Skip to main content
Tag

budaya kerja

budaya perusahaan, performa tinggi, act consulting

Budaya Perusahaan  & Performa Kerja

By Article No Comments

budaya perusahaan, performa tinggi, act consulting

Budaya Perusahaan dengan performa tinggi memiliki enam karakteristik, yaitu beradaptasi dengan baik, bergerak dengan visi, bergerak dengan nilai, peduli terhadap para pemangku kepentingan, bekerja dengan ulet, dan memiliki sedikit entropi budaya.

  • Kemampuan adaptasi: Pada dunia yang berubah dengan sangat cepat, Anda hanya dapat bertahan dan berhasil jika dapat menyesuaikan diri dengan cepat dengan kondisi pasar. Organisasi yang adaptif akan berkembang dengan cepat dibandingkan dengan organisasi hierarkis dan birokratis, serta akan memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi. Kemampuan beradaptasi dapat terjadi dengan cepat jika tanggung jawab didistribusikan di seluruh bagian dalam organisasi dan para pemimpin mudah didatangi.
  • Bergerak dengan visi: Visi yang dapat memberikan inspirasi akan membangun kepaduan internal dan menjaga orang­orang dalam organisasi untuk bergerak menuju arah yang sama. Visi akan membimbing pengambilan keputusan yang memiliki jangka panjang.
  • Bergerak dengan nilai: Bersama dengan visi Anda, nilai yang ada akan menjadi pilar­pilar budaya dalam organisasi Anda. Nilai-nilai ini akan memberi tahu orang lain mengenai hal­hal yang penting dan akan membimbing Anda dalam membuat keputusan sehari­-hari.
  • Pemangku kepentingan: Organisasi yang peduli terhadap para pemangku kepentingan mereka menjadi berhasil dengan membuat hubungan yang kokoh dan tahan lama. Saat menunjukkan kepedulian Anda terhadap para karyawan, pelanggan, investor, partner, komunitas setempat, dan masyarakat pada umumnya, mereka juga akan peduli terhadap Anda.
  • Keuletan: Kerusakan, kemacetan, dan kemogokan memengaruhi performa organisasi secara signifikan dan akan memengaruhi hasil keuangan secara signifikan pula. Oleh karena itu, keuletan bekerja  baik secara kultural dan operasional sangatlah penting.
  • Entropi Budaya yang rendah: Entropi budaya adalah pengukuran tingkat disfungsi dalam sebuah organisasi. Ini adalah jumlah energi yang digunakan dalam pekerjaan yang tidak produktif, seperti birokasi, persaingan internal, dan tindakan saling menyalahkan. Organisasi dengan performa tinggi mengukur budayanya secara reguler untuk mengurangi tingkat entropi budaya mereka. Entropi budaya yang rendah sangat terkait dengan eratnya hubungan antar staf dan tingginya pertumbuhan pendapatan. Eratnya hubungan antar staf akan meningkatkan jumlah energi pada organisasi tersebut melalui energi tambahan dari kebebasan bertindak yang akan dibawa oleh para karyawan yang terhubung erat, ke dalam pekerjaan.

 

Membangun Kepaduan Internal dan Kepercayaan pada Tim Kepemimpinan

Kepaduan internal harus dimulai dengan tim kepemimpinan. Jika tim kepemimpinan tidak sejajar satu sama lain, maka seluruh organisasi akan menjadi tidak seimbang dan entropi budaya perusahaan akan meninggi.

Kami telah menemukan bahwa satu faktor terpenting dalam keberhasilan untuk membangun organisasi dengan performa tinggi adalah dengan membuat tim kepemimpinan yang terpadu. Akan tetapi, faktor inilah yang sangat sulit dilakukan oleh organisasi.

Terdapat tiga kualitas yang paling menonjol dari kualitas lainnya dalam membangun tim kepemimpinan yang terpadu, yaitu visi bersama, nilai bersama, dan budaya saling percaya.

  • Visi bersama memastikan bahwa setiap orang memiliki tujuan yang sama.
  • Nilai bersama memastikan bahwa setiap orang membuat keputusan mengenai hal yang penting bagi perusahaan secara konsisten.
  • Budaya saling percaya adalah hal yang esensial. Hal ini meningkatkan ketangkasan dan kecepatan dalam membuat keputusan, serta membangun kesatuan dalam tim. Kepercayaan mengadopsi tanggung jawab, kewenangan, dan pembuatan keputusan yang terdistribusi. Selain itu, kepercayaan juga sangat fundamental dalam membangun hubungan yang erat dengan semua pemangku kepentingan.

Terdapat dua belas kondisi dasar yang harus dilakukan untuk membangun kepercayaan. Hal ini ditunjukkan dalam Matriks Kepercayaan di bawah ini. Tim harus menguasai semua komponen ini untuk membuat tim dengan performa bagus begitu pula organisasi dengan performa bagus.

