was successfully added to your cart.
Category

Article

Apa yang Harus Dilakukan Untuk Mengubah Budaya Perusahaan?

Apa yang Harus Dilakukan Untuk Mengubah Budaya Perusahaan?

By | Article | No Comments

“The soft stuff is the hard stuff,” Jack Welch.

Apa makna dari kutipan tersebut? Ya.. Jack Welch mencoba menggambarkan bahwa hal-hal yang bersifat soft atau bisa dikatakan lembut, adalah hal yang sangat sulit.

Kutipan tersebut menampar para pemimpin perusahaan maupun profesional HR yang kesulitan sangat ingin memulai melakukan transformasi budaya kerja dan perusahaan dalam organisasi mereka. Read More

ACT Consulting | membangun budaya perusahaan | cara membangun budaya perusahaan | konsultan budaya perusahaan

Apa Yang Diharuskan Untuk Membangun Budaya Perusahaan ?

By | Article | No Comments

Apa sih yang harus dilakukan untuk membangun budaya perusahaan yang baik dan unggul, dari mana kita harus memulainya? Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang sederhana, namaun apabila kita serius memikirkan dan memulai membangun budaya perusahaan yang unggul, maka untuk menjawab pertanyaan ini membutuhkan pemikiran, konsep, kemauan, komitmen, dan juga ketekunan.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita kembali pahami apa yang di maksud dengan budaya? Dalam artian luas, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi yang meliputi pemikiran atau ide, tindakan, dan hasil dari tindakan tersebut.

Termasuk didalamnya adalah bagaimana cara mereka bekerja, alat apa yang digunakan untuk bekerja, tradisi-tradisi keluarga dan pernikahan, hubungan sosial, ilmu pengetahuan, sistem pemerintahan, dan bermacam bidang lainnya. Akan tetapi apabila kita rampingkan lagi makna budaya dalam konteks perusahaan, mungkin tidak seluas yang kita sebutkan tadi, sekalipun ada beberapa elemen diatas bisa menyentuh budaya perusahaan.

Menurut Schein, H. (1992:12): Budaya perusahaan sebagai suatu perangkat asumsi dasar yang akan membantu anggota kelompok dalam memecahkan masalah pokok dalam menghadapi kelangsungan hidup, baik dalam lingkungan eksternal maupun internal, sehingga akan membantu anggota kelompok dalam mencegah ketidakpastian situasi. Pemecahan masalah yang telah ditemukan ini kemudian dialihkan pada generasi berikutnya sehingga akan memiliki kesinambungan.

Dari beberapa defini budaya dan budaya perusahaan diatas barulah kita bisa mengetahui apa sebenarnya yang harus dilakukan untuk membangun budaya perusahaan.

Maksud dan Tujuan

Kita harus kembali lagi fokus dengan mendirikan perusahaan tidak semata-mata mencari keuntungan perusahaan, mendapatkan uang dengan menjual barang dan jasa yang kita miliki. Pemikitan itu haruslah kita buang, memikir sessat untuk jangka pendek dan transaksional sangatlah tidak baik. Sedangkan, perusahaan seharusnya berpkir jauh ke depan agar bisa menembus ke beberapa generasi.

Tetapkan Nilai Tinggi Perusahaan

Kedua kita harus mampu menetapkan dan mendefinisikan nilai-nilai tinggi perusahaan, standar dan bahaya yang dipakai yang menunjuk kepada tujuan jangka panjang dan lingkup yang lebih luas. Aplikasikan nilai perusahaan tersebut secara konkret dengan parameter dan ukluran yang jelas sehingga tidak terjadi mis interprestasi.

Pemimpin Teladan

Sebelum lebih jauh mendorong semua lapisan dalam perusahaan menciptakan budaya yang baik dengan perilaku yang sejalan dan mencerminkan apa yang tertuang dalam visi dan misi serta nilai nilai perusahaan. Untuk yang harus dilakukan manajemen pertama kali ada berprilaku merefleksikan apa yang menjadi visi dan misi perusahaan. Dengan demikian karyawan mudah mengerti dan mau menerapkan serta melakasanakan apa yang diteladani oleh para pemimpin mereka.

Maknai Setiap Proses

Banyak perusahaan yang tidak sabar untuk mendapatkan hasil instan dalam transformasi corporate culture. Padahal butuh sebuah proses dalam transformasi budaya tersebut.

Membentuk Karakter

Terakhir dan sangat penting bagi pengembangan budaya perusahaan adalah pembentukan karakter yang baik dan kuat pada diri setiap karyawan maupun pemimpin selalin keterampilan dan keahlian mereka. Inilah hal yang paling sering diabaikan dalam hal rencana pembangunan budaya perusahaan dibanyak corporate. Mereka lebih banyak menekankan kepada aspek kepadaian, keterampilan, dan keahlian, sementara karakter dalam diri mereka kurang baik yang justru mengakibatkan terhambatnya kemajuan perusahaan itu sendiri.

Itulah tadi 5 hal yang diperlukan dalam membangun budaya perusahaan. Jikalau demikian, siapakah yang bertanggung jawab dalam membangun budaya perusahaan? Jawabannya: semua pekerja. Bila dibuat urutannya, pertama-tama ini menjadi tanggung jawab pimpinan organisasi. Tanggungjawab transformasi budaya organisasi ada di tangan para Direksi (Board of Director). Di tangan merekalah nasib perusahaan berada. Sekalipun inisiatif perorangan tetap memungkinkan untuk membangun budaya, tanggung jawab paling besar ada di pundak dari dewan direksi.

