Skip to main content
Tag

manajemen sdm

corporate webinar, adira finance, act consulting

WEBINAR ACT CONSULTING BERSAMA ADIRA FINANCE KE-III

By News No Comments

Webinar ACT Consulting bersama Adira Finance tengah berlangsung pada hari Selasa, Tanggal 6 November 2018 di Medina Café, Menara 165. Acara ini digawangi oleh Produser dari ESQ Team, Gusti Firly yang sebelumnya telah berpengalaman sebagai Produser untuk sejumlah acara televisi di salah satu TV Swasta.

Acara Webinar ACT Consulting bersama Adira Finance ini telah berlangsung untuk ke 3 kalinya. Dengan jumlah peserta yang semakin meningkat aktif. Untuk kesempatan hari ini jumlah cabang yang ikut aktif mengikuti Webinar ini meningkat tinggi hingga mencapai 409 Cabang hingga ke Jayapura yang terhubung dalam Live Webinar.

Pembicara dalam Webinar Adira Finance hari ini adalah Ary Ginanjar Agustian dari ACT Consulting, dengan jajaran Pimpinan Adira Finance yaitu Hafid Hadeli sebagai Direktur Utama dan I Dewa Made Susila selaku Direktur Finance.

Metode training jarak jauh melalui webinar ini dilakukan oleh Adira untuk dapat menjangkau puluhan ribu karyawannya yang tersebar di seluruh nusantara. Acara ini terselenggara dengan metode siaran langsung, sehingga dapat dilakukan live interactive discussion.

Sejumlah 409 cabang Adira yang turut aktif berpartisipasi tersebar dari kawasan barat hingga kawasan paling timur di Indonesia yaitu di kota Jayapura. Metode ini terbukti menekan biaya, membuat karyawan menjadi dekat dengan dewan direksi mereka, dan karyawan pun dapat bertanya langsung kepada Bapak Ary Ginanjar Agustian selaku konsultan dari ACT Consulting yang memandu Program Transformasi Korporasi di Adira Finance.

 

webinar act consulting, adira finance, act consulting, ary ginanjar agustian,

webinar act consulting, adira finance, ary ginanjar agustian, act consulting

webinar act consulting, adira finance, ary ginanjar agustian, act consulting

webinar act consulting, adira finance, ary ginanjar agustian, act consulting

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara melakukan webinar live di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

 

annual strategic planning, annual planning, strategic planning, act consulting, Rinaldi Agusyana

Cara Menyusun Annual Strategic Planning

By News No Comments

annual strategic planning, annual planning, strategic planning, act consulting, Rinaldi Agusyana

Saat anda melakukan tutup buku dan menutup tahun kalender ini, dan menyusun rencana untuk tahun baru ke depan, sejuta pertanyaan akan muncul dalam benak. Apa yang harus dipertimbangkan dalam menentukan Annual Strategic Planning? Banyak pihak yang mengalami kebingungan dalam menyusunnya. Apakah sudah benar atau tidak? Ukuran apa yang bisa dipakai?

Bila Anda termasuk dalam sebagian orang yang memiliki tugas dan tanggung jawab berat ini, dan menginginkan solusi, berikut ini kami memberikan Panduan yang akan dapat membantu. Secara mudahnya, strategi disusun dengan mengisi Balance Scorecard. Ada 4 komponen yang ada di dalamnya, yaitu :

  1. Financial Gain ; bagaimana cara untuk mencapai target keuangan?
  2. Customer Value ; nilai apa yang ingin diberikan pada konsumen anda?
  3. Operation to Create Values ; proses internal apakah yang harus diperbaiki untuk menyediakan nilai dan mencapai tujuan keuangan perusahaan anda?
  4. Capability Needed/ Skills to Run Operation ; apakah keterampilan dan kapabilitas dari tim karyawan yang anda miliki, untuk mengarahkan proses internal agar dapat memenuhi tujuan nilai untuk konsumen, dan bagiamana mencapai tujuan keuangan?

Perpaduan langkah 1 dan 2, akan menunjukkan kekurangan Key Result Area di perusahaan Anda. Dan gabungan dari langkah 3 dan 4 akan menunjukkan Effort yang harus dikeluarkan agar perusahaan anda bisa mencapai Key Performance Indicator yang disepakati antara anda dan tim karyawan.

