Skip to main content

Rasa Ingin Tahu Barry Diller Chairman IAC (InterActiveCorp) Yang Menaungi 150 Brands di 100 Negara

By April 16, 2019April 30th, 2019Article

Seorang pemalas yang berhasil. Indonesia tengah geger dengan kisah Crazy Rich Priok yang memprofilkan seorang pengusaha kaya bernama Syahroni. Hari ini kita akan membahas tentang Crazy Rich New York yang telah berusia 77 tahun. Uniknya, ia dinobatkan sebagai eksekutif terakus dan termalas menurut seorang kolumnis di New York Times di tahun 2006.

Apa persamaan Barry Diller dengan Syahroni? Mereka sama-sama memulai dari posisi kerja yang banyak disepelekan orang. Syahroni memulai sebagai seorang supir, dan Barry memulai sebagai seorang pengantar surat di sebuah agensi. Namun siapa sangka bahwa mereka berdua suatu ketika akan menjadi CEO?

Wawancara dilakukan pada tahun 2018 oleh David Bernstein di Channel Youtube Bloomberg . Ia menyampaikan kekagumannya pada Barry Diller yang telah berhasil membesarkan perusahaan media raksasa di Amerika, ABC, Fox, Paramount Pictures, dan juga berhasil membesarkan perusahaan travel siber hingga mendunia, Expedia.

Saat David menanyakan, apa rahasia Barry hingga bisa melakukan itu semua, Barry Diller menjawab, ada dua. Yang pertama adalah rasa ingin tahu dan yang kedua adalah kemampuan editing (editorship- barry menyebutnya).

Mengenai rasa ingin tahu, Barry mengatakan bahwa ia memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar dari kebanyakan orang yang gagal membesarkan sebuah perusahaan. Barry Diller tidak pernah mudah puas. Ia ingin selalu mencapai hasil yang lebih baik, dan lebih baik lagi. Tidak ada kata “cukup” yang dapat memuaskan rasa ingin tahunya.

Barry juga menyatakan bahwa ia menciptakan perusahaan siber saat berusia 49 tahun, karena tidak ingin lagi bekerja untuk orang lain. Ia pun ingin menciptakan suatu usaha yang tidak pernah ada sebelumnya, yang ia ingin menjadi ciri khasnya.

Barry Diller juga mengungkapkan hal yang amat pribadi, bahwa ia memiliki rasa tidak aman (insecurities) yang membuatnya terus bergerak. Rasa tidak aman ini membuatnya terdorong untuk selalu bekerja keras untuk mengalahkan ketidakpastian dan untuk memenangkan persaingan.

Pertanyaan yang diajukan Barry Diller kepada dirinya sendiri bukanlah “oh, aku bisa melakukan itu”, tapi “apakah aku bisa melakukannya”, dengan dorongan untuk membuktikan diri. Bukan pertanyaan untuk melemahkan atau meragukan kemampuan pribadinya.

Namun yang membuat hidup jadi menyenangkan bagi Barry adalah; ia mengejar passion-nya. Ia melakukan hal-hal yang menyenangkan dengan terjun ke dunia hiburan. Dalam seluruh hidupnya, Barry berkuliah hanya selama 3 minggu, di University of California Los Angeles (UCLA) dan kemudian drop out. Orangtuanya, yang cukup berada, membiarkannya dan hanya menyuruhnya untuk mengikuti passion-nya.

Di masa tuanya kemudian, Barry dikenal sebagai seorang yang sukses walau memiliki sifat malas. Namun sifat ini sebenarnya tidak sepenuhnya menguasainya. Barry dapat bekerja hingga berhari-hari tidak tidur, hanya untuk bekerja di suatu proyek yang menarik baginya. Media barat menyebutnya begitu karena sikap Barry yang tidak mementingkan pendidikan formal.

Di balik beragam hal yang di labelkan orang padanya, Barry memiliki kreativitas yang tinggi, dan dorongan untuk mencapai kesempurnaan dalam sebuah gambar film. Seperti keberhasilannya menghasilkan film yang legendaris seperti Indiana Jones, yang merupakan film termahal pada masanya.

Dengan meminta bantuan pada ayah kawannya, Barry memulai karir di ruangan surat di William Moris Agency. Berbeda dengan staff lain pada saat itu, ia memfokuskan pada belajar bagaimana William Moris dapat berperan di industri pertelevisian. Barry membaca berbagai surat yang ditujukan ke orang-orang yang berbeda di stasiun televisi itu selama masa tiga tahun ia bekerja di sana.

Setelah itu, Barry bertemu dengan seorang eksekutif di ABC yang baru saja pindah ke Los Angeles, Elton Rule. Elton kemudian meminta Barry menjadi asistennya. Tak lama, Elton dipromosikan menjadi President untuk jaringan televisi ABC dan harus pindah ke New York. Ia membawa serta Barry untuk menjadi asistennya di New York di tahun 1964.

