadakan berbagai perlombaan inovasi. Dalam prosesnya, sejumlah professor dari Harvard dan dari berbagai belahan dunia lainnya juga ikut terlibat.

Berdiri pada tahun 2016, Flying Health Incubator telah menjadi ekosistem inovasi di Jerman yang berkontribusi dalam pengembangan inovasi kesehatan digital. The Flying Health Incubator berfungsi sebagai laboratorium nyata digital di mana teknologi inovatif, layanan digital, dan model bisnis baru dikembangkan secara praktis, divalidasi dalam proyek percontohan dan dibawa ke pasar.

Dengan bekerja bersama Teva, Flying Health Incubator memperkuat kolaborasinya dengan industri farmasi dengan fokus pada obat generik.  Dagmar Siebert, Kepala Transformasi Bisnis Strategis di Teva menjelaskan bahwa Digitalisasi yang disediakan dalam ekosistem Flying Health Incubator menawarkan peluang untuk merancang proses perawatan kesehatan pasien secara komprehensif dalam parameter baru. 

Contoh parameter baru yang lebih baik ini memungkinkan dunia medis untuk meningkatkan kualitas dalam hal keamanan pasokan dan terapi, serta informasi individual untuk semua orang yang terlibat dalam perawatan kesehatan, untuk dokter dan klinik, apoteker, perusahaan asuransi kesehatan dan terutama untuk pasien.

Tak hanya dengan produsen obat, Flying Health Incubator juga bekerjasama dengan industri percetakan dan media yaitu dengan Thieme Group. Flying Health Incubator memperluas jaringan mitranya di bidang informasi medis. 

Erwin Selg, Anggota Dewan Eksekutif Thieme Group menekankan bahwa bersama Flying Health Incubator, Thieme berkontribusi dengan menambah ekspansi portofolio solusi digital dengan berbagai startup yang ada di dalamnya. Adanya komunitas peneliti, media, produsen, startup dan pemerintah Jerman ini menjadi faktor penentu bagi kemajuan dalam layanan kesehatan dengan The Flying Health Incubator menyediakan berbagai platform informatika. 

Mitra lainnya adalah pemilik merk besar dunia, Siemens Healthineers.  Dengan Siemens, Flying Health Incubator memiliki fokus kolaborasi ini untuk mengembangkan layanan digital yang berpusat pada pasien serta solusi untuk penyedia layanan kesehatan dengan berbagai temuan yang akan disebarkan ke  berbagai wilayah di dunia. 

Stefan Pflaum, Wakil Presiden Senior dan Kepala solusi global eHealth di Siemens Healthineers menyatakan bahwa sebagai perusahaan dengan inovasi tingkat tinggi dalam kecerdasan buatan, Siemens ingin menciptakan suatu sistem pemrosesan informasi dalam sebuah platform yang didasarkan pada standar terbuka, yang menghubungkan penyedia layanan dengan pasien, asuransi, dan aktor lain dalam sistem perawatan kesehatan. 

Flying Health Incubator yang berbasis di Berlin ini bekerja bersama dengan para startup dan mitra dari industri perawatan kesehatan untuk mengembangkan aplikasi dan produk di bidang kedokteran digital.  Diantaranya dengan Servier Germany, Flying Health ingin memperkuat industri farmasi, terutama di bidang onkologi, penyakit kardiovaskular, dan psikiatri. 

Perusahaan portofolio Flying Health termasuk, misalnya, perusahaan rintisan Wina mySugr, yang dibeli oleh raksasa farmasi Roche dengan aplikasi diabetesnya pada tahun 2017 atau pendiri aplikasi M-Sense dari Start-up Newsenselab. 

Aplikasi ini terdiri dari buku harian digital, di mana pasien mencatat kapan, seberapa sering dan seberapa parah sakit kepala terjadi, dan terapi aplikasi (M-Sense aktif), yang menawarkan pendekatan terapeutik seperti relaksasi otot progresif, pelatihan autogenik dan meditasi pernapasan. Proyek Charité Berlin saat ini sedang meneliti apakah aplikasi M-sense tersebut dapat mengurangi frekuensi serangan migrain. 

Mengenal Covestro Penemu Cardyon® Serat Plastik Dari CO2 Untuk Produk Sehari-hari

By Article No Comments

Upaya menjaga kelestarian planet bumi membutuhkan berbagai inovasi untuk menggantikan sejumlah produk berbahan dasar minyak bumi ke sumber bahan baku lain yang lebih sustainabel dan tersedia secara murah. 

Sebelumnya kita telah mengenal startup Jepang dari Kyoto yang telah memproduksi PCP (Porous Carbon Polymer) yang dapat menyaring CO2 menjadi gas yang tidak berbahaya. Namun ternyata ada perusahaan yang telah mampu menjadikan CO2 sebagai bahan baku untuk berbagai produk sehari-hari seperti. Perusahaan ini membuat serat plastic dengan bahan 20%nya terdiri dari karbon dioksida. 

