Skip to main content

Flying Health Incubator Ekosistem Kolaboratif Pengembangan Inovasi Medis Digital Ala Jerman

By January 31, 2020Article

Pengembangan dan inovasi medis berjalan di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat, Stanford memiliki Stanford Biodesign dan Stanford Digital Health. Lembaga ini bekerjasama juga dengan Jepang dengan program Japan Biodesign dan Japan Digital Health, serta ada juga program 500 startups Japan serta program lainnya. 

Namun Jerman  yang memiliki sejarah para peraih hadiah Nobel, tidak berdiam diri. Negara ini juga telah mengadakan kerjasama dengan Stanford Biodesign diantaranya dengan Hasso Plattnerr Institute (HPI). Lebih jauh lagi, pemerintah Jerman membuka ekosistem inovatif dengan mengadakan berbagai perlombaan inovasi. Dalam prosesnya, sejumlah professor dari Harvard dan dari berbagai belahan dunia lainnya juga ikut terlibat.

Berdiri pada tahun 2016, Flying Health Incubator telah menjadi ekosistem inovasi di Jerman yang berkontribusi dalam pengembangan inovasi kesehatan digital. The Flying Health Incubator berfungsi sebagai laboratorium nyata digital di mana teknologi inovatif, layanan digital, dan model bisnis baru dikembangkan secara praktis, divalidasi dalam proyek percontohan dan dibawa ke pasar.

Dengan bekerja bersama Teva, Flying Health Incubator memperkuat kolaborasinya dengan industri farmasi dengan fokus pada obat generik.  Dagmar Siebert, Kepala Transformasi Bisnis Strategis di Teva menjelaskan bahwa Digitalisasi yang disediakan dalam ekosistem Flying Health Incubator menawarkan peluang untuk merancang proses perawatan kesehatan pasien secara komprehensif dalam parameter baru. 

Contoh parameter baru yang lebih baik ini memungkinkan dunia medis untuk meningkatkan kualitas dalam hal keamanan pasokan dan terapi, serta informasi individual untuk semua orang yang terlibat dalam perawatan kesehatan, untuk dokter dan klinik, apoteker, perusahaan asuransi kesehatan dan terutama untuk pasien.

Tak hanya dengan produsen obat, Flying Health Incubator juga bekerjasama dengan industri percetakan dan media yaitu dengan Thieme Group. Flying Health Incubator memperluas jaringan mitranya di bidang informasi medis. 

Erwin Selg, Anggota Dewan Eksekutif Thieme Group menekankan bahwa bersama Flying Health Incubator, Thieme berkontribusi dengan menambah ekspansi portofolio solusi digital dengan berbagai startup yang ada di dalamnya. Adanya komunitas peneliti, media, produsen, startup dan pemerintah Jerman ini menjadi faktor penentu bagi kemajuan dalam layanan kesehatan dengan The Flying Health Incubator menyediakan berbagai platform informatika. 

Baca Juga:  Bob Dudley yang Hati-hati dalam Memimpin British Petroleum

Mitra lainnya adalah pemilik merk besar dunia, Siemens Healthineers.  Dengan Siemens, Flying Health Incubator memiliki fokus kolaborasi ini untuk mengembangkan layanan digital yang berpusat pada pasien serta solusi untuk penyedia layanan kesehatan dengan berbagai temuan yang akan disebarkan ke  berbagai wilayah di dunia. 

Stefan Pflaum, Wakil Presiden Senior dan Kepala solusi global eHealth di Siemens Healthineers menyatakan bahwa sebagai perusahaan dengan inovasi tingkat tinggi dalam kecerdasan buatan, Siemens ingin menciptakan suatu sistem pemrosesan informasi dalam sebuah platform yang didasarkan pada standar terbuka, yang menghubungkan penyedia layanan dengan pasien, asuransi, dan aktor lain dalam sistem perawatan kesehatan. 

Flying Health Incubator yang berbasis di Berlin ini bekerja bersama dengan para startup dan mitra dari industri perawatan kesehatan untuk mengembangkan aplikasi dan produk di bidang kedokteran digital.  Diantaranya dengan Servier Germany, Flying Health ingin memperkuat industri farmasi, terutama di bidang onkologi, penyakit kardiovaskular, dan psikiatri. 

Perusahaan portofolio Flying Health termasuk, misalnya, perusahaan rintisan Wina mySugr, yang dibeli oleh raksasa farmasi Roche dengan aplikasi diabetesnya pada tahun 2017 atau pendiri aplikasi M-Sense dari Start-up Newsenselab. 

Aplikasi ini terdiri dari buku harian digital, di mana pasien mencatat kapan, seberapa sering dan seberapa parah sakit kepala terjadi, dan terapi aplikasi (M-Sense aktif), yang menawarkan pendekatan terapeutik seperti relaksasi otot progresif, pelatihan autogenik dan meditasi pernapasan. Proyek Charité Berlin saat ini sedang meneliti apakah aplikasi M-sense tersebut dapat mengurangi frekuensi serangan migrain. 

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?