Sisi lain dari strategi adalah perhitungan SWOT : Strength – Weakness – Opportunities – Threats :

S – O : Strength apa yang bisa anda gunakan untuk mengkapitalisasi opportunities yang dimiliki?

W – O :  Weakness apa yang harus dimitigasikan untuk bisa opportunities bisa terkapitalisasi?

S – T : Strength apa yang bisa digunakan untuk bisa menangani/ mengurangi Threats?

W – T : Strategi apa yang bisa dilakukan untuk meminimkan Weakness dan menghindari Threats?

 

Bagaimana? Itu langkah 2 dari 5 langkah dalam Corporate Strategy Intelligence. Selengkapnya, ESQ memiliki modul lengkap untuk membantu perusahaan Anda dalam menyusun strategi terbaik untuk memastikan proses operations yang anda lakukan di dalam perusahaan, menghasilkan values yang berarti bagi konsumen, dan menghasilkan finansial yang mendukung perkembangan perusahaan beserta para karyawan yang ada di dalamnya.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara mengukur annual strategy di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

 

By; Rinaldi Agusyana, Corporate Strategic Expert & CEO of ESQ Tours & Travel, Peraih World Best Hajj & Umrah Operator in The World 2016

Kelebihan Digital Training

By Article No Comments

Sejak mulai dikembangkan di era revolusi industri 4.0, banyak sekali kelebihan digital training dibanding training konvensional.  Dalam sebuah jurnal tentang analisa persepsi terhadap online learning versus training konvensional dikemukakan bahwa globalisasi dan teknologi meningkatkan pandangan kita mengenai apa yang bisa ditawarkan dalam pendidikan. Bahwa teknologi telah melahirkan banyak jalur untuk kita bisa belajar;

“Globalization and technology are altering our views on education and educational offerings. Technology has given birth to many new avenues for learning”.

Dominique Abrioux (2004), Rektor dari Athabasca University, menyampaikan poin yang berharga, dalam buku yang berjudul “Theory and Practice of Online Learning”. Bahwa salah satu keuntungan utama dari konten training yang disajikan secara digital adalah adanya kemudahan untuk melakukan adaptasi dan kostumisasi konten dan materi. Fleksibilitas yang diberikan dalam digital training pun amat menguntungkan dalam praktek pembelajaran manusia berusia dewasa, dalam hal ini untuk training korporat atau pembelajaran  jarak jauh lainnya seperti dengan e-movie, e-learning, online quiz, dan lain-lain.

Digital training membuat waktu dan tempat pelaksanaan training menjadi fleksibel. Training dapat diikuti dari mana saja. Waktunya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta. Tema training yang ingin diikuti pun sangat beragam.  Karyawan tinggal mencari tempat yang menyediakan internet. Lalu mereka dapat mengakses training dari smartphone atau dari laptop.

Ujian online yang diberikan pun dapat dilakukan untuk mencek sejauh mana pemahaman peserta tentang materi yang diberikan. Hasil yang diperoleh pun langsung terekam secara otomatis dan dapat dilakukan rekapitulasi hasil training dengan mudah. Absensi keikutsertaan training juga terekam dengan baik. Karyawan yang memiliki banyak waktu untuk mengikuti digital training dan mendapatkan nilai tinggi pun dapat diajukan untuk promosi bila telah memenuhi persentase kompetensi tertentu.

Digital training ini dilakukan oleh banyak perusahaan di Indonesia. ACT Consulting telah memandu pelaksanaan digital training untuk ribuan sales dari Auto2000 dalam program Singa Auto2000.  Adira Finance yang memiliki puluhan ribu pegawai pun telah melakukan digital training lewat e-movie yang dipandu oleh digital learning sharing session.

Perusahaan-perusahaan besar di Indonesia selalu menjaga performa karyawannya dengan menyediakan digital training yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja. Bagaimana dengan perusahaan anda? Salam transformasi digital dari ACT Consulting.

peran agent of change, act consulting, andi basuni

Peran Agent of Change dalam pembentukan Good Corporate Culture (GCC)

By Article No Comments

peran agent of change

Kita lanjutkan lagi pembahasan kita tentang apa itu budaya. Mengapa kami dari ACT Consulting merasa perlu untuk membahas budaya secara lebih jauh? Tentu saja karena urgensi besar yang ada di baliknya. Semoga bahasan-bahasan yang diberikan dalam beberapa tulisan ini menjadi upaya yang berarti untuk membentuk budaya yang lebih positif di masyarakat Indonesia.