 


Baca juga :

Pentingnya Membangun Budaya Perusahaan

Inilah 5 Aspek Pewarisan Budaya Organisasi


Informasi In House Training dari ACT Consulting dengan Hubungi Contact di bawah ini 

Call us: +62 21 2940 6969

Call us: +62 813 8242 6699

Call us: +62 812 2190 1818

Dapatkan tulisan-tulisan yang menginspirasi dengan like halaman :

facebook : ACT Consulting 

ACT-Consulting-corporate-culture-pentingnya-membangun-BUDAYA-PERUSAHAAN

ACT Consulting – Pentingnya Membangun Budaya Perusahaan

By | Article | One Comment

Tahukah Anda seberapa penting pengusaha membangun budaya perusahaan? Sebuah konsep yang perlu dipahami oleh para leader, khususnya Human Resources (HR), agar perusahaan dapat terus berkembang dan bersaing mengikuti zaman.

Konsep mengenai budaya perusahaan ini perlu dilihat dari berbagai aspek, agar bisa dilihat seberapa besar perannya dalam struktur organisasi dan fungsinya dalam kinerja perusahaan.

Budaya secara umum diartikan sebagai kumpulan gagasan, nilai, sikap, dan simbol lain yang kompleks, serta bermakna. Budaya digunakan manusia untuk berkomunikasi, membuat tafsiran, dan melakukan evaluasi di tengah lingkup sosial masyarakat.

Nah, yang perlu dipahami budaya tidak hanya tercipta dalam lingkungan masyarakat. Di dalam setiap perusahaan juga ditemukan model budaya yang sesuai dengan KEBIASAAN yang terjadi di dalam lingkup kerja.

Jika Anda mencari pemahamannya, budaya perusahaan diartikan sebagai suatu pola dasar yang dimiliki oleh anggota perusahaan. Pola yang berisi nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan yang mempengaruhi pemikiran, pembicaraan, tingkah laku, dan cara kerja karyawan sehari hari. Hasil akhirnya, akan bermuara pada kualitas kinerja perusahaan.

Ada 4 aspek yang bisa Anda lihat untuk mengukur budaya perusahaan di kantor Anda. Antara lain :

1. Aspek Keterlibatan
Tingkat keterlibatan yang tinggi dari karyawan bisa meningkatkan rasa tanggung jawab. Secara tidak langsung itu akan meningkatkan komitmen mereka terhadap perusahaan. rasa Kekeluargaan dan kebersamaan tercipta sendiri yang cukup penting dalam membantu menyelesaikan pekerjaan.

2. Aspek Konsistensi
Konsistensi menekankan nilai-nilai yang dimiliki perusahaan. Termasuk soal komunikasi, kerjasama dalam melaksanakan pekerjaan, toleransi, dan penghargaan terhadap prestasi. Ini akan memberikan dampak positif pada pencapaian tujuan organisasi, jadi perlu dibangun dan dikembangkan secara konsisten.

3. Aspek Adaptabilitas
Aspek ini sangat penting untuk mempermudah proses penyesuaian di dalam perusahaan menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi. Hal ini diperlukan untuk kelangsungan hidup perusahaan dan juga sebagai tantangan pengembangan perusahaan.

4. Aspek Misi
Menekankan pada pentingnya kejelasan misi dan tujuan dari organisasi bagi para anggotanya.
Dari 4 aspek di atas, bisa dilihat bahwa budaya perusahaan tidak hanya berpengaruh pada peningkatan kinerja perusahaan. Tetapi memiliki fungsi atau peran untuk menciptakan keunikan dan perbedaan antara organisasi satu dengan lainnya.

Apabila setiap orang dalam perusahaan mampu menyelaraskan budaya dengan strategi organisasi, maka tujuan perusahaan akan lebih efektif untuk dicapai. Satu hal yang dibutuhkan untuk bersaing di VUCA Era yang sedang terjadi saat ini.

Untuk itu, milikilah budaya perusahaan yang unggul. Dengan demikian, perusahaan akan bisa memiliki modal untuk maju dan bersaing dengan perusahaan lain. Bukan hanya fokus pada produksi dan teknologi, namun juga sistem pengelolaan organisasi dan inovasi untuk peningkatan prduksi.

ACT Consulting – Transformasi Digital

By | Article | No Comments

Transformasi digital bukanlah melulu masalah teknologi; namun adalah transformasi organisasi menyeluruh yang mencakup perubahan aspek2 krusial lain seperti: strategi, proses, SDM dan budaya, hingga kepemimpinan.

Transformasi digital tak hanya masalah mengadopsi machine learning, memanfaatkan big data, atau menciptakan aplikasi digital semata, namun adalah “That’s a management and people challenge, not just a technology one.”

Transformasi digital menuntut perusahaan mengembangkan 2 kemampuan: Kapabilitas Digital (Digital Capability) dan Kapabilitas Kepemimpinan (Leadership Capability).

DC, menyangkut the “what” of technology – kemampuan membangun dan mengembangkan teknologi digital ;
LC, menyangkut the “how” of Leading Change – kemampuan mengarahkan dan menggerakkan perubahan!

sekelumit dari Digital Mastery oleh kawan2 kita:
Priyantono Rudito, PhD dan Mardi FN Sinaga, MBA. digital transformation is not about technology, but about management and people mindset

Transformasi digital dibutuhkan untuk mampu bertahan dan mengembangkan organisasi atau perusahaan menghadapi VUCA Era.

Bergeraklah dan rencanakan transformasi digital segera bersama kami ACT Consulting. Lewat Inhouse Training, ACT Consulting siap membantu Anda melakukan Tranformasi Digital secara tepat.

