Skip to main content

Pernahkah Merasakan Keadaan Penuh Tekanan?

By May 7, 2019Article

Sejumlah peristiwa dalam hidup, dapat berinteraksi dan menghasilkan tekanan pada jiwa dan pikiran kita. Bahkan, membuat mental kita terluka, atau merasakan harga diri dicederai oleh orang lain. Atau tengah kecewa dengan diri sendiri yang anda rasa, “Mengapa Hidup Saya Begini?”.

Tapi lalu, tekanan itu anda abaikan. Namun kemudian muncul hal-hal yang menyangkut kondisi fisik. Seperti sakit kepala, rasa tegang di leher dan rasa kaku di pundak. Mungkin bisa hilang dengan pijatan atau mandi air hangat. Namun kemudian, keluhan kesehatan sejenis itu malah muncul semakin sering. Namun anda abaikan dan terus bekerja hingga larut malam.

Tak disangka, di akhir tahun, saat harus melakukan medical check up secara rutin di RS yang ditunjuk oleh kantor, tiba-tiba anda menemukan bahwa tekanan darah menjadi tinggi. Tak heran anda sering sakit kepala. Atau merasakan jantung anda kini sering sakit, namun tidak menemukan sebabnya kenapa. Atau anda merasakan dada anda sering terasa sesak dan sulit untuk bernafas dengan lega. Terutama saat beban pekerjaan menumpuk. Anda merasa ingin menangis, tapi malu pada diri sendiri. Atau berpikir bahwa menangis itu menggambarkan diri yang lemah. Sementara anda ingin merasa selalu kuat dan tegar.

Padahal, 95% literatur yang ada tentang tangisan, semuanya mendukung pendapat bahwa menangis itu baik untuk kesehatan. Banyak temuan dan penelitian yang tersusun dari Ide bahwa emosi yang tidak diekspresikan, termasuk di dalamnya menahan diri untuk tidak menangis, semuanya sepakat bahwa kebiasaan menahan perasaan ini dapat menimbulkan penyakit fisik di kemudian hari. Konsep ini dikemukakan oleh beberapa ahli, dalam sejumlah model yang berbeda.

Termasuk diantaranya teori represi, yang pertama kali dikemukakan oleh Freud (1915-1957), dan kemudian di elaborasikan oleh Pennebaker (dijelaskan lebih jauh dalam Berry & Pennebaker, 1993; Pennebaker & Susman, 1988). Asumsi dasar dari teori ini adalah inhibisi (menekan) emosi secara aktif, menahan tindakan diri, membutuhkan pergerakan fisiologis, yang bila dilakukan secara lebih sering dan tak disadari, akan menyebabkan tegangan yang bersifat kronik dalam sistem biologis kita.

Baca Juga:  Siapkah Anda Disupervisi Oleh Artificial Intelligence (AI)?

Penjelasan klinis awal tentang kondisi psikosomatis adalah bahwa ia disebabkan oleh ditekannya rasa sedih dan ditahannya keinginan untuk menangis. Secara spesifik, proses penekanan kesedihan ini berhubungan secara tidak langsung dengan munculnya penyakit asthma, (menurut French dan Halliday dalam Alexander, 1950, hal. 139).  Bahkan, Frey (1985) menyampaikan alasan dibalik baiknya dukungan untuk mengekspesikan kesedihan dan tekanan dengan menangis. Yang menyatakan bahwa menangis itu penting untuk mengekskresikan substansi beracun yang dikeluarkan tubuh saat mengalami tekanan buruk.

Gross et al. (1994) dalam Vingerhoets & Jan Scheirs (2001), menyampaikan bahwa fungsi dari tangisan adalah untuk membangkitkan keseimbangan di dalam tubuh dengan sejumlah cara. Diantaranya bahwa tubuh merespon dengan melepaskan toksin yang dipicu oleh tekanan emosi.  Atau tubuh merespon dengan melakukan aktivasi sistem parasimpatis (dengan mengalirnya air mata secara tidak disadari), yang diikuti dengan aktivasi sistem simpatis (gerak tubuh yang dapat dikendalikan pikiran) yang disebabkan oleh emosi yang membaik. 

Namun diantara sejumlah penelitian tentang menangis, pun ditemukan efek buruk dari menangis. Dalam sejumlah penelitian disampaikan bahwa tangisan yang berlebihan dapat menyebabkan kondisi kesehatan memburuk, bahkan meningkatkan resiko kematian dari depresi yang tak berujung. Bagaimana agar anda bisa melepaskan tekanan hidup dan meningkatkan kapasitas kecerdasan emosi, kognitif dan spiritual, secara bersamaan? Agar anda bisa bebas dari rasa sakit psikosomatis itu? Agar anda bisa menghadapi ribuan masalah tanpa beban pikiran yang membelit?

Salah satu metode yang dihasilkan sebagai solusi adalah melalui pemberian pengalaman “perjalanan psikologis ke dalam diri” dengan menghapus filter demi filter mental dan pemikiran yang selama ini bersifat membelenggu jiwa dan perkembangan mental Anda. Agar tak hanya masalah Anda bisa selesai, namun kapasitas anda untuk menyelesaikan masalah pun malah menjadi meningkat dan potensi diri anda yang sebenarnya kemudian terkuak lebar-lebar.

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?