Skip to main content

Bebaskan Jiwa Anda dari Rasa Derita

By May 6, 2019Article

Beban pekerjaan anda membuat diri merasa tidak sanggup? Atau masalah di keluarga membuat anda ingin lari dari kenyataan? Sesungguhnya, hidup adalah kumpulan masalah yang harus diselesaikan.

Bahkan, tidak ada satu hari pun dimana kita terbebas dari masalah. Baik itu besar atau kecil. Kok bisa? Ya, karena saat kita lari dari masalah dengan berbagai cara, sesungguhnya kita telah menyiapkan masalah yang lebih besar lagi di masa depan.

Sementara, untuk menghadapi hidup, anda butuh untuk bisa “hidup dan hadir di setiap momen”. Untuk bebas dari pengaruh tekanan yang ada pada lingkungan dan yang timbul dari konflik internal dalam diri Anda.

Namun, banyak orang yang merasa bahwa konsentrasi kerja mereka terganggu dengan mudah. Bahkan manajemen emosi dalam diri Anda mudah terganggu karena masalah yang kecil dan sepele.

Kemacetan, sakit kepala, suara yang tidak enak didengar, prasangka, perasaan yang berkecamuk, bisa membuat diri anda berjarak dengan hati nurani. Padahal seharusnya anda bisa menjadi tenang kembali saat mendengar suara bernada perlahan dari dalam hati anda.

Suara hati, dibahas secara ilmiah dalam istilah “inner speech” (Morin, 2005 dalam Journal of Neuropsychotherapy). Suara hati muncul sebagai suara yang terdengar sebagai bisikan pelan yang menenangkan diri anda, mengarahkan tindakan anda.

Esensinya, suara ini adalah apa yang muncul dari proses berpikir yang melibatkan aktivasi seluruh bagian otak dalam korteks serebri. Hasil dari resonansi gelombang quantum yang berjalan dalam gelombang pemikiran yang mengaktifkan seluruh bagian otak Anda.

Lalu anda bertanya, bagaimana memunculkannya? Jawabannya disampaikan lebih dari 30 tahun lalu. Frey (1985, dalam Vingerhoets & Scheirs, 2001) menyampaikan kutipan dari ahli kedokteran Inggris, Sir Henry Maudsley, yang menyatakan bahwa “Derita yang tidak bisa dikeluarkan dari tangisan, lama kelamaan akan membuat organ tubuh anda menangis”.

Baca Juga:  Peran Organisasi Sistem dalam Strategi Budaya Perusahaan

Contoh lainnya yang menyatakan bahwa menangis itu menyehatkan dan menguntungkan, dapat ditemukan dalam hasil penelitian dari Solter (1995, dalam Vingerhoets & Scheirs, 2001) yang menyatakan bahwa “tangisan adalah mekanisme lahiriah yang menyembuhkan”.

Lebih dari 40 tahun lalu, Rees (1972, dalam Vingerhoets & Scheirs (2001), menyampaikan hasil pengamatan bahwa peningkatan kematian pada pria setelah kehilangan orang yang dicintai, bisa jadi disebabkan oleh ditekannya rasa sedih, termasuk diantaranya menahan tangisan. Bahkan dikatakan secara harfiah : “Menangislah atau Mati”.

Bahkan dalam bahasan yang hampir mirip, Solter (1995, dalam buku dari Michael Orlans, Terry M Levy, 2014 yang berjudul Psychology of Crying) menyampaikan bahwa “Menangis adalah bagian vital dari penyembuhan atau proses pertumbuhan kejiwaan yang tidak boleh dihindari”.

Namun tentu saja, menangis tanpa awalan dan tanpa berujung juga bisa menimbulkan masalah baru. Menangis bisa juga menimbulkan depresi, atau gangguan psikologis seperti sub chronic melancholia. Karena itu, proses katarsis atau mekanisme aktivasi gelombang Alpha di otak, dirancang secara kritikal dan teliti dalam Training-training Pencerdasan Emosional, Kognitif dan Spiritual dari ESQ.

Tim ahli yang terdiri dari berbagai bidang ilmu, mencurahkan energi terbaik mereka untuk menyusun modul-modul training yang penuh ketelitian dan canggih, dalam training-training ESQ. Bahkan, Alpha Experience (pengalaman aktivasi gelombang alfa di otak) adalah salah satu momen yang diharapkan dan ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang merasakan keuntungan dari tangisan mereka saat mengikuti Training ESQ. Karena salah satu tujuan dalam Training ESQ adalah meningkatkan kapasitas Emosi, Kognitif dan Spiritual, dengan aktivasi dan meruntuhkan filter-filter pemikiran dan perasaan.

(Gina Al ilmi, S.Psi)

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?