Bahkan karena mengandung unsur CO2, bahan baku serat plastic inovatif yang dinamakan cardyon ini memiliki sifat lebih fleksibel dan lebih kuat dibanding yang berbahan dasar minyak bumi. Dua proyek penelitian Covestro telah berhasil membuat serat tekstil elastis yang mengandung CO2 dan sebagian menggantikan minyak mentah sebagai bahan baku. 

Covestro juga bekerjasama dengan peneliti dari berbagai universitas dan berbagai produsen tekstil untuk mengembangkan proses produksi pada skala industri dan bertujuan untuk membuat serat inovatif yang dapat dikonsumsi secara luas oleh pasar global. 

Cardyon dibuat dengan teknik yang disebut spinning melt, di mana TPU (thermoplastic poly urethane – sejenis polimer) dilebur, ditekan menjadi benang yang sangat halus dan akhirnya diproses menjadi benang dari serat tanpa akhir. Tidak seperti pemintalan kering, yang digunakan untuk menghasilkan serat sintetis elastis konvensional, pemintalan leleh menghilangkan kebutuhan untuk pelarut yang berbahaya bagi lingkungan. 

Metode kimia baru memungkinkan karbon dioksida untuk dimasukkan dalam bahan dasar serat. Dengan CO2 sebagai bahan baku alternatif, proses pemintalan (weaving) menjadi bebas pelarut dan jejak CO2 yang mungkin lebih rendah, bahan yang mengandung CO2 dapat menjadi alternatif berkelanjutan untuk serat elastis konvensional dalam waktu dekat. 

Serat TPU yang mengandung CO2 dapat digunakan dalam kain tekstil. Covestro telah menguji serat dan mengolahnya menjadi benang, kaus kaki, tabung kompresi dan kaset. Hal ini menjadi mungkin karena sifat Cardyon® sebagai bahan baku inovatif untuk produksi busa poliuretan fleksibel berkualitas tinggi. 

Karbon dioksida menjadi komposisi dalam Cardyon hingga 20%. Karena CO2 merupakan bahan baku yang berlimpah dan tersedia secara gratis bagai bahan baku kimia. Cardyon® menjadi inovasi terobosan yang memungkinkan perusahaan pengguna polimer plastic berbahan minyak untuk melihat bahan baku alternatif dan lebih berkelanjutan sambil mengurangi ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil. 

Karbon dioksida yang semula hanya menjadi gas limbah industri, kini bisa digunakan sebagai bahan baku bahan baku baru dan berguna. Temuan ini memperluas basis bahan bakunya di luar hidrokarbon fosil dan bahan baku berbasis bio dengan membawa CO2 kembali ke rantai nilai (value chain) dan membantu menutup lingkaran karbon (carbon cycle). 

Megakaryon Startup Medis Regeneratif Jepang Untuk Mengatasi Krisis Donor Darah

By Article No Comments

Karena banyak rumah sakit kekurangan donor darah, kehidupan jutaan orang terancam setiap tahun, menurut WHO. Di banyak negara maju, tingkat kelahiran termasuk rendah dan populasi makin menua hingga jumlah pendonor potensial menyusut dengan cepat. 

Kondisi ini merupakan tantangan serius bagi sistem perawatan kesehatan. Sementara di negara-negara berkembang semakin banyak produk darah tidak aman. Salah satu solusi yang menjanjikan adalah teknologi transformatif yang telah berhasil dikembangkan di Jepang. Teknologi yang dihasilkan Jepang ini bisa mengatasi kebutuhan global akan produk darah vital: trombosit.

Trombosit, juga dikenal sebagai sel darah merah, adalah komponen darah yang penting karena menghentikan pendarahan dengan membekukan luka pada pembuluh darah. Trombosit sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang menderita cedera traumatis atau kanker. 

Menurut Palang Merah Amerika, di Amerika Serikat seseorang membutuhkan trombosit setiap 30 detik. Permintaan besar ini diperparah oleh fakta bahwa sekali diekstraksi dari donor, trombosit harus digunakan dalam waktu empat hingga lima hari, dan oleh karena itu donor baru selalu dibutuhkan. Selain itu, donasi trombosit memakan waktu hingga tiga jam dan golongan darah trombosit juga harus dicocokkan dengan penerima.

Pada 2012, ilmuwan riset Jepang Shinya Yamanaka memenangkan Hadiah Nobel dalam Fisiologi dan Kedokteran. Hadiah Nobel ini didapat karena menemukan bahwa sel dewasa dapat diprogram ulang menjadi sel induk, yang berpotensi menjadi semua jenis sel dalam tubuh. 

Terobosan ini membuka bidang baru pengobatan regeneratif di Jepang dan negara-negara lain, dan memberikan harapan yang tinggi bahwa pasien yang menderita penyakit kronis akan mendapat manfaat dari transplantasi berdasarkan apa yang disebut sel punca berpotensi majemuk (induced pluripotent stem cells), atau sel iPS. Sel iPS berasal dari fibroblas kulit manusia dewasa, 

Salah satu startup medis Jepang bernama Megakaryon menggunakan teknologi ini untuk membawa produk darah baru ke dunia. Megakaryon adalah perusahaan unik karena merupakan gagasan dari dua universitas dan pemerintah sebagai pemegang saham utama. 

