Organization Culture Health index

Organization Culture Health Index (OCHI)

Budaya kerja sangat penting dalam peningkatan kinerja. Merujuk kepada John Kotter, seorang Profesor di Harvard Business School, hampir 70% transformasi budaya tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Angka yang sama juga didapatkan dari berbagai survei yang sejenis.

Diantara penyebab kegagalan tersebut adalah tidak ada TOLAK UKUR keberhasilan yang jelas dalam program budaya, serta SENSE OF URGENCY yang rendah dari para pemimpin. Akibat dari hal ini sangat fatal, di antaranya, yaitu:

1. Komitmen pemimpin rendah karena tidak ada ukuran keberhasilan pembangunan budaya yang dikaitkan dengan penilaian kinerja.

2. Program kerja para agen perubahan yang tidak terarah, karena tidak ada gambaran tentang PENYAKIT yang perlu diperbaiki.

3. PEMBOROSAN biaya, karena agenda perubahan yang tidak efektif.

Transformasi budaya kerja adalah sebuah proses perubahan dari kondisi saat ini (current culture) menuju kondisi yang diharapkan (desired culture). Proses tersebut harus berkelanjutan dan biasanya dilakukan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Sebelum melakukan berbagai program transformasi budaya kerja, kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana kondisi saat ini agar nantinya dapat program transformasi budaya kerja dapat berjalan dengan baik dan memberikan hasil seperti yang diharapkan.


ACT Consulting memiliki sebuah alat ukur yang dapat membantu perusahan untuk mengetahui dan mengukur efektivitas program transformasi budaya kerja. Apa saja yang didapatkan dari pengukuran budaya organisasi ini? Perusahaan akan mengetahui tingkat kesehatan budaya organisasi.


Tingkat kesehatan ini akan ditunjukkan dengan jumlah prosentase Entropi. Entropi adalah energi yang terpakai untuk kegiatan tidak produktif di sebuah lingkungan kerja. Entropy menunjukkan tingkat konflik, friksi, dan frustasi dilingkungan tersebut.


Organization Culture Health Index (OCHI) akan membantu organisasi mengetahui 6 hal ini, yakni:

1. Culture toxic index, yakni tingkat index budaya. Tingkat index budaya yang diukur mengenai berapa persen tingkat energi keseluruhan yang menghambat transformasi budaya kerja.

2. Potensial limiting values, yakni nilai-nilai yang berpotensi menghambat kinerja yang menyebabkan Culture Toxic. Adapun tingkat nilainya sebagai berikut :

  • Kurang dari 10%: Sehat
  • 11-20%: Demam, perlu rawat jalan untuk mendapatkan obat
  • 21-30%: Demam tidak cukup rawat jalan, penting untuk rawat inap karena perlu mendapatkan infus dan pemeriksaan lebih lanjut.
  • 31-40%: Tidak cukup rawat inap, harus masuk ICU dan perlu penanganan segera.
  • 41-50%: Bisa jadi harus dilakukan amputasi, dan sebagainya. Di kondisi ini perusahaan sudah bangkrut, namun masih bisa di merger dengan perusahaan lain yang lebih sehat.
  • 51%->: Sulit dapat diselamatkan. Di kondisi ini perusahaan sudah pasti bangkrut dan tidak dapat di merger dengan perusahaan lain yang sehat.

3. Values mapping, yakni nilai-nilai transformasi budaya kerja yang dibuat menjadi template untuk dipilih oleh klien. Nilai-nilai ini terdiri dari enam area atau level, yakni :

  • Survival atau benefit
  • Hubungan personal antarkaryawan atau karyawan dengan pimpinan
  • Sistem proses kerja birokrasi dan quality control
  • Kreativitas atau pengembangan diri karyawan.
  • Kohesien (semangat kebersamaan)
  • Kepedulian dan pengembangan internal dan eksternal perusahaan

4. Values gap, yakni untuk memperoleh kekuasaan di dalam organisasi atau organisasi yang sehat maka semua levelnya harus terisi (equilibrium).

5. Tingkat kenyamanan, yakni menilai seberapa banyak nilai yang sama antara nilai pribadi yang personal values dengan nilai yang ada didalam organisasi saat ini. Tingkat nilainya adalah sebagai berikut.

  • 0: karyawan belum merasa nyaman bekerja
  • 1-2: karyawan mulia merasa ada kenyamanan
  • 3-5: karyawan sudah mulai merasa ada kenyamana atau kecocokan bekerja di perusahaan. Hal ini akan memengaruhi tingkat engagement kepada perusahaan.

6. Analisis implementasi wilayah organisasi, yakni nilai-nilai organisasi yang banyak dipilih oleh para karyawan sebagai budaya kerja saat ini.

Apa saja manfaat OCHI? Manfaat OCHI ada tiga, yakni:

1. Untuk membantu merumuskan nilai-nilai yang baru dalam sebuah perusahaan

2. Sebagai landasan kerja para Agent of Change (AoC)

3. Dapat dijadikan Medical Record budaya kerja, apabila dilakukan secara rutin)


Tahapan OCHI ada tiga, yaitu:

1. Preparation dan survey. Bertujuan untuk mengetahui pilihan nilai-nilai dari responden.

2. Minta data ke klien dan customize. Agar lebih tepat sasaran memberikan solusi yang bisa diimplementasikan.

3. Fokus group discussion (FGD). Bertujuan untuk menggali perilaku nyata yang mencerminkan nilai yang sudah dipilih oleh responden. Peserta FGD maksimal 12 orang setiap sesi. Biasanya dilakukan 2 kali, sesi staff dan leader.

Berapa investasi untuk melakukan OCHI bagi perusahaan? Perusahaan cukup melakukan investasi RP45.000.000. Berapapun jumlah peserta/responden. Berapa lama waktu pengerjaan OCHI? Lama waktu pengerjaan OCHI rata-rata 8 minggu. Namun, dapat juga dilakukan lebih singkat dengan biaya tambahan +/- Rp25.000.000

Source: Riset by ACT Consulting 2017