Baca Juga:  Khalid Al Falih Menteri Energi Arab Saudi yang Berjasa Mengatasi Krisis Minyak Global

Kisah selanjutnya mengalir cepat seperti cerita Syahroni The Crazy Rich Priok. Barry The Crazy Rich New Yorker ini hanya dalam waktu enam bulan menjadi asisten bagi Elton. Pada saat itu Barry diberikan tugas untuk melakukan negosiasi mengenai hak penyiaran berbagai film dalam jaringan televisi.

Di tahun 1965, Barry sudah di promosikan untuk menjadi Vice President untuk Bagian Pengembangan di ABC. Dalam peran barunya ini, Barry melakukan sejumlah terobosan. Di antaranya dengan membuat ABC Movie of The Week. Hal ini untuk mengatasi kejemuan masyarakat Amerika pada berbagai film buruk yang dihasilkan oleh berbagai rumah produksi.

Khawatir penontonnya lari meninggalkan stasiun TVnya, Barry pun nekat membuat film-film sendiri buatan stasiun televisi. Satu film harus selesai dalam waktu seminggu. Langkah yang sama juga dilakukan oleh eksekutif di tanah air, Whisnutama, seorang Kepala Televisi di Indonesia yang sukses membesarkan TransTV dan NetTV. Yaitu dengan membuat sendiri berbagai film dan acara televisi sesuai dengan standar dan format yang diinginkan.

Di tahun itu ia berusia 32 tahun. Namun ia telah sukses membuat 75 judul film buatan sendiri di ABC TV. Barry pun menerima tawaran yang baginya terasa terlalu tinggi. Ia ditawarkan menjadi Chairman dan Chief Executive dari Paramount Pictures.

Barry lalu berkonsultasi dengan pendiri jaringan TV ABC, Leonard Goldenson. Leonard pun menyampaikan bahwa itu adalah tawaran yang hebat dan harus diterima. Barry pun menerimanya. Semula di Paramount ia membuat beberapa film buruk. Setelah belajar beberapa lama, Barry mulai lebih selektif dalam membaca naskah skenario film yang masuk.

Hingga datang seseorang menawarkan skenario film Indiana Jones. Semua orang tak bisa melupakan potongan epik dari pembuka film tersebut yang menjadikannya blockbuster. Yaitu adegan dimana Jones berada di sebuah gua dan tiba-tiba sebuah batu bulat bergulir cepat ke arahnya. Dalam skenario aslinya, adegan yang kurang dari semenit itu dijelaskan dalam 12 halaman.

Pada saat membacanya, Barry yakin bahwa bila film ini bisa dibuat persis seperti penggambaran dalam skenarionya, maka film ini bisa berhasil. Memang pada saat itu, hal tersebut adalah sebuah upaya yang revolusioner. Namun sifat Barry yang serba ingin tahu dan sangat detail dalam mengedit suatu film, membuat beragam film dan beragam produk yang dihasilkan oleh stasiun tvnya dapat berhasil.

Berbeda dengan pendapat Pendiri Alibaba, bahwa seseorang harus bekerja 12 jam sehari agar perusahaannya dapat berhasil. Hal yang berbeda dijalankan oleh Barry Diller. Seorang CEO yang disebut rakus dan pemalas. Namun dengan keuletan, ketelitian dan kreativitas yang dimilikinya, ia dapat membesarkan berbagai ide dan usahanya hingga berkembang ke ratusan brand di ratusan negara.

Bagaimana dengan Anda dan Perusahaan Anda? Kita tidak perlu bergerak seekstrim Alibaba dan selentur Barry Diller. Setiap perusahaan memiliki ritmenya sendiri. Temukan budaya yang paling sesuai dengan perusahaan Anda, dengan pengukuran yang empiris dan terbukti berhasil dalam membesarkan banyak perusahaan. ACT Consulting memiliki metode perkembangan budaya berdasarkan hasil pengukuran yang dibutuhkan.

Beragam manajemen inovasi bisnis yang dilakukan Barry Diller harus bisa dipelajari oleh banyak orang di negara kita. Untuk mempelajari cara melakukan manajemen inovasi bisnis, klik disini. Untuk memiliki kemampuan mendesain bisnis mandiri, anda juga bisa klik disini.

Namun Anda bisa saja memiliki kesulitan atau masalah di beberapa sisi seperti budaya dan penerapan disiplin pencapaian target. Bila itu masalahnya, bagi para Leaders di Organisasi Anda, dapat mengikuti program Transformational Leadership dari ACT Consulting dengan klik di link ini.

Untuk melakukan perkembangan di organisasi dan korporasi Anda seperti yang dilakukan Barry Diller di ABC, Paramount, Fox, Expedia dan IAC, Anda dapat mempelajari cara membangun budaya perusahaan dengan klik disini. Anda juga dapat mempelajari cara menciptakan strategi yang tepat untuk perusahaan dengan klik disini.

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?