Skip to main content

Tips Menghadapi Karyawan Bermasalah (1) ; Menghadapi Karyawan Yang Emosional

By May 10, 2019May 13th, 2019Article

Menjalankan keseharian bekerja, pasti akan bertemu momen dimana ada rekan yang terpancing secara emosional lalu melakukan sesuatu yang akhirnya ia sesali. Apakah rekan tersebut terpancing marah, atau rekan lain terpancing menangis. Di lingkungan kerja, terutama di lingkungan yang penuh tekanan pekerjaan dan beban pekerjaan yang berat, hal tersebut bisa saja terjadi. Bahkan mungkin saja, hal tersebut terjadi kepada Anda.

Namun manusia memang selalu harus memperbaiki diri terus menerus. Perumpamaan perkembangan kepribadian manusia yang terus bertumbuh adalah seperti seekor ulat yang buruk rupa menjadi kupu-kupu yang cantik dan gagah pada akhirnya. Namun proses untuk menjadi seorang dengan kematangan dan kedewasaan serta pengendalian emosi yang baik tersebut membutuhkan proses. Tidak berlangsung sekejap secepat membalikkan telapak tangan.

Sebagai seorang yang memiliki tanggung jawab untuk bekerja di bagian SDM, mungkin Anda punya amanah lebih untuk membantu mereka yang memiliki kesulitan dalam pengendalian emosi ini. Mungkin Anda dengan amanah tersebut, tengah kebingungan dalam menentukan apa yang harus dilakukan. Berikut ini kami sampaikan beberapa tips dan langkah untuk melakukannya. Semoga berhasil!

Hal yang pertama, coba pahami mengapa seseorang terpancing emosinya. Dengan cara ini, Anda membuka jembatan komunikasi antara karyawan yang emosional tersebut dengan diri Anda. Berikan padanya kesempatan untuk menjelaskan. Terkadang dapat dengan cara yang tidak formal, dengan mencoba bicara di kesempatan yang tidak formal.

Hal yang kedua, coba pahami apakah sifat tersebut dominan atau tidak padanya. Ada orang yang marah hampir setiap hari, karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaanya. Ada juga orang yang marah tapi jarang sekali, hanya beberapa kali dalam setahun. Menghadapi kedua orang ini tentu akan berbeda. Pada jenis orang yang pertama, emosional telah menjadi sifatnya. Sementara pada orang  yang kedua, kita harus menyelidiki lebih jauh mengapa orang tersebut bisa marah, karena bisa jadi ada hal penting dibaliknya.

Hal yang ketiga, ajarkan cara-cara anger management. Ada beberapa langkah dalam manajemen kemarahan atau manajemen emosi buruk lainnya. Diantaranya adalah upaya untuk menghilangkan kebiasaan marah dengan melakukan relaksasi menarik nafas beberapa detik lalu menahannya. Ajarkan keterampilan tersebut pada orang yang anda hadapi. Beritahukan padanya, apapun alasannya, memberikan respon emosional kepada orang lain dalam konteks pekerjaan atau di kantor, lebih banyak akan memberikan hasil yang negatif.

Baca Juga:  Alan Mulally dan Ukiran Kesuksesan Sebagai CEO Boeing, CEO Ford dan Kini Director Alphabet (Google)

Hal yang keempat, ajarkan cara mengubah mindset atau persepsi. Seringkali orang marah, karena kerangka yang ada di otaknya. Ia tidak dapat memahami orang yang memiliki cara berpikir yang berbeda dengannya. Untuk orang yang sering terpancing emosinya karena perbedaan persepsi, ajarkan teknik mengganti topi atau mengganti kacamata. Berikan latihan padanya untuk mencoba memakai topi atau sepatu orang lain. Minta ia untuk memahami bagaimana kondisi orang lain yang ia hadapi. Ajarkan bahwa dengan cara ini, ia akan memiliki hati dan pemikiran yang lebih luas. Dengan cara ini, ia pun akan lebih dewasa dan akan lebih mampu untuk menangani berbagai persoalan dengan lebih baik, tidak dengan marah atau reaksi emosional lainnya.

Hal yang kelima, minta ia pahami bahwa kedudukan semua orang setara. Seringkali mereka yang sering marah atau reaksi negatif lainnya, melakukan hal tersebut karena ia menganggap dirinya lebih dari orang lain. Hal ini tentu saja akan membuat keadaan menjadi tidak menyenangkan bagi banyak orang. Ajak orang yang seperti ini untuk melihat berbagai video motivasi tentang kesetaraan hak atau yang sejenisnya. Beritahukan juga padanya bahwa tidak ada orang siapapun yang berhak berperilaku buruk pada orang lain. Bahwa memperlakukan semua orang dengan setara adalah kewajiban bagi semua orang. Bahwa dengan menjadi arogan atau merasa lebih, tidak akan membantu karirnya dimana pun.

Hal yang keenam, minta orang tersebut menentukan kerangka waktu perkembangan emosionalnya. Minta ia menentukan kapan ia harus sudah bisa mempraktekkan berbagai hal yang diajarkan. Dengan cara ini anda tidak perlu mengejar-ngejar orang tersebut mengenai jadwal perbaikan dirinya. Beritahukan bahwa ia memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Bahwa ia memiliki kendali atas kondisi emosionalnya. Bahwa ia dapat menentukan apakah ia ingin terus seperti itu atau ia dapat memilih untuk tumbuh dan berkembang menjadi orang yang lebih bahagia dan lebih puas secara emosional.

Membantu orang lain selalu terasa membahagiakan. Terutama bila kita berhasil. Namun bila kita tidak berhasil pun, pahami bahwa apa yang anda lakukan untuk orang tersebut sudah sangat berarti. Sementara orang-orang lain tidak mau peduli, namun anda memiliki kepedulian padanya. Untuk itu, kami dari ACT Consulting ingin memberi anda kata: Selamat! Walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama untuk merubah orang lain, hal yang terpenting adalah apakah kita sudah lebih dahulu menjadi teladan. Itulah yang terus digaungkan oleh ESQ, untuk memperbaiki diri sendiri sebelum orang lain. Ikutilah tips-tips berikutnya dari ACT Consulting. Salam Transformasi!

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?