Info lebih lanjut mengenai “Digital Mindset Transformation Training Facing Vuca Era” di :
https://actconsulting.co/digital-mindset-transformation-in-vuca-era/

ACT Consulting | budaya organisasi | budaya kerja organisasi | organization culture | konsultan culture

ACT Consulting – Inilah 5 Aspek Pewarisan Budaya Organisasi

By | Article | No Comments

Pewarisan diartikan sebagai proses pembelajaran untuk melestarikan budaya organisasi dari pendiri atau pimpinan organisasi dan anggota kelompok kepada anggota-anggota baru. Tujuannya agar budaya organisasi dapat dipakai sebagai pedoman berperilaku oleh seluruh anggota kelompok dalam organisasi.

Taliziduhu Ndhara mengatakan bahwa pewarisan budaya organisasi ditinjau dari segi didaktik dapat dilakukan sebagai bahan dan cara pembinaan, penyuluhan, pelatihan, dan pengajaran terhadap masyarakat menyangkut program sehari-hari, jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

Sementara Stephen P. Robbins mengatakan bahwa ada tiga kekuatan yang memastikan bagian yang sangat penting dalam mempertahankan suatu budaya, yaitu praktik seleksi, tindakan manajemen puncak, dan metode sosialisasi.

Berdasarkan pengalaman ACT Consulting melakukan transformasi budaya organisasi kepada banyak perusahaan, ternyata ada 5 aspek pewarisan budaya organisasi di perusahaan.

Apa saja 5 faktor tersebut? Nah, mari kita telaah bersama.

1. Berbagi Nilai (Value Sharing)
Schein mengartikan shared sebagai anggota-anggota kelompok yang menganut suatu perasaan tertentu dan pengalaman atau aktivitas secara bersama. Sistem komunikasi bersama ini diajarkan secara nonverbal melalui signal-signal yang sama kepada setiap anggota organisasi.
Sistem ini kemudian menghasilkan perasaan atau pengalaman berbagi nilai yang dapat dikelompokkan sebagai berikut.
a. Kecemasan bersama merupakan perasaan empatik dalam kehidupan kelompok di mana anggota-anggota lain mempunyai kecemasan dan ketegangan seperti yang dialami anggota-anggota baru.
b. Respons emosional bersama terhadaptekanan dari luar biasanya berwujud ancaman dari luar.
c. Aksi nyata bersama merupakan aktivitas ikatan secara fisik yang menunjukkan adanya batas kelompok apakah seseorang berpartisipasi atau tidak
d. Melepaskan emosi bersama dapat dilakukan melalui acara-acara simbolis dan pelepasan emosional yang terkait dengan aktivitas pelepasan emosi benar-benar dirasakan. Dampaknya, ikatan berbagi nilai tidak hanya menyangkut tindakan dan perasaan, namun juga merasakan berbagai kesalahan dan rasa malu.
e. Penurunan emosi bersama dapat dilakukan melalui aktivitas, seperti pertandingan olahraga, menonton bersama, makan bersama, dna sebagainya. Aktivitas tersebut menambah perasaan berbagi nilai karena adanya pelepasan menyangkut hambatan-hambatan sosial.

2. Seleksi
Proses seleksi merupakan tindakan awal untuk memperkenalkan budaya organisasi kepada calon anggota baru organisasi. Dengan tujuan agar dapat memilih melanjutkan atau mundur setelah mengetahui standar yang ditetapkan oleh organisasi.

3. Tindakan Manajemen Puncak
Tindakan manajemen puncak sangat berpengaruh terhadap budaya organisasi.  Sebab, perilaku pimpinna puncak dapat ditiru sebagai suri teladan oleh anggota-anggot organisasi. Demikian pula perintah atau larangan yang dibuat oleh pimpinan puncak bisa dijadikan pedoman berperilaku bagi karyawan.

4. Sosialisasi
Menurut S.P. Robbins, sosialisasi organisasi adalah proses seseorang mempelajari nilai, norma, dan perilaku yang dituntut, yang memungkinkan ia untuk berpartisipasi sebagai anggota organisasi. Karena sosialisasi organisasi merupakan mekanisme kunci yang digunakan untuk menanmkan budaya organisasi.
Proses sosialisasi budaya organisasi dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu sosialisasi antisipasi, pertemuan, serta perubahan dan pemahaman yang bertambah.

5. Media Pewarisan
Robbins mengatakan bahwa ada beberapa media yang dapat digunakan dalam proses pembentukan dan pewarisan budaya organisasi, yaitu:
a. Cerita, yaitu suatu narasi peristiwa pendiri organisasi, pimpinan organisasi, keputusan-keputusan penting yang memberi dampak terhaap jalannya organisasi di masa yang akan datang dan mengenai manajemen puncak saat ini.
b. Ritual, yaitu kegiatan periodik yang mengungkapkan dan memperkuat nilai-nilai utama organisasi itu, tujuan apakah yang paling penting, orang-orang manakah yang penting dan mana yang dapat dikorbankan.
c. Simbol Material dapat berupa desain serta pemanfaatan fisik ruangan dan gedung, perabot kantor, kebiasaan eksekutif, cara berpakaian, dan sebagainya. Tujuannya untuk mengungkapkan kepada para karyawan atau orang mana saja yang penting dan tingkat derajat kesamaan yang diinginkan oleh manajemen puncak dan perilaku tertentu yang sesuai.
d. Bahasa sebagai cara untuk mengidentifikasi anggota suatu budaya atau anak budaya dalam organisasi maupun unit organisasi. Dengan mempelajari bahasa di dalam organisasi maupun unit organissi, anggota membuktikan penerimaan mereka akan budaya dan juga membantu melestarikannya.

