Skip to main content

Memahami Etika Dalam menjalankan Program Assessment Center

By November 24, 2022Article
Memahami Etika Dalam menjalankan Program Assessment Center

Saat ini, berbagai perusahaan, baik Pemerintah, Swasta, Militer maupun Lembaga Pemerintahan, khususnya pihak-pihak yang menangani Sumber Daya Manusia memiliki perhatian dan ketertarikan yang besar untuk menggunakan atau memanfaatkan suatu tool atau alat bantu yang bisa mengidentifikasi kompetensi manajerial dari para pegawainya. Hal tersebut dilakukan tentunya bisa dalam rangka seleksi, promosi, pengawakan maupun pengembangan. 

Selain penggunaan metoda test yang biasa, seperti Psikotest, Inventory Test, Competency Based Interview (CBI) atau Behavioral Interview dan banyak lainnya lagi, salah satu alat bantu assessment yang sedang menjamur dan sering digunakan adalah Metode Assessment Center. Metode ini merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk membantu dalam hal mengevaluasi kompetensi seseorang dalam pekerjaan.

Sejak pertama kalinya digunakan Metode Assessment Center ini di Indonesia oleh PT. TELKOM pada 10 November tahun 1990, maka tahun-tahun berikutnya. penggunaan metode ini mengalami peningkatan yang pesat sampai dengan sekarang ini. Melihat hal ini, maka para praktisi, pengguna dan akademisi merasa perlu adanya suatu standar atau pedoman bagi penerapan metode assessment center. Sehingga pada tanggal 20 September 2001 bertempat di Jakarta, mereka telah menyepakati dibentuknya suatu gugus tugas  untuk menyusun pedoman dan kode etik penerapan metode assessment center di Indonesia, yang sumbernya tetap mengacu pada Guidelines and Ethical Considerations for Assessment Center Operations yang disusun oleh International Task Force on Assessment Center Guidelines dan telah disahkan dalam kongres internasional mengenai metode assessment center pada tanggal 4 Mei 2000 di San Francisco, Amerika Serikat.

Assessment Center adalah suatu metode untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi perilaku  secara terintegrasi dengan menggunakan berbagai simulasi yang dirancang untuk mengukur kompetensi yang dibutuhkan agar sukses dalam pekerjaan yang akan didudukinya, yang proses observasi dan evaluasinya dilakukan oleh beberapa orang assessor (penilai), yang sebelumnya sudah diberi pelatihan sebagai assessor (assessor training). Yang juga menjadi standard sebelum menjalankan program assessment center adalah terlebih dahulu kita harus melakukan proses analisa jabatan guna mengetahui kompetensi, atribut dan indeks kinerja yang disyaratkan (kriteria) untuk sukses dalam suatu pekerjaan. Infomasi ini akan dijadikan dasar untuk memilih atau merancang jenis simulasi yang bisa mengukur kompetensi tersebut.

Jadi, prinsip yang menjadi etika dalam  menjalankan metode Assessment Center adalah bila memiliki ciri-ciri multiple exercise, multiple assessor dan dalam evaluasinya berdasarkan pada kriteria sukses untuk suatu pekerjaan tertentu. Setiap assessor akan mencatat dan mengumpulkan data hasil observasi langsung atas perilaku yang muncul saat assesse (peserta) memasuki atau menjalankan berbagai simulasi. Data-data dari assessor tersebut akan diintegrasikan dan dievaluasi dalam suatu proses meeting, sehingga diperoleh kesepakatan nilai (rating) sesuai kriteria sukses untuk pekerjaan tersebut. 

Melihat proses atau alur kerja assessor yang harus mengobservasi perilaku assesse pada setiap simulasi yang diberikan, maka dalam metode assessment center ini sangatlah penting adanya keterlibatan assessor dari awal sampai akhir pengambilan data. Dengan demikian, informasi atau data yang diperoleh lebih jelas, utuh, akurat dan bermakna langsung bagi assessor, yang nantinya harus dibawa dalam proses meeting (assessor meeting), sebagai proses yang juga wajib dilakukan dalam program Assessment Center ini. Keterlibatan assessor secara penuh tentunya akan memudahkan dalam mengevaluasi, menetapkan rating dan membuat gambaran perilaku yang menjadi kekhasan dari setiap assesse (peserta). Sedangkan proses observasi atau pengambilan data yang tidak utuh, terpotong-potong atau dengan disengaja dibagi-bagi, tentunya akan menyulitkan assessor dalam memahami data secara utuh. Terlebih lagi bila proses assessor meeting pun tidak dilakukan, maka akan menyulitkan bagi yang membuat laporan akhir dari proses assessment center tersebut, yang tentunya akan berdampak pula pada akurasi dari isi laporan tersebut.

Semoga sekilas etika pelaksanaan dalam menyelenggarakan program Assessment Center ini dapat dijadikan referensi dan bisa lebih meningkatkan profesionalisme dari para psikolog, assessor, lembaga penyelengara assessment center, praktisi ataupun pengguna lainnya. (waa@PASSTI)

Leave a Reply

Open chat
1
Hubungi Kami
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?