Pada 2017, Megakaryon telah mengembangkan metode produksi massal trombosit pertama di dunia berdasarkan sel iPS. Proses ini melibatkan penggunaan sel induk yang dibuat melalui iPS untuk membuat bank sel induk. Setelah ditetapkan, dapat disimpan dengan didinginkan (cryopreserved) dan ditumbuhkan untuk menghasilkan jumlah sel trombosit yang tidak terbatas. 

Dalam proses iPS ini hanya beberapa donor yang dibutuhkan, dibandingkan dengan jutaan donor yang diperlukan untuk mempertahankan sistem donor darah saat ini.

Trombosit  atau sel darah merah adalah bahan baku pembentuk berbagai sel tubuh. Hingga Genjiro Miwa menyebutnya sebagai “infrastruktur untuk semua perawatan medis”.  Genjiro Miwa adalah Co-founder dan CEO Megakaryon. “Trombosit bukan hanya diperlukan dalam penyembuhan satu penyakit saja, bukan untuk penyakit tunggal. Kita perlu trombosit jika cedera parah dan juga untuk mengatasi efek samping dari perawatan kanker. Untuk tubuh kita, trombosit sama pentingnya seperti listrik atau air untuk rumah.

Genjiro Miwa, berharap dapat mengkomersialkan produk trombosit dari iPS ini agar dapat membantu mengurangi kekurangan produk darah vital.

“Negara dengan sistem kesehatan yang bergantung pada donor, kini masih terancam oleh demografi dan kesenjangan usia menjadi target pertama. Tetapi peluang sebenarnya adalah negara-negara seperti India, Cina dan Rusia serta Asia Tenggara. Di India, setengah dari trombosit berasal dari sumber pasokan legal dan setengah dari pasar gelap. Sel-sel iPS bisa menjadi solusi mendasar untuk masalah ini. “

Ada beberapa alasan mengapa Jepang adalah tempat komersialisasi produk darah pertama di dunia menggunakan teknologi sel iPS. 

Pertama, charisma Yamanaka sebagai peraih hadiah nobel, dan reputasinya dalam pengobatan regeneratif memperoleh dukungan publik yang sangat besar di Jepang. Di negara ini ada kolaborasi universitas dan kalangan peneliti dengan industri dan dukungan kuat dari pemerintah. 

Megakaryon adalah contoh utama ekosistem kolaboratif baru ini, yang dengan cepat mendapat dukungan dari lembaga pendanaan pemerintah, dari Innovation Network Corporation Jepang, dan telah dibentuk konsorsium 15 perusahaan untuk mengkomersialkan teknologi temuan ini.

Kedua, pemerintah Jepang menetapkan penelitian tentang obat regeneratif iPS sebagai bidang pengembangan prioritas. Di Jepang terdapat Strategi Lima Tahun Inovasi Medis. Program ini menjadi langkah pemerintah yang strategis dalam bidang kesehatan dan medis. 

Jepang memiliki tujuan untuk menjadi negara dengan perawatan medis regeneratif paling canggih di dunia. Megakaryon akan melakukan uji klinis di Amerika Serikat dan Jepang dan bertujuan untuk komersialisasi pada tahun 2020. 

Pemegang Saham mendukung startup karena metode Megakaryon didasarkan pada lisensi eksklusif untuk teknik produksi trombosit yang dikembangkan oleh Koji Eto, seorang profesor di Pusat Penelitian dan Aplikasi iPS Sel Universitas Kyoto, dan Hiromitsu Nakauchi, Profesor Proyek, Divisi Terapi Sel Punca, The Universitas Tokyo. Bersama George Daley, Dekan Fakultas Kedokteran Harvard, Nakauchi dan Eto adalah beberapa penasihat ilmiah Megakaryon.

Megakaryon telah mendapat manfaat dari bentuk lain dari dukungan pemerintah. Badan Farmasi dan Alat Kesehatan (PMDA), yang didirikan pada tahun 2004, bertanggung jawab untuk memastikan kualitas  dan keamanan obat-obatan dan alat kesehatan, dari uji pra-klinis hingga persetujuan.  

PMDA memainkan peran penting dalam penciptaan obat inovatif, peralatan medis, dan produk medis regeneratif yang berasal dari Jepang, terutama dari universitas, lembaga penelitian dan perusahaan ventura. 

Sementara Megakaryon sedang mencoba sesuatu yang sama sekali baru dalam hal mendapatkan persetujuan untuk teknik kedokteran regeneratif, PMDA memberikan bimbingan dan saran perusahaan, dengan memberitahukan jenis data apa yang diperlukan untuk berbagai aplikasi.

