Kita pasti semakin sering menjumpai orang-orang yang ingin menjadi agen perubahan dalam organisasi dan lingkungan kerja. Atau mungkin Anda sendiri juga sedang memperjuangkan suatu perubahan?
Seseorang kadang mudah tergerak untuk melakukan perubahan atau menjadi agen perubahan, namun cara yang ditempuh mungkin belum tepat.
Ada satu hal penting yang belum disadari oleh agen perubahan, yaitu komitmen.
Komitmen Sebagai Bekal Agen Perubahaan
Training of Trainer Change Agent BRI
Mengapa demikian? Karena perubahan selalu dimulai dari diri sendiri.
Coba lihat contoh dari Mahatma Gandhi di India. Ketika India dijajah Inggris, Gandhi menjadi pemimpin yang mampu membawa negaranya menjadi bangsa merdeka. Dirinya percaya bahwa setiap pribadi menjadi pembawa perubahan untuk melihat apa yang mereka inginkan dapat terjadi di dunia ini.
Gandhi adalah pemimpin revolusioner. Namun ia berhasil membawa India menjadi bangsa merdeka tanpa memulai sebuah revolusi. Ia bahkan melakukannya tanpa kekerasan sama sekali.
Gerakan Satyagraha yang dipimpinnya berhasil membawa perubahan bagi sebuah bangsa yang dahulu terpuruk hingga kini menjadi bangsa yang diperhitungkan dalam peta perdagangan dunia.
Gandhi mengatakan, “In a gentle way you can shake the world,” yang berarti dengan sebuah cara yang lemah lembut Anda dapat mengguncang dunia. Sungguh pemikiran yang berbeda untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Begitu pula untuk menjadi agen perubahan, Anda tidak harus berteriak. Tidak pula harus pandai berbicara. Anda tidak harus menjadi terpilih.
Tidak pula harus menjadi sangat pandai atau berpendidikan. Komitmenlah yang dibutuhkan. Karena sekali lagi, perubahan selalu dimulai dari diri sendiri.
Meaning of Work Workhshop Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (2)
Telah berlangsung “meaning of work workshop” Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI), di Putri Duyung, Ancol.
Kegiatan yang berlangsung pada 22 Feb 2018 ini diikuti oleh seluruh karyawan, termasuk Direktur PPBBI serta para direktur mitra.
Training yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai perusahaan kepada seluruh karyawan PPBBI ini dipandu langsung oleh Trainer ACT Consulting, Rinaldi Agusyana dan Asisten Trainer, Ilham.
Dengan adanya program internalisasi nilai perusahaan ini, diharapkan karyawan PPBBI semakin mengenal dan mengetahui nilai serta perilaku yang diharapkan oleh organisasi dan termotivasi untuk menjalankannya.
Karyawanpun diharapkan faham akan nilai penting bagi pribadi maupun organisasi. Sehingga mereka buy in kepada nilai organisasi bukan saja secara kognitif (knowledge) namun juga afektif (emosi) sehingga mereka own it dan menunjukkannya dalam perilaku.
Meaning of Work Workhshop Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (3)
Meaning of Work Workhshop Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia
Kepaduan internal harus dimulai dengan tim kepemimpinan. Jika tim kepemimpinan tidak sejajar satu sama lain, maka seluruh organisasi akan menjadi tidak seimbang dan entropi budaya akan meninggi.
Kami telah menemukan bahwa satu faktor terpenting dalam keberhasilan untuk membangun organisasi dengan performa tinggi adalah dengan membuat tim kepemimpinan yang terpadu. Akan tetapi, faktor inilah yang sangat sulit dilakukan oleh organisasi.
Terdapat tiga kualitas yang paling menonjol dari kualitas lainnya dalam membangun tim kepemimpinan yang terpadu, yaitu visi bersama, nilai bersama, dan budaya saling percaya.
Visi bersama memastikan bahwa setiap orang memiliki tujuan yang sama.