Itulah 5 Aspek Pewarisan Budaya Organisasi untuk menjadi acuan bagi pendiri maupun pimpinan perusahaan untuk mewariskan budaya organisasi kepada karyawan. Ingin lebih tahu lebih dalam mengenai seluk beluk budaya perusahaan dan bagaimana membentuk budaya perusahaan dengan baik? Anda bisa cek ACT Consulting sebagai referensi Anda.

Undang Kami Untuk Preview dan Diskusi mengenai Kebutuhan Perusahaan Anda


Informasi In House Training dari ACT Consulting dengan Hubungi Contact di bawah ini 

Call us: +62 21 2940 6969

Call us: +62 813 8242 6699

Call us: +62 812 2190 1818

Dapatkan tulisan-tulisan yang menginspirasi dengan like halaman :

facebook : https://www.facebook.com/ACTCONSULTING.CO/

ACT Consulting | pelatihan motivasi karyawan | training agent of change | training budaya karyawan | training motivasi karyawan | training budaya kerja

ACT Consulting – 7 Prinsip Dasar untuk Sukses Berkarir di Era VUCA

By | Article | No Comments

Saat ini beberapa perusahaan banyak yang bangkrut akibat adanya fenomena VUCA. Namun ada beberapa perusahaan lainnya sedang berusaha untuk tetap bertahan menyesuaikan VUCA.

VUCA tak hanya berpengaruh terhadap bisnis saja, namun juga kepada individu-individu yang terlibat dalam kegiatan bisnis perusahaan. Karena itu, setiap individu harus memiliki prinsip dasar untuk mempersiapkan diri menghadapi fenomena VUCA.

Apa sajakah prinsip dasar untuk sukses berkarir dalam fenomena VUCA? Nah, mari kita coba telaah bersama.

[highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]1. Hati harus Lapang[/highlight] Mungkin Anda memiliki prestasi, keahlian, atau pengalaman lebih baik dari rekan atau pimpinan, namun Anda harus berlapang dada dan rendah hati menerima pengetahuan atau wawasan dari rekan atau pimpinan. Lebih baik Anda tidak meremehkan keahlian dan keterampilan rekan atau pimpinan Anda agar suasana harmonis dalam lingkungan kerja tetap terjaga.

[highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]2. Ikhlas Memberi Sesuatu[/highlight] Terkadang kita tidak ikhlas atau pamrih memberi sesuatu kepada orang lain, baik ide, jasa, bahkan tenaga. Sebab, kita berharap mendapat imbalan dari apa yang kita berikan kepada orang lain.

Cobalah Anda belajar untuk ikhlas memberi sesuatu kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Bila Anda ikhlas memberi bantuan kepada orang lain, Tuhan akan membuka lebar rezeki Anda.

[highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]3. Memiliki Misi dan Visi ke Depan[/highlight] Setiap orang memiliki misi dan visi ke depan dalam berkarir, termasuk Anda. Mungkin Anda memiliki visi menjadi manajer dalam waktu 5 tahun bekerja. Untuk mewujudkan visi tersebut, Anda membutuhkan misi yang terstruktur dan baik. Jalankan misi Anda dengan usaha, tenaga yang maksimal, dan doa kepada Tuhan.

[highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]4. Mengabungkan Kecerdasan Intelektual (IQ), Emosional (EQ), dan Spritual (SQ)[/highlight] Mengejar karir tidak hanya menggunakan kecerdasan intelektual (IQ) semata, sebab hanya berpengaruh 5-10% saja. Selain IQ, Anda harus memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang berpengaruh 90-95% terhadap kesuksesan karir. Karena itu, gabungkan IQ, EQ, dan SQ yang Anda miliki dalam bekerja.

[highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]5. Memegang Teguh Prinsip[/highlight] Setiap orang pasti punya prinsip untuk mencapai kesuksesan karir, begitupun dengan Anda. Bila Anda belum memiliki prinsip dalam berkarir segera tentukan prinsip Anda. Prinsip dalam berkarir, seperti bahagia dalam bekerja, tekun, pantang menyerah, mau belajar, dan kerjasama. Karena tidak ada orang yang memperoleh kesuksesan karir tanpa berpegangan teguh prinsipnya.

[highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]6. Segera Eksekusi Pekerjaan[/highlight] Setiap karyawan pastinya memiliki target pekerjaan (KPI) yang harus tercapai begitu juga dengan Anda. Alangkah baiknya Anda tidak menunda-nunda pekerjaan, namun segera selesaikan pekerjaan agar target tercapai. Saat Anda menyelesaikan pekerjaan lakukan dengan teliti dan cermat agar hasilnya maksimal.

[highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]7. Perbaiki Pekerjaan yang Salah[/highlight] Mungkin Anda pernah melakukan kesalahan dalam bekerja, baik secara sadar maupun tidak sadar. Bila pekerjaan Anda masih salah dan tidak sesuai dengan yang diharapkan pimpinan maka tanyakan bagian mana yang salah untuk Anda perbaiki. Segera perbaiki pekerjaan yang salah itu dengan teliti dan sebaik-baiknya agar pimpinan mengapresiasi hasil kerja Anda.

Itulah 7 Prinsip Dasar untuk Sukses Berkarir di Era VUCA. 7 prinsip dasar untuk sukses berkarir bisa dijadikan sebagai pedoman dalam berkarir di era VUCA saat ini. Ingin lebih tahu lebih dalam mengenai seluk beluk budaya perusahaan dan bagaimana membentuk budaya perusahaan dengan baik? Anda bisa cek ACT Consulting sebagai referensi Anda.