 

Definisi Budaya

Menurut ahli budaya dan pemerintahan di Indonesia, Prof. Dr. Selo Soemardjan, budaya merupakan sebuah hasil karya, rasa serta cipta dari masyarakat. Hal ini berarti, semua ekspresi diri yang dilakukan dalam konteks bermasyarakat, adalah bentuk dari budaya lho.

Bahkan hal yang terlihat kecil seperti desain iklan yang makin berkembang dari hari ke hari juga adalah suatu bentuk ekspresi budaya yang diciptakan individu dan diserap oleh masyarakat.  Hal yang dianggap kecil seperti gaya lucu dalam berbicara dengan bahasa slang di media sosial yang dimaksud untuk memancing tawa dan like, juga suatu bentuk budaya lho. Dalam masyarakat Indonesia kekinian, definisi Prof Selo Soemardjan ini sepertinya pas ya?

Jauh sebelum sosial media ada, pendiri ilmu anthropologi budaya dari Inggris Edward Burnett Tylor, mendefinisikan budaya sebagai suatu keseluruhan yang memiliki sifat yang kompleks. Keseluruhan yang di maksud adalah meliputi kepercayaan, adat istiadat, hukum, seni, kesusilaan, kesanggupan, bahkan semua kebiasaan yang di lakukan oleh manusia adalah salah satu bagian dari suatu masyarakat.

Ini berarti, budaya merupakan hasil dari interaksi sejumlah unsur yang berbeda di masyarakat yang membentuk suatu kebiasaan yang kemudian menjadi adat istiadat.  Pemerintahan dalam berbagai bentuknya, bertugas menciptakan tatanan sosial yang teratur. Untuk itu, dibuatlah penjaga ekspresi budaya yang berupa sistem yang memagari perilaku individu. Agar tidak bertindak keluar batasan, dengan menciptakan hukum dan undang-undang. Hukum dan undang-undang inilah yang kemudian menjaga sistem kesusilaan di dalam masyarakat, agar kita dapat bekerja dan hidup dengan aman, tenang dan nyaman.

 

Perlunya Good Corporate Culture (GCC) 

Budaya yang ada dalam suatu masyarakat, ada yang positif dan negatif. Dalam konteks perusahaan, budaya yang positif akan meningkatkan performa dan kinerja. Sementara, budaya yang negatif, akan menghasilkan dampak yang negatif bagi kinerja dan performa organisasi. Sementara, berbeda dengan masyarakat, perusahaan adalah suatu sistem ekonomi yang membutuhkan semua bagian yang ada di dalamnya tetap sehat dan baik.

Budaya yang baik diperlukan agar perusahaan bisa menghasilkan income yang baik untuk keseluruhan organisasi dan kelangsungan keluarga dari para karyawan di dalam organisasi, dan memberikan keuntungan pada masyarakat. Sistem ekonomi dari kumpulan sejumlah perusahaan inilah yang kemudian menggerakkan roda perekonomian di suatu negara. Untuk itu, pemerintah memiliki concern  yang besar terhadap baik tidaknya organisasi di dalam sebuah perusahaan dengan menggulirkan program seperti good corporate governance (gcg) dan good corporate culture (gcc), melalui Kamar Dagang dan Industri (KADIN).

Dalam konteks transformasi budaya perusahaan, perubahan budaya dilakukan dengan merubah values lama menjadi values baru yang ideal. Dari current values ke desired values. Penanaman values ini dilakukan agar ekspresi budaya ini terbentuk menjadi sebuah budaya baru. Selain juga dilakukan perubahan secara sistemik melalui perubahan peraturan perusahaan dan rekayasa organisasi.