  1. Tujuan Kepedulian: Mengawasi kesejahteraan organisasi dan semua karyawannya.
  2. Transparansi: Memberikan kejelasan mengenai motivasi yang menjadi dasar pembuatan keputusan.
  3. Keterbukaan: Menyetujui dan menerima ide dan opini dari semua karyawan.
  4. Integritas Kejujuran: Bertindak jujur dan terus terang dalam komunikasi antarpersonal.
  5. Keadilan: Bertindak tanpa prasangka, diskriminasi, atau tidak adil terhadap semua karyawan.
  6. Autentik: Berpikir, berucap, dan bertindak dengan konsisten dan sungguh­sungguh setiap saat
  7. Kemampuan Kemampuan: Menyelesaikan kegiatan profesional dengan mudah, cepat, dan cakap.
  8. Pengetahuan: Menjadi familier dan terbiasa dengan topik atau urusan profesional.
  9. Pengalaman: Mengumpulkan pengetahuan praktik melalui observasi pribadi.
  10. Hasil Reputasi: Menjadi diri yang disukai oleh bos, teman kerja, dan bawahan.
  11. Kredibilitas: Menyatakan ide menggunakan sikap yang meyakinkan dan dapat dipercaya.
  12. Performa: Mengindahkan tanggung jawab pribadi dengan pencapaian dan keunggulan.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara mengukur budaya perusahaan dan mengetahui berbagai hal seperti entropi budaya, values penghambat, gambaran keinginan karyawan, dan sebagainya hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

entropi budaya, act consulting

Apa Itu Entropi Budaya?

By Article No Comments

entropi budaya, act consulting

Tahun 2005 Negeri Bhutan menjadi sorotan dunia. Sebuah survey menyatakan bahwa 97 persen rakyat negara tersebut merasa diri mereka berbahagia, dengan 45 persen di antaranya merasa ‘sangat’ berbahagia. Sedangkan berdasarkan Peta Kebahagiaan Dunia yang dilansir pada    Juli 2006 oleh Universitas Leicester (Inggris),       kebahagiaan rakyat Bhutan secara global berada pada peringkat 8 tertinggi. Pendapatan perkapita hanya US$ 1.400, namun peringkatnya 9 level lebih tinggi dibandingkan dengan AS yang memiliki pendapatan perkapita US$ 41.800. Hal ini membuat tingkat kepuasan penduduk Bhutan berada dalam kelompok 10 persen tertinggi di dunia berdasarkan Happy Planet Index.

Di sisi lain, sebuah lembaga riset, Barrett Values Centre membuat peta nilai-nilai individu pada beberapa negara. Pada Agustus 2008, penelitian dilakukan di Iceland (Islandia), yang menunjukkan entropi (derajat ketidakteraturan) budaya di Iceland sangat tinggi lebih dari 54%. Ternyata sebulan kemudian Iceland mengalami kebangkrutan ekonomi. Pada Agustus 2007, dilakukan penelitian pada rakyat Latvia, entropi budayanya juga mencapai 54%. Dua bulan kemudian terjadi huru­-hara dan pemerintahan Latvia pun jatuh.

entropi budaya, act consulting

Yang dimaksud budaya dalam hal ini bukanlah kesenian, akan tetapi kumpulan karakter sebuah organisasi atau bangsa. Lalu apa yang dimaksud entropi? Dalam ilmu fisika diketahui bahwa jumlah energi yang dihasilkan sebuah mesin adalah sama dengan jumlah energi yang dimasukkan ke dalamnya. Namun jika ada kerusakan komponen mesin, maka sebagian energi akan digunakan untuk mengatasi kerusakan tersebut. Energi tersebut dinamakan entropi.

Contohnya pada kendaraan, sebuah mobil dengan 1 liter bensin dapat menempuh jarak 10 km. Namun ketika beberapa komponen rusak seperti aus, pengkaratan, atau sumbatan, maka dengan 1 liter bensin itu, mobil tersebut hanya mampu menempuh 5 km. Setengah dari energi yang seharusnya digunakan untuk menempuh 5 km lagi dipakai untuk mengatasi kerusakan sistem. Dengan kata lain entropi mobil itu menjadi 50%.

Ternyata bahwa hal ini juga berlaku pada organisasi. Jumlah energi yang dihasilkan organisasi sama dengan jumlah energi yang dimasukkan. Ketika gangguan dalam organisasi meningkat misalnya karena: birokrasi, hirarki, kompetisi internal, ketidakjujuran, saling menyalahkan, dan lain­lain, maka energi karyawan untuk melakukan pekerjaan harus meningkat. Energi tambahan ini disebut “entropi budaya”. Padahal energi yang digunakan dalam mengatasi entropi budaya adalah energi yang seharusnya untuk menghasilkan.

Dalam lingkup korporasi, besarnya energi karyawan yang dapat berkontribusi pada perusahaan akan bergantung pada tinggi rendahnya entropi budaya. Ketika entropi rendah, energi yang tersedia untuk melakukan pekerjaan produktif menjadi tinggi sehingga performance perusahaan menjadi tertinggi. Sebaliknya, ketika entropi budaya tinggi, energi yang tersedia untuk melakukan pekerjaan menjadi rendah, sehingga kinerja organisasi pun rendah.