Nilai bersama memastikan bahwa setiap orang membuat keputusan mengenai hal yang penting bagi perusahaan secara konsisten.
Budaya saling percaya adalah hal yang esensial. Hal ini meningkatkan ketangkasan dan kecepatan dalam membuat keputusan, serta membangun kesatuan dalam tim. Kepercayaan mengadopsi tanggung jawab, kewenangan, dan pembuatan keputusan yang terdistribusi. Selain itu, kepercayaan juga sangat fundamental dalam membangun hubungan yang erat dengan semua pemangku kepentingan.
Terdapat dua belas kondisi dasar yang harus dilakukan untuk membangun kepercayaan. Hal ini ditunjukkan dalam Matriks Kepercayaan di bawah ini. Tim harus menguasai semua komponen ini untuk membuat tim dengan performa bagus begitu pula organisasi dengan performa bagus.
Tujuan
Kepedulian: Mengawasi kesejahteraan organisasi dan semua karyawannya.
Transparansi: Memberikan kejelasan mengenai motivasi yang menjadi dasar pembuatan keputusan.
Keterbukaan: Menyetujui dan menerima ide dan opini dari semua karyawan.
Integritas
Kejujuran: Bertindak jujur dan terus terang dalam komunikasi antarpersonal.
Keadilan: Bertindak tanpa prasangka, diskriminasi, atau tidak adil terhadap semua karyawan.
Autentik: Berpikir, berucap, dan bertindak dengan konsisten dan sungguh-sungguh setiap saat
Kemampuan
Kemampuan: Menyelesaikan kegiatan profesional dengan mudah, cepat, dan cakap.
Pengetahuan: Menjadi familier dan terbiasa dengan topik atau urusan profesional.
Pengalaman: Mengumpulkan pengetahuan praktik melalui observasi pribadi.
Hasil
Reputasi: Menjadi diri yang disukai oleh bos, teman kerja, dan bawahan.
Kredibilitas: Menyatakan ide menggunakan sikap yang meyakinkan dan dapat dipercaya.
Performa: Mengindahkan tanggung jawab pribadi dengan pencapaian dan keunggulan.
Ary Ginanjar Agustian : Kisah Sukses Membangun Budaya Organisasi – Percepatan dalam melakukan transformasi budaya akan mendongkrak income karena semua potensi yang ada dalam organisasi perusahaan akan terfokus pada tujuan yang sama. Sayangnya banyak perusahaan justru tidak tahu bagaimana mekanisme membangun budaya perusahaan sehingga gagal dalam melakukan transformasi budaya.
Padahal kondisi pasar yang kompetitif dan kebutuhan konsumen yang semakin variatif menuntut perusahaan melakukan transformasi budaya untuk tetap eksis di lingkup bisnisnya.Budaya perusahaan dibangun melalui penyatuan karakter sumber daya manusia (SDM) di dalamnya yang disatukan oleh kesatuan misi, nilai, visi serta makna bekerja.
Transformasi harus selalu di jalankan setiap perusahaan yang ingin berkembang dan meningkatkan keuntungannya. Masih banyak perusahaan yang tidak melakukan transformasi karena terlalu nyaman di zonanya.
Kisah Sukses Ary Ginanjar Agustian Membangun Budaya Organisasi
Kunci menjalankan Transformasi adalah Kepemimpinannya, Bagaimana Pemimpin menjadi Energi dan berani melakukan eksekusi dalam menjalankan perubahan budaya perusahaan. Ary Ginanjar Agustian juga telah berhasil melakukan Transformasi Budaya dalam perusahaan sehingga saat ini Jumlah Alumni ESQ terus meningkat menembus angka 1.700.000 Alumni.
Pasalnya permasalahan perusahaan belum melakukan transformasi adalah keraguan dalam melakukan perubahan sedangkan kondisi pasar tidak pernah stabil. Oleh karena itu pentingnya untuk meresapi arti dari produk yang kita jual, corporate culture yang jelas, Misi dan Visi yang kuat menjadikan Transformasi Budaya adalah cara perusahaan bertahan dan meningkat di era yang serba berkembang.