“Saya merasa bahwa pemerintah serius mendorong obat regeneratif ke depan,” kata Miwa. “Misi PMDA adalah keselamatan pasien, dan telah aktif secara adil dan kooperatif dengan kami.”

Miwa berharap bahwa perusahaan akan dapat berinovasi lebih lanjut tekniknya sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan trombosit universal, yang tidak akan terkait dengan golongan darah dan kompatibel dengan pasien mana pun, di mana pun di dunia.

Perlunya Langkah Kolaboratif Industri Medis Dunia Untuk Mencegah Perluasan Wabah Virus Global

By Article No Comments

Dalam acara World Economic Forum hari ke 2 di tanggal 22 Januari 2020, para ahli kesehatan dari seluruh dunia mendiskusikan sejumlah topik berkenaan dengan beragam langkah yang akan dilakukan secara kolaboratif dalam dunia kesehatan global berkenaan dengan Global Risk Report 2020 yang telah dipaparkan seminggu sebelum acara tahunan yang mengumpulkan para ekonom dunia di Davos tersebut. 

Tiga orang ahli yang berdiskusi dalam acara tersebut adalah Prof Heidi Larson, antropolog yang memimpin The Vaccine Confidence Project dan Professor di Departemen Kesehatan Global di University of Washington; Richard J. Hatchett, MD, Dokter dan CEO of the Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI); Prof Lars Rebien Sørensen, Komisaris Novo Nordisk Foundation dan Professor di School of Life Sciences Universitas Copenhagen, Denmark. Kirsten Salyer, Bagian Public Engagement dalam World Economic Forum. Sebelumnya Salyer telah menulis paparan mengenai perlunya Sistem Penyaringan Sintesis DNA Global untuk Mengatasi Teror Bioteknologi (Global DNA Synthesis Screening System to Counter Biotech Terror). 

Hatchett menyebutkan bahwa pada tahun 2015, Korea Selatan menghadapi kerugian lebih dari 10 milyar dollar akibat merebaknya virus MERS. Saat itu terdapat 186 kasus MERS yang menyebabkan meninggalnya 36 orang meninggal. Saat itu terjadi disrupsi dalam sektor ekonomi di Korea Selatan. Saat dihitung, terdapat kerugian sebanyak lebih dari 50 juta dolar per kasus, demikian seru Hatchett. Besarnya angka tersebut seharusnya menggugah lebih banyak pihak di berbagai pemerintahan di masing-masing negara di dunia. 

Masalah kesehatan dunia bukanlah suatu hal yang dapat dipastikan atau dapat diprediksi, jelas Hatchett. Sebagai satu-satunya dokter medis yang duduk dalam diskusi tersebut, Hatchett menginginkan agar dibentuk langkah bersama dari industri medis, pemerintahan, dan lembaga global.  Ia menegaskan bahwa harus terdapat suatu sistem untuk melakukan penghitungan resiko medis global ini. karena selama ini hanya tindakan kuratif yang bisa dilakukan saat terjadinya virus outbreak, jelas Hatchett lagi. 

Hatchet menginginkan agar di momen ini semua pihak yang memiliki otoritas untuk melakukan langkah terkait dalam masalah penyebaran virus global ini dapat saling terlibat secara erat. Langkah yang harus dilakukan bersama-sama dan untuk mencegah perluasan wabah virus (virus outbreak).

Hatchett menyebut bahwa langkah ini amat penting dan harus diperlakukan dengan setara selayaknya upaya dunia dalam mencegah masalah keamanan siber (cyber security). Dimana saat ini, para ahli keamanan siber telah membuat langkah bersama untuk saling komunikatif dan kolaboratif dalam mencegah adanya peretasan global berikutnya. 

Hatchet juga menyebutkan bahwa harus ada perangkat persiapan medis di masing-masing daerah di tiap negara. Karena masalah wabah virus ini sangat tidak dapat dipastikan.  Richard Hatchett pun menjelaskan bahwa ada aspek lingkungan yang berkaitan erat dengan masalah ini. bahwa para ahli harus mengatur resiko dengan perspektif aktuarial untuk melihat besaran angka asuransi yang menjadi resiko, yang tentunya sangat besar nilainya. Hal ini agar pemerintah menjadi lebih waspada dan tidak lengah dalam mempersiapkan perangkat medis untuk mengatasi situasi darurat akibat wabah virus ini. 

Heidi Larson pun menambahkan bahwa para ahli dari seluruh dunia harus menyadari bahwa masalah kesehatan ini bukan hanya tanggung jawab industri medis. Karena dalam upaya penanganan wadah global ini, terdapat aspek keamanan di tingkat global dan di masing-masing daerah di dalam negara. Seperti yang ia tangani saat terdapat wabah di Pakistan, Afrika, dan daerah lainnya. 

Larson pun mengatakan bahwa saat ini secara umum di dunia telah ada prosedur penyelamatan untuk kasus seperti kebakaran atau gempa bumi. Tapi belum ada prosedur yang dapat diterapkan secara umum di seluruh dunia untuk masalah wabah virus ini. Untuk itu prosedur semacam ini harus dirancang dan disosialisasikan ke seluruh dunia, dengan dukungan masing-masing pemerintah.  