Entropi budaya dalam organisasi atau perusahaan terdiri dari tiga unsur:

  • Faktor-faktor yang memperlambat organisasi dan mencegah pengambilan keputusan yang cepat: birokrasi, hirarki, kebingungan, pertengkaran dan kekakuan.
  • Faktor-faktor yang menyebabkan gesekan antara karyawan: persaingan internal, menyalahkan, intimidasi, manipulasi.
  • Faktor-faktor yang mencegah karyawan dari kerja secara efektif: kontrol, kehati­hatian, mikro manajemen, fokus jangka pendek, teritorialisme.

entropi budaya, act consulting

Tabel berikut menunjukkan rentang entropi dan risiko yang dihadapinya:

10% or less Prime: Sehat

11% – 19% Minor Issues: Membutuhkan adjustment kultural dan struktural

20% – 29% Significant Issues: Membutuhkan transformasi kultural dan struktural dan leadership coaching

30% – 39% Serious Issues: Membutuhkan transformasi kultural dan struktural dan leadership coaching/ mentoring, dan pengembangan leadership

40 – 49% Critical Issues: Membutuhkan transformasi kultural dan struktural, perubahan dalam leadership, leadership mentoring/coaching, dan pengembangan leadership

More than 50% Cultural Crisis: untuk korporasi, risiko tinggi berupa kebangkrutan atau take over

Sumber: Barrett Values Centre

 

Pada tahun 2011 Lembaga riset Barrett Values Centre telah memberikan sertifikasi resmi kepada ESQ untuk melakukan pengukaran entropi budaya organisasi ataupun negara.

Selama ini Barrett  Values  Centre telah mengukur lebih dari 2.000 organisasi. Banyak di antara organisasi tersebut, yang saat dilakukan riset entropi budayanya ada pada batas maksimum dengan kisaran ledakan kebangkrutan atau pengambilalihan aset perusahaan.

Di Indonesia istilah entropi budaya belum begitu dikenal secara luas, padahal itulah yang sedang banyak terjadi di sini. Di tengah krisis mental dan moral bangsa ini, bisa dibayangkan berapa persen entropi bangsa Indonesia dan bisa diperkirakan berapa besar kerugian bangsa dan berbagai perusahaan akibat entropi budaya.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara mengukur budaya perusahaan dan mengetahui berbagai hal seperti entropi budaya, values penghambat, gambaran keinginan karyawan, dan sebagainya hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

mengapa gagal membangun budaya perusahaan, act consulting

Mengapa Bisa Gagal Membangun Budaya Perusahaan?

By Article No Comments

mengapa gagal membangun budaya perusahaan, act consulting

Peristiwa The Global Financial Crisis (GFC) yang  terjadi   beberapa tahun lalu menimbulkan banyak perubahan dalam peta bisnis dunia. Kebangkrutan sebuah bank investasi terbesar keempat AS September 2008 dituding sebagai pemicu penyebab kegoncangan finansial global tersebut. Hal itu kemudian seolah membuka mata dunia bahwa beberapa perusahaan terbesar itu ternyata tidak lebih dari penipu yang membohongi investor, nasabah, dan masyarakat dunia. Karena itulah pentingnya budaya perusahaan (corporate culture) yang berlandaskan etika dan moral makin dirasakan penting.

Namun saat ini  masih banyak perusahaan yang gagal membangun budaya perusahaannya. Prof Richard Barret          mengidentifikasi beberapa sebab kegagalan tersebut, pertama, perusahaan tidak mendefinisikan visi, misi, dan nilai perusahaannya. Kedua, tim manajemen telah merumuskan visi, misi, dan nilai perusahaannya namun tidak di-’share’ kepada seluruh karyawannya. Ketiga, visi, misi, dan nilai perusahaan telah dirumuskan dan disebarkan pada karyawan tapi, mereka tidak merasa memiliki visi, misi, dan nilai perusahaannya. Para karyawan tidak diberi kesempatan untuk memberi masukan atau berpartisipasi dalam proses perumusannya. Keempat, visi, misi, dan nilai perusahaan telah dirumuskan, dan ‘dimiliki’ karyawan, namun tidak terintegrasi dengan sistem, prosedur, atau praktik organisasi.

Visi, misi, dan nilai sangat pen ting dalam pembangunan budaya perusahaan. Visi menjelaskan arah dan tujuan perusahaan, misi menjelaskan apa yang akan dilakukan, sedangkan nilai menjelaskan perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menjalankan misi dan untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, Visi menyatakan alasan mengapa Anda bekerja (“why” you are doing this work) dan mau ke mana Anda, Misi menyatakan apa yang Anda kerjakan (“what” work you are doing), Values menyatakan bagaimana cara bekerja (“how” the people will work).

Banyak perusahaan yang telah merumuskan visi, misi, dan nilainya, namun gagal sehingga mengalami kebangkrutan. Hal itu disebabkan visi, misi, dan nilai hanya ada pada tataran konsep tanpa implementasi, hanya menjadi pajangan dan tidak keluar menjadi perilaku (behaviour).

Kegagalan dalam membangun visi, misi, nilai perusahaan di antaranya: Pertama, visi, misi, nilai hanya disampaikan secara intelektual sehingga hanya menjadi “knowledge”. Kedua, visi, misi, nilai tidak  dikaitkan dengan keyakinan individu. Ketiga, karyawan tidak merasakan adanya keselarasan (alignment) antara visi, misi, nilai pribadi dan perusahaan.

Oleh karena itu, visi, misi, nilai tidak cukup dirumuskan  secara intelektual (IQ) namun  harus dikomunikasikan dan ditanamkan juga secara emosional (EQ), dan spiritual (SQ).  Spiritualitas bertujuan agar visi, misi, dan value tersebut kepada belief  system (sistem keyakinan) mereka. Menurut Prof. Barrett tujuan visi dan misi: secara Fisik menyediakan struktur pekerjaan, secara Emosional memberikan makna dan rasa kebanggaan, secara Mental dasar untuk pengambilan keputusan, secara Spiritual kejelasan untuk manifestasi.

