Skip to main content

Perlunya Langkah Kolaboratif Industri Medis Dunia Untuk Mencegah Perluasan Wabah Virus Global

By January 29, 2020Article

Dalam acara World Economic Forum hari ke 2 di tanggal 22 Januari 2020, para ahli kesehatan dari seluruh dunia mendiskusikan sejumlah topik berkenaan dengan beragam langkah yang akan dilakukan secara kolaboratif dalam dunia kesehatan global berkenaan dengan Global Risk Report 2020 yang telah dipaparkan seminggu sebelum acara tahunan yang mengumpulkan para ekonom dunia di Davos tersebut. 

Tiga orang ahli yang berdiskusi dalam acara tersebut adalah Prof Heidi Larson, antropolog yang memimpin The Vaccine Confidence Project dan Professor di Departemen Kesehatan Global di University of Washington; Richard J. Hatchett, MD, Dokter dan CEO of the Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI); Prof Lars Rebien Sørensen, Komisaris Novo Nordisk Foundation dan Professor di School of Life Sciences Universitas Copenhagen, Denmark. Kirsten Salyer, Bagian Public Engagement dalam World Economic Forum. Sebelumnya Salyer telah menulis paparan mengenai perlunya Sistem Penyaringan Sintesis DNA Global untuk Mengatasi Teror Bioteknologi (Global DNA Synthesis Screening System to Counter Biotech Terror). 

Hatchett menyebutkan bahwa pada tahun 2015, Korea Selatan menghadapi kerugian lebih dari 10 milyar dollar akibat merebaknya virus MERS. Saat itu terdapat 186 kasus MERS yang menyebabkan meninggalnya 36 orang meninggal. Saat itu terjadi disrupsi dalam sektor ekonomi di Korea Selatan. Saat dihitung, terdapat kerugian sebanyak lebih dari 50 juta dolar per kasus, demikian seru Hatchett. Besarnya angka tersebut seharusnya menggugah lebih banyak pihak di berbagai pemerintahan di masing-masing negara di dunia. 

Masalah kesehatan dunia bukanlah suatu hal yang dapat dipastikan atau dapat diprediksi, jelas Hatchett. Sebagai satu-satunya dokter medis yang duduk dalam diskusi tersebut, Hatchett menginginkan agar dibentuk langkah bersama dari industri medis, pemerintahan, dan lembaga global.  Ia menegaskan bahwa harus terdapat suatu sistem untuk melakukan penghitungan resiko medis global ini. karena selama ini hanya tindakan kuratif yang bisa dilakukan saat terjadinya virus outbreak, jelas Hatchett lagi. 

Hatchet menginginkan agar di momen ini semua pihak yang memiliki otoritas untuk melakukan langkah terkait dalam masalah penyebaran virus global ini dapat saling terlibat secara erat. Langkah yang harus dilakukan bersama-sama dan untuk mencegah perluasan wabah virus (virus outbreak).

Hatchett menyebut bahwa langkah ini amat penting dan harus diperlakukan dengan setara selayaknya upaya dunia dalam mencegah masalah keamanan siber (cyber security). Dimana saat ini, para ahli keamanan siber telah membuat langkah bersama untuk saling komunikatif dan kolaboratif dalam mencegah adanya peretasan global berikutnya. 

Baca Juga:  Bagaimana Elon Musk Memulai Bisnisnya?

Hatchet juga menyebutkan bahwa harus ada perangkat persiapan medis di masing-masing daerah di tiap negara. Karena masalah wabah virus ini sangat tidak dapat dipastikan.  Richard Hatchett pun menjelaskan bahwa ada aspek lingkungan yang berkaitan erat dengan masalah ini. bahwa para ahli harus mengatur resiko dengan perspektif aktuarial untuk melihat besaran angka asuransi yang menjadi resiko, yang tentunya sangat besar nilainya. Hal ini agar pemerintah menjadi lebih waspada dan tidak lengah dalam mempersiapkan perangkat medis untuk mengatasi situasi darurat akibat wabah virus ini. 

Heidi Larson pun menambahkan bahwa para ahli dari seluruh dunia harus menyadari bahwa masalah kesehatan ini bukan hanya tanggung jawab industri medis. Karena dalam upaya penanganan wadah global ini, terdapat aspek keamanan di tingkat global dan di masing-masing daerah di dalam negara. Seperti yang ia tangani saat terdapat wabah di Pakistan, Afrika, dan daerah lainnya. 

Larson pun mengatakan bahwa saat ini secara umum di dunia telah ada prosedur penyelamatan untuk kasus seperti kebakaran atau gempa bumi. Tapi belum ada prosedur yang dapat diterapkan secara umum di seluruh dunia untuk masalah wabah virus ini. Untuk itu prosedur semacam ini harus dirancang dan disosialisasikan ke seluruh dunia, dengan dukungan masing-masing pemerintah.  

Sementara, Sorensen sebagai wakil dari industri medis menyatakan bahwa wabah virus umumnya terjadi karena mutasi genetika pada virus yang semula menyerang hewan, yang kini menyerang manusia dan menjadi tidak tersembuhkan. Hal ini karena virus outbreak tersebut tidak dapat diduga dan tidak dapat diramalkan sebelumnya. Untuk itu, kata Sorensen lagi, pihak industri farmasi dan produsen peralatan medis bisa mengambil langkah maju lebih dulu. 

Sorensen mengatakan seperti itu karena, wabah virus atau virus outbreak bukanlah tanggung jawab  industri medis. Namun, industri kesehatan dan produsen peralatan kesehatan memiliki pengetahuan, kebijaksanaan, teknologi, dan kemampuan manufaktur yang diperlukan untuk dapat lebih maju selangkah sebelum suatu wabah virus menyebar secara luas. Hal ini dapat dilakukan dengan memperhitungkan resiko berulangnya wabah virus (recurrent risk). 

Ditambahkan lagi oleh Hatchett bahwa perulangan wabah virus ini terjadi dalam kurun waktu tertentu, sekitar 3 tahun atau 5 tahun. Untuk itu, perlu disiapkan bersama suatu perangkat penghitungan resiko medis definitif (new definitive medical counter measure) dari berbagai negara secara kolaboratif. 

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?