Skip to main content

Hasil Positif dari Spiritual Leadership untuk Kemajuan Organisasi

By April 30, 2019Article

Banyak perusahaan yang belum memahami pentingnya spiritual leadership. Padahal, faktor yang satu ini amat bermanfaat bagi kemajuan organisasi. Dalam sejumlah segi manajemen pun, terdapat banyak poin positif yang dapat dituai dari pelaksanaan spiritual leadership dalam bekerja dan berkarya.

Menurut Professor Manajemen dari University of Texas, Louis W Fry, hal yang penting untuk kepemimpinan spiritual adalah:

1. Menciptakan visi di mana para pemimpin dan pengikut mengalami rasa terpanggil sehingga hidup mereka memiliki tujuan, makna, dan hasil sebuah perbedaan

2. Membangun budaya organisasi berdasarkan nilai-nilai cinta altruistik dimana para pemimpin dan pengikut memiliki rasa keanggotaan, milik, dan merasa dipahami dan dihargai

Cinta altruistik dalam kepemimpinan spiritual didefinisikan sebagai “Rasa keutuhan harmoni dan kesejahteraan yang diproduksi melalui perawatan, perhatian, dan penghargaan baik diri dan orang lain” (Fry 2003. p. 712).

Sumber kepemimpinan spiritual adalah batin yang hidup atau latihan mental. Kehidupan batin berbicara kepada perasaan yang dimiliki individu tentang hal yang mendasar mengenai makna hidup. Refleksi pemahaman mengenai jati diri (siapa saya), dimana saya saat ini (apa yang saya lakukan), dan mau kemana saya (kontribusi yang saya berikan).

Kehidupan batin dalam kepemimpinan spiritual adalah pencarian sumber kekuatan yang mendorong harapan/keimanan pada Tuhan yang bersifat transcendental. Termasuk di dalamnya adalah visi untuk mencintai sesame dan berbuat baik pada orang lain. Ini termasuk hal yang pribadi seperti meditasi, doa, pelaksanaan keagamaan, yoga, memahami alam semesta, dan bagaimana pelaksanaan agama dalam organisasi (contoh; adanya ruang ibadah).

Untuk membantu individu menjadi lebih mehamami diri dan memperoleh kewaspadaan dari dari waktu ke waktu dan mampu menarik kekuatan dari yang lebih tinggi (sumber kekuatan spiritual). Mampu memahami posisi diri sebagai hamba Tuhan. Mampu memahami ajaran filosofis dalam agama, mampu memahami konteks ilahiyah dalam kehidupan, dan mampu berperilaku secara tertib dalam sistem sosial humanistik (misalnya di dalam keluarga, suku, negara dan bangsa) (Fry dan Kriger 2009; Fry dan Nisiewicz 2013, dalam Fry, 2012).

Baca Juga:  Apa dan Bagaimana Peran Agen Perubahan dalam Organisasi?

Gambar di atas menggambarkan bagaimana model kepemimpinan spiritual bekerja. Komitmen terhadap kehidupan batin atau latihan mental secara positif mempengaruhi spiritual kepemimpinan. Yang terdiri dari harapan / iman, visi, dan cinta altruistik.

Kepemimpinan spiritual kemudian menghasilkan rasa kesejahteraan spiritual melalui panggilan dan keanggotaan yang, pada akhirnya, secara positif mempengaruhi individu dan organisasi seperti:

1. Komitmen organisasi – orang dengan rasa panggilan hidup dan perasaan menghamba akan lebih komitmen, loyal, dan ingin tetap dalam organisasi yang memenuhi kebutuhan spiritual ini.

2. Produktivitas unit – orang dengan rasa panggilan hidup dan perasaan menghamba akan termotivasi untuk menumbuhkan unit kerja secara berkelanjutan dan terpacu untuk meningkatkan produktivitas untuk membantu organisasi berhasil.

3. Kepuasan hidup – orang dengan rasa panggilan hidup dan perasaan menghamba akan merasa lebih terpenuhi oleh memiliki tujuan dan rasa memiliki dan karena itu akan menganggap hidup mereka lebih kaya dan berkualitas lebih tinggi.

Penelitian tentang teori kepemimpinan spiritual dalam penelitian yang dilakukan Louis M Fry (2016) hingga saat ini mengungkapkan bahwa ia dapat memprediksi sejumlah hal penting hasil individu dan organisasi di seluruh berbagai negara dan budaya. Hasil-hasil ini termasuk yang berhubungan positif dengan organisasi yaitu;

  • komitmen,
  • kepuasan kerja,
  • altruisme (sifat suka menolong)
  • hati nurani,
  • manajemen karier,
  • pertumbuhan penjualan,
  • keterlibatan dalam pekerjaan,
  • identifikasi diri dengan organisasi,
  • retensi kerja,
  • perilaku yang baik sebagai anggota organisasi,
  • rasa komitmen,
  • kesetiaan dan loyalitas, dan
  • produktivitas unit kerja

Sementara itu, hasil penelitian (Benefiel et al. 2014) juga mengungkapkan bahwa spiritual leadership berkorelasi negatif dengan;

  • konflik antar peran,
  • frustrasi,
  • manipulasi penghasilan, dan
  • komitmen instrumental

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?