Sementara, Sorensen sebagai wakil dari industri medis menyatakan bahwa wabah virus umumnya terjadi karena mutasi genetika pada virus yang semula menyerang hewan, yang kini menyerang manusia dan menjadi tidak tersembuhkan. Hal ini karena virus outbreak tersebut tidak dapat diduga dan tidak dapat diramalkan sebelumnya. Untuk itu, kata Sorensen lagi, pihak industri farmasi dan produsen peralatan medis bisa mengambil langkah maju lebih dulu. 

Sorensen mengatakan seperti itu karena, wabah virus atau virus outbreak bukanlah tanggung jawab  industri medis. Namun, industri kesehatan dan produsen peralatan kesehatan memiliki pengetahuan, kebijaksanaan, teknologi, dan kemampuan manufaktur yang diperlukan untuk dapat lebih maju selangkah sebelum suatu wabah virus menyebar secara luas. Hal ini dapat dilakukan dengan memperhitungkan resiko berulangnya wabah virus (recurrent risk). 

Ditambahkan lagi oleh Hatchett bahwa perulangan wabah virus ini terjadi dalam kurun waktu tertentu, sekitar 3 tahun atau 5 tahun. Untuk itu, perlu disiapkan bersama suatu perangkat penghitungan resiko medis definitif (new definitive medical counter measure) dari berbagai negara secara kolaboratif. 

Lima Unicorn Empatik dan Kreatif dari Indonesia Untuk Dunia

By Article No Comments

Go-Jek $10.0 Supply chain, logistics, & delivery Formation Group, Sequoia Capital India, Warburg Pincus
Tokopedia $7.0 E-commerce & direct-to-consumer SoftBankGroup, Alibaba Group, Sequoia Capital India
OVO $2.9 Fintech Grab, Tokopedia, Tokyo Century Corporation
Bukalapak $2.5 E-commerce & direct-to-consumer 500 Startups, Batavia Incubator, Emtek Group
Traveloka $2.0 Travel Global Founders Capital, East Ventures, Expedia Inc.

Kreativitas akan menjadikan suatu bisnis menjadi lestari, sementara langkah empatik akan selalu mampu membuka hati masyarakat dunia yang lebih luas. Setidaknya, itulah yang terlihat dari kemunculan lima kuda tempur ajaib dari ranah teknologi informatika dari Indonesia yang makin bergerak menembus berbagai penghalang tembok kapitalitasi global. 

Saat ini posisi nomor satu decacorn teratas memang masih diduduki oleh bytedance dengan salah satu aplikasinya TikTok yang bergerak dalam ranah hiburan. Namun kelima kuda tempur ajaib dari Indonesia memiliki kelebihan yang tak terbantahkan. Bahwa kelimanya memiliki model bisnis social entrepreneurship yang kental. 

Dalam model bisnis social entrepreneur ini, para pengusaha mengutamakan upaya untuk memberikan pertolongan sosial tanpa memandang pada keuntungan apa yang bisa dipetik. Keuntungan kemudian baru muncul setelah masyarakat mengetahui dan menyadari bahwa aplikasi yang disediakan tersebut mampu menolong hidup mereka dan memberdayakan mereka hingga bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik dari keterhubungan yang disediakan dalam aplikasi tersebut. 

Tanpa berusaha untuk menonjolkan salah satu diatas yang lain, masing-masing aplikasi kreatif dan empatik karya anak bangsa ini, memiliki nilai kepedulian yang kental. Berangkat dari kepedulian untuk mengangkat sesama dari jurang kemiskinan. Untuk menghasilkan keterhubungan antara konsumen dari produk dan jasa yang dibutuhkan secara luas, dan menghasilkan putaran ekonomi yang tinggi dari itu. 

Kelima aplikasi informatika ini memiliki fitur komunikatif, detail dan mudah dalam tampilan sederhana yang interaktif dan memudahkan konsumen dalam mengakses berbagai jasa yang dibutuhkan dan menjadi penolong di saat-saat yang kritis. Bahkan istimewanya lagi, kelimanya memiliki prinsip yang tinggi, dan nilai daya guna yang juga tinggi. 

Model bisnis social entrepreneurship ini dapat membesar setelah masyarakat bisnis tergugah dan menjadi tertolong dengan aplikasi ini. Lalu dunia usaha secara luas kemudian menyadari besarnya dampak yang dapat dihasilkan tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi. 

Untuk itu, nilai sosial entrepreneurship yang tumbuh itu kemudian mendapatkan bantuan dari berbagai perusahaan permodalan yang kemudian menggelontorkan bantuan dalam jumlah milyaran rupiah hingga milyaran dollar besarnya. 

Namun sayangnya, model bisnis yang dimiliki oleh suatu pemilik usaha tersebut dapat menjadi boomerang yang menyakitkan. Untuk itulah, para pemodal selain juga memberikan bantuan keuangan, mereka pun ingin ikut membesar bersama aplikasi yang diserap secara tinggi karena dibutuhkan oleh publik tersebut.  