 


Informasi In House Training dari ACT Consulting dengan Hubungi Contact di bawah ini 

Call us: +62 21 2940 6969

Call us: +62 813 8242 6699

Call us: +62 812 2190 1818

Dapatkan tulisan-tulisan yang menginspirasi dengan like halaman :

facebook : https://www.facebook.com/ACTCONSULTING.CO/

ACT Consulting | dampak positif konflik organisasi | budaya organisasi | culture organization | konsultan budaya organisasi

ACT Consulting – 7 Dampak Positif Konflik Dalam Organisasi

By | Article | No Comments

Era VUCA tak hanya berpengaruh terhadap bangkrutnya bisnis, namun juga dapat menyebabkan konflik antara individu dan individu atau individu dan organisasi. Penyebab utama konflik dalam organisasi, antara lain perbedaan pendapat, salah paham, konflik yang disebabkan struktur, dan sebagainya.

Konflik dalam organisasi tidak hanya berdampak negatif, namun juga dapat berdampak positif. Apa dampak positif konflik dalam organisasi? Menurut Jery L. Gray dan Frederick A. Starke (dalam buku Moh. Pabundu Tika: Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan), mengemukakan bahwa terdapat tujuh dampak positif konflik dalam organisasi.

1. Tingkat Energi Kelompok atau Individu Meningkat
Tingkat energi yang meningkat dapat terlihat sewaktu orang-orang berbicara dengan nada lebih keras, mendengar lebih cermat apa yang diucapkanatau bekerja lebih keras. Dua di antara manfaat yang dicapai oleh organisasi-organisasi dari tingkat-tingkat energi yang meningkat, yaitu:
a. Output yang meningkat
b. Munculnya ide-ide inovatif untuk melaksanakan tugas-tugas lebih baik.

2. Kohesi Kelompok Meningkat
Hasil riset menunjukkan bahwa bila kelompok-kelompok yang terlibat dalam sebuah konflik maka kohesi (persatuan) internal meningkat. Alasan mengapa kohesi yang meningkat dianggap sebagai hasil positif dari konflik adalah karena kelompok-kelompok dengan kohesif tinggi dapat menimbulkan produktivitas tinggi apabila mereka menunjang tujuan-tujuan manajemen.

3. Problem-Problem Terungkapkan
Sewaktu konflik berkembang, pihak manajemen segera melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan mereka dapat merancang untuk menyelesaikan konflik yang ada. Apabila dua kelompok berselisih paham tentang sesuatu, sedangkan hal tersebut tidak pernah dijelaskan, maka mereka akan bekerja pada tingkat efektivitas yang lebih rendah tanpa pimpinan yang bersangkutan memahami mengapa hal tersebut terjadi.

4. Memberi Motivasi
Konflik memotivasi kelompok-kelompok yang terlibat di dalamnya untuk mengklarifikasi sasaran-sasaran mereka. Hal tersebut menyebabkan ditingkatkannya pemahaman kelompok tentang tujuannya.

5. Merangsang Kelompok Mempertahankan Nilai
Konflik merangsang kelompok-kelompok untuk mempertahankan nilai-nilai yang dianggap penting oleh mereka. Berbagai macam kelompok memandang diri mereka sebagai pelindung nilai-nilai tertentu.

6. Memotivasi Individu
Individu-individu atau kelompok-kelompok termotivasi untuk mempersatukan informasi yang relevan bagi konflik yang ada. Walapun informasi demikian terpengaruh (bias) oleh persepsi-persepsi subjektif pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, biasanya disajikan informasi tambahan yang dapat berguna untuk menyelesaikan problem yang dihadapi.

7. Meningkatkan Efektivitas Organisasi
Konflik dapat meningkatkan efektivitas menyeluruh sesuatu organisasi karena kelompok-kelompok atau individu-individu dipaksa olehnya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternal yang berubah. Selain itu, bermanfaat untuk menunjukkan kepada semua pihak bahwa lingkungan senantiasa mengalami perubahan dan organisasi yang bersangkutan harus mengubah cara-caranya bekerja untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut.

Itulah 7 Dampak Positif Konflik dalam Organisasi, ketujuh dampak positif dalam organisasi untuk menjadi acuan di perusahaan tempat Anda bekerja. Ingin lebih tahu lebih dalam mengenai seluk beluk budaya perusahaan dann bagaimana membentuk budaya perusahaan dengan baik? Anda bisa cek ACT Consulting sebagai referensi Anda.


Informasi In House Training dari ACT Consulting dengan Hubungi Contact di bawah ini 

Call us: +62 21 2940 6969

Call us: +62 813 8242 6699

Call us: +62 812 2190 1818

Dapatkan tulisan-tulisan yang menginspirasi dengan like halaman :

facebook : https://www.facebook.com/ACTCONSULTING.CO/

ACT Consulting | KARAKTERISTIK TOXIC LEADER | Budaya organisasi culture | organization agent of change culture

ACT Consulting – Inilah 6 Karakteristik Toxic Leader

By | Article | No Comments

Apa yang Anda ketahui tentang toxic leader? Toxic leader adalah pemimpin yang memperlakukan bawahan sebagai kendaraan atau pijakan untuk mendapatkan tempat yang diinginkan.  Seorang toxic leader bisa sangat sukses dalam jangka pendek, namun gagal dalam jangka panjang. Karena mereka tidak mengembangkan kepemimpinan dan tim berkinerja tinggi.

