Remohab, Startup Jepang untuk Rehab Medis di Tempat Bagi Pasien Penyakit Jantung

By January 16, 2020Article

Jepang tengah melaksanakan berbagai langkah strategis untuk menerjemahkan berbagai keberhasilan dalam penelitian dari sejumlah universitas agar menjelma menjadi solusi jitu yang dapat menolong masyarakat lebih luas di bidang kesehatan medis.

Upaya menjembatani praktek klinis dan penelitian dasar dalam dunia medis ini dilakukan di tingkat pemerintah dengan mendorong tiga serangkai Universitas Osaka, Universitas Tokyo, dan Universitas Tohoku untuk bekerjasama dengan Universitas Stanford dan memulai kolaborasi dalam menyiapkan versi Jepang dari program Biodesign.

Hasilnya adalah peluncuran Kursus 10 Bulan di tahun 2015 yang bernama Japan Biodesign. Konsepnya adalah untuk membentuk talenta yang dapat memahami kebutuhan pasien dan petugas layanan kesehatan dan memberdayakan mereka dengan berbgai perangkat dan layanan medis yang dikembangkan oleh industri dan akademisi.

Mengambil proyek penelitian yang memiliki potensi komersial dari tahap awal adalah kuncinya, kata Prof. Sawa. Tujuan dari Japan Biodesign adalah memahat ekosistem yang secara berkesinambungan menghadirkan perangkat medis dan inovasi layanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lanjut usia di  Jepang.

“Sekarang, kami menciptakan innovator, peneliti, dokter dan orang kreatif yang juga berwirausaha dan dapat memberikan hasil pada skala industri,” kata Prof. Sawa yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Biodesign Jepang. “Ini adalah kesempatan bagi orang untuk menciptakan industri baru di bidang kedokteran”, katanya.

Salah satu kesuksesan pertama Japan Biodesign adalah Remohab Inc., sebuah usaha yang mengembangkan perawatan kardiovaskular jarak jauh dengan memantau rehabilitasi pasien melalui olahraga.

Penyakit jantung adalah penyebab kematian terbanyak kedua di Jepang dan gagal jantung sering menjadi penyebabnya. Penyakit Gagal Jantung mempengaruhi 1,2 juta orang di Jepang. Namun rehabilitasi jantung di rumah sakit sulit bagi pasien lansia karena kebutuhan untuk sering berkunjung. Setelah beberapa saat, banyak yang berhenti atau tidak menerima perawatan yang tepat.

Baca Juga:  Marwan Lahoud, Keturunan Arab Yang Berperan Strategis Dalam Industri Pertahanan Perancis

Untuk itu dikembangkan aplikasi Remohab bagi para pasien gagal jantung ini. Aplikasi Remohab mengembangkan sistem rumah menggunakan IoT (internet of things), yang membantu pasien melanjutkan rehabilitasi di bawah pengawasan real-time jarak jauh oleh para profesional kesehatan. Jika Remohab berhasil, itu akan menjadi perusahaan pertama dari jenisnya secara global, kata CEO Remohab, Dr. Tatsunori Taniguchi.

Sebelum menghadiri kursus Biodesign Jepang, Dr. Taniguchi, yang bekerja sebagai dokter kardiovaskular setelah lulus dari Universitas Osaka, mengakui bahwa ia bahkan tidak tahu untuk apa huruf “CEO” berdiri. Namun, yang dia tahu adalah bahwa penelitian dan studi tidak cukup. Dia harus mencari solusi untuk menyembuhkan pada orang tua, yang solusi itu juga yang dapat menjadi sebuah bisnis.

Taniguchi adalah salah satu yang pertama menghadiri kursus intensif 10 bulan di Japan BioDesign Osaka. Disana ia belajar bagaimana menghubungkan penelitian dengan fase komersial, bagaimana mengevaluasi pasar dan membangun strategi seputar asuransi kesehatan, dan keterampilan lainnya.

“Kursus Japan Bio Design ini memberi saya kepercayaan diri yang sangat besar untuk mendapatkan begitu banyak informasi dan pengetahuan yang berbeda dalam cara yang praktis dan sistematis, cocok untuk kewirausahaan”.

Sejak meluncurkan Remohab pada tahun 2017, perusahaan Dr. Taniguchi telah berubah dan mulai menarik 50 juta yen dalam modal ventura dari Osaka University Venture Capital Co., Ltd. dan Hack Ventures Co., Ltd.

Sementara, pada tahun keduanya, Remohab juga memenangkan Excellence Award dalam Kontes Bisnis Kesehatan 2019 yang dilakukan oleh pemerintah Jepang.

“Berbagai keberhasilan itu membuat saya sangat senang mendengar bahwa pasien usia lanjut yang mengambil pelatihan dari aplikasi Remohab kami ini sekarang telah berhasil kembali ke gaya hidup yang lebih aktif dan dapat kembali tersenyum,” kata Dr. Taniguchi.

Leave a Reply