Skip to main content

Mengapa Banyak Orang Menjadi Lebih Cerdas Emosi setelah Training ESQ?

By May 7, 2019Article

Training ESQ bertujuan untuk membuat pesertanya menjadi lebih cerdas secara emosional dan spiritual. Agar memiliki kapasitas emosional yang berkembang melalui peningkatan pemahaman spiritual. Namun, persisnya, apa yang terjadi secara psikologis, yang membuat sejumlah peserta melakukan perubahan perilaku yang bersifat cukup drastis setelah mengikutinya?

Secara teoritis, menurut disertasi doktoral Guan Soon Kho di tahun 2012 di The Pennsylvania State University – School of Communication, katharsis yang terjadi saat seseorang menonton drama, teater, film atau sajian tersebut dalam suatu event, dapat menimbulkan efek yang mendalam, secara meta-level dalam proses kognitif mereka. .

Berikut kutipannya;

“the clarification view of catharsis emphasizes the cognitive processing of tragic emotions for attaining a deeper understanding of the human condition, with the possibility of a meta-level gratification as an integral part of the contemplation process”.

therefore, clarification catharsis is theorized as an insight-gaining psychological phenomenon that can transform audiences into better, more compassionate members ofthe human race through potentially  pleasurable self-reflections on our common humanity”.

Bila dihubungkan dengan salah satu sesi di dalam Training ESQ, maka teori diatas dapat diterjemahkan sebagai;

Proses katarsis memiliki sudut pandang klarifikatif. Dalam hal ini, apa yang seseorang lihat/ tonton/ dengar, memberikan pelepasan dari proses kognitif, terhadap emosi yang muncul berkaitan dengan suatu event yang bersifat tragis. Seperti contohnya; saat katarsis tentang tragedi meninggalnya orangtua saat training ESQ.

Baca Juga:  Tokoh Muslim Sukses Dunia: Azim Hasham Premji, Kaya Dari Bisnis IT

Apa yang kita rasakan saat itu, memuncakkan semua rasa takut kita. Membuat kita memposisikan diri secara meta kognitif mengenai peristiwa itu bila terjadi nantinya. Hingga timbul rasa syukur (gratification) secara meta kognitif level, bahwa saat ini kita masih memiliki orangtua. Hal ini, menurut Khoo, merupakan bagian yang integral dalam sebuah proses kontemplasi.

Karena itulah, proses katarsis dapat bersifat klarifikatif, karena dapat menjelaskan suatu teori dimana film, drama, teater dan sebagainya yang mencuplik suatu adegan yang tragis dalam periode hidup seseorang yang harus dilalui, dapat membuat orang memiliki pandangan baru.

Katarsis klarifikatif ini adalah fenomena psikologis dimana seseorang memperoleh pemahaman lebih tinggi (insight gaining psychological phenomenon) yang dapat merubah (transform) peserta menjadi lebih memiliki rasa kasih sayang (compassionate). Hal ini membuat seseorang dapat memposisikan dirinya secara lebih baik sebagai bagian dari umat manusia.

Proses katarsis klarifikatif ini pun adalah satu peristiwa refleksi diri yang nyaman (pleasurable self reflections). Dimana seseorang diposisikan maju ke masa depan, dan ditantang untuk mampu melihat dirinya dalam peristiwa yang dapat terjadi secara umum pada siapa saja (dalam hal ini refleksi peristiwa meninggalnya orangtua).

Itulah mengapa, Training ESQ yang disajikan secara dramatikal, dengan berbagai efek teatrikal yang tinggi, dianggap menjadi penyebab berubahnya perilaku seseorang menjadi lebih baik. Sejumlah peserta menggambarkan diri mereka menjadi lebih sabar, menjadi lebih lembut, dan lebih jarang marah, setelah mengikuti Training ESQ.

Sumber : Khoo (2012), dibahasakan kembali dengan relevansi pada pandangan efek teatrikal dari Training ESQ oleh Gina Al ilmi S.Psi

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?