Tahukah Anda, toxic leader memiliki karakteristik! Menurut Padilla, Hogan dan Kaiser, ada enam karakteristik toxic leader. Mari kita telaah bersama keenam karakteristik itu.

Otokratis

Leader yang otokratis cenderung memanfaatkan posisi dan wewenang, kurang percaya dengan kemampuan bawahan, serta memaksakan kehendak dan tidak toleran terhadap kesalahan yang sama. Komunikasi yang ia lakukan cenderung dari atas-bawah (top-down) daripada dua arah (two-way). Kata-kata yang sering ia ucapkan adalah “Kita tidak punya waktu untuk membahas ini …” dan “Inilah situasi dan pekerjaan yang harus Anda lakukan dan selesaikan saat ini juga”

Narsistik

Leader yang narsistik memiliki rasa kepentingan, kebutuhan kekaguman yang berlebihan, dan kurang berempati saat berhadapan dengan orang lain. Kemudian. cenderung mengatakan hal-hal seperti “Saya melakukan atau mencapainya sendiri tanpa bantuan bawahan …” atau “Masalah pribadi Anda harus ditinggalkan di rumah, Anda di sini untuk bekerja.”

Manipulatif

Leader yang manipulatif mirip dengan narsistik karena fokus hanya pada diri sendiri saja dan menyembunyikan aktivitasnya agar tidak diketahui oleh orang lain. Ia cenderung menyalahgunakan posisi, hubungan, dan sistem organisasi untuk keuntungan pribadi.

Mengintimidasi

Leader yang mengintimidasi akan menggertak bawahan dan orang-orang di sekitar agar tercapai tujuannya. Inilah gaya kepemimpinan yang paling umum dilakukan oleh toxic leader.
Ia cenderung memerintah bawahan atau tim kerjanya dengan tangan besi. Tim kerja maupun bawahannya tidak berani menawarkan ide kepadanya karena takut ditolak atau ditertawakan.

Terlalu Kompetitif

Leader yang terlalu kompetitif cenderung memiliki sikap ingin menang sendiri dengan segala cara dan menggunakan perilaku yang tidak etis. Ia cepat mengambil keputusan tanpa berpikir panjang dan jarang menerima saran dari bawahannya.

Diskriminatif

Karakteristik toxic yang terakhir adalah leader yang diskriminatif. Ia tidak menghargai keragaman dan cenderung bergaul dengan orang-orang yang bersifat sama dengannya. Para leader yang diskriminatif tidak ingin ditantang oleh bawahan dengan saran atau sudut pandang yang berbeda.

Referensi: http://www.leadershipforces.com

Itulah 6 Karakteristik Toxic Leader. Anda bisa menjadikan keenam karakteristik toxic leader untuk mengamati kararkter pimpinan perusahaan tempat Anda bekerja. Ingin lebih tahu lebih dalam mengenai seluk beluk budaya perusahaan dann bagaimana membentuk budaya perusahaan dengan baik? Anda bisa cek ACT Consulting sebagai referensi Anda.

ACT Consulting | budaya organisasi yang sehat | budaya organisasi yang baik | budaya kerja organisasi | budaya perusahaan

Budaya Organisasi Yang Sehat

By | Article | No Comments

Suatu budaya organisasi sehat bila terdapat hal-hal sebagai berikut.

1. Nilai-nilai budaya organisasi dianut secara bersama oleh seluruh pimpinan dan anggota organisasi.
2. Nilai-nilai budaya memengaruhi perilaku pimpinan dan anggota organisasi.
3. Membangkitkan semangat berperilaku dan bekerja lebih baik.
4. Resisten (kuat) terhadap tantangan eksternal dan internal.
5. Mempunyai sistem peraturan formal dan informal.
6. Memiliki koornidasi dan kontrol perilaku.

Berdasarkan hal-hal di atas, pengertian budaya organisasi sehat adalah budaya organisasi yang nilai-nilainya, baik formal maupun informal dianut secara bersama dan berpengaruh positif terhadap perilaku dna kinerja pimpinan dan anggota organisasi sehingga sehat dalam menghadapi tantangan eksernal dan internal organisasi.

Adapun nilai-nilai budaya organisasi diterjemahkan sebagai filosofi usaha, asumsi dasar, slogan/moto organisasi, tujuan umum organisasi, dan prinsip-prinsip menjalankan usaha. Nilai-nilai tersebut bila dianut dan dilaksanakan secara bersama oleh pemimpin dan anggota organisasi maka dapat menyehatkan budaya organisasi.

Menurut Luthans, faktor-faktor utama yang menentukan kekuatan atau kesehatan budaya organisasi adalah sebagai berikut.

1. Kebersamaan adalah sejauh mana anggota organisasi mempunyai nilai-nilai inti yang dianut secara bersama. Derajat kebersamaan dipengaruhi oleh unsur orientasi dan imbalan.

2. Intensitas adalah derajat komitmen dari anggota-anggota organisasi kepada nilai-nilai inti budaya organisasi. Derajat intensitas bisa merupakan suatu hasil dari struktur imbalan.

