Skip to main content

Indonesia Menyambut Teknologi 5G

By July 2, 2019August 22nd, 2019Article

Pada tahun 2019 ini, sejumlah negara telah menerapkan teknologi 5G secara massif. Negara-negara tersebut diantaranya di Swiss dan Arab Saudi. Di Swiss, menurut pemetaan titik penerapan 5G yang dibuat oleh Ookla, terdapat 229 titik di negara ini dimana teknologi 5G telah dijalankan. Sementara, tak kalah dengan Swiss, Kuwait pun telah memiliki 89 titik 5G dan totalnya di jazirah Arab terdapat 126 titik dimana teknologi 5G ini telah diterapkan dan berjalan sehari-hari.  Anda dapat melihatnya di link ini; https://www.speedtest.net/id/ookla-5g-map

Sementara di Indonesia, ada sejumlah hal yang masih menjadi hambatan untuk melakukan penyerapan teknologi 5G ini. Sejumlah hal yang harus dipersiapkan adalah;

  • Ketersediaan Frekuensi Untuk Jaringan 5G

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menyampaikan bahwa frekuensi untuk menggelar jaringan 5G belum tersedia di Indonesia. Frekuensi 3,5 Ghz yang layak untuk digunakan pun masih dipakai untuk satelit. Rudiantara mengatakan, jika Indonesia memang betul-betul ingin segera menggelar jaringan 5G, bisa saja menggunakan frekuensi 3,5 Ghz dengan catatan hanya bisa digelar di wilayah yang tidak terkaver oleh satelit tersebut.

  • Belum Adanya Model Bisnis Yang Sesuai Bagi Provider 5G

Kendati demikian, Rudiantara tetap menekankan bahwa model bisnis 5G adalah faktor utama mengapa Indonesia masih belum dapat mengimplementasikan 5G dalam waktu dekat.

“Meskipun frekuensi ada, tapi model bisnisnya belum ada. Kalau kita tanya operator, misalnya yang operator menengah, pasti mereka bilangnya nunggu frekuensi Kominfo. Tapi yang penting model bisnisnya dulu,” pungkas Rudiantara.

  • Belum Adanya Ketetapan Regulasi dari Pemerintah

President Director Ericsson Indonesia & Timor Leste Jerry Soper sebagai salah satu penyedia teknologi 5G ini menyampaikan bahwa ada dua hal yang harus dipersiapkan pemerintah. Jerry menekankan bahwa yang terpenting saat ini adalah ketersediaan infrastruktur dan regulasi yang dapat mempermudah penetrasi jaringan 5G di Tanah Air.

  • Pembangunan Infrastruktur 5G Membutuhkan Biaya Tinggi

Jerry Soper banyak sektor yang akan makin melejit dengan adanya teknologi 5G.  Jerry memaparkan bahwa sektor-sektor tersebut adalah otomotif, hiburan, gaming, mobile broadband, smart home, dan shipping alias logistik pengiriman barang.

Jerry kemudian menjabarkan untuk sektor otomotif, Indonesia bisa mengimplementasikan 5G untuk mobil otonomos. Tahun lalu saat gelaran Asian Games, salah satu operator seluler di Indonesia pun sempat menguji coba bus otonomos dengan jaringan 5G. Sementara untuk sektor hiburan, Indonesia bisa membuat sebuah bioskop dengan teknologi Virtual Reality (VR). Dengan begitu, teknologi 5G ini akan memberi pengalaman lebih baik dalam dunia hiburan

Baca Juga:  9 Faktor Penyebab Gagalnya Agent of Change dalam Transformasi Kultural di Perusahaan

Tren smart home juga diprediksi akan bermunculan di Tanah Air setelah jaringan 5G diadopsi dengan sempurna. Nantinya jumlah perangkat yang menjadi penunjang smarthome akan meningkat. Sektor terakhir yang diprediksi akan melejit adalah pengiriman barang (shipping). Menurut Jerry, jika 5G sudah digunakan sepenuhnya, urusan pengiriman akan dilakukan menggunakan drone atau pesawat nirawak.

Kendati demikian, pembangunan Infrastruktur untuk menyebarkan jaringan 5G ini termasuk rumit dan berbiaya tinggi. Berbeda dengan 4G yang dapat menyebar melalui BTS (Base Transceiver Station) yang sudah ada, gelombang pendek yang ada pada 5G membutuhkan antenna pemancar dengan jarak yang berdekatan. Adanya banyak antenna yang didirikan berdekatan ini dapat menjadi masalah bagi penataan kota. Untuk itu setiap kota harus memiliki pemetaan titik antenna dengan rancangan yang seksama.

Selain itu, ada kepedulian lainnya yaitu bahwa antenna 5G ini dianggap dapat menjadi ancaman bagi kesehatan karena radiasi tinggi yang mungkin dimilikinya.  Para pengamat kesehatan mencemaskan bahwa walaupun radiasi yang terpancar tidak merubah kondisi kesehatan yang dapat terlihat secara fisik, namun dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi gelombang otak serta mengancam pertumbuhan sel-sel tubuh terutama pada bayi, ibu hamil dan anak-anak.

Menkominfo Rudiantara sendiri menyatakan bahwa teknologi 5G ini masih membutuhkan banyak kajian dan langkah yang harus dipersiapkan dengan seksama dalam penerapannya. salah satu hal yang ia kemukakan adalah bahwa teknologi ini mungkin baru akan dapat dinikmati di tanah air setelah tahun 2021 mendatang.

Walaupun begitu, beberapa hari yang lalu pada tanggal 29 Juni 2019, salah satu operator telekomunikasi Indonesia yaitu Telkom telah menandatangani kesepakatan dengan ZTE untuk melakukan pengembangan teknologi 5G ini di Indonesia.

Bagaimana pengembangan teknologi 5G selanjutnya di Indonesia? Ikutilah berbagai artikel inspiratif dari ACT Consulting dalam sejumlah topik yang berbeda. Secara teratur kami merilis berbagai update terbaru mengenai bisnis, manajemen, strategi dan inovasi.

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?