Skip to main content

Mengapa Terjadi Perubahan Perilaku Pada Sejumlah Orang Setelah Training ESQ?

By May 7, 2019Article

Sejumlah alumni Training ESQ seringkali menceritakan kembali bagaimana Training ini berhasil merubah pandangan mereka akan hidup. Bahkan perilaku dan cara berbicara pun menjadi berubah. Bagaimana hal ini menurut pandangan ilmiahnya?

Dalam salah satu karya ilmiah dari Professor Emeritus dalam bidang Anthropologi dan Sosiologi, Michael G Kenny (1997), Trauma, Memory & Katharsis: Anthropological Observation”, bahwa seseorang dapat menemukan makna dan perspektif yang berbeda dalam hidup, setelah menyaksikan dan mendengarkan narasi dan intonasi dalam pemutaran drama, teater atau film.

Dalam hal ini, Training ESQ menyajikan multimedia dengan cuplikan film, penuturan Trainer yang bersifat dramatis, dan tata suara dan panggung yang bersifat teatrikal, untuk memicu pemahaman dan mempercepat proses belajar dengan mempermudah pemahaman konsep melalui multimedia.

Menurut Kenny, “pembelajaran” dari drama, teater dan film ini, membuat jiwa kita dapat memahami cara untuk mencintai dan membenci dengan “benar”.

“learning how to love and hate ‘rightly,’ such that our souls undergo a change for the better” (p.478); here, the term “learning” refers to the comprehension of concepts, rather than psychological conditioning, whereas “rightly” indicates motivated reasoning and moral behavior.

Hingga jiwa kita kemudian menjalani perubahan untuk menemukan pandangan mana yang lebih baik. Dalam hal ini, belajar disini ditujukan kepada pemahaman konsep, dan bukan semata-mata sebuah pengkondisian peserta secara psikologis.

Baca Juga:  Meredakan Kerisauan Transformasi di Tahun Politik

Pemahaman baru yang diperoleh peserta lah, yang terjadi. Dimana pengetahuan baru tentang apa yang benar-lah yang kemudian menjadi penyebab atau motivasi yang menghasilkan perubahan sikap moral, yang akhirnya memantik perubahan perilaku. Metode inilah yang digunakan dalam Training ESQ.

Karena itulah perancangan Training ESQ melibatkan teknologi untuk menciptakan kesan dramatika untuk menghadirkan efek teatrikal dalam Training, untuk menstimulasi pemahaman, memantik penalaran, dan menyentuh sisi moral dalam diri kita. Namun efek ini, dirasakan dalam level yang berbeda-beda pada tiap orang.

Bahkan, berbeda sekali dengan tuduhan sejumlah pihak, dalam training ESQ, tidak ada suatu hal yang seperti “cuci otak”. Namun yang ada adalah “Emotional Venting” atau pengeluaran tekanan emosional ke dalam ekspresi emosi tertentu dimana peserta kemudian ada yang menangis, atau berteriak menyesali perilaku aversif yang pernah mereka lakukan.

Metode dalam Training ESQ ini sama sekali bukan sebuah psychological conditioning, namun berupa rangkaian stimulasi ilmiah yang disampaikan dengan metode dramatika-teatrikal dalam sebuah konsep Training.

Sehingga terjadi perbaikan kecerdasan emosional, karena secara kognitif, pemikiran peserta dipicu untuk mempertinggi nilai penalaran. Setiap slide, kalimat, musik, gambar, film, dipikirkan secara matang untuk dapat mempertinggi nilai moral, dan menggerakkan motivasi untuk merubah perilaku agar menjadi lebih baik.

Sumber: Michael G Kenny (1997) dalam Khoo (2012), dibahasakan kembali oleh Gina Al ilmi S.Psi (2018)

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?