Tentunya harus selalu di perlukan 3 motivasi secara integral yaitu Material, Emotional dan Spiritual motivasi. Ary Ginanjar Agustian bersama ACT Consulting telah mengembangkan sebuah metode yang dapat melakukan transmormasi budaya dalam waktu yang cepat dan dapat internalisasi kepada setiap karyawan.
Dalam melakukan transformasi budaya perusahaan ACT Consulting memiliki 10 Steps agar transformasi budaya berjalan efektif dan efisien.
Pada setiap kegiatan outbound training, teman-teman pasti acap kali disuguhkan sesi ice breaking sebelum kegiatan dimulai. Mengapa harus ada ice breaking?
Ternyata, manfaat ice breaking dalam kegiatan outbound training sangat banyak sekali, bahkan pengaruhnya sungguh luar biasa. Pada dasarnya, manfaat ice breaking dalam kegiatan outbound training adalah agar dapat mencairkan suasana, bisa tertawa bersama, saling bercanda, tanpa rasa canggung dan malu terhadap rekan lainnya.
Manfaat Ice Breaking Dalam Kegiatan Outbound Training
Outbound Training Bank Rakyat Indonesia
Tujuan Ice Breaking Dalam Kegiatan Outbound yang lainnya yaitu memberi peluang kepada peserta untuk memperkenalkan diri satu sama lain, hingga saling kenal sebelum memulai aktivitas outbound.
Sesi ice breaking ini biasanya adalah sesi pendahuluan yang ringan dan menyenangkan. Ice breaking juga disiapkan untuk memberikan kesempatan kepada peserta agar dapat saling mengenal dan mengurangi penghalang yang mungkin muncul. Banyak pula yang mengatakan jika keberhasilan atau kegagalan suatu program outbound training, tergantung pada Ice Breaking ini.
Memecahkan kebekuan antar peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Peserta akan merasa nyaman dengan satu sama lain. Jika antar peserta merasa nyaman, dengan senang hati mereka akan berpartisipasi dan mengeluarkan ide-ide baru.
Mereduksi bahkan menghilangkan ketegangan dan kesenjangan antar peserta. Karena setiap peserta outbound training pasti memiliki mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Ada Manajer, Leader, Supervisor, karyawan biasa, bahkan office boy.
Dengan adanya kegiatan ice breaking, diharapkan setiap peserta mampu melepaskan jabatan dan ‘baju kesebaran’ mereka masing-masing dan berbaur satu sama lain.
Outbound Team Building adalah kegiatan yang dirancang agar peserta mengeluarkan potensi serta peran aktif individu-individu untuk mencapai tujuan yang disepakati bersama, sehingga mereka berpikir, berperilaku, dan berkontribusi terhadap team.
Program Team Building Outbound juga bertujuan untuk menstimulasi skill masing-masing individu dalam tim, guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Baik secara personal, maupun kemampuan individu dalam kolaborasi dan sinergi dalam tim.
Setelah mengikuti program Team Building Outbound, peserta akan terbentuk menjadi seorang individu yang berkualitas dan memiliki keunggulan dalam setiap bidang yang dimiliki. Baik itu keunggulan dalam soft skill maupun hard skill.
Training Outbound Team Building
Training Outbound Team building merupakan salah satu proses yang dialami setiap peserta untuk beraktivitas bersama-sama. Mereka mengenal satu samal lain dan berdinamika menjadi satu kesatuan dalam tim.
Sebuah hal yang sangat penting dalam mengenal elemen-elemen krusial yang mendasari efektivitas kerja dalam tim yang didasari komitmen pribadi.
Outbound Training Team building juga membuat organisasi untuk mampu membagi tugas dan peranan secaa tepat sasaran, menempatkan orang ditempat yang tepat (right man in the right place), Leadership, sikap rela berkoban, saling menghargai, komunikatif, saling terbuka, dan memegang teguh komitmen produktivitas tim.
