Skip to main content

Bagaimana Agar Cerdas Emosi?

By May 6, 2019Article

Semua orang pasti pernah merasakan kesedihan. Namun ada orang yang mudah pulih dan bangkit. Ada juga yang sulit melakukannya. Kesedihan bisa disebabkan oleh banyak hal. Target yang tidak tercapai. Keinginan yang tidak terpenuhi. Harapan yang digantungkan. Kekecewaan yang tidak berujung.

Kesedihan bisa menggelayut berat di alam pikiran seperti halnya awan kelam di langit. Bisa kemudian turun menjadi tangisan. Namun biasanya menangis bisa membuat kita pusing dan berujung dengan pilek. Kondisi sedih tak berujung ini juga bisa memicu berbagai gejala sakit tertentu.

Padahal, kita bisa mengubah settingan pemikiran di otak kita agar bisa membesar kapasitasnya.  Caranya? Dengan mengetahui apa saja yang membuat otak kita dan mental kita terblok.

Kita harus tahu apa saja tembok-tembok pikiran dan perasaan yang membuat kita terbebani. Kita harus tahu apa saja hal-hal yang menyebabkan kita selalu ragu-ragu dan tidak mau maju.

Karena semuanya ternyata hanya di alam pikiran. Yang sebenarnya itu bisa kita setting. Kita harus tahu elemen apa saja di diri kita yang membuat aktivitas kita tidak optimal. Lalu mengenyahkannya dari pikiran kita selamanya.

Itulah yang dilakukan di training ESQ. Di dalamnya berisikan berbagai penyajian media dan aktivitas untuk menstimulasi pencerdasan emosional dan spiritual yang mendatangkan perubahan pada banyak orang. Namun seperti semua training lainnya, perubahan ini tidak dijamin berhasil untuk semua orang. Karena para pesertanya sendirilah yang kemudian memutuskan setelah mengetahui, seperti apa ia ingin.

Penyajian media di dalam training ESQ, diantaranya menampilkan potongan fragmen kehidupan yang dramatis. Menurut Leon Golden, Profesor Emeritus dari University of Florida (1976, dalam Khoo 2012), penyajian fragmen drama yang tragis dan bagus, akan memantik proses intelektual di otak kita dengan cara yang menyenangkan. Karena menyentuh sisi ketakutan dan rasa iba yang secara universal dimiliki oleh semua manusia.

Baca Juga:  Tips Untuk Meningkatkan Produktivitas Bekerja di Bulan Ramadhan (10)

Golden (1976) explained that good tragic drama fulfills its function at its conclusion as “the experience of an intellectually pleasant learning process that is concerned with the universal nature of pity and fear in the human condition”

Doctor Elizabeth S. Belfiore (1992, dalam Khoo, 2012) menyatakan bahwa refleksi diri yang kita temukan saat membandingkan diri kita dengan drama tragis yang disampaikan, mendatangkan rasa senang yang mendalam. Serta, pemahaman kita akan suatu tragedi, mendatangkan rasa tenang.

Belfiore (1992) also associated self reflection on tragedy as inherently pleasurable: “While the perception of terrible events continues to give pain, the understanding tragedy gives is deeply consoling”

Secara menyeluruh, Khoo (2012) menyimpulkan bahwa proses kognitif terjadi di otak kita saat kita melihat suatu peristiwa tragis. Kita berusaha untuk memahaminya dengan memandang ke dalam diri kita sendiri (refleksi diri). Hal ini mendatangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang beragam peristiwa yang memantik rasa kemanusiaan kita. Hingga membuat kita mendapatkan rasa syukur secara meta kognitif (meta-level gratification), sebagai hasil proses kontemplasi yang dilakukan secara otomatis, karena unsur kemanusiaan merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari setiap manusia yang memiliki pemikiran yang sehat dan normal.

Khoo, 2012;

_In sum, the clarification view of catharsis emphasizes the cognitive processing of tragic emotions for attaining a deeper understanding of the human condition, with the possibility of a meta-level gratification as an integral part of the contemplation process._

Mengikuti training ESQ, kita memiliki kesempatan untuk melakukan kontemplasi dan mengalami katarsis sebagai cara untuk meningkatkan kapasitas emosional kita secara lebih baik, dan di maintain dengan disiplin spiritual yang menguatkan. Agar berbagai insight yang kita dapatkan selama training, tidak hilang begitu saja. Karena itu, agar kita benar-benar jadi cerdas emosi, ikutilah training ESQ dari awal hingga akhir secara penuh perhatian. Salam Cerdas Emosional dan Spiritual dari ESQ.

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?