Simbiosa bisnis yang dihasilkan pun menggurita dan meraksasa, setelah pihak pendana pun memberikan saran dan syarat bisnis yang ketat. Para pendiri dan pemilik perusahaan kuda tempur ajaib ini pun dipilih dengan hati-hati oleh para pendana. Mereka melihat pada sisi kepribadian dari pemilik usaha, apa visi dan apa tujuan mulia yang ia inginkan. Karena pada akhirnya mereka hanya bisa berinvestasi para orang yang mereka percayai, pada orang yang tujuan mulianya ingin ia dukung. 

Para pendana juga melihat model bisnis, ceruk pasar yang dipilih, dan kejelian para founder ini dalam menyusun rencana bisnis, perbaikan model bisnis, dan pemilihan momen cohort dalam teknik marketing yang dipilih. Hingga kita kemudian mendengar sejumlah cerita tentang keberhasilan strategi marketing yang menciptakan sendiri momen monumentalnya. 

Bahwa detail cohort yang dipilih ditentukan bukan hanya dengan hitungan matematika ekonomi saja, tapi juga dari penjagaan nilai prinsip apa yang ingin ditegakkan para founder dalam langkah-langkah ekspansif mereka.  Mereka juga melihat pada strategi budaya seperti apa yang dipilih untuk ditumbuh kembangkan dalam perusahaan. Karena pada akhirnya para penghuni dan pengembang di dalam kuda tempur tersebut yang akan meneruskan atau menghancurkan langkahnya. 

Sebagai masyarakat yang berjumlah besar, Indonesia memiliki kekuatan ekonomi yang tidak bisa diremehkan. Namun disini kita harus menyadari bahwa anak bangsa memiliki banyak keunggulan, dengan daya empati dan kreativitas kita. Kita juga harus mulai terus menggeliat agar tidak hanya menjadi pasar tapi bangkit menjadi pelaku bisnis yang mampu bermain di tingkat regional. Bahwa visi mulia yang dimiliki para founder tersebut juga dibutuhkan oleh masyarakat luas di negara lain yang membutuhkan layanan aplikasi buatan anak bangsa tersebut.  Hayuk Going Global Bersama ACT Consulting!  

Empati-dan-Kreativitas-Sebagai-Kunci-dalam-Inisiatif-Reskilling-dan-Upskilling-Sumber-Daya-Manusia

Empati dan Kreativitas Sebagai Kunci dalam Inisiatif Reskilling dan Upskilling Sumber Daya Manusia

By Article No Comments

Sejumlah perusahaan asing yang berinvestasi di negeri kita hengkang dan meninggalkan belasan ribu pekerja yang menjadi pengangguran. Elektrifikasi kendaraan telah mengubah wajah industri otomotif dunia. Resesi ekonomi tengah mewabah ke berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara produsen sparepart otomotif berbahan bakar minyak. 

Di Jerman saja, sejumlah kota yang memiliki pabrik penghasil komponen otomotif seperti pabrik penghasil komponen inti dalam fuel pump di mesin bensin misalnya, kini pun harus menghadapi penutupan pabrik. Lalu apa yang harus dilakukan untuk para pengangguran baru ini? lalu bagaimana dengan seluruh pengangguran lainnya? Bahkan apa yang harus dilakukan untuk mereka yang masih bekerja? 

Tenaga manusia kini makin banyak digantikan oleh robot. Bahkan sebagian kemampuan otak manusia pun bisa ditiru dan kecerdasan buatan makin lazim digunakan untuk menjadi perpanjangan tangan manusia dalam melakukan kemampuan komputasi, prediksi, dan analisa tingkat tinggi. 

Kemampuan komputasi robot, kemampuan kapturasi visual sub atomik, kemampuan robotika dalam meniru struktur molecular dengan teknologi nano, kesemuanya memang bukan serangkaian hal yang mampu dilakukan oleh manusia. 

Namun, tidak ada yang mampu meniru kemampuan orisinalitas manusia dalam hal yang bersifat imajinatif, proses kreatif, kemampuan untuk menghasilkan karya yang diluar terkaan robotika yang komputatif sifatnya. 

Berbeda dengan robot yang repetitif dan terbatas dalam menjalankan tugas yang diberikan padanya, manusia memiliki daya cipta yang tak kan terkalahkan oleh robot secanggih apapun. Pun robot amat sangat dungu bila dibandingkan manusia dalam menghasilkan pulasan seni yang menyentuh dan menghentak serta mengagumkan. 

Karena itu, sisi manusiawi inilah yang harus terus dikembangkan dalam upaya reskilling tenaga kerja yang tengah berkarya maupun yang masih belum memiliki kesempatan kerja. Reskilling dan upskilling itulah kunci. Bahwa dalam diri umat manusia sekarang tidak akan pantas apabila diajari kemampuan untuk menghafal, menghitung, mengukur, karena robot jauh lebih baik dalam hal tersebut. 