Dengan demikian, akan terbangun suatu ikatan kebersamaan yang mampu meningkatkan semangat kerja tim, sinergi dan kolaborasi.
Di balik keberhasilan dan berkembangnya ACT Consulting sebagai konsultan budaya perusahaan terbaik di Indonesia, tentu berdiri sosok yang inovatif. Dialah tokoh pendiri ACT Consulting sekaligus ESQ Leadership Center yang fenomenal, Ary Ginanjar Agustian.
Ary Ginanjar Agustian adalah penulis buku ESQ dan motivator handal. Mantan PNS (Pegawai Negeri Sipil) ini telah berkecimpung dalam dunia bisnis selama lebih dari 20 tahun dengan berbagai macam prestasi dan sukses yang di raih.
Sukses Ary Ginanjar Membangun Budaya Perusahaan yang Kuat
Menurut Ary Ginanjar Agustian, budaya perusahaan atau corporate culture adalah fondasi kesuksesan jangka panjang sebuah perusahaan. Perusahaan yang mampu bertahan lama di dunia, memiliki fondasi yang kuat dan mengakar yaitu budaya kerja dan sumber daya manusia (SDM).
Ary Ginanjar Agustian yang sukses membangun lembaga SDM ternama di Indonesia ini (ESQ) sering menegaskan bahwa, transformasi pembentukan budaya kerja adalah sebuah proses perubahan dari kondisi saat ini (current culture) menuju kondisi yang di harapkan (desired culture).
Budaya inilah yang mampu menghasilkan revenue lebih tinggi, memiliki kualitas SDM lebih baik, meraih nilai saham lebih tinggi, serta keuntungan bersih yang terus meningkat.
Selama ini Ary Ginanjar Agustian bersama seluruh tim ACT Consulting telah melakukan transformasi budaya perusahaan kepada lebih dari 400 perusahaan baik di Indonesia maupun Malaysia. Bahkan salah satu perusahaan di Malaysia berhasil masuk kedalam daftar Top Fortune 500.
Peran Ary Ginanjar Agustian dan ACT Consulting dalam Membangun Budaya Perusahaan di Indonesia
Banyak perusahaan di Indonesia yang gagal membangun budaya perusahaan dengan baik. Banyak dari mereka telah merumuskan visi, misi, dan nilainya, namun gagal sehingga mengalami kebangkrutan. Hal itu disebabkan visi, misi, dan nilai hanya ada pada tataran konsep tanpa implementasi, hanya menjadi pajangan dan tidak keluar menjadi perilaku (behaviour).
ACT Consulting hadir dengan solusi yang komprehensif untuk mengatasi masalah tersebut.
Kegagalan dalam membangun visi, misi, nilai perusahaan di antaranya: pertama, visi, misi, nilai hanya disampaikan secara intelektual sehingga hanya menjadi “knowledge”. kedua, visi, misi, nilai tidak dikaitkan dengan keyakinan individu. ketiga, karyawan tidak merasakan adanya keselarasan (alignment) antara visi, misi, nilai pribadi dan perusahaan. Oleh karena itu, visi, misi, nilai tidak cukup dirumuskan secara intelektual (iQ) namun harus dikomunikasikan dan ditanamkan juga secara emosional (eQ), dan spiritual (SQ). Spiritualitas bertujuan agar visi, misi, dan value tersebut kepada belief system (system keyakinan) mereka.
Selain itu, dalam membangun budaya perusahaan, setiap korporasi juga harus mampu meningkatkan employee engagement. Bagaimana caranya?
Agar dapat meningkatkan employee engagement, menurut Ary Ginanjar Agustian perlu dilakukan pengukuran terhadap kesehatan budaya organisasi sebagai faktor yang mempengaruhi Budaya yang sehat adalah keselarasan antara nilai-nilai organisasi akan mendorong kohesivitas internal yang kemudian meningkatkan employee engagement serta perbaikan kinerja.