Deal dan Kennedy dalam bukunya Corporate Culture, mengemukakan bahwa ciri-ciri organissi yang memiliki budaya organisasi kuat/sehat sebagai berikut.

a. Anggota-anggota organisasi loyal kepada organisasi, tahu dan jelas apa tujuan organisasi, serta mengerti perilaku mana yag dipandang baik dan tidak baik.

b. Pedoman bertingkah laku bagi orang-orang di dalam perusahaan digariskan dengan jelas, dimengerti, dipatuhi, dan dilaksanakan oleh orang-orang di dalam perusahaan sehingga orang-orang yang bekerja menjadi sangat kohesif.

c. Nilai-nilai yang dianut organisasitidak hanya berhenti pada slogan saja, namun dihayati dan dinyatakan dalam tingkah laku sehari-hari secara konsisten oleh orang-orang yang bekerja dalam perusahaan, dari mereka yang berpangkat paling rendah sampai pada pimpinan tertinggi.

d. Organisasi memberikan tempat khusus kepada pahlawan-pahlawan organisasi dan secara sistematis menciptakan bermacam-macam tingkat pahlawan, misalnya pramujual terbaik bulan ini dan innovator tahun ini.

e. Dijumpai banyak ritual, mulai yang sangat sederhana sampai dengan ritual yang mewah. Pemimpin organisasi selalu mengalokasikan waktunya untuk menghadiri acara-acara ritual ini.

f. Memiliki jaringan kultural yang menampung cerita-cerita kehebatan para pahlawannya.

Untuk memperkuat budaya organisasi, ada beberapa langkah kegiatan yang dapat dilakukan oleh pimpinan organisasi adalah sebagai berikut :

 

[dropcap font=”” size=”40″ background=”#1616ac” color=”#ffffff” circle=”2″ transparent=”0″]1.[/dropcap] [highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]Memantapkan Nilai-Nilai Dasar Budaya Organisasi[/highlight] Nilai-nilai dasar budaya organisasi dapat diterjemahkan sebagai filosofi usaha, asumsi dasar, moto organisasi, misi dan tujuan umum organisasi atau prinsip-prinsip menjalankan usaha. Pimpinan organisasi perlu memantapkan nilai-nilai dasar tersebut agar budaya dipakai sebagai pedoman berperilaku bagi karyawan.

 

[dropcap font=”” size=”40″ background=”#1616ac” color=”#ffffff” circle=”2″ transparent=”0″]2.[/dropcap] [highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]Melakukan Pembinaan terhadap Anggota Organisasi[/highlight]

Setelah nilai-nilai dasar budaya organisasi dimantapkan, kegiatan selanjutnya melakukan pembinaan terhadap seluruh anggota organisasi. Arah pembinaan dilakukan agar nilai-nilai dasar yang menjadi budaya organisasi dapat dipahami, dihayati, dan dilaksanakan oleh anggota-anggota organisasi, khususnya anggota-anggota baru. Pembinaan terhadap anggota dapat dilakukan melalui dua cara, yakni bimbingan dan pelatihan.

 

[dropcap font=”” size=”40″ background=”#1616ac” color=”#ffffff” circle=”2″ transparent=”0″]3.[/dropcap] [highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]Memberikan Contoh atau Teladan[/highlight]

Memberikan contoh atau teladan yang ditunjukkan seorang pimpinan dalam berperilaku merupakan pedoman nyata yang cepat diikuti dan ditiru oleh anggota-anggota organisasi dalam berperilaku. Dalam menanamkan dan memperkuat nilai-nilai budaya kepada anggota-anggota organisasi, pimpinan organisasi perlu memberikan keteladanan dan kejujuran dalam berperilaku dengan berpedoman pada nilai-nilai budaya yang telah ditetapkan.

 

[dropcap font=”” size=”40″ background=”#1616ac” color=”#ffffff” circle=”2″ transparent=”0″]4.[/dropcap] [highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]Membuat Acara-Acara Rutinitas[/highlight]

Pimpinan organisasi perlu membuat acara-acara rutinitas, antara lain rapat-rapat rutin, rekreasi bersama, olahraga bersama, dan beribadah bersama. Acara rutinitas secara tidak langsung merupakan perekat bagi anggota-anggota organisasi dalam menanamkan dan memperkuat budaya organisasi.
Selain menanamkan dan memperkuat budaya organisasi, acara rutinitas juga dapat memberikan motivasi kepada anggota-anggota organisasi bahwa dia adalah bagian dari keluarga besar organisasi.

 

[dropcap font=”” size=”40″ background=”#1616ac” color=”#ffffff” circle=”2″ transparent=”0″]5.[/dropcap] [highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]Memberikan Penilaian dan Penghargaan[/highlight]

Penilaian dan penghargaan secara berkala perlu dilakukan oleh pemimpin organisasi kepada anggota-anggota organisasi. Bagi anggota-anggota organisasi yang berprestasi dalam penanaman nilai-nilai budaya organisasi perlu diberi penghargaan berupa kenaikan pangkat/jabatan, gaji, pemberian gelar, ataupun hadiah-hadiah.

 

[dropcap font=”” size=”40″ background=”#1616ac” color=”#ffffff” circle=”2″ transparent=”0″]6.[/dropcap] [highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]Tanggapan terhadap Masalah Eksternal dan Internal[/highlight]

Masalah-masalah eksternal yang banyak berpengaruh terhadap budaya organisasi, antara lain persaingan, pelanggan, penguasaan pasar, peraturan pemerintah, dan pengaruh perubahan global dunia.

Sedangkan masalah-masalah internal yang banyak berpengaruh terhadap budaya organisasi, antara lain konflik dalam organisasi, dan tuntutan karyawan. Kedua masalah di atas perlu diantisipasi dan ditanggapi melalui perbudatan budaya organisasi.