Empati dan kreativitas manusia, adalah kunci untuk dikembangkan lebih jauh. Kita bisa melihat bagaimana begitu banyak hasil teknologi telah dikembangkan. Tapi yang mana yang akhirnya memenangkan hati masyarakat? Tentu yang paling peduli. Kita bisa melihat bagaimana para jenius dunia memiliki begitu banyak daya cipta, namun mana yang kemudian dipilih publik secara luas? Hanyalah yang paling tulus. Itulah yang menjadi inti dalam social entrepreneurship yang sebenarnya bukan suatu rahasia. 

Kita juga bisa melihat bahwa dalam realita di dunia maya dan di dunia nyata, hal buruk yang memiliki nilai kemanusiaan yang rendah, masih menjadi minat masyarakat hingga menghasilkan dollar dalam jumlah banyak. Namun ke depannya, hal buruk seperti kekerasan, pornografi, yang saat ini masih menghasilkan milyaran dolar tersebut akan makin mengecil peminatnya. Bahwa apa yang tidak bernilai tinggi bagi masyarakat, tidak baik bagi masyarakat secara umum, akan makin tertinggal. 

Hal ini nyata terlihat dari bangkitnya para zellenial. Kaum amat muda ini telah tampil di panggung-panggung penting dunia, mengalahkan kekuatan dan pesona para politisi dan para pemimpin di dunia birokrasi. Bahwa kekuatan zellenial ini mampu membangun perubahan yang nyata untuk tegak di masyarakat.  

Bahwa empati dan kreativitas tingkat tinggilah yang menjadi kekuatan para zellenial ini dalam membangun impiannya. Hingga dengan kecerdasan dan kemampuan kolaborasinya, mereka mampu menghasilkan berbagai aksi dan gerakan yang monumental, mengubah berbagai kekuatan dan pengaruh buruk yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya. 

Untuk itulah upaya reskilling sumber daya manusia global dicanangkan di berbagai tempat kritis di dunia yang paling rentan akan pengaruh robotika proses manufaktur, namun memiliki kekuatan daya empati dan daya kreasi yang tinggi. Dengan diiringi juga oleh pertumbuhan global future council di tempat yang sama. Kita bisa melihat upaya yang empatis dari World Economic Forum ini telah dirintis diantaranya di Uni Emirat Arab, Afrika, China, Amerika Latin, yang memiliki kekhasan tersebut. 

Indonesia yang memiliki satu decacorn dan empat unicorn tentu saja dianggap sebagai negara yang akan unggul di masa depan. Bahkan secara tidak langsung munculnya kelima kuda tempur informatika tersebut di tanah air menjadi suatu tanda bahwa masyarakat bangsa ini sebenarnya memiliki kekuatan ekonomi dan kecerdasan serta kreativitas yang diperlukan untuk tetap hadir di panggung persaingan dunia, di berbagai bidang. 

Maka yang harus dilakukan selanjutnya adalah dalam hal perluasan dan pengasahan bakat-bakat gemilang yang di negara ini tumbuh bagai jamur di musim hujan. Agar jangan sampai negara ini terpukau lalu tertinggal dalam upaya persaingan dalam bangsa lain, karena hanya dengan mengandalkan pasar dalam negeri dan pasar asean saja, kekuatan ekonomi yang terbangun sudah sangat besar. 

Pentingnya Prinsip dan Nilai dalam Pengembangan Kemampuan Komputasi Kuantum dan Kecerdasan Buatan (AI) Ala Google

By Article No Comments

“Alam semesta bekerja dalam kecepatan dan akurasi quantum”, tukas Sundar Pichai, CEO Alphabet dengan Google Group termasuk di dalamnya. “Untuk itu, diperlukan kemampuan Quantum Computing dalam upaya kita untuk memahami alam semesta”, lanjut Pichai dalam menjawab pertanyaan dari Prof Klaus Schwab, Presiden dari World Economic Forum di acara ke 50 dari sejak organisasi ini pertama kali didirikan. 

Apa yang ditanyakan oleh Schwab adalah mengenai alasan apa yang muncul dalam upaya keras Google untuk menghasilkan teknologi terkini dan tercanggih dalam Quantum Computing dan Artificial Intelligence. Schwab pun terpana mendengarkan penuturan Pichai yang disampaikan dalam intonasi yang sederhana namun memukau itu. 

Dengan tersenyum, Schwab melanjutkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Salah satunya tentang alasan apa yang mendorong Pichai untuk mempelajari teknologi informatika sebagai minat utamanya. Pichai menyampaikan bahwa, keterbukaan akses pada teknologilah yang telah banyak mengubah hidup banyak orang, termasuk dirinya.  

Pichai menyatakan sendiri bagaimana masyarakat India yang begitu sederhana kemudian tampil sangat gemilang setelah mereka mulai mengenal teknologi. Bahkan India lebih unggul dibandingkan sejumlah negara Asia yang berada di sekitarnya, walaupun masih terdapat masyarakat sangat sederhana di dalamnya. 