Grafik diatas menunjukkan bahwa:

1. Jika nilai dan keyakinan individu selaras (align) dengan perilaku individu, maka disebut Personal Alignment. Contoh: orang yang memiliki nilai kejujuran dan senantiasa sesuai antara hati, ucapan, dan perilakunya.

2. Jika nilai dan kepercayaan perusahaaan  selaras dengan perilaku kelompok maka disebut Structure Alignment. Contoh: perusahaan yang memiliki nilai integritas, transparan, terbuka, hal itu sejalan dengan sistem di perusahaan sehingga Good Corporate Governance pun dijalankan.

3. Jika nilai dan keyakinan individu selaras dengan nilai dan kepercayaan perusahaan dinamakan Values Alignment. Contoh: si A adalah karyawan yang jujur bekerja di perusahaan yang  menjunjung tinggi kejujuran.

4. Jika perilaku individu selaras dengan perilaku kelompok dinamakan Mission Alignment. Contoh: perusahaan yang memberikan penghargaan bukan hanya pada kinerja atau performance tapi kejujuran juga dinilai sehingga ada Key Value Indicator (KVI).

Budaya perusahaan yang positif dan kuat dapat dibentuk hanya jika nilai­nilai dan perilaku bersamaan secara struktural diintegrasikan ke dalam sistem sumber daya manusia, khususnya proses evaluasi pribadi. Proses­proses berbasis nilai evaluasi kinerja dan ‘kebijakan mempekerjakan’ sangat penting untuk mengembangkan budaya kuat dan positif.

Paparan di atas makin memperjelas pentingnya keselarasan antara visi, misi, nilai Pribadi dan Perusahaan. Hal itulah yang menentukan apakah perusahaan akan bertahan atau hancur. Menurut Peter Drucker, apabila berbicara tentang manajemen dan bisnis sesungguhnya berbicara tentang perilaku manusia.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara mengukur budaya perusahaan dan mengetahui berbagai hal seperti entropi budaya, values penghambat, gambaran keinginan karyawan, dan sebagainya hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

transformasi budaya perusahaan, act consulting

Transformasi Budaya Perusahaan, Transformasi Individu

By Article No Comments

transformasi budaya perusahaan, act consulting

Kehancuran beberapa perusahaan dunia yang diakibatkan berbagai pelanggaran moral dan etika, menyebabkan gelombang kesadaran akan pentingnya budaya perusahaan. Karena itulah sejak satu dekade lalu, disebut sebagai Era Kesadaran (Consciousness Age). Korporasi tidak bisa lagi hanya mengandalkan  kekuatan intelektual, namun mulai menyadari pentingnya modal budaya (Cultural Capital).

Tentu masih lekat dalam ingatan kita, tepat 10 tahun lalu Enron, salah satu perusahaaan energi ter besar AS, dinyatakan telah merekayasa laporan keuangan. Bukan hanya perusahaannya yang kemudian bangkrut, bahkan kehidupan beberapa petinggi Enron pun berakhir tragis. Clifford Baxter, wakil komisaris utama, bunuh diri dengan cara menembak kepala di dalam mobil di depan rumah mewahnya di Houston. Kenneth Lay, CEO Enron, meninggal terkena serang an jantung di villanya di Aspen sebelum menjalani masa hukumannya.

Hanya enam minggu setelah terkuaknya kasus Enron, perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di AS, WorldCom, menyatakan telah menggelembungkan laba 3,8 milyar dollar AS. Sang CEO, Bernard Ebbers (63), akhirnya dinyatakan bersalah atas skandal akuntansi terbesar dalam sejarah AS itu dengan 9 tuduhan. Pada September 2006, Ebbers mengemudi Mercedesnya sendiri ke penjara untuk menjalani hukuman hingga tahun 2028.

Sehari setelah WorldCom, perusahaan raksasa lain, Xerox,  juga mengumumkan akan mengoreksi laporan keuangan mereka yang melebihkan keuntungan sampai US$ 6,4 miliar dalam lima tahun terakhir. Menyusul perusahaan lain seperti ImClone System, Adelphia Communications, dan Tyco International, yang juga mengaku telah melakukan kesalahan. Tahun­tahun awal 2000­an seakan menjadi kuburan massal perusahaan besar akibat manipulasi keuangan yang mengakibatkan kepercayaan para investor berada di titik terendah.

Hal­-hal di atas yang kemudian melahirkan Era Kesadaran bahwa makin dirasakan pentingnya etika dan moralitas dalam dunia bisnis. Yang menarik, saat ini penilaian saham bukan hanya pada asset perusahaan, namun justru lebih pada budaya perusahaan. Prof. Barret mengatakan bahwa saat ini modal cultural atau intangible drivers menempati porsi 60 hingga 85%, sedangkan modal finansial atau tangible drivers hanya 45% dari nilai saham.

