Skip to main content

Bagaimana Contingency Plan Perusahaan Anda Berkaitan Dengan 2019-nCoV?

By February 11, 2020Article

Pada tanggal 30 Januari 2020, WHO mengumumkan bahwa wabah virus Corona merupakan ancaman bagi dunia. Berdasarkan pada warning yang diresmikan secara global tersebut, sejumlah negara termasuk Indonesia melakukan beragam langkah untuk mencegah penyebaran virus 2019-nCoV tersebut di negara masing-masing. 

Di Indonesia, langkah yang dilakukan pemerintah antara lain adalah melakukan pembatasan impor hewan hidup, buah-buahan, ikan dan sejumlah bahan makanan seperti bawang putih, sejak awal Februari 2020. 

Pemerintah pun melakukan berbagai pencegahan dengan sejumlah langkah seperti melarang penerbangan dari dan ke semua provinsi di China mulai pada jam 00.00 di tanggal 5 Februari 2020. 

Untuk menyelamatkan warga Indonesia yang berada di wilayah Provinsi Hubei, di kota Wuhan, daerah yang menjadi pusat penyebaran virus Corona, pemerintah telah melakukan penerbangan penyelamatan untuk upaya evakuasi tersebut. 

Jumlah warga negara Indonesia yang berhasil dipulangkan 238 orang, dari 245 warga negara yang terdaftar tengah berada disana. 4 orang menolak di evakuasi atas kemauan sendiri, sementara 3 orang tidak lolos dari screening awal keberadaan virus Corona dalam tubuh mereka. 

Warga negara kita yang telah berhasil di evakuasi ini pun tengah masih menjalani masa karantina selama 14 hari untuk menentukan apakah mereka tertular Corona atau tidak, di pulau Natuna. 

Namun dunia bisnis di tanah air ternyata menyampaikan sejumlah kekhawatiran mereka. Diantaranya adalah para eksportir yang menyampaikan protes mereka karena khawatir pihak China akan membalas larangan impor yang ditetapkan pemerintah tersebut dengan pembatasan ekspor berbagai komoditas dari Indonesia ke negara tirai bambu tersebut. 

Kekhawatiran dunia pun makin meluas, saat mencermati bagaimana virus Corona menyebar bukan hanya di China, tapi juga hingga di negara lain seperti di Singapura. Hingga pada hari ini (2/10/2020) pemerintah menaikkan status siaga Corona di Singapura menjadi siaga kuning. 

Bagaimana pengaruh virus Corona pada kondisi ekonomi global dibahas oleh berbagai media utama dunia. Juga oleh lembaga ekonomi dunia seperti World Economic Forum. Kondisi ekonomi di negara kita termasuk yang tidak banyak terpengaruh oleh virus Corona dan perdagangan yang terganggu karenanya. 

Namun sejumlah negara lain seperti Korea, Jepang, Eropa dan Amerika, ternyata amat terpukul.  Hal ini karena negara-negara tersebut mengandalkan fasilitas produksi mereka, tersebar di berbagai propinsi di China. 

Honda misalnya, memiliki 3 pabrik di Wuhan saja. Toyota, General Motors, dan Volkswagen yang semuanya memiliki fasilitas produksi di China pun menghentikan produksi mereka. Tak hanya bisnis otomotif yang terganggu, produksi pesawat yang dilakukan Airbus di Tianjin pun dihentikan. Hal ini berkaitan dengan pembatasan travel yang dilakukan dari Uni Eropa ke China. 

Baca Juga:  T-ICU Startup Medis Penyelamat Pasien ICU dari Jepang

Begitu juga dengan berbagai merk otomotif mewah dunia seperti Jaguar, Aston Martin, Land Rover. Serta berbagai merk ternama dunia seperti Burberry, H&M, Hugo Boss, Adidas, Gap yang memiliki fasilitas manufaktur fashionnya di berbagai provinsi yang tersebar di China. 

Beragam bisnis milik Amerika dan Inggris yang berjalan di China pun terganggu karena fasilitas produksi mereka harus ditutup berkenaan dengan kekhawatiran merebaknya wabah virus Corona ini. Starbucks dengan ribuan café mereka yang tersebar di China terpaksa ditutup. 

Demikian juga dengan toko furniture milik Denmark, Ikea yang terpaksa ditutup di seluruh China. McDonalds pun menutup hingga tigaratus lebih restoran dan 10% jaringan katornya yang tersebar di berbagai provinsi di China. 

Demikian pula dengan dua taman bermain Disney di China yang mengalami penutupan di momen yang seharusnya menjadi saat kunjungan tertinggi pada tahun ini. Kerugian yang dilaporkan oleh the guardian mencapai 280 juta dollar amerika hanya untuk Disney saja. 

Apabila kekhawatiran dunia meluas hingga ke Singapura, bukan hanya fashion dan otomotif yang mungkin terpengaruh. Hal ini karena Singapura merupakan pusat bisnis di Asia dan berbagai negara meletakkan server utama mereka di negara tersebut.  Apabila travel warning juga diberlakukan untuk Singapura, apa yang mungkin akan terjadi? 

Apakah para pemilik bisnis yang memiliki fasilitas produksi di China akan bisa melakukan switching facility dengan cepat? Berbagai perusahaan, institusi dan lembaga yang ada di tanah air seharusnya pada saat ini telah membuat dan menyusun contingency plan dan berbagai back up plan berkaitan dengan resiko yang mungkin timbul karena sebaran virus Corona ini. 

Bagaimana kemungkinan sejumlah bisnis dunia bisa mempertimbangkan Indonesia sebagai sasaran investasi mereka untuk switching production facility? Terutama mengingat bahwa banyak dari perusahaan fashion dunia sebelumnya memiliki sejarah produksi di tanah air. Hal ini karena penurunan aktivitas ekonomi akibat virus Corona juga membuka kembali banyak peluang bagi industri di tanah air yang semula sempat kalah bersaing karena persaingan tidak sehat akibat harga rendah yang diciptakan oleh China dengan membayar murah buruh mereka. 

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?