Untuk itulah, seperti apa yang diungkapkan oleh Schwab, Pichai dikenal sebagai seorang “Tech Optimist”. Berbeda dengan tokoh teknologi seperti Elon Musk yang memiliki rasa takut pada kekuatan apa yang dapat tumbuh dari pengembangan AI di berbagai belahan dunia. 

Quantum Computing yang ada di dalam inti Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan, adalah hasil komputasi buatan mesin yang dirancang manusia, untuk dapat lebih baik dalam menerka dan membantu hidup manusia. “Untuk bisa lebih baik dalam memprediksi curah hujan, misalnya” ujar Pichai pada Scwab mengenai ketakutan dunia akan pemanasan global. Bahkan Pichai menyampaikan bahwa AI dapat amat baik untuk membantu masyarakat global dalam melakukan berbagai upaya pencegahan pemanasan global. 

Schwab juga menyampaikan kekagumannya pada teknologi buatan Google yang dikembangkan untuk membantu perkembangan dunia biologi dan kedokteran secara global. Pichai pun menambahkan bahwa AI amat membantu para tenaga medis dan menjadi kekuatan yang dapat diandalkan untuk melakukan perhitungan yang bersifat akurat dengan kemampuan AI dalam kamera medis misalnya, yang mengukur ukuran sel dalam kerangka nanometer. Hal yang tak mampu dijamah manusia dengan keterbatasannya, mampu untuk diatasi oleh kecedasan buatan yang berfungsi seperti perpanjangan tangan manusia. 

AI telah dapat membantu manusia melakukan operasi medis bertenaga laser dengan hitungan nano dan mikron. Kamera AI dapat membedakan sel yang berbahaya dan yang aman. Hingga prediksi serta pengambilan keputusan medis dalam skala yang lebih luas dan merata. Untuk itu berbagai kemajuan AI ini menjadi perhatian besar dan ditunggu-tunggu secara luas oleh masyarakat dunia. Hingga dapat menemukan sel kanker dari sebuah foto  yang dihasilkan dengan kamera nanotechnology dalam radiologi. 

Selain itu, saat ini AI pun telah amat membantu dalam menyediakan data dan mengolah data medis secara luas dan rinci. AI pun membantu tenaga medis dalam analisa pathology. Bahkan membantu para tenaga medis untuk mengambil keputusan, yang semula bisa penuh perdebatan dan keraguan. 

Dalam kegiatan ekonomi, google search pun telah membantu dunia usaha. Pichai menyatakan bahwa secara umum masyarakat telah menghasilkan hingga 300 milyar dollar dari hasil pencarian di google, untuk kawasan Amerika Serikat saja. Hasil ini tidak dapat dihitung secara global ke seluruh dunia secara total, karena banyak kawasan dunia memiliki mesin pencarinya sendiri. Walau banyak juga yang masih menginduk dan mengekor ke google untuk urusan pencarian data ini. 

Schwab yang amat terkesan dengan kesederhanaan Pichai dan komitmennya dalam menjaga Etika di Google, menyatakan bahwa saat ini, perusahaan besar yang dipimpinnya tengah berada di ujung tombak dalam revolusi inovasi. Bahwa google telah menghasilkan dampak baik yang luar biasa besar. Dengan tetap rendah hati Pichai menyampaikan bahwa memang Google telah menempatkan banyak batu lompatan yang penting bagi para penemu dunia secara umum. 

Pichai pun menyampaikan bahwa komputasi kuantum telah merevolusi penemuan selama 40 tahun terakhir ini. Dengan kemampuan dan kecepatan sub atomik yang dimilikinya, kecerdasan kuantum telah mampu menyibak struktur molekul terkecil. Hingga membuka kemampuan para jenius dunia untuk menghasilkan lebih banyak lagi penemuan. Untuk menciptakan obat bagi kanker, untuk menghasilkan tenaga hydrogen tingkat tinggi, untuk melakukan enkripsi  pada skrip paling rahasia, dan untuk melakukan upaya terkini dalam menangani pemanasan global akibat perubahan iklim di planet bumi. 

Schwabb juga menyatakan bahwa Uni Eropa dan Amerika telah banyak menghasilkan temuan dalam level global. Namun semua hasil dari sistem komputasi kuantum dan kecerdasan buatan tersebut seperti mata pisau, yang bisa membantu namun juga bisa berbahaya. Untuk itu, kata Pichai, pemerintah di seluruh dunia harus memiliki hukum yang secara global disepakati dalam pengembangan dan penerapan AI ini. Agar berbagai hal yang dihasilkan memiliki nilai bagi kelangsungan hidup manusia, dan bukan sebaliknya. Bahwa masing-masing pemerintah tersebut harus menyetujui prinsip yang satu dalam menghasilkan pendekatan yang teratur di bidang komputasi kuantum dan kecerdasan buatan (AI) ini.