Pertanyaannya bagaimana cara melakukan sebuah transformasi budaya perusahaan? Prof. Richard Barrett dalam “Liberating The Corporate Soul” menyatakan “Organization do not transform. People do.” Artinya bahwa korporasi tidak dapat bertransformasi namun orang­-orang di dalamnya yang seharusnya melakukan sebuah transformasi. Dengan kata lain transformasi budaya perusahaan harus diawali dengan transformasi individu di dalamnya khususnya para pemimpinnya.

transformasi budaya perusahaan, act consulting

Yang dimaksud dengan transformasi individu adalah bagaimana mengubah value atau nilai dan behavior atau perilaku seseorang. Value menurut Barrett merefleksikan motivasi serta hal-hal yang dianggap penting oleh individu dan kelompok.

Mengapa value atau nilai pribadi individu dapat mengakibatkan transformasi perusahaan? Pada bagan berikut ini tampak bahwa value dan belief (keyakinan) individu mempengaruhi karakter dan perilaku individu. Selanjutnya karakter dan prilaku individu akan mempengaruhi value dan belief kelompok, inilah yang dinamakan budaya perusahaan.

Budaya perusahaan pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku kelompok atau struktur sosial. Agar transformasi individu dalam perusahaan berjalan, maka para pemimpin atau leader harus menjadi role model dari nilai­nilai yang telah disepakati itu. Seorang leader sesungguhnya contoh hidup dan berjalan dari value itu sendiri. Akan tetapi bila sang pemimpin melanggar nilai, pemimpin tidak bisa menjadi contoh dan secara otomatis menghancurkan budaya perusahaan yang dibangunnya sendiri. Meskipun menggunakan konsultan kelas dunia yang menghabiskan milyaran rupiah, tanpa contoh pemimpin, maka nilai perusahaan akan roboh.

Untuk memperkuat nilai harus ada penyelarasan (alignment) antara: keyakinan, nilai, dan perilaku. Ibarat gunung es maka keyakinan itu berada pada lapisan bawah, di atasnya ada nilai, dan yang muncul ke permukaan adalah perilaku.

Kesalahan yang terjadi selama ini adalah leader hanya mengajarkan perilaku tanpa menanamkan nilai dan keyakinan akibatnya terjadi keterbelahan antara keyakinan, nilai, dan perilaku.

Oleh karena itu, diperlukan dimensi spiritual (SQ) untuk membangun keyakinan, yang harus selaras dengan                dimensi emosi (EQ) untuk membangun nilai, dan IQ untuk membangun KPI (Key Performance Indicator). Key Value Indicator (KVI) diperlukan untuk memantau nilai dan KPI sebagai output dari perilaku. Karena muara dari semua ini adalah performance kerja yang terukur.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara mengukur budaya perusahaan dan mengetahui berbagai hal seperti entropi budaya, values penghambat, gambaran keinginan karyawan, dan sebagainya hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

pentingnya budaya perusahaan, act consulting, ariningtyas prameswari

Pentingnya Budaya Perusahaan di Era Kini

By Article No Comments

pentingnya budaya perusahaan, act consulting, ariningtyas prameswari

Banyak perusahaan masih belum menyadari pentingnya budaya perusahaan. Padahal, perubahan dalam skala global terus terjadi, mempengaruhi berbagai aspek bisnis. Strategi manusia untuk mempertahankan hidup sekaligus meraih keuntungan (profit) pun senantiasa mengalami pergeseran. Dalam rentang dua abad terakhir, telah terjadi evolusi yang mempengaruhi wajah dunia korporasi dan bisnis.

Setidaknya ada empat periode yang dilalui manusia hingga saat ini. Pertama Era Agraris, Era Industri, Era Informasi, dan Era Kesadaran. Pada Era Agraris manusia bertumpu pada pertanian, besarnya keuntungan tergantung pada jumlah dan kekuatan sumber daya manusia yang dimiliki serta sumber daya alam yang dikuasai. Sedangkan pada Era Industri, yang menentukan kesuksesan sebuah bisnis adalah kualitas produk yang dihasilkan. Sebagai contoh, Ford Motor Company yang berhasil menjadi pemimpin di industri otomotif karena kualitas mobil yang mereka produksi saat itu.

Era Informasi dimulai oleh perusahaan seperti IBM. Pada era ini keunggulan sebuah korporasi ditentukan oleh kemampuan manusia dalam menggunakan pikiran mereka khususnya dalam mengelola data dengan kecepatan tinggi atau dalam menghasilkan ide-­ide baru sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang tinggi. Pada era ini yang menjadi modal manusia adalah intelektual (Intellectual Capital).

Namun kemudian, sejak  tahun 2000-an kita mulai mengenal dengan apa yang disebut sebagai Era Kesadaran (Consciousness Age), korporasi tidak bisa lagi hanya mengandalkan kekuatan intelektual sumber daya manusianya dan mulai disadari pentingnya modal budaya (Cultural Capital) dalam  sebuah korporasi.

Ada perbedaan yang cukup signifikan pada masing­-masing era tersebut. Pada Era Industri yang diutamakan adalah kualitas, produktifitas, efisiensi, dan marketing masal sedangkan manajemen yang popular pada masa itu adalah Six Sigma. Pada Era Informasi yang menjadi fokus adalah pengetahuan (knowledge), pembelajaran (learning), pemberdayaan (empowerment), pertumbuhan individu (personal growth), dan kepuasan pelanggan. Sedangkan pada Consciousness Age yang diutamakan adalah nilai (value), etika (ethics), kolaborasi (collaboration) dan         Corporate Social Responsibility (CSR).