 

Peran Agent of Change dalam Transformasi Budaya

Pembentukan budaya baru juga dilakukan dengan melibatkan peran aktif dari para Agent of Change (AoC). Dalam hal ini, ada 4 peran yang dilakukan oleh para Agent of Change, sesuai dengan peran utama mereka untuk melakukan akulturasi values baru untuk membentuk good corporate culture (GCC) atau desired culture di dalam perusahaan, yaitu;

  1. Sebagai Obat; Nilai-nilai yang telah dikuasai oleh Agent of Change akan tersebar secara adaptif dalam pekerjaan dan interaksi antar karyawan di lingkungan perusahaan, untuk menjadi penyembuh dari budaya sebelumnya yang ingin diubah.
  2. Sebagai Vitamin; Nilai-nilai yang dikuasai oleh Agent of Change akan membangkitkan energi baru di dalam dirinya secara internal, untuk menjadi panutan bagi kawan-kawannya dalam bekerja. Yang setelah berjalan selama sekian bulan hingga sekian tahun, akan membuat para karyawan lain memiliki daya tahan terhadap budaya lama yang sebelumnya dikeluhkan, menjadi budaya baru yang diharapkan.
  3. Sebagai Katalis. Nilai-nilai yang telah didalami oleh para Agent of Change ini kemudian akan menjadi shared values atau nilai bersama sebagai sebuah organisasi sistemik yang mampu menghasilkan daya kerja dan performa kerja yang bersifat eksponensial, sebagai hasil dari akselerasi yang terjadi sebagai hasil transformasi budaya.
  4. Sebagai Pelumas. Agent of Change akan menghaluskan proses masuknya nilai-nilai ideal untuk membentuk budaya baru, dengan meminimalisir konflik dan mencegah terjadinya gegar budaya diantara karyawan dan manajemen. Hal ini penting untuk mengurangi resistensi organisasi terhadap proses transformasi budaya yang tengah berlangsung.

 

By Andi Basuni, Corporate Strategic Expert dari ACT Consulting

andi basuni, peran agent of change, act consulting

Menjadi Pemimpin yang berpengaruh - Corporate Culture Transformation

Influence atau Influenza? Menjadi Pemimpin yang ‘Menular’

By Article No Comments

Menjadi Pemimpin yang berpengaruh - Corporate Culture Transformation

Pencapaian kinerja sebuah tim, baik perusahaan atau instansi sangat ditentukan oleh kekuatan leadership-nya. Ibarat lokomotif, seorang leader mengambil peran sentral dan dominan dalam menggerakkan roda organisasi. Dengan demikian cepat lambatnya atau bahkan maju mundurnya sebuah organisasi atau perusahaan ditentukan para leader.

Kita bisa belajar dari Karpenter Corporation, perusahaan yang telah berusia 50 tahun, dan termasuk dalam jajaran “American Ten Most Innovative” karena sukses dengan pencapaiannya selama bertahun-tahun.

Namun dalam waktu 4 tahun terakhir di tangan seorang pimpinan executive-nya, meluncur jatuh dalam jurang kebangkrutan. Para eks-karyawannya harus mengelus dada melihat semuanya dijual dalam pelelangan. Apa yang terjadi?

Telah terjadi kerusakan serius dalam mekanisme kerja di Karpenter Corporation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemerosotan diakibatkan oleh para leader management. Berdasarkan riset selama tiga tahun terakhir sebelum kejatuhannya, antara teori dan praktik manajemen dalam perusahaan tersebut sangat berseberangan.

Akibatnya, 65 karyawan profesional Karpenter merasakan adanya ‘disengaged’, dan banyak di antaranya memutuskan untuk hengkang dari perusahaan yang semula dicintainya itu.

Dari kisah di atas selain kita bisa belajar tentang pentingnya peran seorang leader dalam membangun engagement dengan bawahan atau timnya. Karena kepemimpinan sesungguhnya berwujud tindakan bukan semata-mata jabatan.

Pemimpin harus memberi pengaruh. Kata influence (pengaruh) dan influenza (flu) berasal dari akar kata yang sama. Pemimpin sesungguhnya bersifat menular. Orang tertular sesuatu yang dekat dari dirinya. Orang tertular visi dan value mereka. Mereka mampu menarik pengikut dan membuat orang bergerak. Jika dibuat metafora, mereka ini seperti kolam ombak, yang menciptakan efek gelombang dimana pun mereka berada. Inilah yang dapat menimbulkan engagement dengan bawahannya.

