Skip to main content

Empati dan Kreativitas Sebagai Kunci dalam Inisiatif Reskilling dan Upskilling Sumber Daya Manusia

By January 28, 2020Article

Sejumlah perusahaan asing yang berinvestasi di negeri kita hengkang dan meninggalkan belasan ribu pekerja yang menjadi pengangguran. Elektrifikasi kendaraan telah mengubah wajah industri otomotif dunia. Resesi ekonomi tengah mewabah ke berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara produsen sparepart otomotif berbahan bakar minyak. 

Di Jerman saja, sejumlah kota yang memiliki pabrik penghasil komponen otomotif seperti pabrik penghasil komponen inti dalam fuel pump di mesin bensin misalnya, kini pun harus menghadapi penutupan pabrik. Lalu apa yang harus dilakukan untuk para pengangguran baru ini? lalu bagaimana dengan seluruh pengangguran lainnya? Bahkan apa yang harus dilakukan untuk mereka yang masih bekerja? 

Tenaga manusia kini makin banyak digantikan oleh robot. Bahkan sebagian kemampuan otak manusia pun bisa ditiru dan kecerdasan buatan makin lazim digunakan untuk menjadi perpanjangan tangan manusia dalam melakukan kemampuan komputasi, prediksi, dan analisa tingkat tinggi. 

Kemampuan komputasi robot, kemampuan kapturasi visual sub atomik, kemampuan robotika dalam meniru struktur molecular dengan teknologi nano, kesemuanya memang bukan serangkaian hal yang mampu dilakukan oleh manusia. 

Namun, tidak ada yang mampu meniru kemampuan orisinalitas manusia dalam hal yang bersifat imajinatif, proses kreatif, kemampuan untuk menghasilkan karya yang diluar terkaan robotika yang komputatif sifatnya. 

Berbeda dengan robot yang repetitif dan terbatas dalam menjalankan tugas yang diberikan padanya, manusia memiliki daya cipta yang tak kan terkalahkan oleh robot secanggih apapun. Pun robot amat sangat dungu bila dibandingkan manusia dalam menghasilkan pulasan seni yang menyentuh dan menghentak serta mengagumkan. 

Karena itu, sisi manusiawi inilah yang harus terus dikembangkan dalam upaya reskilling tenaga kerja yang tengah berkarya maupun yang masih belum memiliki kesempatan kerja. Reskilling dan upskilling itulah kunci. Bahwa dalam diri umat manusia sekarang tidak akan pantas apabila diajari kemampuan untuk menghafal, menghitung, mengukur, karena robot jauh lebih baik dalam hal tersebut. 

Empati dan kreativitas manusia, adalah kunci untuk dikembangkan lebih jauh. Kita bisa melihat bagaimana begitu banyak hasil teknologi telah dikembangkan. Tapi yang mana yang akhirnya memenangkan hati masyarakat? Tentu yang paling peduli. Kita bisa melihat bagaimana para jenius dunia memiliki begitu banyak daya cipta, namun mana yang kemudian dipilih publik secara luas? Hanyalah yang paling tulus. Itulah yang menjadi inti dalam social entrepreneurship yang sebenarnya bukan suatu rahasia. 

Baca Juga:  Daya Tarik Indonesia di Mata Investor Dalam Oxford Business Group Tahun 2019

Kita juga bisa melihat bahwa dalam realita di dunia maya dan di dunia nyata, hal buruk yang memiliki nilai kemanusiaan yang rendah, masih menjadi minat masyarakat hingga menghasilkan dollar dalam jumlah banyak. Namun ke depannya, hal buruk seperti kekerasan, pornografi, yang saat ini masih menghasilkan milyaran dolar tersebut akan makin mengecil peminatnya. Bahwa apa yang tidak bernilai tinggi bagi masyarakat, tidak baik bagi masyarakat secara umum, akan makin tertinggal. 

Hal ini nyata terlihat dari bangkitnya para zellenial. Kaum amat muda ini telah tampil di panggung-panggung penting dunia, mengalahkan kekuatan dan pesona para politisi dan para pemimpin di dunia birokrasi. Bahwa kekuatan zellenial ini mampu membangun perubahan yang nyata untuk tegak di masyarakat.  

Bahwa empati dan kreativitas tingkat tinggilah yang menjadi kekuatan para zellenial ini dalam membangun impiannya. Hingga dengan kecerdasan dan kemampuan kolaborasinya, mereka mampu menghasilkan berbagai aksi dan gerakan yang monumental, mengubah berbagai kekuatan dan pengaruh buruk yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya. 

Untuk itulah upaya reskilling sumber daya manusia global dicanangkan di berbagai tempat kritis di dunia yang paling rentan akan pengaruh robotika proses manufaktur, namun memiliki kekuatan daya empati dan daya kreasi yang tinggi. Dengan diiringi juga oleh pertumbuhan global future council di tempat yang sama. Kita bisa melihat upaya yang empatis dari World Economic Forum ini telah dirintis diantaranya di Uni Emirat Arab, Afrika, China, Amerika Latin, yang memiliki kekhasan tersebut. 

Indonesia yang memiliki satu decacorn dan empat unicorn tentu saja dianggap sebagai negara yang akan unggul di masa depan. Bahkan secara tidak langsung munculnya kelima kuda tempur informatika tersebut di tanah air menjadi suatu tanda bahwa masyarakat bangsa ini sebenarnya memiliki kekuatan ekonomi dan kecerdasan serta kreativitas yang diperlukan untuk tetap hadir di panggung persaingan dunia, di berbagai bidang. 

Maka yang harus dilakukan selanjutnya adalah dalam hal perluasan dan pengasahan bakat-bakat gemilang yang di negara ini tumbuh bagai jamur di musim hujan. Agar jangan sampai negara ini terpukau lalu tertinggal dalam upaya persaingan dalam bangsa lain, karena hanya dengan mengandalkan pasar dalam negeri dan pasar asean saja, kekuatan ekonomi yang terbangun sudah sangat besar. 

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?