Tingkat keracunan budaya sebuah organisasi disebut sebagai entropi budaya (Toxic Cultute) yaitu energi yang terbuang di tempat kerja untuk hal yang tidak produktif.
Entropi budaya antara lain disebabkan oleh birokrasi yang berbelit, kontrol dan kehati-hatian yang berlebihan, saling tidak percaya, saling menyalahkan, kompetisi internal, ketidakjUjuran, dan sebagainya. Itu semua tergolong racun budaya perusahaan. Riset yang dilakukan Barret Values Center dan Hewitt Associates terhadap 163 organisasi di Australia (2008) menunjukkan korelasi yang kuat antara tingkat entropi budaya dan employee engagement.
Entropi Budaya Perusahaan (Toxic Culture) Menurut Ary Ginanjar Agustian
Semakin Tinggi Entropi semakin rendah Engagement. Semakin rendah entropi atau semakin rendah racun budaya akan semakin tinggi rasa keterkaitan positif dengan perusahaan.
Permasalahan yang sering terjadi adalah para pemimpin tidak mengetahui berapa tingkat keracunan atau entropi budaya budaya dalam perusahaan dan apa penyebab terjadinya penurunan engagement.
Seperti seorang pasien yang menderita sakit dan ingin berobat, perlu cek laboratorium untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuhnya. Berapa tekanan darah dan detak jantungnya, bagaimana kadar kolesterolnya, atau bagaimana kondisi ginjal dan levernya? Dari tes laboratorium itulah akan diketahui apa penyakit yang dideritanya dan apa obat yang diperlukan.
Demikian juga dalam organisasi perusaaan, perlu diukur berapa entropi budayanya, dan apa saja yang telah menjadi racun budaya apakah birokrasi, kejujuran, kompetisi internal yang tidak sehat, tidak ada saling kepercayaan, atau yang lainnya, serta di direktorat mana? Semua harus mampu dibaca secara akurat.
Dengan teknologi assessment budaya modern, sekarang sudah dapat diukur berapa besar entropi budaya dan apa saja jenis racun yang merongrong kesehatan budaya perusahaan. Dengan demikian, dapat diketahui dan disusun langkah-langkah tepat, efektif, dan efisien yang diperlukan untuk meingkatkan engagement karyawan yang selama ini menghantui pikiranpara pemimpin organisasi.
ACT Consulting International Pecahkan Rekor Dunia-Muri
Alhamdulillah ACT Consulting International – ESQ Group kembali memecahkan rekor Muri, kali ini rekor tingkat dunia. Dengan segala kerendahan hati, kami berhasil memecahkan rekor Survei Budaya Organisasi dengan Peserta Survei dan Lembaga Terbanyak.
Survei Budaya Kerja BerAKHLAK dilakukan kepada seluruh ASN di Indonesia yang berlangsung pada Quartal ke-tiga dan ke-empat (Q3 dan Q4) tahun 2022. Dengan melibatkan 923rb lebih peserta survei dan hampir 600 Kementerian dan Lembaga baik itu pusat maupun daerah. Dan yang mengerjakannya semua Milienial dan Zelenials. Wow !
Terimakasih atas semua kepercayaan, kerjasama dan dukungan dari semua Kementerian/Lembaga yang diberikan kepada kami.
Semakin berkembang dan pesatnya persaingan bisnis di dalam maupun di luar negeri, menyebabkan persain global menjadi lebih ketat. Hal ini tentu menuntut perusahaan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang mereka miliki.
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tersebut adalah dengan pembelajaran “learning by doing” atau pembelajaran yang eksperiensial melalui Outbound Training.
Dengan Outbound Training setiap SDM atau Karyawan akan dihadapkan dengan keadaan yang nantinya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Karyawan juga mampu membuat pemahaman terhadap suatu permasalahan akan semakin tinggi hingga implementasinya juga semakin mudah.