Pemimpin harus memberi dampak. Di akhir, pemimpin membuat perbedaan. Dunia berubah karena kepemimpinannya. Mereka mampu membuat perubahan nyata dan berlangsung lama. Jika tidak ada perubahan, mereka bukan pemimpin, tapi hanya penghibur. Ada perbedaan besar diantara keduanya. Ukuran sebuah kepemimpinan tidak bisa dilihat dari dalam diri pemimpin itu sendiri, tapi dari dampak yang diciptakan di dalam diri pengikutnya. 

“Saat seorang pemimpin mengeluarkan potensi terbaik dalam dirinya, maka hal itu akan membuat orang di sekitarnya menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Pemimpin demikian adalah pemimpin yang menginspirasi dan tidak akan pernah dilupakan bawahannya.” DR.HC Ary Ginanjar Agustian.

Outbound Training Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Lembaga Pertahanan Nasional RI (Lemhannas)

By News No Comments

Tahukah Anda bahwa kerjasama tim tidak hanya mampu menyelesaikan tugas-tugas ringan namun juga mampu meraih tujuan tim. Tujuan yang merupakan agenda besar dari organisasi dan perusahaan. Dan salah satu cara terbaik untuk membangun kerjasama tim adalah outbound training.

Seperti yang baru-baru ini dilaksanakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional RI (Lemhannas), yang menggelar Outbound Training Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Bagi Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT).

Bersama ACT Consulting, Lemhannas berharap bahwa Outbound ini bisa menjadi lahan untuk mengaplikasi materi yang diterima oleh peserta. Setelah sebelumnya peserta mengikuti rangkaian pendidikan di kelas selama 5 hari yang berfokus pada pemantapan Nilai-Nilai kebangsaan, sehingga dapat menjadi sikap kerja para peserta.

Banyak hal menarik terjadi sepanjang acara yang yang berlangsung 13 – 14 Januari 2018, Villa Ratu Pancawati Bogor. Peserta yang sharing merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

Peserta juga mengaku, Outbound ACT Consulting membantu dalam pembentukan tim yang kompak dan sangat fun. Bahkan pihak Kepala Dinas menyatakan ACT Outbound adalah Outbound yang berbeda. Terdapat games yang bukan hanya menarik dan menyenangkan, namun ada pemaknaan di setiap sesinya.

Terlebih pada sesi, Final Project, yang membuat banyak peserta sadar bahwa, gangguan itu bisa dari mana saja, dan bahwa menjaga kesatuan NKRI tidaklah mudah. Kita harus bersatu dalam menjaganya.

Mengukur Budaya Organisasi OCHI BPS 4

Pengukuran Budaya Organisasi di Badan Pusat Statistik

By News No Comments

Budaya organisasi yang sehat adalah budaya organisasi yang memiliki kekuatan, dimana sebagian besar anggota tim mendukung serta melaksanakan budaya yang telah disepakati. Untuk mengetahui apakah budaya organisasi tersebut sehat atau tidak, maka setiap perusahaan perlu melakukan pengukuran budaya organisasi.

Akan tetapi selama ini banyak organisasi/perusahaan tidak memiliki metode untuk mengukur budaya organiasi (sesuatu yang intangible).

Untuk mendapatkan pengukuran budaya organisasi yang tepat dan secara keseluruhan, termasuk untuk setiap unit kerja, Badan Pusat Statistik (BPS) menyelenggarakan program Organization Culture Health Index (OCHI) bersama ACT Consulting, 28 November s/d 22 Desember 2017

Kecuk Suhariyanto, Kepala BPS, menyampaikan kepada jajaran eselon 1&2 bahwa program ini sangat bagus untuk dilakukan secara periodic, demi mengetahui kondisi saat ini di BPS dan harapan pegawai ke depan. Beliau menyampaikan kementerian lain juga menggunakan program ini.

Dari hasil OCHI untuk Kantor Pusat dan Provinsi, para pimpinan dan seluruh jajaran BPS puas dan berterima kasih dengan hasil ini. Hasil OCHI dapat memotret masalah-masalah yang terjadi di BPS dan menjadi bahan untuk perbaikan kedepannya, minimal untuk menentukan program budaya organisasi di BPS untuk 1 tahun ke depan.

