Skip to main content

Pengaruh Keadaan Mental Terhadap Rasa Percaya Diri

By April 18, 2019April 30th, 2019Article

Dalam sebuah buku yang disusun oleh George W Crane dari tahun 1944, ia banyak mengungkapkan sejumlah penelitian yang telah dilakukan di masa itu. Sejumlah hasil penelitian tersebut, masih sangat relevan dengan keadaan yang ada di masa sekarang. Diantaranya adalah penelitian yang akan kita bahas berikut ini;

George Washington Crane, lahir pada tahun 1901 dan wafat di tahun 1995. Ia mengungkapkan di dalam bukunya bahwa di London di awal tahun 1940an, dilakukan eksperimen yang melibatkan 5 tentara untuk melihat pengaruh mental state terhadap kekuatan fisik mereka.

Para tentara ini diminta untuk menggenggam dynamometer sekuat mungkin, untuk melihat kekuatan genggaman tangan mereka. Rata-rata kelima orang tentara ini adalah 101 pon.

Setelah itu mereka dihipnotis, ditanamkan bahwa mereka lemah dan tak berdaya. Lalu mereka diberikan tugas untuk kembali menggenggam dynamometer dan disuruh untuk menggenggamnya sekuat mungkin. Nilai rata-rata yang didapatkan hanya 69 pon saja.

Namun mereka setelah itu diberikan pernyataan positif, bahwa mereka sangat kuat, hebat seperti herkules. Setelah itu nilai rata-rata yang didapatkan adalah 140 pon.

Ada sejumlah kesimpulan yang bisa ditarik dari eksperimen ini. pertama bahwa pikiran negatif, seperti rasa gagal atau kalah, membuat kekuatan fisik menjadi menurun.

Di sisi lain, perasaan positif lebih meningkatkan kekuatan rata-rata. Perasaan bahwa mereka kuat, telah memberikan peningkatan kekuatan fisik hingga 40% diatas kekuatan normal rata-rata.

Sementara keyakinan bahwa mereka lemah menyebabkan berkurangnya kekuatan hingga 30% dibawah catatan normal. Walaupun kita mungkin tidak sampai dalam keadaan dibawah pengaruh hipnotis, namun kita pun bisa saja menghasilkan kekuatan hingga 140 pon atau 69 pon saat kita merasa kuat atau saat merasa kalah.

Tim sepakbola, para pebisnis, dan para sales, lebih cenderung untuk meraih sukses saat mereka penuh percaya diri, dan bukan saat mereka merasa takut. Bila tidak melihat hal lain yang dibutuhkan untuk menang seperti pelatihan dan hal detail lainnya. Tim sepakbola yang over konfiden menjadi kalah bukan  karena sikap mental ini, namun karena tidak hati-hati. Dan juga karena menghindari latihan yang berat. Atau bisa juga karena menghadapi tim yang lebih percaya diri dibanding mereka.

Baca Juga:  Siapkah Anda Disupervisi Oleh Artificial Intelligence (AI)?

Rasa percaya diri, bila dimiliki seorang anak lelaki atau perempuan, adalah kebiasaan yang akan menguntungkannya lebih jauh di masa depannya saat ia menemukan momen dimana ia merasa kurang percaya diri.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa rasa percaya diri lebih cenderung sebagai sebuah kebiasaan. Namun, kekuatan fisik juga membentuk semangat kemenangan.

Orang yang sering sakit, mudah lelah, dan cenderung lemas, merasa sulit untuk menemukan rasa percaya diri dan tidak bisa bersikap menyerang. Mereka cenderung diam dan membiarkan orang yang lebih kuat maju lebih dulu dan bahkan membiarkan masuknya serangan dari konsumen, lawan debat dan lawan dalam segala bentuknya.

Pendidikan dan pelatihan juga adalah sebuah upaya membangun mental pemenang (winning morale). Mereka yang berpendidikan tinggi memiliki kekuatan dibanding mereka yang tidak banyak bersekolah.

Hal ini berlaku tidak hanya dalam masalah pengetahuan, tapi juga dalam hal rasa percaya diri dan sikap tenang yang datang dari pengetahuan dan bekal hidup serta keuntungan informasi yang telah diterimanya.

Dibanding yang berpendidikan tinggi yang merasa memiliki kesempatan 50-50 dalam berbagai hal, mereka yang tidak berpendidikan tinggi merasa hanya punya kesempatan 25-75.

Terkadang orang dengan defeatism complex (rasa kalah yang kompleks) pun bisa sukses karena memiliki ide yang cerdas, atau bila ada penyemangat di rumah yang secara konstan mendorongnya untuk yakin menang.

Orang yang memiliki semangat menang, merasa yakin para dirinya, dan memiliki kecerdasan yang dihargai, dapat menghadapi kesulitan yang dihadapinya.

Hingga mereka dapat lebih jauh memenangkan dan memperoleh keuntungan-keuntungan yang jelas dalam hidupnya, dan dapat melalui tiap tahapan perkembangannya dengan senyum percaya diri, apapun yang akan dihadapinya. Perkembangan semangat seperti ini adalah fungsi dari pendidikan, dan tugas dari para orangtua, guru dan motivator secara umum.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?