Pembelajaran dalam program outbound training memiliki makna yang mendalam terkait aktivitas kerja yang mereka lakukan sehari-hari. Dengan melihat aktivitas tersebut dari perspektif yang berbeda, tentu akan meningkatkan kompetensi karyawan lebih baik lagi.
2. Membentuk SDM yang Berkualitas dengan Semangat Kerja Maksimal
Outbound bukan hanya bermakna kegiatan yang menggunakan sarana diluar ruang, melainkan juga bermakna out of bounderise “Keluar dari bingkai/frame kebiasaan” dimana peserta diajak untuk berpikir luar biasa dan membuat terobosan-terobosan baru.
3. Kerjasama yang Solid Antar Tim Kerja
Hampir semua kegiatan outbound selalu dilakukan secara berkelompok. Untuk bisa menyelesaikan suatu tantangan, sangat diperlukan kerja sama tim. “Together Everyone Achieves More”.
4. Membentuk SDM yang lebih mengenal dan melihat potensi dalam diri.
Selain dilakukan secara kelompok, outbound training juga memaksa seseorang untuk mengenal potensi dalam diri.
5. Membentuk SDM yang mengerti dan memaknai arti dari komunikasi yang efektif.
Kekompakan karyawan dalam berkomunikasi semasa outbound bisa terbawa sampai ke kantor. Kondisi – kondisi yang terjadi semasa outbound menjadi cerminan dan gambaran dalam bekerja bagi si pegawai. Ketika ada masalah yang terjadi di kantor maka akan lahir sebuah Susana baru yang lebih solid antara pegawai.
Seorang anak dilahirkan dengan bekal bakat yang diberikan oleh Tuhan. Tugas orangtua adalah menemukan bakat tersebut dan mengembangkannya menjadi kekuatan (strength). Anak yang sudah diketahui bakatnya, dan menerima dukungan orang tua di bidang itu, akan bisa berkembang dengan bahagia. Karena ia merasakan kemudahan di bidang tersebut.
Tanpa menemukan strength anak Anda, orangtua akan kerepotan karena anak akan terus menerus meminta bantuan dan dukungan. Akan terlambat bila pencarian bakat anak baru dilakukan saat ia berusia dewasa muda. Pada periode tersebut seharusnya ia sudah bisa mulai bertanggung jawab dan mampu menopang beban hidupnya sendiri. Jangan sampai anak Anda tumbuh tanpa mengetahui apa bakatnya. Tentu ini akan menimbulkan kesedihan pada dirinya, dan diri orangtuanya bila terjadi.
Akan bijak bila kita sebagai orangtua mengembangkan anak-anak, berdasarkan potensi-potensi utamanya. Seorang anak yang mengetahui bakatnya, akan tumbuh bahagia. Karena ia merasakan ia menempuh jalan yang bisa dilaluinya dengan mudah. Penemuan bakat anak, akan mencegah orangtua berkonflik dengan anak karena ketidaksamaan tujuan.
Kami tahu Anda tidak memiliki waktu untuk mengunjungi psikolog. Pun tes bakat di rumah sakit bisa menghabiskan hingga jutaan rupiah. Untuk menghemat waktu anda dan anak-anak, ESQ mengembangkan tes penemuan bakat secara digital, yang bisa Anda akses darimana saja.
Ikutkan Anak-anak Anda pada Tes Bakat Online berikut ini :
bit.ly/StrengthFind
bit.ly/StrengthFind
bit.ly/StrengthFind
Ada satu hal yang sangat penting dalam hidup kita, yang jika itu sudah terjatuh, tidak ada yang mau mengambilnya lagi kecuali diri kita sendiri, yaitu kata- kata kita. Manusia hidup dan bertindak dengan integritas. Kita menjadi sukses dalam hal pekerjaan, pergaulan, atau bisnis juga negara dengan integritas. Pada artikel ini kita akan membahas beberapa alasan mengapa integritas itu penting dalam menjalankan pekerjaan kita di bidang apapun khususnya bisnis.