Di Era ‘Consciousness’ ini, budaya perusahaan menjadi penentu kesuksesan sebuah bisnis. Era ini dipicu oleh terjadinya peningkatan dalam berbagai hal seperti tekanan kompetisi, risiko dan ketidakpastian; juga pertumbuhan teknologi yang makin cepat. Untuk dapat bertahan, maka setiap perusahaan atau organisasi harus melakukan transformasi. Diperlukan cara berpikir, sudut pandang, dan aturan baru untuk menjawab tantangan perubahan yang ada. Selain transformasi bisnis yang di antaranya meliputi struktur dan strategi, korporasi juga harus melakukan transformasi budaya yang meliputi visi, misi dan nilai korporasi.

Mengapa transformasi budaya perusahaan penting? Telah banyak riset yang menunjukkan pentingnya budaya korporasi. Salah satu di antaranya adalah Kotter dan Heskett dalam “Corporate Culture and Performance” mengatakan bahwa korporasi dengan budaya yang kuat mampu menghasilkan revenue 4 kali lebih tinggi, memiliki kualitas tenaga kerja 7 kali lebih baik, meraih nilai saham 12 kali lebih tinggi serta keuntungan bersih lebih dari 700% jika dibandingkan korporasi dengan budaya yang lemah.

Sebaliknya, budaya perusahaan yang lemah menimbulkan kerugian.  Jim Ware dalam “Investment Leadership” mengatakan bahwa korporasi dengan budaya lemah  dalam jangka waktu tiga tahun saja mengalami penurunan nilai aset sebesar 80% dan turn over karyawan hingga 50%.

Hasil riset tersebut semakin menunjukkan pentingnya penguatan budaya perusahaan untuk memenangkan kompetisi di Era Consciousness ini. Apabila sebuah korporasi ingin berhasil, maka harus menyadari pentingnya budaya perusahaan dan segera membangun budaya perusahaan yang sesuai dengan kondisi terkini.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara mengukur budaya perusahaan dan mengetahui berbagai hal seperti entropi budaya, values penghambat, gambaran keinginan karyawan, dan sebagainya hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

HC Break Through Mengumpulkan Perwakilan HC dari 50 Perusahaan lebih

By News No Comments

HC Break Through, ACT Consulting, Ary Ginanjar Agustian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HC Break Through adalah sebuah event pekanan yang diadakan oleh ACT Consulting secara Free of Charge.  Acara yang berlangsung di tanggal 7 November 2018 ini mengumpulkan 70 peserta yang berasal dari lebih dari 50 Perusahaan, Departemen di pemerintahan, Kementerian, BUMN, dan Korporasi lainnya.

Materi yang disampaikan adalah “How To Get The Right People”, yang membahas mengenai langkah-langkah dan teknik yang dilakukan dalam Rekrutment dan Desain Organisasi berkenaan dengan kaum millenials yang sekarang mendominasi jumlah pegawai di berbagai perusahaan. DR. (HC) Ary Ginanjar Agustian menyampaikan dalam acara ini bahwa HC terlebih dahulu harus menyepakati dahulu budaya seperti apa yang dimiliki oleh perusahaan mereka. Baru setelah itu dalam proses rekrutmen, pilihlah kandidat yang sesuai dengan budaya yang ada. Karena, bila tidak dapat mendeteksi apakah karyawan tersebut memiliki budaya yang sama dengan perusahaan, maka orang tersebut akan menjadi toxic person pada culture yang ia masuki itu.

Acara HC Break Through yang digawangi oleh ACT Consulting ini dipandu oleh Dudi Supriadi selaku Direktur Bussiness Innovation dari ACT Consulting dan Rizka, Corporate Assessment Expert dan Director dari Leadership Development Program dari ACT Consulting. Kedua narasumber ahli ini memaparkan pengetahuan mereka yang bermanfaat bagi para peserta yang sedari pagi sudah memenuhi ruangan Gibraltar di Ground Floor Menara 165 di Jakarta Selatan ini.

Semangat yang dibawa peserta dan antusiasme dari DR. (HC) Ary Ginanjar Agustian yang membuka acara yang mempertemukan para tenaga ahli di bidang Human Capital ini membuat HC Break Through ini berjalan dengan penuh semangat.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara mengukur values dan talent calon karyawan, mengetahui berbagai potensi karyawan sehingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

HC Break Through, ACT Consulting, Ary Ginanjar Agustian

HC Break Through, ACT Consulting, Ary Ginanjar Agustian

HC Break Through, ACT Consulting, Ary Ginanjar Agustian

HC Break Through, ACT Consulting, Ary Ginanjar Agustian

HC Break Through, ACT Consulting, Ary Ginanjar Agustian

training spiritual leadership, bank syariah mandiri, act consulting

SPIRITUAL LEADERSHIP TRAINING BATCH 7 BANK SYARIAH MANDIRI

By News No Comments

spiritual leadership training, training spiritual leadership, bank syariah mandiri, act consulting

Spiritual Leadership Training yang dilakukan oleh Bank Syariah Mandiri bersama ACT Consulting ini merupakan rangkaian dari Staff Development Program yang telah berlangsung untuk Batch yang ke 7 di tahun 2018.