Cara meningkat engagement dan kinerja karyawan

5 Cara Meningkatkan Engagement & Kinerja Karyawan Dengan Mudah & Menyenangkan

By Article No Comments

Cara meningkat engagement dan kinerja karyawan

Cara Meningkatkan Engagement & Kinerja Karyawan – Apa yang terjadi jika seorang pimpinan perusahaan mampu mendapatkan karyawan dengan engagement tinggi dan kinerja dahsyat? Pasti senang bukan main. Kegiatan operasional sehari-hari bahkan profit perusahaan secara keselurahan bisa meningkat dengan signifikan.

Akan tetapi berdasarkan riset Gallup pada 190 negara termasuk Indonesia, tingkat engagement karyawan di tempat kerja hanya sekitar 13% dari yang benar-benar berdedikasi pada pekerjaan mereka.

Lalu bagaimana cara meningkatkan employee engagement?

1. Melakukan Pendekatan Sesuai Budaya Perusahaan

Anda bisa mencontoh Google untuk melalakukan hal ini. Budaya perusahaan di Google memiliki kultur transparansi yang sangat kental. Mereka memperbolehkan karyawan untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan selama 20% dari total waktu kerja untuk meningkatkan engagement karyawan. Hasil? Kreativitas dan kinerja mereka meningkat.

2. Merekrut Karyawan yang Sejalan

Tahukah Anda bawah 69% karyawan yang mengajukan resign bukanlah karena alasan keuangan. Artinya banyak masalah lain yang menjadi penghalang mereka untuk berkeja secara maksimal. Dengan mendapatkan karyawan yang sesuai dan sejalan dengan Visi-Misi yang kita miliki akan mengurangi masalah non-finansial yang membuat karyawan tidak betah di perusahaan.

3. Menujukan Kepedulian

Pemimpin perusahaan yang baik adalah mereka mampu meningkatkan engagement karyawan. Tunjukan rasa peduli secara akrab namun tetap profesional.

4. Memberikan Pelatihan Bagi Karyawan

Memberikan pelatihan demi pengembangan karyawan dan SDM adalah cara terbaik untuk memotivasi karyawan. Melalui pelatihan, karyawan mendapat ilmu baru dan tangan baru untuk kemajuan perusahaan.

5. Outbound Training

Outbound training adalah salah satu agenda yang perlu dicanangkan perusahaan untuk meningkatkan engagement karyawan secara menyenangkan. Dengan outbound training, team building akan semakin terbentuk dan harmonisasi tim semakin terasa

Pendekatan Budaya Dalam Komunikasi Organisasi

Bagaimana Pendekatan Budaya Komunikasi Organisasi

By Article No Comments

Pendekatan Budaya Dalam Komunikasi Organisasi

Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai rasa membutuhkan terhadap banyak orang. Rasa emosional inilah yang mempengaruhi tindakan, perilaku, dan komunikasinya di berbagai lingkungan, termasuk lingkungan kerja.

Sebagai seorang karyawan dalam sebuah organisasi yaitu perusahaan, akan memilih tindakan berdasarkan kepercayaan, nilai, dan proses yang ia anut dan pernah alami. Oleh sebab itu sebagai seorang pemimpin, leader, maupun manajemen perusahaan, wajib memiliki kemampuan untuk melakukan upaya persuasif agar karyawan memiliki kesamaan dalam visi misi dan budaya perusahaan.

Dengan begitu tujuan perusahaan dapat berjalan dan terwujud secara efektif dan efisien.

Dalam Perspective On Organizational Communications,Daniel et al (1997), membahas tentang Budaya Organisasi dari Sudut pandang multi perspektif.

1. Budaya Organisasi Perspektif Tradisional

Dalam perspektif ini, budaya merupakan karakter yang dimiliki organisasi, baik itu dalam struktur maupun teknologi yang digunakan oleh perusahaan tersebut. Jadi budaya organisasi dalam perspektif ini dapat dilihat dari bagaimana struktur organisasinya, teknologi apa yang digunakan. Jika struktur organisasi yang ada semakin rumit dan teknologi yang digunakan semakin canggih, maka kredibilitasnya semakin baik.

2. Budaya Organisasi Perspektif Interpretif

Menurut perspektif interpretif budaya organisasi dipandang sebagai kesuluruhan nilai, proses, struktur yang tampak dalam organisasi. Perbedaan perspektif interpretif dengan tradisional adalah soal penilaian budaya organisasi, sebagai proses berbagi antar anggota. Jadi semua yang ada dalam organisasi melebur dan membentuk suatu budaya. Organisasi juga dipandang sebagai tempat berbagi untuk memenuhi tujuan bersama.

