Skip to main content

Menyiapkan Generasi Emas Global dengan Visi Pendidikan 2030 dari OECD

By February 19, 2019February 25th, 2019Article

Schleicher (2018) sebagai Direktur OECD dalam bidang Pendidikan dan Keterampilan menyampaikan bahwa Pendidikan dapat membekali peserta didik dengan hak untuk menentukan pilihan dan tujuan, dan memberikan pada seseorang kompetensi yang mereka butuhkan, untuk membentuk kehidupan mereka sendiri dan berkontribusi pada kehidupan orang lain.

Untuk mengetahui cara terbaik untuk melakukannya, Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) telah meluncurkan proyek Masa Depan Pendidikan dan Keterampilan 2030. Tujuan dari proyek ini adalah untuk membantu negara-negara menemukan jawaban atas dua pertanyaan luas:

● Pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai apa yang dibutuhkan siswa saat ini untuk berkembang dan membentuk dunia mereka?

● Bagaimana sistem pengajaran dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai ini secara efektif?

Scheleicher (2018) menyebutkan bahwa masa depan bersifat tidak pasti dan tidak dapat diprediksi; tetapi kita harus terbuka dan siap untuk itu. Anak-anak yang memasuki pendidikan pada tahun 2018 akan menjadi dewasa muda pada tahun 2030.

Sekolah di masa kini harus dapat mempersiapkan mereka untuk pekerjaan yang belum diciptakan, untuk teknologi yang belum ditemukan, untuk menyelesaikan masalah yang belum diantisipasi. Ini akan menjadi tanggung jawab bersama untuk merebut peluang dan menemukan solusi.

Untuk menavigasi generasi emas agar dapat bergerak dengan luwes di masyarakat global melalui ketidakpastian seperti itu, siswa perlu mengembangkan rasa ingin tahu, imajinasi, ketahanan dan pengaturan diri; mereka perlu menghormati dan menghargai gagasan, perspektif, dan nilai-nilai orang lain; dan mereka perlu mengatasi kegagalan dan penolakan, dan untuk bergerak maju dalam menghadapi kesulitan. Motivasi dalam bersekolah harus lebih dari sekedar mendapatkan pekerjaan yang bagus dan penghasilan yang tinggi; mereka juga perlu memperhatikan kesejahteraan teman-teman dan keluarga mereka, lingkungan mereka dan planet ini.

Scheleicher (2018) menyebutkan bahwa siswa yang siap menghadapi masa depan perlu melatih rasa tanggung jawab, dalam pendidikan mereka sendiri dan sepanjang hidup. Rasa tanggung jawab untuk berpartisipasi di dunia dan, dengan demikian, memengaruhi orang, peristiwa, dan keadaan menjadi lebih baik.

Rasa tanggung jawab ini membutuhkan kemampuan untuk membingkai tujuan panduan dan mengidentifikasi tindakan untuk mencapai tujuan. Untuk membantu memungkinkan ini, pendidik tidak hanya harus mengenali kepribadian peserta didik, tetapi juga mengakui hubungan yang lebih luas – dengan guru, teman sebaya, keluarga dan masyarakat mereka – yang memengaruhi pembelajaran mereka.

Scheleicher (2018) menyebutkan bahwa konsep yang mendasari kerangka belajar adalah “co-agency” – hubungan interaktif, saling mendukung yang membantu peserta didik untuk maju menuju tujuan mereka yang berharga. Dalam konteks ini, setiap orang harus dianggap sebagai pembelajar, tidak hanya siswa tetapi juga guru, manajer sekolah, orang tua dan masyarakat.

Dua faktor, khususnya, membantu peserta didik mengaktifkan rasa tanggung jawab. Yang pertama adalah lingkungan belajar yang dipersonalisasi yang mendukung dan memotivasi setiap siswa untuk memelihara gairahnya, membuat hubungan antara berbagai pengalaman dan peluang belajar, dan merancang proyek dan proses belajar mereka sendiri dalam kolaborasi dengan yang lain.

Baca Juga:  PIHC Bungkus Kertas Kerja, Didampingi oleh ACT Consulting

Yang kedua adalah membangun fondasi yang kuat: literasi huruf dan kemampuan berhitung tetap penting. Di era transformasi digital dan dengan munculnya data besar, literasi digital dan literasi data menjadi semakin penting, demikian pula kesehatan fisik dan kesejahteraan mental. OECD Education 2030 pemangku kepentingan telah bersama-sama mengembangkan “kompas pembelajaran” yang menunjukkan bagaimana orang muda dapat menavigasi kehidupan mereka dan dunia mereka (Gambar berikut).

Siswa yang paling siap untuk masa depan adalah pemegang tanggung jawab perubahan (change agent). Mereka dapat memiliki dampak positif pada lingkungan mereka, memengaruhi masa depan, memahami niat, tindakan, dan perasaan orang lain, serta mengantisipasi konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang dari apa yang mereka lakukan.

Konsep kompetensi menyiratkan lebih dari sekadar perolehan pengetahuan dan keterampilan; ini melibatkan mobilisasi pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai untuk memenuhi tuntutan yang kompleks. Siswa yang siap menghadapi masa depan akan membutuhkan pengetahuan luas dan khusus.

Apa saja kompetensi yang dibutuhkan oleh generasi emas global ini untuk mulai dipelajari dan dikuasai dari sekarang?

  • Pengetahuan mengenai berbagai disiplin ilmu akan terus menjadi penting, sebagai bahan baku dari mana pengetahuan baru dikembangkan, bersama dengan kapasitas untuk berpikir melintasi batas-batas disiplin ilmu dan “menghubungkan titik yang saling berkaitan.
  • Pengetahuan epistemik, atau pengetahuan tentang disiplin ilmu, seperti mengetahui cara berpikir seperti ahli matematika, sejarawan atau ilmuwan, juga akan signifikan, memungkinkan siswa untuk memperluas pengetahuan disiplin mereka.
  • Pengetahuan prosedural diperoleh dengan memahami bagaimana sesuatu dilakukan atau dibuat – serangkaian langkah atau tindakan yang diambil untuk mencapai tujuan. Beberapa pengetahuan prosedural bersifat khusus domain, beberapa dapat ditransfer antar domain. Ini biasanya berkembang melalui pemecahan masalah praktis, seperti melalui design thinking dan pemikiran sistemik.

Pelajar juga perlu menerapkan pengetahuan mereka dalam keadaan yang tidak diketahui dan berkembang. Untuk ini, mereka akan membutuhkan berbagai keterampilan, termasuk keterampilan kognitif dan meta-kognitif;

– Berpikir kritis,

– berpikir kreatif,

– keterampilan belajar (learning skill) dan

– keterampilan mengatur diri sendiri;

 

Sementara, keterampilan mengatur diri terdiri dari;

–  keterampilan sosial dan emosional (mis. empati, self-efficacy, dan kolaborasi); dan

–  keterampilan praktis dan fisik (mis. menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi baru).

 

Penggunaan rentang pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas ini akan dimediasi oleh sikap dan nilai-nilai (mis. Motivasi, kepercayaan, penghargaan terhadap keragaman dan kebajikan). Sikap dan nilai-nilai dapat diamati pada tingkat pribadi, lokal, sosial dan global.

Sementara kehidupan manusia diperkaya oleh keragaman nilai dan sikap yang timbul dari sudut pandang budaya dan kepribadian yang berbeda, ada beberapa nilai manusia (misalnya, penghormatan terhadap semua jenis kehidupan dan martabat manusia, dan penghargaan terhadap lingkungan) yang tidak dapat dikompromikan.

 

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?