Acara Spiritual Leadership Training ini dibuka dan dihadiri oleh Bapak Firman Jatnika – Group Head Learning Center Bank Syariah Mandiri (BSM) University. Tujuan dari training ini adalah untuk meningkatkan kemampuan leadership yang berdasar pada peningkatan unsur spiritual yang semula analog menjadi multi dimensi. Sehingga dengan upaya transendensi spiritualitas dalam bekerja ini dapat diperoleh daya ungkit pada berbagai aspek dalam perusahaan.

Rahasia dalam spiritual leadership ini ada dalam penjagaan peningkatan potensi yang berasal dari pemaknaan internal setiap pimpinan dan orang-orang yang bekerja dalam organisasi  yang dipimpinnya. Seseorang tidak lagi perlu untuk mendapatkan pengawasan melekat dari para atasannya karena ia telah bekerja langsung dengan merasa berada dalam pengawasan unsur transcendental sesuai dengan religi yang dipercayainya.

Peningkatan unsur spiritual dalam Spiritual Leadership Training ini diharapkan dapat memberikan peningkatan kemampuan kompetitif dari para karyawan yang bekerja dalam korporasi dan organisasi karena di dalamnya terdapat unsur pendorong motivasi yang bersumber dari kekuatan yang tak akan ada habisnya.

Spiritual Leadership Training ini dipandu oleh Risman Nugraha, MM. Salah seorang Senior Trainer dan Coach dari ACT Consulting yang juga sebagai Dosen di ESQ Business School. Dipandu bersama Asisten Trainer Syaifullah yang keduanya telah memandu lebih dari 300 kelas dalam ESQ Training.

PT Bank Syariah Mandiri menyediakan produk dan layanan perbankan konsumer dan bisnis. Perusahaan ini menawarkan rekening tabungan, rekening deposito, pembiayaan konsumen, dan layanan gadai emas; serta produk dan layanan korporat, komersial, usaha kecil, dan layanan mikro perbankan.

Bank Syariah Mandiri menyediakan net banking, mobile banking, ATM, SMS banking, dan layanan E-Money. Perusahaan ini beroperasi sebagai anak perusahaan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara meningkatkan kemampuan Spiritual Leadership hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

strategi dasar, pengetahuan dasar corporate strategic specialist, act consulting

PENGETAHUAN DASAR CORPORATE STRATEGIC SPECIALIST

By Article No Comments

strategi dasar, pengetahuan dasar corporate strategic specialist, act consultingPengetahuan dasar apa saja yang perlu diketahui oleh seorang calon Corporate Strategic Specialist sebelum menyusun Corporate Strategic Plan untuk 10 tahun ke depan? Secara disadari atau tidak, peran kalkulasi dan penyusunan rencana strategik di dalam perusahaan merupakan tanggung jawab bersama para leaders di dalam korporasi. Di sejumlah perusahaan sebagian memiliki ahli strategi mereka sendiri. Bahkan divisi strategic perusahaan diadakan khusus untuk melakukan perumusan strategi ini.

Namun sebenarnya kemampuan menganalisa, mengkalkulasi dan menyusun rencana strategic dalam suatu korporasi atau organisasi, adalah sebuah kemampuan yang bisa dipelajari. Memang tidak sepenuhnya mudah. Anda paling tidak harus memiliki daya analisa yang tajam terlebih dahulu. Anda juga memerlukan keterampilan mengobservasi situasi dari berbagai sudut pandang.

Untuk dapat melakukan kalkulasi strategis untuk korporasi Anda, pengetahuan Anda mengenai keadaan finansial perusahaan anda, pengetahuan tentang strategi pengembangan sumber daya manusia di perusahaan Anda, pengetahuan tentang keadaan operasional bisnis dalam korporasi dan pengetahuan tentang kemampuan perusahaan dalam memberikan service pada pelanggan pun, harus ada dalam jangkauan radar anda.

Bila belum, korporasi, organisasi, kantor, biro atau departemen dimana anda bekerja harus dipastikan mengirimkan lebih dari satu orang untuk menguasai keterampilan menyusun kalkulasi dan rencana Corporate Strategic Intelligence yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi ESQ yang akan memberikan pada anda predikat sebagai seorang Corporate Strategic Specialist tingkat Nasional dengan pengakuan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Kemampuan yang akan didapatkan di dalam Program Sertifikasi Spesialis Strategi Korporasi atau Corporate Strategic Specialist ini, amat kaya dan beragam. Program ini disarikan dari 30 tahun pekerjaan para ahli strategi korporasi tingkat dunia yang berhasil menjadikan perusahaan mereka masuk dalam list Fortune 500. List Fortune 500 ini adalah daftar 500 Korporasi terbaik di dunia yang telah melalui proses penilaian tentang kesehatan korporat, keuntungan finansial yang kompetitif, kepatuhan terhadap etika bisnis dan budaya perusahaan yang baik.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara meningkatkan kemampuan strategi korporasi dan meningkatkan keberhasilan proses bisnis secara kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan dalam program Corporate Strategic Specialist (CSS). Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke  0821-2356-7237 (Aziz).

corporate culture challenges, act consulting

CORPORATE CULTURE CHALLENGES

By Article No Comments

corporate culture challenges, act consultingTantangan apa saja yang dihadapi oleh organisasi di masa kini? Bagaimana dampak derasnya arus informasi  yang massif berdampak bagi budaya di perusahaan Anda? Bagaimana cara untuk mewujudkan sebuah budaya perusahaan yang membuat semua orang di dalamnya bekerja dengan nyaman dan produktif? Bagaimana mewujudkan iklim dan budaya yang positif untuk membentuk sebuah korporasi yang memiliki kemampuan bekerja yang kompetitif dan yang mampu progresif dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah? Kesemua itu adalah corporate culture challenges yang membuat organisasi besar ketar-ketir dan merasa takut akan kehilangan talent terbaik mereka.

