Masa Depan Dunia Medis Di Tangan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Digital Health

By January 16, 2020Article

Pernahkah anda melihat film serial kesehatan? Anda mungkin pernah menonton serial seperti Dr House atau Grey’s Anatomy. Dalam film serial yang menarik tersebut kita bisa melihat bagaimana sebuah kondisi kesehatan membutuhkan penanganan dan pengalaman tingkat tinggi. Bahkan dalam berbagai episodenya, Dr House digambarkan sebagai seorang dokter eksentrik yang amat jenius. Ia seringkali dapat menebak dan memprediksi tindakan apa yang harus dilakukan pada seorang pasien. Bahkan saat para koleganya yang lebih ahli dan bijak darinya melakukan kesalahan anamnesa.

Anamnesa atau pembuatan diagnosa untuk mengetahui tingkat keparahan dalam penyakit seseorang hanya bisa dilakukan oleh dokter yang memiliki tingkat pengalaman yang tinggi dan telah melakukan praktek selama puluhan tahun. Namun dokter sejenis itu amat langka dan makin menua. Bagaimana masyarakat bisa menerima layanan kesehatan hebat dari para dokter terbaik dunia itu?

Solusinya ternyata ada pada artificial intelligence. Data dan pengalaman yang dimiliki oleh karakter jenius Dr House tersebut kini diabadikan dalam berbagai aplikasi digital di dunia medis.  Salah satu pelopor Digital Health secara global adalah suatu lembaga penelitian medis di Jerman yaitu Hasso Plattner Institute (HPI). Lembaga ini berada di kota Postdam, Jerman, dan dianggap sebagai salah satu university excellence center dalam bidang digital engineering. Institut ini memiliki tiga jurusan pasca sarjana yaitu peminatan Sistem Rekayasa Teknik Informatika (IT Systems Engineering), peminatan Digital Health, dan peminatan Teknik Pengolahan Data (Data Engineering). 

Di Eropa, Hasso Plattner Institute ini masuk dalam jajaran universitas terbaik versi CHE University Rangkings. CHE University Rangking adalah sistem pemeringkatan universitas yang paling rinci dan komprehensif yang membawahi lebih dari 300 universitas dan perguruan tinggi di Jerman, Austria, Swiss dan Belanda.  CHE sendiri adalah singkatan untuk Center for Higher Education.

Hasso Plattner Institut ini memiliki lembaga bernama HPI School of Design Thinking yang merupakan sekolah inovasi pertama di Eropa yang juga memiliki cabang di Stanford d.School. Universitas ini menjadi  pusat dan penghubung para innovator untuk saling berkolaborasi dan mengembangkan kreativitas. Bahkan dikatakan sebagai pusat bagi para innovator, kolaborator dan orang-orang kreatif. Misi dari skeolah ini adalah untuk membantu menciptakan lebih banyak innovator, dimana saja.

Dengan semangat tersebut, HPI School of Design Thinking ini banyak mengembangkan inovasi dalam bidang teknologi informatika. Namun yang paling menarik adalah HPI memiliki pusat penelitian untuk mahasiswa program doctoral di bidang medis yang tersebar di berbagai belahan dunia. Diantaranya di Cape Town, Haifa dan Nanjing. Dengan 14 Profesor tetap dan 50 orang professor pendukung.

Baca Juga:  Urgensi Transformational Leadership di Semua Organisasi

HPI ini mengajarkan dan melakukan fokus penelitian dalam bidang yang sangat kompleks, luas, dan saling interkoneksi dalam bidang teknologi informatika. Tujuannya adalah untuk mengembangkan berbagai temuan dan melakukan penelitian yang memiliki kegunaan tinggi dalam semua bidang kehidupan dan membuatnya agar mudah diakses dan mudah digunakan oleh masyarakat atau bersifat user-oriented.

HPI pun selain berkaitan dengan Stanford, kini mengembangkan bidang penelitian digital health ini di New York melalui  University Hospital Mount Sinai Health System (MSHS) yang ditandatangani pada tanggal 29 Maret 2019.

Tujuan dari kerjasama kedua institusi medis ini adalah untuk memperluas bidang digital medis dan untuk meningkatkan perkembangan berbagai aplikasi digital health. Salah satunya adalah untuk menghasilkan analisa real time dari berbagai data kesehatan dengan menggunakan artificial intelligence untuk menghasilkan informasi medis bagi para pasien atau bagi orang-orang yang berpotensi terkena masalah kesehatan tertentu secara lebih awal, untuk membantu pengambilan berbagai keputusan medis yang lebih tepat dan lebih sesuai.

Sementara di belahan bumi yang lain yaitu di Jepang, telah juga dikembangkan konsep Japan Biodesign yang melakukan berbagai riset kolaboratif yang dikembangkan oleh universitas dengan kalangan industri dan manufaktur serta para kreator aplikasi digital.

Seperti dikatakan oleh Profesor HPI dan Kepala Digital Health Center, Dr Erwin Bottinger bahwa kita telah lama mengetahui bahwa kecerdasan buatan (AI) dan analisa tepat waktu (real time analysis) dari berbagai data kesehatan yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dibutuhkan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, mencegah makin parahnya perkembangan berbagai penyakit, dan memperbaiki kesehatan seluruh umat manusia.

Untuk itu diperlukan kolaborasi dan kerjasama di bidang digital health dari berbagai belahan dunia demi meletakan batu pertama (groundbreaking) di dunia medis. Tujuannya adalah untuk memperbaiki tingkat presisi evaluasi medis dan pengambilan keputusan penanganan berbagai penyakit yang berbahaya dan mengancam nyawa (terminal disease). Dengan mengumpulkan para ahli, peneliti muda dan para mahasiswa idealis yang kreatif ini, berbagai inovasi dan aplikasi hebat diharapkan dapat tercipta dan menjadi solusi global yang dapat merevolusi dunia kesehatan dan memperbaiki tingkat kesehatan penduduk secara nasional dan di tingkat global.

Sebelumnya para peneliti dari HPI dan Mount Sinai ini telah mempublikasikan beragam hasil penelitian dari para pionir di dunia diagnostika genome (DNA), digital  health, teknik analisa data biomedis, kecerdasan buatan, dan teknologi informatika. Hal ini disampaikan oleh Dr. Joel Dudley, PhD, Associate Professor Genetics and Genomics di gabungan kedua institusi HPI dan Mount Sinai tersebut. dengan kerjasama tersebut, maka kolam keahlian dari para peneliti in dapat digunakan secara luas dengan dukungan sosial dan bantuan pengerahan dana yang disebarkan secara luas dalam sistem kesehatan di Eropa dan Amerika.

Leave a Reply