Komparasi Elemen Balance Scorecard Grup Telekomunikasi Arab dan Afrika dengan Grup Telekomunikasi Milik Indonesia

By August 23, 2019 August 26th, 2019 Article

Bila sebelumnya ACT Consulting membahas tentang Grup Telekomunikasi milik Amerika Serikat, kali ini kita akan membahas tentang Grup Telekomunikasi yang beroperasi di Arab, Asia dan Afrika, dan perbandingannya dengan Grup Telekomunikasi milik Indonesia.

Kita mulai dengan membahas Zain Grup, Konglomerasi Telekomunikasi yang berpusat di Kuwait. Dalam situs resminya, Zain Grup menyatakan  telah sukses meraih pendapatan sebesar Rp 62,6 Trilyun (4,4 Billion USD) di 2018 dengan lebih dari 6000 orang karyawan yang bekerja di 22 negara. Konsumen Zain Group ini tersebar di 8 negara di Jazirah Arab dan 15 negara di benua Afrika.

Jumlah ini masih kalah dengan pendapatan yang dimiliki oleh Telkom Grup Indonesia di tahun 2018 yaitu sebesar Rp. 130,8 Trilyun. Namun hasil tersebut dicapai Telkom dengan jumlah pegawai sekitar 2 kali lipatnya yaitu mencapai 13 ribu orang. Atau bila digabungkan dengan keseluruhan pegawai dalam 43 perusahaan di grup Telkom, totalnya mencapai 24 ribu orang.

Pendapatan diatas 60 trilyun itu pun diraih Zain Grup dengan jumlah pelanggan sebanyak 50 juta akun saja. Sementara jumlah akun pelanggan yang dimiliki oleh Telkom Grup sebanyak lebih dari 163 juta pelanggan, lebih dari 3 kali lipat pelanggan Telkom Grup. Dari sini kita bisa memahami bahwa 4 kali lipat jumlah pegawai diperlukan untuk menangani pelanggan yang ada.

Selain itu, jumlah karyawan yang ada juga diperlukan untuk melakukan aktivitas operasional seperti pengelolaan BTS  yang jumlahnya sangat banyak. Sementara karyawan yang dimiliki Zain Grup bisa lebih sedikit karena melakukan sub kontrak dengan perusahaan sebelumnya yang diakuisisi grup ini di berbagai negara. Selain itu, Zain Group pun dapat memperoleh keuntungan tambahan dengan menjual dan menyewakan sebagian BTS yang dimilikinya pada operator lain di suatu negara dimana ia beroperasi.

Sementara Ooredoo Group milik Qatar, beroperasi di 13 negara di Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara. Perusahaan Telekomunikasi ini memiliki pendapatan 117,37 Trilyun di tahun 2018 dengan 17.000 pegawai yang tersebar di 13 negara. Hasil tersebut didapat dengan jumlah konsumen sebanyak 115 juta akun.

Namun keprihatinan kita muncul saat melihat data yang diberikan Indosat. Perusahaan Telekomunikasi Indonesia yang kini bermitra dengan Ooredoo ini, mencatat pendapatan sebanyak Rp. 23 Trilyun, dengan jumlah pelanggan 58 juta akun di tahun 2018. Namun dari perhitungan biaya operasional yang dihabiskan, Indosat mengalami kerugian sebanyak Rp. 2,4 Trilyun.

Baca Juga:  Menjadi Pemenang di Era Disrupsi Saat Ini

Apa yang bisa dilakukan oleh industri telekomunikasi tanah air dengan data ini? bila kita melihat pada 4 bagian dalam balance scorecard yaitu Costumer, Finansial, Proses Bisnis/Operasional dan Learning & Growth maka hal yang belum dibahas dalam pemaparan diatas adalah mengenai Operasional dan Learning & Growth.

Sedikit mengenai operasionalnya, Telkom mengelola 197 ribu BTS. Sementara Indosat memiliki 17 ribu BTS dan akan menambah jumlah 18 ribu BTS hingga tercapai total 35 ribu BTS pada akhir 2019 ini. Sementara tidak didapatkan data mengenai jumlah Telecom Towers yang dimiliki oleh Zain Group atau  Ooredoo Grup.

Sementara mengenai Learning, strategi pengembangan sumber daya manusia di masing-masing perusahaan diatas tidak banyak ditemukan di jagad maya. Sejumlah informasi yang didapatkan menyebutkan bahwa pada tahun 2019 ini Telkom Grup memiliki rencana untuk mengembangkan karyawannya melalui Coaching dan Mentoring.

Mengenai Growth, salah satu langkah yang Indonesia, dalam hal ini Telkom dan Indosat masih tertinggal adalah dalam bidang teknologi 5g. Zain Group telah membuka kerjasama dengan Ooredoo Group dalam bidang 5G. Hal ini karena Zain Group telah memiliki sejumlah tower 5G di banyak titik di Kuwait dan beberapa lokasi lainnya. Sementara pembahasan lengkap mengenai bagaimana Indonesia menyambut teknologi 5g dapat dibaca di artikel (https://actconsulting.co/indonesia-menyambut-teknologi-5g/)

Untuk menghasilkan strategi di masa depan, beragam kombinasi dari elemen yang ada di dalam Matrix Balance Scorecard ini dapat diformulasikan menjadi berbagai strategi untuk mencapai banyak tujuan di masa depan. Untuk memperoleh bekal pengetahuan mengenai penyusunan strategi korporasi ini, Anda bisa mengikuti program Corporate Strategic Intelligence (https://actconsulting.co/corporate-strategy-intelligence/) atau Business Sustainability Solutions (https://actconsulting.co/bss/). Sementara untuk mendapatkan sertifikasi sebagai ahli strategi bisa melalui program Corporate Strategic Specialist (https://actconsulting.co/corporate-strategy-specialist-2/). Keterangan lengkapnya dapat diperoleh di website ACT Consulting.

Untuk mempelajari cara melakukan inovasi dan perkembangan bisnis, dapat mempeljari manajemen  inovasi bisnis, klik disini. Untuk memiliki kemampuan mendesain bisnis mandiri, anda juga bisa klik disini.

Bila memiliki kesulitan atau masalah di beberapa sisi seperti budaya dan penerapan disiplin pencapaian target. Bila itu masalahnya, bagi para Leaders di Organisasi Anda, dapat mengikuti program  Transformational Leadership dari ACT Consulting dengan klik di link ini.

Untuk melakukan perkembangan di organisasi dan korporasi Anda, Anda dapat mempelajari cara membangun budaya perusahaan dengan klik disini. Anda juga dapat mempelajari cara menciptakan strategi yang tepat untuk perusahaan dengan klik disini.

Untuk mendapatkan bantuan mengenai cara membentuk karakter para pegawai dan pimpinan hingga dapat mengakselerasi perubahan yang kompetitif di organisasi Anda, ACT Consulting memiliki langkah-langkah dan metodologi yang diperlukan. Hubungi kami via email di info@actconsulting.co atau telepon ke 0821-2487-0050 (Donna).

Leave a Reply