1.Kita hanya ingin berbisnis dengan orang terpercaya
Pernahkah Anda melakukan kerjasama bisnis dengan seseorang tapi merasa seperti ada sesuatu yang tidak benar? Hal itu bisa jadi berdasarkan pembicaraan mereka yang sering tidak konsisten atau dipercaya. Kemungkinan besar, ke depannya Anda tidak ingin bekerjasama lagi dengan orang tersebut.
Ada sebuah aturan emas bahwa, “Perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.” Jika Anda melihat diri sendiri di cermin dan tahu bahwa Anda bersikap jujur dan memperlakukan semua orang dengan hormat dan layak, maka Anda berada di jalur yang benar.
2.Keberhasilan masa depan tergantung apa yang Anda lakukan saat ini.
Disadari atau tidak, apa yang kita kerjakan setiap hari akan mewariskan dan menciptakan reputasi diri kita. Apa yang kita lakukan sekarang membentuk masa depan kita baik untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk berbasis pada reputasi kita dan persepsi orang tentang kejujuran kita.
Cara yang paling benar untuk mengetahui apakah Anda melakukan hal yang benar untuk alasan yang tepat adalah dengan bertanya pada diri sendiri satu pertanyaan.
Apakah yang Anda lakukan akan baik-baik saja jika dikerjakan saat tidak ada orang di sekitar dan juga akan baik-baik saja jika banyak orang (terutama yang berpengaruh) sekitar?
3. Orang-orang mengikuti pemimpin yang mereka percaya akan membawa ke tempat yang ingin dituju.
Jika Anda sedang mencari personil untuk membangun sebuah tim, ingatlah selalu rumus di atas. Orang-orang memimpikan pemimpin yang membawa mereka ke arah yang benar dan mampu membuat keputusan yang tepat.
Menjadi pemimpin berarti melakukan hal yang benar bahkan ketika sulit untuk melakukannya. Lebih baik jujur daripada menipu atau memberikan informasi yang salah. Karena jika itu terjadi berarti kita akan kehilangan penjualan, prospek, atau bahkan anggota tim. Melakukan hal yang benar akan menunjukkan warna sejati Anda dan kemampuan memimpin.
Jika Anda belum memiliki anggota yang langsung Anda pimpin, tidak ada waktu yang lebih baik untuk memulai dari sekarang untuk membangun integritas. Anda tidak pernah tahu siapa yang memperhatikan tindakan dan mendengarkan kata-kata Anda.
4. Satu apel buruk dapat merusak satu keranjang.
Kita semua terhubung oleh jaringan manusia. Adalah hal yang wajar jika orang memiliki persepsi pada seseorang yang merupakan bagian dari kelompok yang sama. Hal ini berlaku untuk tim Anda, perusahaan Anda. Tidak ada yang menyangkal hal itu. Sebagai contoh kasus, bisnis jaringan memiliki reputasi buruk di mata masyarakat karena salah langkah orang lain. Setiap tindakan atau kata-kata seseorang dalam sebuah bisnis atau perusahaan akan membawa satu langkah lebih dekat atau lebih jauh dari yang dapat dipercaya dalam pikiran orang lain.
5. Bertindak untuk hal yang Anda percaya atau orang lain akan mempengaruhi dan membuat keputuskan untuk Anda
Bersikaplah untuk hal yang Anda yakini. Jika Anda tidak memiliki integritas untuk menyatakan pikiran Anda tentang apa yang Anda percayai, orang lain pun tidak akan percaya pada Anda.
Kurangnya keyakinan pada diri sendiri akan memudahkan orang lain untuk mengatakan pada Anda sesuatu yang tidak ingin Anda lakukan atau hal-hal yang keluar dari tujuan, impian, masa depan, dan keluarga Anda. Cara terbaik untuk jujur adalah jujur dengan diri sendiri. Orang lebih cenderung percaya Anda ketika Anda asli apa adanya. Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata Anda.