 

[dropcap font=”” size=”40″ background=”#1616ac” color=”#ffffff” circle=”2″ transparent=”0″]7.[/dropcap] [highlight background=”#1616ac” color=”#ffffff”]Koordinasi dan Kontrol[/highlight]

Perkuatan budaya organisasi dapat dilakukan melalui koordinasi dan kontrol. Koordinasi dapat dilakukan melalui rapat-rapat resmi, koordinasi antarpejabat secara berjenjang, dan sebagainya. Untuk mengetahui perilaku anggota-anggota organisasi perlu dilakukan pengawasan secara berkala. Hasil pengawasan dapat dijadikan sebagai umpan balik untuk memperkuat budaya organisasi.

Korporasi dengan budaya organisasi yang sehat mampu menghasilkan empat hal, yaitu:

1. Revenue: 4x lebih tinggi
2. Tenaga kerja: 7x lenbih berkualitas
3. Nilai saham: 12x lebih tinggi
4. Keuntungan bersih: lebih dari 700%
Source: Riset by ACT Consulting 2017


Informasi & Pendaftaran Seminar ACCF (Digital Mindset Transformation in Disruptive ERA) href="#" data-color-override="false" data-hover-color-override="false" data-hover-text-color-override="#fff">Button Text

Informasi In House Training dari ACT Consulting dengan Hubungi Contact di bawah ini dan like halaman

Call us: +62 813 8242 6699

Call us: +62 812 2190 1818

Dapatkan tulisan-tulisan yang menginspirasi dengan like halaman :

facebook : https://www.facebook.com/ACTCONSULTING.CO/

corporate culture change | konsultan corporate culture | konsultan culture perusahaan | perubahan budaya perusahaan | corporate culture and strategy | corporate culture di perusahaan

Tantangan Toko Musik dan Label Rekaman di Era Industri Musik Digital

By | Article | No Comments

Pada awal dekade tahun 2000-an, karya musik seorang musisi atau grup band diedarkan dalam bentuk kaset dan cakram padat (CD). Sebagai contoh, SHEILA ON 7, PADI, DEWA 19, SLANK, EBIET G. ADE, Kemudian sekitar tahun 2006, lagu-lagu karya musisi dan grup band diubah kedalam format Mp3.

Mp3 yang memerlukan mini portable player untuk memainkan sebuah lagu mampu mengalahkan kaset dan CD yang membutuhkan tape dan CD player. Apalagi saati itu marak penjual Mp3 bajakan dan situs web untuk mengunduh musik seperti Napster.

Kemunculan Napster mengubah industri musik dunia dan musisi dibuat pusing dan harus memutar otak agar tetap eksis di dunia musik. Label rekaman dan musisi yang sebelumnya menggantungkan pendapatannya dari memasarkan karya musik dalam bentuk kaset dan CD, tiba-tiba konsumen beralih ke format yang mudah digandakan, dipindahkan, praktis, dan gratis.

Akibatnya, kaset dan CD menjadi tak laku lagi di pasaran. Dampaknya beberapa toko musik yang menyediakan kaset dan CD menutup gerainya satu per satu, seperti Aquarius dan Discc Tarra.

Selain beberapa toko musik yang ditutup, label rekaman juga banyak yang tutup. Menurut Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI), pada tahun 2012 hanya tersisa 76 label rekaman dari 240 anggota ASIRI. Namun dari 76 label rekaman, hanya 12-15 perusahaan yang masih aktif berbisnis. Label rekaman yang tersisa diisi oleh nama-nama besar, di antaranya Musica, Universal Music Indonesia, dan SonyBMG Music Entertainment Indonesia.

Ketika jualan fisik kaset dan CD tak berjalan dengan baik, kehadiran Nada Sambung Pribadi sedikit menjadi pelipur lapar bagi industri musik dan musisi. NSP yang merupakan potongan lagi dalam beberapa detik itu laku dijual sebagai ringback tone untuk diperdengarkan kepada orang lain.

Akan tetapi, pada tahun 2011 pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membatalkan registrasi (unreg) dan deactivate massal layanan konten premium kepada operator seluler karena maraknya kasus pencurian pulsa. Akibatnya, NSP ikutan-ikutan menurunkan pendapatan industri musik dan musik karena lesunya penjalan album fisik.

Beban label rekaman dan musisi semakin berat dengan hadirnya industri musik digital. Industri musik digital, seperti Pandora, Clear Channel, iHeartRadio, Spotify, Joox, iTunes, YouTube dan Vevo, memudahkan setiap orang untuk mendengar musik secara streaming dan video online.

Kehadiran industri musik digital bukan hanya konsumen atau penikmat musik saja, melainkan juga para musisi. Industri musik digital memudahkan musisi untuk membuat album musik sendiri.

Musisi semakin mudah merekam album berkat berbagai perangkat lunak yang bisa digunakan di mana aja. Selain itu, mereka mengedarkan karyanya sendiri tanpa harus melalui label rekaman dengan hadirnya media sosial FACEBOOK, INSTAGRAM, hingga SOUNDCLOUD. Ada beberapa orang musisi baru yang terkenal berkat industri musik digital, seperti Raisa, Trio GAC, Yunira Rachman, Isyana Sarasvati, Sheryl Sheinafia, Teddy Adhitya, Budi Do Re Mi, Danilla JPR, dan Rendy Pandugo.

Masalah yang dialami oleh toko musik dan label rekaman bisa terjadi juga di berbagai perusahaan yang tidak siap menghadapi era disruptif. Hal itulah yang membuat ACT Consulting menggelar Seminar ACCF, agar setiap orang, pengusaha label rekaman, pengusaha toko musik, pegawai pemerintah, penguasaha mikro, kecil, dan menengah dapat bertahan di era disruptif.