Jika tradisional bersifat konsisten dan homogen, lain hal nya dengan interpretif yang bersifat beda-beda dan dinamis. Karena dalam budaya ada subculture yang berasa dari orang yang berbeda pula. Disinilah seorang leader berperan untuk menghilangkan perbedaan tersebut dan meleburkannya menjadi sebuah kesepakatan bersama.

3. Budaya Organisasi Interpretif Kritis

Dilihat dari namanya saja bisa kita tebak bawah perspektif kritis adalah menganalisis fakta yang ada, membuat beberapa gagasan dan mempertahankan gagasan tersebut kemudian membuat perbandingan.

Perspektif ini sama dengan interpretif namun perpektif kritis berasumsi bahwa organisasi adalah tempat perjuangan sistem yang berlawanan.

Apa sistem berlawanan? Sistem organisasi yang bertolak belakang, tidak adil untuk satu pihak, dan berat sebelah. Misalnya, pembuatan sistem baru diperusahaan yang dirasa hanya menguntungkan pihak manajemen, sedangkan pihak non manajemen dituntut bekerja lebih namun penghasilan yang didapat tidak berubah.

wajah sama talent berbeda

Wajah Sama Talent Beda | Pelatihan dan Pengembangan SDM

By Article No Comments

wajah sama talent berbeda

” Wajah Sama Talent Beda ”

Keberuntungan dalam hidup saya yang terbesar adalah bahwa saya berhasil menemukan “Talent Diri” saya sendiri, dan karenanya karir saya berkembang dengan pesat dan mudah sehingga saya merasa
3 E yaitu :
Enjoy – Ease – Excelent.

Begitu juga keberuntungan Rudy Hartono, Rudy Habibie, Rudy Hadisuwarno atau Rudy Chaeruddin. Mereka semua Rudy tapi Talent berbeda-beda.

Ada sebuah riset di Nebraska kepada sekelompok orang untuk testing “speed reading” atau membaca cepat. Hasilnya mereka terbagi menjadi dua kelompok.
Kelompok satu 90 kata per menit, kelompok dua 150 kata per menit.
Lalu kedua kelompok itu diberikan pelatihan lagi yang sama.
Hasilnya sangat mengejutkan.
Kelompok satu meningkat menjadi 150 kata pet menit. Sedangkan kelompok dua menjadi 2900 kata per menit !!!

Kesimpulannya adalah, bahwa akan jauh lebih efektif mengembangkan talent kita dibanding memperbaiki kekurangan diri.

Ini 5 Talent saya yang kini menjadi Strength saya. Alhamdulilllah. Karunia Nya.
1. Saya Futuristic. Saya bisa berfikir dan bicara masa depan dengan sangat jelas dan semangat. Inilah yg melahirkan konsep Indonesia Emas.
2. Saya Achiever. Ini menjadikan saya seorang yg bekerja keras, suka tantangan dan akan berusaha mencapai semua yg saya inginkan tanpa kenal lelah.
3. Saya Self Assurance. Ini yang menjadikan saya percaya diri dengan semua keputusan saya meskipun harus sendirian memperjuangkannya. Saya akan berdiri dan bicara di depan banyak orang tanpa ragu atau bimbang respond orang lain. Inilah ” Strength ” yang saya pakai dalam membangun ESQ dan Menara 165.
4. Saya adalah INPUT, ini yang membuat saya suka menerima masukan dan infomasi baru yang sentiasa membuat module ESQ up to date. Juga membuat saya suka jalan-jalan ha ha ha.
5. Saya POSITIVITY, ini yang membuat saya selalu bersikap positif dalam segala keadaan dan saya selalu SENYUM.. benar khan ?

Selanjutnya saya terus fokus memanfaatkan Lima Strength Anugerah Allah ini.

Itu saya. Lalu bagaimana dengan Anda sendiri ?

Temukan TALENT Anda, ketahui LIMA tema KEKUATAN Anda yang paling DOMINAN, klik :
bit.ly/StrengthFind

Informasi :
0856 9489 7725 (Team ACT)

Dr. HC. Ary Ginanjar Agustian
(Founder ACT Consulting)