Sejumlah perusahaan juga perlu melihat bagaimana corporate culture challenge ini akan mempengaruhi korporasi anda dalam era ekonomi informasi sekarang ini. Bagaimana era economy of trust yang sekarang tengah mewujud di hadapan kita tengah mengubah wajah dunia dan membuat korporasi kita harus terus melakukan berbagai langkah yang strategis untuk memenuhi corporate culture challenges di dalam organisasi. Agar korporasi kita memiliki unsur budaya esensial yang diperlukan untuk tetap memenangkan persaingan.

Padahal sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mewujudkan loyalitas bekerja atau employee engagement tidaklah mudah. Bahwa karyawan yang bahagia dalam bekerja, memiliki kepuasan bekerja, belum tentu engage pada perusahaan. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang setiap lapis karyawan yang bekerja pada organisasi Anda. Apakah mereka para millenials? Apakah gen Y dan baby boomers? Karena tiap lapis generasi memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri.

Anda juga perlu tahu tentang peluang dan tantangan apa yang ada dalam melakukan berbagai program komunikasi organisasi dan perancangan beragam artefak budaya yang ada di dalam korporasi seperti apa yang akan membuat pekerja merasa termotivasi dan terdorong untuk loyal?

Kesemua strategi yang dibutuhkan untuk perancangan budaya perusahaan secara komprehensif ini ada dalam program Corporate Culture Specialist.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara meningkatkan kemampuan strategi pembentukan budaya perusahaan dan meningkatkan keberhasilan proses bisnis secara kompetitif di korporasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan dalam program Corporate Culture Specialist (CSS). Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke  0821-2356-7237 (Aziz).

TRAINING BUILDING INTEGRITY CIMB-NIAGA BATCH 19

By News No Comments

training building integrity, cimb niaga, act consulting, rendy yusran

Training Building Integrity  CIMB Niaga telah berlangsung hingga Batch 19 bersama ACT Consulting. Tujuan dari penyelenggaraan Training Building Integrity ini adalah untuk menjaga dan menjadikan integritas sebagai sebuah asas dalam bekerja dan sebagai modal utama untuk memperoleh kepercayaan pelanggan dan masyarakat.  Tujuan besar dari penyelenggaraaan Training ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kompetitif para karyawan dan leaders dari CIMB Niaga agar menjadikan CIMB Niaga sebagai market leader Regional Bank di Asia.

training building integrity, cimb niaga, act consulting, rendy yusran

Training Building Integrity CIMB Niaga yang berlangsung dalam sejumlah Batch ini antara lain dipandu oleh Coach Rendy Yusran dan asisten Trainer Hasan Basri, dihadiri oleh para Manager CIMB Niaga

PT Bank CIMB Niaga Tbk menyediakan berbagai produk dan layanan perbankan bagi usaha kecil menengah, perorangan, dan korporasi di Indonesia dan internasional. Perusahaan beroperasi melalui segmen Korporasi, Bisnis, Ritel, Perbendaharaan, dan Syariah.

CIMB Niaga menawarkan layanan perbankan konsumen, seperti rekening tabungan, giro, dan deposito tetap; pinjaman, termasuk hipotek, pembiayaan mobil, dan pembiayaan pribadi; produk bancassurance umum dan jiwa; jasa manajemen kekayaan; produk pengiriman uang; dan kartu kredit dan debit.

Perusahaan ini juga menyediakan produk dan layanan perbankan bisnis yang terdiri dari giro, deposito berjangka, dan deposito on call; layanan pembiayaan modal kerja dan pinjaman investasi; produk treasury dan pasar modal, termasuk transaksi valuta asing, obligasi, dan produk lindung nilai, serta layanan online; layanan transaksi perbankan yang terdiri dari layanan manajemen kas dan trade finance, serta pembiayaan distributor, pemasok, dan pengecer; dan produk bancassurance umum dan kelompok.

Pada 31 Desember 2017, beroperasi melalui cabang pendukung, titik pembayaran, dan cabang dan kantor Syariah di 28 provinsi di Indonesia. Perusahaan ini sebelumnya dikenal sebagai PT Bank Niaga Tbk dan berganti nama menjadi PT Bank CIMB Niaga Tbk pada Mei 2008. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1955 dan berkantor pusat di Jakarta, Indonesia. PT Bank CIMB Niaga Tbk adalah anak perusahaan dari CIMB Group Sdn Bhd.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara meningkatkan integritas dalam bekerja dan melejitkan keberhasilan dari para pegawai dan pimpinan secara eksponensial hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

training building integrity, cimb niaga, act consulting, rendy yusran

training building integrity, cimb niaga, act consulting, rendy yusran

training building integrity, cimb niaga, act consulting, rendy yusran